SUSUK ANOMAN

SUSUK ANOMAN
CHAPTER 137 KEMATIAN ARYA


__ADS_3

Setelah terjadi permasalahan itu Wardani dengan Lurah Darso semakin renggang, cara Lurah Darso untuk membuat Wardani kembali seperti dahulu tidak bisa, tapi Lurah Darso tetap menaruh hati kepada Wardani. apapun itu Lurah Darso akan berjuang untuk mendapatkan cinta nya kembali.


" Sayang maafkan aku, aku bukan sengaja berbuat begitu kepadamu, aku terbawa emosi," Ucap Lurah Darso


" Sudah cukup, pergi kau kalau kamu tidak pergi aku pergi ke kamar aku, atau aku pergi ke rumah Biyung Sumi," Jawab Wardani


" Iya Aku akan pergi tapi Sayang jangan pergi, aku akan membuat dirimu tidak marah lagi kepadaki," Ucap Lurah Darso


" Ya terserah kamu, aku udah benci padamu," Jawab Wardani


" Maafkan sayang," Ucap Lurah Darso


" Aku maafkan tapi tidak hari ini, jadi Kamu pergi dari kamu ku dulu, aku mau sendiri," Jawab Wardani


Lurah Darso meninggalkan Wardani di kamar, Lurah Darso mengikuti apa mau dari Wardani untuk keluar dari kamar, Wardani ingin sendiri.


" Bagus tenyata semua cinta mati padaku, aku akan lebih mudah untuk mengasut domba mereka untuk merebut cintaku, " Ucap Wardani


" Aku harus bagaimana, Wardani sekarang marah soal tadi, aku tidak boleh diam aku harus cari cara agar Wardani kembali bahagia dan mau denganku," Ucap Lurah Darso


Lurah Darso pun mencari cara untuk membuat Wardani kembali seperti biasa.


Trimoko yang setelah me ngumpul kan tenaga saat kejadian itu dia kembali untuk ke kamar untuk membersihkan luka dimukanya.


" Dasar kakek peyot, beraninya melawan seperti aku, tunggu aku akan membalasmu," Ucap Trimoko


" Sakit, au..., " Ucap Trimoko sambil berdiri dan memegang wajahnya yang luka pukul


" Anak ingusan berhenti, gara-gara kamu Biyung mu marah dengan Abah, apa yang kau lakukan itu salah, Abah peringatkan jangan pernah kau dekati Wardani, dia istri Abah, dan jika aku melihat dan mendengar kau mendekati Wardani kamu berhadapan dengan Abah," Ucap Lurah Darso


" Sampai kapan pun aku akan mencintai Wardani, dan tadi Abah tidak dengan mulai sekarang siapa yang bisa membuat Wardani suka dan dia berhak memilih, jadi kita semua harus berusaha siapa yang harus dipilih, ingat itu Abah, aku tidak akan menyerahkan Wardani kesiapapun, walaupun itu kepada Abahku sendiri," Jawab Trimoko


" Dasar anak kurang ajar," Ucap Lurah Darso sambil menamparnya


Plak.... Plak... Merah di pipi Trimoko luka bertambah


" Tamparan Abah tidak akan membuat dirimu goyah, ini silahkan lagi Abah....," Jawab Trimoko dengan teriak


" Dan aku juga akan bertarung bahkan berjuang mempertahankan dia, jadi kamu harus berurusan dengan Abah," Ucap Lurah Darso meninggalkannya


" Lihat saja siapa yang akan menang," Batin Trimoko


" Aku tidak akan memberikan Wardani kepada kalian berdua bahkan orang lain, aku akan mengalahkan mu dahulu sebelum kamu mengalahkan ku," Ucap kejauhan


" Mengapa mereka saling berebut, aku takut dia akan saling membunuh satu sama lain, aku harus memantau terus, wanita itu sangat licik bisa-bisanya mereka merusak ikatan seorang anak dan Abahnya demi mendapatkan cintanya, aku akan memberikan sesuatu disaat waktu yang tepat, tunggu aku wanita setan, licik,dan berbisa," Ucap Rindu


" Ya sudah aku aku kembali ke ruanganku saja," Ucap Rindu


" Mas Trimoko, sini biar Rani yang membantu membersihkan dan memberikan obatin," Ucap Rani


" Tidak usah, aku bisa sendiri jangan ganggu aku, pergi dari ku, aku bilang pergi ya pergi kalau tidak aku yang pergi," Jawab Trimoko


" Iya Mas Rani akan keluar, tapi kalau mas butuh apa-apa bisa panggil Rani," Ucap Rani


Trimoko tanpa membalasnya, Rani sontak keluar dengan ber hati-hati dengan kelakuan Trimoko yang kasar, Rani tetap menerima perlakukan suaminya karena Rani mencintai Trimoko dengan tulus dari awal pertemuan perjodohan itu.


" Tidak apa yang penting mas Trimoko mau mengobati lukanya sendiri, kadang dia tidak mengobati nanti bisa infeksi, ya sudah lah aku mau tidur di sofa," Ucap Rani


Rani yang sedang mengantuk itu, Rani hanya bisa menikmati tidur di sofa, karena is rela melakukan apapun demi suami tercintanya.

__ADS_1


" Au... Sakit sekali, ini gara-gara Abah, mukaku jadi terluka, aku segera selesaikan dirimu sudah capek mau istirahat," Ucap Trimoko


Trimoko dengan cepat menyelesaikan dalam mengobati lukanya, setelah itu Trimoko beristirah. Tak tau tiba-tiba Arya mendatangi kamar Wardani karena dirinya Rindu kepadanya.


" Kenapa hati sekarang merasa Rindu kepada Wardani, aku tak sabar ingin menikahinya, kalau begitu aku harus ke kamarnya untuk meminjam sesuatu tetapi niat aku untuk melihat dan menyentuh dirinya, aku harus segera ke sana, mumpung dirinya sendiri karena ada suatu masalah yang menguntungkan dirimu, hahaha memang rezeki anak hebat," Ucap Arya


Arya tidak menunggu lama dirinya langsung menuju ke kamar Wardani.


Tok... Tok... Ketuk pintunya


" Siapa malam-malam datang ke kamar ku," Ucap Wardani


" Sebentar," Jawab Wardani


" Kenapa anak ini datang kemari, Aku harus berlagak seperti biasa agar dirinya tidak curiga bahwa Aku sudah tau semua kebusukan dirinya, pasti ini ada sesuatu," Batin Wardani


" Arya ada kok tumben malam-malam datang ke mari," Ucap Wardani membuka pintu


" Aku mau pinjam sesuatu dan mau mengatakan sesuatu kepadamu," Ucap Arya


" Anak ini mau mengatakan apa kepadaku, ya sudah aku persilahkan masuk saja," Batin Wardani


" Ya sudah Masuklah," Ucap Wardani sambil menutup pintu


" Arya mau kasih tau apa kamu kepadaku kayaknya penting, dan aku apa yang kamu mau pinjam dariku," Tanya Wardani


" Oh iya maaf jadi lupa, begini ini soal kematian Eyang Narni itu siapa yang membunuh bukannya rencana kamu atau kita, tapi kenapa kita belum bertindak Eyang Narni sudah di bunuh dan siapa pelakunya," Ucap Arya


" Dasar bermuka dua, rupa kau pintar juga, dan aku tidak akan pernah terlambat aku sudah tau bahwa yang membunuh nya itu sebenarnya dirimu sendiri, sungguh pintar sandiwara mu itu Arya," Batin Wardani sambil berlagak binggung


" Iya kan itu rencana kita tapi aku belum melakukannya, apakah kamu yang melakukannya, misal menyuruh orang lain, atau gimana gitu," Jawab Wardani


" Ya tidak lah kalau aku menyuruh orang lain pasti aku ngomong dan diskusi dengan dirimu," Ucap Arya


" Begitu ya bukannya, kamu sibuk sampai tidak mempunyai waktu untuk merencanakan ini semua," Jawab Wardani


" Iya memang, tapi sekarang sudah terjadi seperti gitu me mudah kita," Ucap Arya sambil memegang Pundaknya


" Dasar laki-laki ternyata kamu juga hidung belang, pasti kamu ke sini ada maksud yang lain, salah satunya ini," Batin Wardani


" Iya, tapi kita tinggal selangkah lagi," Ucap Arya yang belum menurunkan tangan nya


" Awas kau berani melecehkan aku dan aku sudah tidak tahan semua sikap kamu aku akan aduhkan bahwa kamu yang membunuh Eyang Narni," Batin Wardani


" Arya apa maksudnya tangan kamu, lepaskan," Ucap Wardani


" Maaf aku hanya memberikan mu semangat untuk mu, oh iya aku Mau pinjam tusuk kondemu boleh," Jawab Arya


" Ini yang aku tunggu-tunggu rupa nya dia sudah mau bermain-main denganku, aku sudah tau maksudnya kamu, aku tidak akan pernah meminjamkan tusuk kondeku," Batin Wardani


" Bukannya tidak mau karena kemarin jatuh dan belum aku ambil di rumah Biyung Sumi, katakan disana dan di bawa oleh Biyung Sumi, nanti aku ambil kan dulu," Jawab Wardani


" Oh kalau begitu ya sudah," Ucap Arya


" Iya Arya, karena malam sudah larut, ngantuk lanjutkan besok saja," Jawab Wardani


" Iya sudah, aku pamit dulu terima kasih atas waktunya," Ucap Arya


" Iya sama-sama, selamat malam," Jawab Wardani

__ADS_1


Arya keluar Kamar nya sedikit bahagia dan kecewa karena dia tidak bisa meminjam tusuk konde konde milik Wardani, dan bahagianya dirinya bisa bertatap muka dan memegang dirinya.


" Tidak apa yang penting aku bisa bertemu dan memegangnya sayang," Ucap Arya kembali ke kamar


" Dasar dia berani melakukan kepadaku, tunggu pembalasan aku," Ucap Wardani


Malam itu malam yang penuh dengan firasat tidak enak yang di alami Arya setelah kembali di kamar Wardani, dirinya merasakan ada yang menganggu salam istirahat malamnya, sehingga Arya tidak bisa tidur menikmati malam dengan penuh kenyeyakan hanya kegundahan dan kesalahan.


" Kenapa diriku seperti ini, aku tidak bisa tidur, ini kenapa aku harus mencoba untuk istirahat, " Ucap Arya


Arya berusaha untuk memejamkan mata walaupun awalnya masih split lama-kelamaan diri bisa menikmati tidur malamnya dengan tenang.


Malam yang panjang dengan mimpi yang begitu indah, malam sunyi yang penuh dengan ke sunyi an, suara baung serigala yang sangat keras, bahkan tak lama pagi pun tiba. Wardani mendengar Simbok Darmi mengatakan bahwa mendengar cerita tentang baju yang di bakaran bisa menjadi bukti.


" Mbok, Aku tau kamu tadi membicarakan soal apa, ayo ikut aku," Ucap Wardani


" Baik Tuan, maaf," Jawab Simbok Darmi sambil mengikuti


" Permisi boleh aku masuk," Ucap Wardani


" Hem sayang boleh silahkan masuk, jangan judes begitu lah, " Jawab Lurah Darso


" Aku Mau memberitahukan kepada mu sayang tentang siapa dalang pembunuhan Eyang Narni, itu adalah Arya, walaupun Aku tidak melihat langsung, tapi Aku pernah mencari bukti baju serba hitam yang di taruh di Kamar nya, untuk menghilangkan jejak dia membakar nya, dan yang tau itu cerita Simbok Darmi, Paimin dan Paijo," Ucap Wardani


" Apa benar itu Mbok kamu mendengarkan, cerita dari Paimin dan Paijo," Jawab Lurah Darso


" Benar Tuan, Simbok juga berfikir bahwa Den Arya membakar baju nya untuk menghilangkan jejaknya, karena Yang tau saat membakar itu Paimin dan Paijo, dan mareka kebetulan bercerita kepada kamu bersama di dapur, " Sahut Simbok Darmi


" Bahkan tanaman bunga kamboja kamu juga ulahnya, maka dari sekarang kasih langsung human dirinya, dan jangan beri ampun, langsung suruh untuk mengambil para suruhanmu untuk di hukum sekarang," Ucap Wardani


" Biadap ternyata musuh itu ternyata musuh dalam selimut,kalau begitu Aku segera memperintahkan untuk menghukum Arya," Ucap Lurah Darso sambil keluar kamar


" Terima kasih Mbok, memang Aku juga musuh, ingat jika aku bilang sesuatu tentang aku kamu akan mati," Ucap Wardani


" Iya Den Wardani, " Jawab Simbok Darmi dengan takut


" Dasar wanita setan, sampai kapan aku juga akan mengatakan ini pada saat yang tepat," Batin Simbok Darmi dengan sedikit takut


Arya di ambil paksa dalam Kamar nya, dan para suruannya menyiapkan hukuman kepada Arya, Arya yang kebingungan apa yang terjadi kepadanya.


" Kenapa ini lepaskan, kenapa kau membawaku dan apa salahku," Ucap Arya


" Arya kau memang setan, kau memang biadap," Ucap Lurah Darso sambil menampar, memukul nya


" Bangsat kau, dasar pembunuh dan dasar pembuat Rindu gila," Sahut Trimoko dengan tamparan keras


" Siapa yang memberitahukan mu tentang itu, Aku tidak melakukan apa-apa itu salah," Jawab Arya


" Mas Arya kau ternyata pembunuhnya aku kecewa kepadamu, tapi dek aku sudah tidak perduli kepadamu, kamu memang harus dihukum," Ucap Rindu dari kejauhan


" Tidak Usah kau tau siapa yang memberikan pernyataan itu semua, sekarang terima ajalmu," Jawab Lurah Darso sambil mencabuknya


" Rasakan itu beraninya melawan Wardani, terimalah semua atas ulahmu," Batin Wardani


Wardani dan Rani melihat hukuman yang berat itu, bahkan semua penghuni rumah merasakan takut dan kasihan terhadapnya, yang tidak bisa membantunya apa-apa.


Hukuman yang sangat itu membuat Arya sudah sekarat, dan Lurah Darso dan semua meninggalkannya, Para suruhannya menyiapkan tempat terakhir Arya, ketika itu Wardani menghampiri Arya yang sedang sekarang.


" Arya aku tau kamu yang membunuh Eyang Narni, dan menghancurkan tanaman Lurah, kamu juga menghianati diriku dengan Biyung Sumi, dan kamu juga menaruh hati kepadaku, bahkan kamu mau memiliku,serta kau berani memainkan diriku, semua ini aku yang mengatakan kepada Lurah Darso, jadi terima, dan selamat jalan," Ucap Wardani

__ADS_1


" Dasar wanita setan, licik, berbisa," Jawab Arya yang tidak kuat


Akhirnya Arya mengembusakan nafas, dan kematian Arya.


__ADS_2