
Setelah Lurah menemui Wardani, Lurah tak sadar diri bahwa dia marah semarahnya, sampai seperti setan yang tak memiliki rasa kasihan terhadap Wardani, Lurah marah sekali dan ingin segera berbicara kepada Wardani apa yang terjadi dan apakah yang di lakukan Wardani semua menyukai dirinya.
Barang-barang kamar pun berantakan tak tersisa, kaca berserakan, bahkan serpian barang tanpa bentuk menghiasi lamar indahnya yang pecah.
Teriakan Biyung yang sengaja untuk menenangkan kemaram setan wajahnya yang sangat sengit tak meluluhkannya.
" Abah apa yang terjadi terhadapmu, apakah ada yang salah, cerita kepada Biyung, " Ucap Biyung Wardani
" Ah... Marah, jangan ikut campur apa yang terjadi padaku, " Jawab Lurah dengan merupakan barang disekitarnya
" Tapi aku Istrimu, yang berhak tau dan membantu jika ada sesuatu terhadap mu, Abah, " Jawab Biyung Maryam
" Sudah jangan banyak bicara, jika aku tidak membutuhkanmu makan kau jangan ikut campur, Mengerti, " Jawab lurah sambil merusak
" Ah.... Abah hentikan, " Ucap Biyung Maryam
" Kenapa dengan tuan, segitu marah dan merepar sesuatu, seperti suara barang yang pecah, " Ucap Dayang yang lewat di depan kamarnya
" Aku jadi takut dan serasa takut jika aku langsung melihat Tuan marah segitu tatap muka, " Jawab Dayang
" Kayak wajah setan yang menakutkan dan tak ada yang bisa mengalahkannya, " Sahut Dayang
" Hust sudah jangan disini nanti ada yang tau jika kita tak sengaja lewat disini kita malah kena marah, " Ucap Dayang
" Sudah Ayo, " Jawab Dayang
" Ada apa suara dari kamar Anakku dan Istrinya, " Batin Ibu Narni
" Pareng Tuan, " Ucap Dayang
" Iya, " Jawab Ibu Narni
Bu Narni penasaran dan menuju ke kamar mereka untuk mendengarkan apa yang terjadi terhadapnya.
Bu Narni berfikir bahwa dirinya tak mau ikut campur terhadap masalah anaknya, agar diselesaikan sendiri.
" Sudah lah biarlah mereka menyelesaikan masalah nya sendiri, jika aku ikut campur dia akan tambah marah, " Ucap Ibu Narni
Ibu Narni meninggalkan kamar nya menuju ke kamar nya untuk istirahat dan bersantai diri.
Wardani yang sedang membantu mbok di dapur sedang memasak. Kaget dengan suara Lurah yang memanggilnya dengan keras.
__ADS_1
" Abah mau kemana, " Ucap Biyung Maryam
" Jangan ikut campur, aku mau keluar dulu, " Jawab Lurah dengan keluar kamar dengan kasar
" Abah kenapa ya,sangat marah sekali, apa yang terjadi kepadamu, " Ucap Biyung Maryam
" Ya Sudahlah," Ucap Biyung Maryam sambil bersih-bersih
" Den ayu sudah, Den kekamar saja jangan di dapur ini sudah jadi kerjaan Mbok, " Ucap Mbok
" Sudah Mbok tidak apa-apa, Wardani juga tidak ada kerjaan, jadi aku bantu Mbok, " Jawab Wardani
" Ya sudah Den Ayu, " Ucap Mbok
Lurah datang memanggil dengan marah dan kasar. Yang membuat Mbok dan Wardani kaget kenapa yang terjadi terhadap Lurah. Menjadi pertanyaan keduanya.
" Wardani....! " Panggil Lurah terhadapnya
" Den Ayu, Tuan memanggil kamu, " Ucap Mbok
" Iya Mbok, tapi suara marah dan kasar seperti itu ya, " Jawab Wardani
" Tidak sama sekali Mbok, Wardani malah bertanya-tanya, " Jawab Wardani
" Wardani ikut saya, ada yang mau saya tanya kepada mu, cepat, " Ucap Lurah sambil menarik tangannya
" Aduh Tuan pelan-pelan, " Ucap Mbok
" Cepat ayo ke taman belakang, ikut aku," Ucap Lurah
" Aduh Tuan begitu marah, apa yang terjadi terhadap Den Ayu," Ucap Mbok
" Ah sakit Mas, apa yang kau lakukan terhadapku, " Jawab Wardani
" Lepaskan tangan aku, Sakit, " Ucap Wardani
Lurah melepaskan tangannya.
" Aku mau tanyakan kepadamu, mengapa semua Saudara suka terhadap mu, dan mengapa kau mengkhianati ku, " Ucap Lurah
" Kenapa kau salah aku, aku saja tidak tau jika mereka suka terhadapku, jika itu terjadi buka salah ku, tapi salah mereka yang jatuh hati padaku, " Jawab Wardani
__ADS_1
" Tapi kenapa kau Terima dia, " Ucap Lurah
" Ya wajah aku menerimanya karena dia belum berpasangan sama seperti ku, dan jika aku memilih mu kau sudah beristri, jika kau miliki aku harusnya kau menikahi ku menjadi istri ke lima mu, " Jawab Wardani
" Ah... Omong kosong, kau tetap harus jadi milik ku, jangan pernah buat aku marah seperti ini lagi, " Ucap Wardani sambil menampar pipinya
" Mengapa kamu menamparku, " Jawab Lurah
" Ini hukuman kau berani melakukan aku seperti ini, dan kau sudah kasar terhadapku, emang aku siapa kamu bisa mengatur hidupku, " Jawab Wardani sambil meninggalkannya
" Wardani berhenti... Maaf kan Mas, " Ucap Lurah
Wardani terus berjalan untuk meninggalkannya tanpa menghiraukan ucapan sang Lurah.
" Kenapa aku kasar terhadapnya, harusnya aku berbicara baik dengannya, " Ucap Lurah
Lurah menyesal atas perlakuan yang dilakukan terhadap Wardani, karena amarahnya yang meluap yang membuat tak terkendali dalam bersikap, Lurah sangat khawatir Wardani akan marah dan tak mau bertemu dengannya lagi.
Lurah kembali ke dalam kamarnya dan langsung masuk dan tidur di ranjangnya untuk istirahat.
" Deng Ayu, bolehkan Mbok masuk ke kamar, " Ucap Mbok
" Boleh Mbok silahkan masuk, " Jawab Wardani
" Mbok bawakan Den Ayu minuman hangat sebelum tidur, oh iya Mbok mau bertanya, tadi Tuan tidak melakukan apapun terhadap Den Ayu, Den Ayu bukan siapa Tuan tapi Tuan semarah itu, " Ucap Mbok
" Oh tidak Mbok, Wardani baik-baik saja, tadi wajar jika Tuan Marah karena Wardani lupa apa yang saya lakukan, " Jawab Wardani
" Syukur kalau begitu, ya sudah Den Ayu isti, Mbok juga mau istirahat, " Ucap Mbok
" Iya Mbok, makasih atas minuman hangatnya," Jawab Wardani
" Sama-sama, " Ucap Mbok
Mbok keluar dari kamar Wardani.
" Kejadian ini akan menguntungkan buatku, Tunggu waktu mainnya, yang hanya tau aku dan Arya, siapa yang menghalangiku makan akan lenyap di tanganku, " Ucap Wardani
" Aku akan balas kan dendam terhadap orang tuaku, yang begitu keji terhadapnya, " Ucap Wardani
" Hahahaha, " Tawa Wardani dengan bahagai
__ADS_1