SUSUK ANOMAN

SUSUK ANOMAN
CHAPTER 131 PEMBUNUHAN EYANG NARNI


__ADS_3

Pembunuhan Eyang Narni


Setelah kejadian itu Arya melaksanakan rencananya untuk menghabisi Eyang Narni, dengan tidak lama Arya melakukannya itu dengan cepat.


" Aku harus segera melakukan semuanya, sebelum terlambat ini waktuku dan kesempatanku ketika rumah dalam keadaan sepi, rencananya harus berjalan dengan baik, jangan sampai gagal," Ucap Arya


Arya ber siap diri memakai baju serba hitam untuk melancarkan renacanya dan agar tidak ketahuan jika ada orang yang sengaja melihat dirinya.


" Dengan begini tidak ada yang bisa mengenalku ketika nanti ada orang yang memergokiku," ucap Arya


Simbok Darmi yang sedang memberikan sarapan pagi itu dengan saber menyalani Eyang Narni dengan sepenuh hari bahkan Simbok takut jika akan ada sesuatu tentang dirinya.


" Eyang makan dulu, biar cepat sembuh dan Eyang bisa segera pergi dari rumah ini, Simbok takut suasana dan penghuni rumah ini sekarang banyak musuh Eyang, Simbok akan setiap menemani Eyang Narni, jika Eyang Narni sudah bisa sembuh kita bisa pergi dari rumah ini bersama," Ucap Simbok Darmi


" Mbok terima kasih simbok sudah setiap, dan mulai tau, jadi biasa jadi penolong keluarga ini, semoga simbok tetap baik dan terhindar dari semua orang jahat," Batin Eyang Narni


" Begitu Eyang makan yang banyak, Simbok Darmi senang lihatnya, pasti Eyang sangat tersiksa ketika Wardani si wanita setan itu memperlakukan Eyang seperti binatang, menyiksa, dan sebagainya, Simbok Darmi sudah mengira pasti iya, Dalam keadaan Eyang seperti ini Simbok paham jika Eyang tersiksa, sabar ya Eyang," Ucap Simbok Darmi


" Itu yang aku rasakan selama ini Mbok, wanita itu memang jahat dan penuh dengan sandiwara yang sangat baik, akhirnya sekarang Simbok yang merawat ku, jadi aku merasakan ada pelindungku," Batin Eyang Narni


" Kenapa Simbok ada di sana aku harus menunggu lagi ini, tak apa aku akan tunggu sebentar, " Ucap Arya menintip sedikit di pintu kamar Eyang


" Ya sudah Eyang sekarang udah selesai makan, Eyang harus istirahat, Simbok akan ada di dekat Eyang, Eyang jangan kuwatir, Simbok Darmi permisi dulu Eyang, pareng," Ucap Simbok Darmi


" Terima kasih banyak mbok," Batin Eyang Narni


" Simbok sudah mau keluar aku harus bersembunyi," Ucap Arya sambil pelan menyembunyikan diri di selah didinding yang telah di desain sebaik itu


Simbok Darmi keluar dari kamar sambil membawa makanan dan minuman yang sudah tidak dimakan untuk di bawa kedapur belakang. Arya me mulai untuk memasuki kamar Eyang Narni dengan pelan-pelan, agar Eyang merasakan tidak ada yang menganggunya.


" Ini kesempatanku, aku harus segera masuk dan menghabisi nenek peyot itu, karena keluargsnya itu bikin hidupku hancur, sekarang keluargamu akan hancur," Ucap Arya


Arya masuk kamar Eyang Narni.


" Eyang kau begitu kasihan sekali, hari ini kamu akan tiada, bersiaplah," Ucap Arya


Tiba-tiba Eyang membuka ma tanya dan merasakan ketakutan dan takut, Eyang Narni yang berusaha untuk bergerak dan berteriak tak bisa, Eyang yang memaksa dirinya bisa bergerak, Eyang hanya memainkan matanya dan air matanya yang terus keluar dari matanya.


" Aku lupa kalau Eyang tidak bisa apa-apa jadi aku tidak akan berbust jahat, tapi aku akan membuat Eyang tidak terasa terus tiada," Ucap Arya


" Kamu siap, kenapa kau datang ke kamarku, ternyata orang ini mau menghabisiku, tolong siapa orang yang ada di sini tolong, berikan pertolongan kepadaku," Batin jeritan Eyang Narni


" Ayolah teriaklah yang keras tidak ada yang kesini, nenek peyot yang tidak berguna," Ucap Arya


" Apakah ini sudah menjadi nasibku, jika Wanita itu melakukan dendam ini maka berikan diri ampunan, aku aku bahwa aku tetep berdiam ketika keluarga ku melakukan kekejaman kepada keluarganya, ini semua karma untukku," Penyesalah Eyang Narni


" Sudah siap Eyang, sebelum aku membuat dirimu tiada aku akan membuka siapa aku sebenarnya," Ucap Arya


Arya membuka topang hitam nya, Eyang Narni sontak kaget ternyata semua itu Arya suami dari Rindu, Eyang Narni mulai merasakan penyesalah kenapa dirinya memberikan restu untuk menikah yang akhirnya membuat keluarganya hancur seperti ini.


" Aku sangat bersalah, apa ternyata kau Arya dasar orang yang bermuka dua, aku dahulu melihatmu baik tapi sekarang kau seperti itu, kenapa," Batin Arya

__ADS_1


" Kenapa Eyang kamu kaget melihat semuanya, benar aku Arya, aku juga sudah menjadi lebih tampan untuk mengdapatkan Rindu, dulu dia berani menolakku, dan Trimoko berani mengadu domba ku yang telah memperkosa Wardani, tapi sekarang aku akan membuat hidupnya sengsara, pasti Eyang befikir Rindu sekarang begitu ulah ku, memang benar sekali smash aku yang melakukannya,haha," Ucap Arya


" Dasar penghancur, maafkan kesalahanku, walaupun Lau bersalah berikan perlindungan untuk keluargaku," Batin Eyang Narni


" Sekarang Eyang sudah tau, siapa aku dan aku akan segera menghabisi Eyang, maka dari itu bersiaplah Eyang ku tersayang, " Ucap Arya


Arya mulai menantapkan pisau ke perut Eyang Narni, Eyang yang merasakan kesakitan tanpa gerak Sam sekali, hanya mengeluarkan air mata yang terjatuh dari matanya melewati selah mata ke pipinya, sambil membayangkan dan menyesali perbuatannya.


" Maafkan kesalahanku selama dahulu kala yang pernah aku perbuatan, dan maafkan Rindu cucuku, dan maafkan dirimu yang telah salah memilihkan dirinya kekasihmu seorang pen dendam, dan maafkan jika ini membuat dirimu marah dan membalaskan kepada keluargaku, ini suatu karma bagiku, " Batin Eyang Narni


sambil mengembuskan nafas terakhirnya.


" Sudah mati, Eyang Narni sudah tiada, hahaha.... Ini yang aku inginkan selamat tinggal Eyang, ini pantas untuk keluarga mu dan dirimu," Ucap Arya


" Aku segera pergi dari sini sebelum ada yang mengetahui ku," Ucap Arya sambil keluar dari kamar


Arya yang keluar dari kamar Eyang Terlihat oleh Rindu yang sedang memata-matai, Rindu yang tidak jelas melihat siapa di balik baju serba hitam dan bertutup topeng.


" Aku segera pergi dari sini, rencana satu selesai dan sekarang aku legah, ya sudah aku pergi dahulu," Ucap lirih Arya


" Siapa itu semua serba hitam yang keluar dari kamar Eyang, aku harus melihat sedang apa Orang tadi di kamar Eyang," Ucap Rindu


Rindu akhirnya penasaran apa yang terjadi di kamar Eyang, yang berupa seorang yang sangat mistrerius yang serba hitam dan tertutup topeng itu, Rindu sontak kaget melihat Eyang Narni sudah tidak bernyawa dan sudah berumuran darah di sekitar tidurnya, Rindu sangat terpukul dan kecewa siapa yang berani melakukan ini semua, dan Rindu sontak tidak bisa menahan tangisannya. Rindu membuka pintu kamar Eyang.


" Eyang apa yang terjadi kepadamu, Eyang bangun,... Bangun Eyang, Eyang...., siapa yang berani menghabisi Eyang, sangat kejam sekali, Eyang," Ucap Rindu


Tak lama Simbok Darmi datang.


" Den Rindu ada apa, kok aden menangis pelan-pelan nanti ada yang tau," Jawab Simbok Darmi


" Eyang, ya ampun gusti apa lagi ini, aku takut Den Rindu jangan-jangan ini ulah Den Wardani, dia sangat kejam," Jawab Simbok Darmi


" Tidak tau Mbok, Karen semua tidak jelas, tapi tenang aku akan mencari tau siapa dalang di balik kematian Eyang, aku akan memberikan pelajaran dengan tanganku sendiri," Ucap Rindu


" Ya sudah mbok sekarang kasih tau kepada semua yang ada di rumah sini bahkan Abah, aku akan segera kembali ke ruang ku biar tidak ada yang curiga, sekarang," Ucap Rindu


" Baik Den, " Jawab Simbok Darmi


Rindu kembali ke ruangnya dan Simbok Darmi segera memberi tahu kepada seluruh rumah bahkan Abah.


" Tolong..., " Ucap Simbok Darmi kaget


" Ono opo to Mbok, teriak-teriak saja," Sahut Paimin


" Oalah Mbok, kayak anak kecil aja," Sahut Paijo


" Kalian berdua tidak tau diri, kita lagi kehilanganku, lihat itu Eyang," Ucap Simbok Darmi


" Ya gusti, apa yang terjadi kepada Eyang, dia kenapa banyak darah di sekitar Eyang," Jawab Paimin


" Lah dalah siapa yang melakukan ini Mbok, ini pasti Abah dan Den Bagus akan marah," Sahut Paijo

__ADS_1


" Tidak tau hanya, ada orang yang keluar dari kamar Eyang dengan semua tertutup baju hitam dan topeng hitam, jadi tidak tau siapa orang nya aku sembunyi di balik sana," Ucap Simbok Darmi


" Yo Wes Ayo kita kasih tau Abah dan Den Bagus," Sahut Paimin


" Permisi Den Bagus, ini Paimin," Ucap Paimin


" Iya ada apa Min," Jawah Trimoko


" Anuh den... Anu.., " Ucap Paimin terbata-bata dan takut


" Benar Min, tenangkan dulu, tarik nafas baru bicara, Ayo lakukan," Sahut Rani


" Ya sudah Ayo katakan dengan pelan-pelan," Ucap Rani


" Anu den, Eyang sudah tidak ada dia meninggal, seperti ada orang yang membunuhnya, maaf Den," Ucap Paimin


" Apa, Eyang...," Jawab Trimoko sambil berjalan menuju ke kamar Eyang


" Apa benar Min, " Sahut Rani


" Iya Den Rani," Jawab Paimin


" Ya sudah Ayo kita lihat, " Jawab Rani dan Paimin menuju ke kamar Eyang


Paijo yang di suruh Simbok Darmi ke aknar Abah Karen Simbok Darmi yang takut dengan Wardani untuk mencoba menjauh.


" Permisi Tuan, maaf ini Paijo," Ucap Paijo


" Siap itu, ada apa, " Ucap Lurah Darso


" Bentar aku lihat dulu sayang," Sahut Wardani


" Ada pa Jo, ada perlu apa," Tanya Wardani


" Tuan Darso, ada yang penting," Jawab Paijo


" Abah ini ada Paijo matanya perlu dengan Sayang," Ucap Wardani


" He.. Tuan, Tuan maaf Paijo kesini mau memberitahu sesuatu, tentang Eyang, bahwa Eyang... Tidak ada Tuan, hanya darah di sekitar tempat tidurnya, Paijo kaget lihatnya...," Ucap Paijo


Lurah Darso dan Wardani langsung berjalan ke kamar Eyang dengan meninggalkan Paijo dan dengan sendiri.


" Lah dalah, Tuan kok tinggal Paijo, sontoloyo, tunggu tuan," Ucap Paijo


Trimoko sudah menangis melihat Eyang yang tidak bernyawa lagi, kecewa dan bersedih bahkan marah siapa yang melakukan ini, bahkan Lurah Darso merasakan rapuh mendengar dan melihat ibundanya meninggalkan dengan tidak wajar.


" Eyang, siapa yang tega melakukan ini kepada Eyang," Ucap Trimoko


" Sudah mas, tenangkan dulu dirimu, kita cari siapa pelakunya," Sahut Rani


" Ibu bangun,... Darso sangat mencintai Ibu, kenapa bisa begini, siapa yang berani melakukan ini, aku akan mencari dan menyuruh siap yang telah menghabisi Nyawa ibuku, dan aku yang akan membalasnya dengan tanganku," Ucap Lurah Darso

__ADS_1


" Pasti ini ulah Arya, dia juga cardio sekali, aku udah bisa membaca bawah dia akan merencana sebaik ini, tanpa ada yang tau, tapi lihat saja kau akan terbongkar, baguslah aku tidak perlu mengotori tangan cantik ku, selamat tinggal nenek peyot, satu demi satu telah tiada," Batin Wardani


Lurah Darso dan Trimoko menyuruh untuk mencari pelaku pembunuhan Eyang.


__ADS_2