Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
sn 3 : Aku tahu kau tidak akan berani...


__ADS_3

"Maksudnya?" tanya semua orang kompak


"Sebenarnya kau ini siapa? ummi penasaran pisan" tanya Nurul berusaha membuka topeng yang di kenakan wanita tanpa identitas itu


"Jangannnnnn oma, Farhan 'kan masih ingin main" rengek Farhan karena sang oma membereskan mainannya


Terlihat Aisyah baru saja keluar dari kamarnya, kayanya ia habis nidurkan Hasna "Hasna sudah tidur?" tanya Hasanah ketika Aisyah duduk di atas tikar tempat tadi Hasna bermain.


"Iya bund...ARRRGGGG" belum Aisyah melanjutkan ucapannya lampu tiba tiba saja padam total, jendela juga tiba tiba tertutup rapat tak memberikan cahaya untuk masuk kedalam. Farhan yang tengah mainpun segera menghentikannya lalu memeluk sang oma.


"Oma Farhan takut" seru Farhan ngumpet di ketek Hasanah begitu juga Aisyah yang terlihat sangat ketakutan. Aisyah segera meraih handpon di sakunya lalu menyalakan senter alangkah terkejutnya ia mendapati sosok wanita dihadapannya, wajahnya sangat pucat tanpa meke up segorespun.


"Bunda liatkan?" tanya Aisyah menutup matanya


"Iya bunda liat, ia mirip alm. Mi...akhh tidak bunda pasti halusinasi...coba kamu nyalakan lagi senternya" titah Hasanah masih penasaran


"Teh Aisyah, oma jangan tarik tanganku" ujar Farhan berusaha melepaskan gengaman itu


"Teteh gak narik tangan kamu sayang oma kali"


"Oma gak narik malahan tangan oma di pegang sama kamu Aisyah"


"Kalau bukan oma, lalu siapa?" Aisyah memberanikan diri meraba tangan Farhan dan tersentuhlah tangan yang terasa basah dan lengket. Aisyah segera menghempaskan genggaman itu, sementara Hasanah meraih handpon Aisyah lalu menyalakan senternya kembali.


Di saat senter itu menyala alangkah terkejutnya mereka melihat sosok wanita berhijab penuh darah diwajahnya, seketika Aisyah meraih handpon di tangan Hasanah lalu melemparnya ke arah sosok itu.


Namun lemparannya meleset malah handponnya kejedot ke tembok dan terdengar suara pecahan kaca dari arah handpon tadi.


Aisyah tak memperdulikan hal itu iapun memeluk erat tubuh sang bunda begitu juga sebaliknya, Farhan yang berada di tengah tengah hanya bisa pasrah.


"Oma, itu tadi siapa?" tanya Farhan gemeteran


"Gak tahu sayang"


"Bismilahirohmanirohimm (Aisyah membacakan ayat kursi dengan sangat lantang begitu juga Farhan dan Hasanah), aku mohon jangan ganggu kami...pergi sana yang tenang in syaa Allah kami akan do'akanmu aku mohon pergi...." mohon Aisyah tak berani membuka matanya.


"ARRRRGGGGGG SETANNN, SUDAHKU BILANG JANGAN GANGGU KAMI LAGIIII" pekik kedua sejoli itu hampir berbarengan karena pundak mereka terasa ada yang memegangnya


"Heyy sayang ini A'a, bukan setan lagian ngapain A'a ganggu kamu!!" seru Ahmad bingung


Mereka pun membuka matanya perlahan terlihat jelas Ahmad yang berada di hadapannya juga ketiga parubaya yang tengah memperhatikan mereka dengan satu tangan berada di mulut mereka mungkin sedang menahan tawanya karena tingkah konyolnya.

__ADS_1


Aisyah menatap seluruh ruangan nampak tak ada yang aneh, lampu terang, jendela terbuka seperti sedia kala. Lalu tadi itu halu? "mana sosok wanita itu? tadi ada di sini!!" tanya Aisyah bingung


"Wanita? siapa?"


"Liatlah tangan aku, ini darah 'kan!! tadi tangan aku di tarik sama dia"


"Kalian nie ada ada aja"


"Handpon?" Aisyah berlari menuju handpon yang tengah rebahan di atas lantai, terlihat bodynya retak parah sampai sebagian ada yang copot berserakan di lantai untungnya gak berdarah kalau berdarah serema hihi...


Matanya membulat tak percaya handponnya bisa separah ini, di saat ia mengecek ternyata masih nyalah biasalah handpon mahal hha...cuman itu tadi bodynya sudah retak tak berdaya. Aisyah melirik ke arah mereka yang tengah memperhatikannya, lantas ia pun merengek


"Akhhh handponku rusak, ihh ini gara gara sosok wanita itu...handponku jadi tak berdaya gini. Kalau ketemu lagi aku akan mencubit perutnya sampai ia mual" tekan Aisyah tepatnya sih marah


"Ck. tadi aja pada teriak ketakutan sekarang sok soan" ledek Ahmad membuat Aisyah semakin marah


"Kenapa handponmu bisa seperti ini?" tanya Ahmad bingung


"Tadi ada sosok wanita mukanya itu berdarah, aku kaget yaa aku lepar aja tuh wajahnya pake handpon, tapi malah meleset dan jadilah seperti ini ahh A'a...." jelas Aisyah di barengi rengekan agar sang suami mau membelikannya.


"Pake aja ini 'kan masih nyala, masih bisa di pake" saran Ahmad membuat Aisyah semakin merajuk


"Ini udah retak nanti gimana kalau tangan Aisyah kegores terus berdarah?"


'A'a seneng banget kalau liat istrinya menderita' batin Aisyah cemberut.


Takkk...takkk...takk...


Ketika itu juga Aisyah membulatkan matanya, melihat sosok pria jangkung yang tak asing baginya berdiri tegak di tengah tengah ruangan.


"Aris?" gumam Aisyah "kau mau ngapain kesini hah?" tanya Aisyah sedikit tinggi


"Aku hanya ingin bersilahturahim denganmu" jawab Farish santai


"A' pengangin dia" titah Aisyah beranjak pergi ke arah dapur


"Mau kemana?"


"Ambil pisau"


"Astagfirullah, untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk membunuh pria itu, dia harus merasakan apa yang aku rasakan" Aisyah terus melajukan langkahnya tanpa berpikir apa apa karena ia nampaknya sudah sangat marah.


Hasanah terlihat akan menghentikan Aisyah namun Nurul menghentikan lajunya "biarkan" bisik Nurul


"Tapi 'kan..."


"Tenang saja dia tak akan berani melakukan hal itu"


Terlihat Aisyah kembali membawa pisau yang nampaknya berkarat, bukannya pergi Farish malah duduk santai di atas kursi sambil memainkan kukunya.


"Sudah kau tajamkan pisau itu?" tanya Farish santai


"Kenapa harus tajam?, lebih baik yang ini...biar kau lebih merasakan sentuhan pisauku ini" ujar Aisyah membuat mereka merinding mendengarnya, terus berjalan mendekati Farish


"Ayah kenapa pisaunya jadi yang itu?" bisik Ahmad


"Padahal ayah sudah menaruh yang tajam"


"Sebaiknya kita hentikan, Aisyah kayanya sudah murka"


'Ya Allah kok jadi yang ini pisaunya?, gimana sih ayah bener bener mau membunuhku' batin Farish menelan silivanya dalam dalam


"Mafia kok wajahnya pucat sih?" tanya Aisyah membuat semua orang membulatkan matanya


'Aisyah kok tahu aku mafia?' batin Farish heran begitu juga dengan yang lainnya


"Kenapa? aku tahu kok kau itu seorang mafia berkelas juga terkejam sedunia. Tapi kenapa kau terlihat sangat pucat ketika aku akan membunuhmu, padahal aku bukan mafia lho..." ujar Aisyah memain mainkan pisaunya


"Kau siap 'kan?" tanya Aisyah melayangkan pisaunya lalu


"ARRRGGGGGG" pekik semua orang terutama Farish


Seketika mereka menghentikan teriakannya lalu membuka matanya perlahan karena mendengar suara isakan, dilihatlah oleh Farish pisau itu menanjap di tangan kursi kemudian matanya melirik ke pada objek yang tengah duduk sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku tidak bisa melakukan itu, aku bukan pembunuh dan tak akan membiarkan diriku untuk membunuh hiks...hiks..." gumam Aisyah terisak isak


"Aku tahu kau tidak akan pernah berani untuk menyakiti ataupun membunuh orang yang kau benci walaupun aku tahu kau mampu untuk melakukannya tanpa ampun" ucap wanita yang tengah memeluk Aisyah dari belakang membuat Aisyah menghentikan isaknya


'Aku tak salah dengar, suaranya mirih alm. sahabatku' batin Aisyah, Aisyahpun melepaskan tangannya lalu melirik ke arah wanita di belakangnya


"MILA" pekik Aisyah memeluk tubuh sahabatnya itu, yaa wanita itu Mila sosok wanita yang selama ini setia menjadi sahabat Aisyah sekaligus kakak iparnya hhe...

__ADS_1


"Ya Allah Mila ini beneran kamu 'kan?, aku kagen banget apa lagi anak anakmu"


__ADS_2