
Di rumah sakit terlihat Apian dan Vino tengah duduk di kursi tunggu raut wajah Apian menunjukan kekecewaan, hatinya juga hancur berkeping keping setelah mengetahui bahwa pujaan hatinya telah memiliki suami.
"Vin kita cabut gua bosan di sini" ajak Apian kepada Vino
"Kita kan belum nengok si Aisyah!"
"Nanti aja gua sekarang gak sangsup liat pemandangan yang bikin hati gua hancur" ujar Apian berlalu meninggalkan Vino begitu aja.
"Kasian si Apian" gumam Vino beranjak pergi membuntuti Apian di belakang.
Singakat cerita Apian telah sampai di rumahnya iapun turun dari mobilnya. Ketika Apian akan masuk ke dalam rumah tiba tiba ia di kejutkan oleh maminya yang tengah mematung di balik pintu "Ah pas banget anak mami udah pulang, ayuk ikut mami" ajak Fatimah
"Mau kemana mi? Apian baru pulang capek pengen rehat" elak Apian namun Fatimah kekeh ingin putranya ikut dengannya
"Nanti nyesel lho"
Tanpa perlawanan ataupun cek cok Apian pun mengangguk dengan kondisi patah hati jalan nya pun lung lai 'Mau di bawa kemana sih mana pake beginian lagi' batin Apian ngerutu
Karena sebelum Apian berangkat Apian di suruh untuk menakai kemeja berwarna marun dan pakaian itu sangatlah risih bagi Apian pasalnya ia selalu pakai kaos.
Sampailah mobil itu di sebuah rumah sederhana namun terlihat indah karena ukiran di bagian atap rumah dan tembok rumah menambah kesan unik.
Juga sambutan hangat menyertai mereka ketika mereka akan masuk ke dalam rumah itu.
'Ini rumah siapa sih, sebenarnya mami sama papi mau apa?' batin Apian melirik ke sekeliling ruangan itu sedikit kagum walaupun kecil tapi sangat rapi juga bersih.
"Emm seperti pembicaraan kami di telpon kami akan melamar putri bapak untuk anak saya" ucap Dedi (papi Apian) memulai percakapan
Ucapan Dedi membuat Apian membulatkan matanya "Apa? melamar?" pekik Apian terkejut
"Diem jangan teriak seperti itu" bisik Dedi cengengesan
"Tapi pi kenapa dadakan?"
__ADS_1
"Gak dadakan, cuman papi kasih tahu kamunya dadakan biar supraise hha..."
"Tapi kan Apian belum siap..." elak Apian mengagap karena di dapatinya gadis berjilbab syar'i berwarna hitam dan baju gamisnya berwarna marun yang baru saja keluar dari kamarnya
"Itu calon istri mu cantik kan?" rayu Dadi terkekeh
"Gimana mau nolak?"
"Gak sih mi, kalau yang ini Apian mau" kata Apian masih menatap wanita itu
"Eh turunin kepala kamu belum mahram" titah Fatimah menepuk bahu Apian membuat Apian tersadar dari lamunannya
"Emm jadi gimana pak apa putri bapak menerima lamaran dari kami?" kata Dedi
"Kami sih setuju setuju aja tapi keputusan ada di tangan Maryam putri kami" ucap pak Guslandi (abi Maryam)
"Gimana nduk?, waktu itu kan tante sudah ngasih kamu sipi kamu sudah baca dengan teliti?" tanya Fatimah di angguki Maryam kemudian
'sipi apaan tuh?' batin Apian heran
"Iya om tante bismullahirohmanirohim in syaa Allah Maryam siap jadi istri kak Apian" ucap Maryam dengan nada lembut seraya menyungingkan senyumannya.
"Alhamdulillah" pekik Apian senang seraya mengusap wajanya dengan kedua tangannya membuat semua orang tertawa lepas
"Emm tadi katanya gak mau..." ledek Dedi, Apian hanya nyengir sembari menggaruk kepalanya walau tak gatal, obrolan pun berlanjut mengenai rencana pernikahan nya.
Sambung ke rumah sakit di mana Aisyah di rawat, ruangan itu menjadi sepi kembali karena Rani dan anak buahnya pulang begitu juga dengan Renata yang di suruh pulang dulu oleh Ahmad walaupun dati di awal ada sedikit cek cok karena Renata kekeh ingin menemani Aisyah sampai sembuh.
Ahmad masih setia menemani Aisyah yang kini tengah tidur pulas mungkin efek dari sakit di kepalanya. Di sela asyiknya Ahmad mengelus elus pipi mulus Aisyah sembari terkekeh tiba tiba ada suara ketukan dari arah pintu bertanda ada orang yang ingin masuk ke dalam.
Benar saja pintu itu langsung terbuka dan masuk beberapa orang ke dalam ruangan itu, ya siapa lagi kalau bukan keempat orang tuanya.
"Aisyah..." pekik Hasanah seraya memeluk Aisyah membuat Aisyah terbangun dari tidurnya karena terkejut.
__ADS_1
"Bunda!!" ucap Aisyah serak seraya membalas pelukan sang bunda
"Ya Allah kening kamu kok di balut gini, bunda sangat khawatir kepadamu, bahkan nie poto kamu tiba tiba jatoh dan pecah seketika hati bunda deggg...!! sakit dan keinget kamu, bunda percaya kata orang zaman dulu kalau poto seseorang pecah itu tandanya ada sesuatu yang terjadi kepada orang yang ada di poto itu ya sontak membuat bunda khawatir eh ternyata benar kamu jadi seoerti ini" kata Hasanah menitihkan air matanya.
"Aisyah kamu baik baik aja kan gak ada luka lain selain di kening kamu?" tanya Nurul khawatir
"Gak ummi, kalian jangan khawatir Aisyah baik baik aja"
"Alhamdulillah, kamu sih ceroboh" Nurul memukul bahu Ahmad pelan karena kesal
"Ummi jangan salahin A'a...ini semua salah Aisyah sendiri yang ceroboh"
"Pelakunya udah ketemu belum?"
"Udah, mereka sendiri yang menyerahkan diri. Tadi Ahmad liat mereka sangat menyesal atas apa yang mereka lalukan kepada Aisyah juga Ahmad liat di sosmed udah ketemu pelakunya, dia juga memberi keteranagan...emm kalain sudah cek sosial media?" jelas Ahmad
"Hhe...mau ngecek sosial media gimana kami di mobil pada gigit jari hhe" ucap Hasanah cengengesan
"Oh iya ini ada tapi orang ini kayanya latah deh jadi cepet ketemu hha..."
"Dia Baim teman Aisyah emang di amah orangnya latah makanya kalau ada apa apa pasti langsung ketemu" jelas Aisyah terkekeh
Merekapun saling membalas ucapan diiringi kekehan yang meramaikan suasana. Beberapa menit kemudian seorang dokter masuk ke dalam ruangan itu dokter memberitahukan bahwa pasien yang bernama Aisyah bisa pulang sekarang, dan itu berita yang sangat mengembirakan bagi mereka.
Sesampainya mereka di rumah, Aisyah langsung di rebahkan di atas ranjang ia di suruh untuk rehat namun matanya tatap melek mungkin ia tak ngantuk "Tidur neng" titah Ahmad tergalak
"Aisyah gak ngantuk" elak Aisyah datar
"Kalau gak tidur" elak Ahmad mendekatkan bibirnya ke bibir Aisyah
sontak membuat Aisyah memalingkan wajahnya "Ah iya Aisyah mau tidur" pekik Aisyah mendorong kepala Ahmad agar menjau darinya.
Gak apapa dong lagian kamar sepi juga ini udah mulai malam hha....
__ADS_1
Bersambung....