
Setelah pertemuan itu Wardani merasa kecewa atas sikap Arya yang selama ini menyembunyikan darinya, Wardani saat itu juga mengikuti permainan Arya dengan berlagak tidak mengetahui semuanya.
" Aku harus mengikuti permainan Arya sekarang, dia sekarang menjadi penghianat, Aku harus berhati-hati kepadanya, dasar tidak tau di untung," Ucap Wardani
" Apa yang Arya lakukan Aku harus mengetahui, Aku tidak masalah soal rencana itu malah membuatku mudah, Aku tidak harus mengotori tanganku," Ucap Wardani
" Aku harus berhati-hati dan selalu mengawasi dirinya," Ucap Wardani
Arya yang sedang pulang dari pertemuan dengan Biyung Sumi sudah di sambut dengan Wardani di tempat yang sama. Tanpa curiga Arya menyapa tanpa ada rasa salah terhadapnya.
" Sudah pulang, gimana seru ngumpul bersama teman-temanmu," Tanya Wardani
" He.. Wardani belum tidur udah larut malam, oh seru sekali karena hari ini tadi kita makan-makan jadi jadi pulang larut malam," Jawab Arya
" Oh makan-makan emang ada perayaan apa, jadi enak tu merayakan sesuatu," Ucap Wardani
" Ha.. Bukan hanya makan-makan saja kok," Jawab Arya
" Sekarang kau pintar untuk mengelak dan bermuka dua kepadaku, dasar laki hidung belang juga," Batin Wardani
" Ya sudah aku ke kamar dahulu capek mau istirahat," Ucap Arya
" Silahkan," Jawab Wardani
Arya meninggalkan Wardani dan memasuki kamar untuk istirahat malam, Wardani seolah merasa ketiduran di sofa, malam penuh dengan mimpi indah, sehingga tidak merasakan bahwa pagi mulai mengahampiri, Lurah Darso yang membangunkan Wardani yang ketiduran di sofa.
" Sayang... Sayang...,bangun udah pagi," Ucap Lurah Darso
" Emma... Apa, " Jawab Wardani dengan masih ngantuk
" Sayang bangun udah pagi, ini udah waktunya mau berangkat," Ucap Lurah Darso
" Oh udah pagi, maaf sayang aku ketiduran," Jawab Wardani sambil kaget terbangun
" Iya sudah pagi bangun, cepat bersih-bersih diri aku tunggu di sini aku mau berangkat ke kantor desa," Ucap Lurah Darso
" Iya sebentar tunggu disini, aku akan segera kembali," Jawab Wardani
Wardani dengan cepat untuk menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih, dan segera untuk menemui Lurah Darso di depan sofa yang sedang menunggunya.
" Abah sudah siapa, masih menunggu Wardani ya, Biyung mau bicara dengan Abah," Ucap Biyung Maryam
" Katakan saja, mau bicara tentang apa," Jawab Lurah Darso
" Soal apakah Abah adil kepada semua istri-istri Abah, tentang semua yang Abah miliki," Ucap Biyung Maryam
" Kenapa kau katakan itu kepadanya, pastinya iya, yang penting kalian tinggal disini, makan dan semua biaya semua sudah ditanggung, masih kurang tidak terima, soal apa itu terserah aku," Jawab Lurah Darso
" Iya Abah maaf jika Biyung bertanya yang membuat Abah kecewa," Jawab Biyung Maryam
" Kenapa aku tadi salam bicara, harusnya aku selidiki sendiri, kenapa aku harus bertanya langsung ke Abah jadinya marahikan," Batin Biyung Maryam
" Tak apa, oh iya coba kau lihat nanti dokumen yang aku siapakan yang masih atas namamu ambil dan nanti kamu siap sementara agar aku ganti dengan Pembagian yang terbaru," Ucap Lurah Darso
Ketika Lurah Darso mengucapkan itu Wardani datang dan mendengarkan semua ucapnya yang hampir selesai. Wardani hanya tersenyum.
" Baik Abah, nanti saya kerjakan," Jawab Biyung Maryam
" Sayang sudah, mau langsung berangkat," Tanya Wardani
" Iya langsung saja, aku berangkat dulu," Ucap Lurah Darso
__ADS_1
" Iya Abah, hati-hati dijalan," Jawab Biyung Maryam
" Iya sayang, muach," Ucap Wardani
Lurah Darso pergi berangkat.
" Kenapa kau lihat-lihat," Ucap Biyung Maryam sambil pergi meninggalkannya
Wardani yang hanya melihat dan penuh dengan senyum karena dia akan memberikan sesuatu kepada Biyung Maryam. Wardani menikmati suasana itu tiba-tiba Biyung Zubaidah lewati di depannya.
" Aduh istri yang tidak di anggap, tinggal disini hanya sebagai pengabdi, dan hanya dapat sebuah hukuman," Ucap Wardani sambil menyindir
Perkataan Wardani membuat Biyung Zubaidah tersindir dan Biyung Zubaidah balik bertanya kepada Wardani.
" Apa yang kau katakan Wanita setan, kau ini seenaknya bicara di rumah ini,kamu siapa kamu hanya gembel yang di tinggal disini setalah itu di nikahi oleh Lurah jadi tak usah kau banyak bicara," Jawab Biyung Zubaidah
" Aku terima jika itu yang kau katakan, kalau aku jadi kamu aku lebih tidak terima, masak Biyung Maryam dapatkan semua harta Lurah Darso,kalau aku tidak mau harus minta lebih," Ucap Wardani
" Diam kau jangan kau banyak bicara, jangan kau berani untuk mengaduku,wajar jika Dinda dapat semua karena dia istri pertama yang sah," Jawab Biyung Zubaidah
" Begitu ya, tapi kau tidak pernah berfikir, jika kay beranggapan begitu maka kau disini hanya seorang babu coba lihat dia yang mendapatkan kamu yang disuruh terus dan kamu tidak di anggap salah satu orang yang ada di sini, pasti kau sakit, terserah kamu aku bilang begitu bukan kasih tapi tega, karena tadi Abah sudah memberikan kepadanya, kalau tidak percaya ya susah, dah nenek peyot," Ucap Wardani
" Apa benar yang di bilang oleh Wardani, jika ia maka aku hanya sebagai apa di mata merekamereka aku harus menyelidikinya," Ucap Biyung Zubaidah
" Semoga dia dengar dengan ucapanku," Ucap Wardani
Akhirnya Biyung Zubaidah mencari tau dengan termakan omongan Wardani itu. Biyung Maryam yang sedang melaksanakan perintah dari Abah itu, Biyung Maryam memasuki ruang yang di minta oleh Abah, Biyung Zubaidah yang masih mencari di mana Biyung Maryam mengambil surat itu. Biyung Maryam sudah masuk ke rumah itu dan mencarinya dan menemukan.
" Tadi Abah bilang di sini aku harus mencarinya, semoga ketemu, oh ini dia," Ucap Biyung Maryam sambil membukanya
Tusukkan di samping Biyung Maryam.
" Auuu... Kenapa kau menusukku Wardani kau wanita setan, biadap," Ucap Biyung Maryam
" Dasar Wanita licik," Ucap biyung Maryam sambil mencakarnya di bagian sikunya
" Au.. Dasar Nenek tua," Ucap Wardani
Ketika Wardani menusukkan pisau Simbok Darmi memasuki ruang dan mengetahuinya dia semua kabur dan akhirnya dia tertangkap dengan Wardani
" Tuan, Den apa yang kau lakukan," Ucap kaget Simbok Darmi
" Diam Mbok, jangan kau sampai bilang kesiapun tentang soal ini, jika kau berani kau akan mati dan sama seperti Biyung Maryam, mengerti," Ucap Wardani sambil memeluknya
" Ah.. Iya den ayu," Jawab Simbok Darmi
Biyung Maryam terjatuh dan tergeletak, yang masih sedikit menahan dari ajal yang terjadi kepada Biyung Maryam. Biyung Zubaidah akhirnya menemukan ruang itu dan masuk ke dalam.
" Pasti ini ruang itu aku harus segera masuk," Ucap Biyung Zubaidah
" Ayo ikut aku pelan-pelan kita kelaur, jangan ketahunan dengan Biyung Zubaidah," Ucap lirih sambil menutup mulut Simbok Darmi dan berjalan pelahan keluar
Akhirnya Wardani dan Simbok Darmi sampai di luar dan Wardani memberikan rencananya untuk mengikuti apa yang ia suruh.
" Mbok sekarang kau harus menurutiku, aku akan sengaja masuk lalu berteriak Biyung Zubaidah yang telah membunuh Biyung Maryam dan kamu segera datang untuk masuk agar kau seolah sebagai sanksi, mengerti," Ucap Wardani
" Mengerti Den, " Jawab Simbok Darmi dengan ketakutan
Biyung Zubaidah melihat Biyung Maryam yang tergeletak di lantai darah yang berceceran di dekatnya Biyung Zubaidah seolah untuk membantu tetapi ia malah tidak sadar memegang pisau itu lalu Wardani masuk dan langsung mengucapkan kepada Biyung Zubaidah pembunuh.
" Tolong aku Ananda," Ucap Biyung Maryam yang lemah
__ADS_1
" Dinda siapa yang melakukan ini semua bertahanlah, aku akan mencabutnya," Jawab Biyung Zubaidah
" Au...,"Biyung Maryam tidak bernafas lagi
" Dinda... Bangun, " Ucap Biyung Zubaidah
" Apa yang kau lakukan di sini, apa Biyung kau telah membunuh Biyung Maryam, au..., tolong," Ucap Wardani
" Buka aku tidak membunuh Biyung Maryam," Jawab Biyung Zubaidah
Simbok sontak datang.
" Tuan apa yang kau lakukan kepada Biyung Maryam, kau membunuhnya," Sahut Simbok Darmi
" Biyung bangun, " Ucap Wardani
Rani mendengar ribut dan mencoba mengahampiri.
" Ada apa ini, " Ucap Rani
" Lihat Biyung Maryam telah tiada dia di bunuh oleh Biyung Zubaidah, lihat tanyanya dia yang memegang dan penuh dengan darah," Sahut Wardani dengan menangis
" Biyung Maryam, bangun.... Apa yang terjadi apa yang membuat tega Biyung Zubaidah membunuh Biyung Maryam," Ucap Rani
" Aku tidak membunuhnya, kau datang untuk membantu tapi Biyung sudah tidak ada," Jawab Biyung Zubaidah
" Sudah diam kau Biyung Zubaidah, kau harus di hukum, aku sudah melihat sendiri, jadi bersiaplah untuk mempertangungjawabkan semuanya," Ucap Rani
" Bukan aku, maafkan aku Dinda tidak bisa membantumu," Ucap Biyung Zubaidah
" Sudah diam kau, pergi dari sini Biyung," Ucap Rani
" Pergi, Tunggu Abah pulang," Sahut Wardani
" Kasih sekali Biyung Zubaidah dia tidak bersalah, sabar ya Tuan, maafkan Simbok tidak bisawngatakan yang sebenarnya, karena Simbok takut dengan Ancaman Den Ayu Wardani," Batin Simbok Darmi
Biyung Zubaidah hanya menangis dan Meratap apa yang terjadi kepada Biyung Maryam, Biyung Zubaidah merasa ini semua sudah ada yang merencanakan semua, dan dirinya masuk kedalaman permainannya.
Tiba-tiba Lurah Darso pulang melihat kejadian itu, Biyung Zubaidah di hukum dan adili.
" Ternyata Den Ayu Wardani itu jahat, menakutkan dan wanita tega sekali," Ucap Simbok Darmi
" Mbok, " Sahut Simbok lainnya
" Kenapa Mbok kok Simbok hari ini kelihatan ketakutan sekali kayak melihat sesuatu," Ucap Mbok Warsi
" Iya Mbok asa apa kok seperti itu, " Jawab Simbok Denok
" Kayak kesambet setan aja," Sahut Simbok Marni
" Tidak ada apa-apa tadi aku melihat Biyung Maryam dibunuh di masih di ruang sana,jadi aku takut sekali," Ucap Simbok Darmi
" Lah beneran to itu Mbok," Sahut Paimin
" Ladalah siapa yang membunuhnya," Sahut Paijo
" Lihat nanti saja, aku mau ke kamar untuk menenangkan diri, " Ucap Simbok Darmi
" Ya udah Mbok ayo," Jawab Simbok Marni
" Siapa yang melakukan semua ini, dia akan mempertangungjawabkan semua perbuatan ya, di hukum dan di arak-arak kampung sini hingga tiad, " ucap Lurah Darso
__ADS_1
Biyung Zubaidah di hukum karena perbuatan salah yang hanya salah paham yang Berakibat harus Menerima hukuman tanpa melakukanya, dia harus menanggung semua, Biyung Zubaidah hanya menerima nasibnya, dan di hukum hingga mati.