
Hari semakin gelap, hanya sorotan lampu yang dapat menerangi aktifitas makhluk hidup malam ini, rasanya sunyi hanya terdengar paduan suara dari mulut jangrik. Hah... angin spoy spoy yang masuk kedalam rumah lewat celah jendela membuat sebagian orang kedinginan. Itupun kalau yang punya jendela hha 😁
Terlihat seorang pria berusia 19 tahunan tengah rebahan dengan handpon di genggamannya membuat mata lebar itu terus menatapi layar ponsel.
Wajah berseri saat menatap sebuah poto di layar ponselnya, membuat ia tak sabar untuk menghubungi PDKT annya itu.
Ibu jarinya berusaha untuk mengetik sesutu namun ia gagal terus menerus. Tapi pria itu tak menyerah, ibu jari itu terus menekan satu persatu huruf alfabert yang ada di keyboornya penuh kepercayaan.
'tring' suara pesan masuk ke ponsel Nissa, segera gadis tomboy itu meraih ponsel yang ia simpan di atas bantalnya. "ini siapa, kok nomer gak dikenal?" gumamnya.
Nissapun membuka pesan dari Farish, ahh rupanya ia berhasil setelah setengah jam berusaha menekan huruf alfabert di keyboornya.
'Assalamualikum' isi pesan
"ini siapa? tar ini kan kk yang tadi pagi di taman" melirik poto propil Farish. "ahh emang yaa kalau jodoh itu gak kemana. Balas gak yaa!" gumam Nissa tersenyum lebar lalu membalikkan badannya sehingga posisinya menjadi terngkurap dengan bantal di bawah dadanya guna menahan bagian dadanya agar tak merasakan sakit ketika bangun.
Gadis tomboy itu sanagat bahagia, bahkan sampai meneteskan air matanya karena terhura ehh terharu. Gadis tomboy itu tak ingin menyia nyiakan kesempatan emas, iapun segera membalas chatnya.
Tring....
'waalaikumussalam, ini siapa yaa?' balas Nissa, pura pura bego.
"Ahh alhamdulillah di balas, berarti bener apa yang di katakan si Aisyah" gumam Farish, ibu jarinya kembali menekan nekan huruf demi huruf agar menjadi suatu kata yang baik.
'Sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu malam kamu, perkenalkan nama saya Farish kakaknya Aisyah. Ini Nissa kan?' balas Farish lemah lembut membuat Nissa di sebrang sana kegirangan.
__ADS_1
'Iya aku Nissa, ada urusan apa ya kak!! kalau boleh tahu?' balas Nissa, sembari menggigit bantal dengan hati gembira
'Emm gak, saya cuman pengen kenal kamu!! apakan boleh saya mengenalmu lebih jauh?'
"Ahhhh, hore hore yeyeye" seru Nissa melompat lompat di ranjang dengan tangan yang bergerak ke sana kemari.
"Non ada apa?" tanya Mihnah, membuka pintu tiba tiba. Mambuat gadis tomboy itu terkesiap.
"Hehe... gak bi gak papa" jawab Nissa nyengir, membuat Mihnah geleng geleng kepala kemudian.
"Terus non lagi ngapain, joged joged?" tanya Mihnah, mengerutkan keningnya.
"Ahh gak bi..Nissa cuman lagi seneng, sini bi... Nissa mau curhat" tutur Nissa, Mihnahpun menghampiri Nissa yang hendak duduk di ranjangnya.
Mihnah itu selain jadi pebantu ia juga menjadi teman curhat bagi Nissa di kala susah dan senang. Nissa mengganggap Mihnah sebagai ibunya, ma'lumlah Nissa dirawat Mihnah dari sejak ia lahir. Makanya Mihnah selalu di sayang oleh Nissa ketimbang ibunya sendiri, Nissa tak pernah menceritakan hidupnya kepada ibunya, malahan ia takut kepada ibunya. Tapi tetap Nissa berusaha untuk menyayangi orang yang telah mengandungnya dan melahirkannya.
"Gini bi ihh Nissa seneng banget ada cowok kece pengen kenalan, ahhh nie bibi baca aja" seru Nissa menyodorkan handponya kepada Mihnah. "kece ya bi?" Mihnah mengangguk seraya menyungingkan senyumannya.
"Ahh ini mah bibi restuin deh" seru Mihnah memeluk erat tubuh mungil Nissa.
"Ahh bibi makasih, tapi bi kalau mamah sama papa nanya jawab aja yaa jangan dirahasiain yaa" titah Nissa
"Lah kenapa non? biasanya suruh jaga" tanya Mihnah melepaskan pelukannya.
"Ya bi biar mereka ngasih restu hhe.." tutur Nissa nyengir membuat Mihnah semakin bahagia. Mihnah selalu merahasiakan semua tentang Nissa kepada orang tuanya mulai dari hal kecil hingga yang besar, itupun di suruh Nissa.
__ADS_1
"Ya udah non, lanjutin chetannya. Bibi mau kedapur muachh.... Jangan tidur malem malem yaa" seru Mihnah, seperti biasa ia selalu mengecup pangkal rambut Nissa setiap malam. Lalu pergi ke dapur untuk menyelesaikan cuci piringnya.
Keliatannya Mihnah tulus merawat Nissa, bahkan ia yang selalu merasakan khawatir yang keterlaluan di dirinya ketika Nissa keluar rumah. Namun orang tuanya seolah olah tak memperdulikannya, bahkan nie orang tuanya jarang pulang ke rumah paling ngambil pakaian atau gak cuman nginep satu atau dua hari itupun bukan untuk menemani sang anak.
Tring...!!
"Alhamdulillah di balas juga" gumam Farish yang dari tadi berharap di balas kembali oleh pujaan hatinya.
'boleh kok, emm maaf yaa lama balesnya soalnya tadi ada insiden kecil'
'Gak papa aku akan menunggu balasan kamu kok, emm terima kasih yaa' balas Farish tersenyum tipis.
Merekapun saling balas membalas chat satu sama lain. Sementara di sisi lain...
Ahmad tengah duduk di kursi menghadap keluar rumah di jendela kamarnya. Ahmad menikmati secangkir kopi yang ia taruh di meja kecil di hadapannya sembari ditemani sorban yang tadi Aisyah kembalikan kepadanya.
Terlihat senyuman lebar yang ia sungingkan, membuat suasana semakin syahdu, dengan angin spoy spoy yang menyentuh tubuh kekernya itu.
"Emm kayanya ada yang kurang, tapi apa yaa?" gumamnya nyeruput kopi di cangkir kecil.
"Kopi ada, angin ada, bintang ada, bulan ada, sorban ada akhh yang gak ada itu cewek hhaa, kapan yaa saya bisa memiliki bidadari?, ahh apaan sih Mad ngaco" Ahmad menepuk pipinya.
"Pokus belajar Mad, jangan dulu mikirin kapan nikah. Hah...ini sih gara gara Abi yang selalu bicara tentang kapan nikah jadi gini deh kebawa bawa, ahh Ahmad...Ahmad" ucap Ahmad geleng geleng kepala.
"Emm kapan yaa ada panggilan dari sana, saya udah gak sabar...ini udah satu tahun saya menunggu tapi gak ada kabar kabar" gumam Ahmad, mulai murung.
__ADS_1
Yaa Ahmad daptar beas siswa ke kairo sebelum sekolahnya SMAnya tuntas katanya sih biar begitu lulus sekolah langsung ada panggilan dari sana, tapi ternyata udah satu tahun belum juga ada panggilan sama sekali.
Bersambung... jangan lupa dukung ceritaku yaa😁