
Aisyah di dalam mobil hanya diam saja setelah bersungut, ia gak meyangka kalau suaminya itu adalah mas misterius.
"Neng kamu kecewa yaa kalau A'a itu sebenarnya mas apa tadi, mas apa?" tanya Ahmad mulai melajukan mobilnya.
"Misterius" pekik Aisyah pelan
"Ahh itu mas misterius...pasti kecewa yaa?"
'Hah...kayanya iya kecewa' batin Ahmad karena Aisyah hanya diam
'Gak sih, soalnya A'a yang sekarang beda hhe...' batin Aisyah nyengir
"Berarti A'a udah tahu dong kalau Aisyah itu mbak mbak yang waktu itu?" tanya Aisyah setelah beberapa menit terdiam.
"Iya pas udah ijab, A'a juga terkejut gak nyangka gitu...kalau orang yang A'a bantuin itu kamu. Istri A'a sendiri" seru Ahmad terkekeh begitu juga Aisyah yang mulai terkekeh.
"Kamu kecewa yaa?" tanya Ahmad sekali lagi
"Enggak kata siapa aku kecewa" seru Aisyah terus terang
"Emm masa, kamu udah mulai membuka hati neng untuk A'a?"
"Emm dikittttt, kalu di persen baru 5 %" ucap Aisyah junur yaa emang buktinya Aisyah udah mulai nyaman di kecup, di peluk.
"Alhamdulillah, semoga cepet seratus persen hhe..." ujar Ahmad membuat keduanya terkekeh.
__ADS_1
Mereka berdua asyik mengobrol sampai sampai gak engeh kalau mereka telah sampai di rumah Aisyah "itu A' rumahnya, langsung masuk aja" titah Aisyah di angguki Ahmad.
Tiddd...tiddd...suara kelakson mobil membuat pak Budi terkesiap dan segera membuka gerbangnya. Mobil itupun masuk kemudian...
"Selamat datang non den" sambut hangat pak Budi dan Siti kompak
"Terima kasih" ucap kedua sejoli kompak
"Emm cie pengantin baru, selamat yaa non den semoga sakinah mawadah warohmah. Sama semoga cepet di kasih momogan yaa" ucap Siti mewakili sang suami
"Amiin...Terima kasih bi, mang atas doanya" ucap Ahmad terkekeh sementara Aisyah hanya diam.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah, Ahmad melirik ke sekeliling ruangan itu. Tekstur bangunannya kaya zaman dulu namun ada sedikit renovasi bagunan zaman sekarang 'bener ini rumah Aisyah dulu? sederhana, padahal rumah di Sukabumi megahnya minta ampun' batin Ahmad tak menyangka, Ahmad mengira kalau rumah di Jakarta akan lebih megah dari rumah di Sukabumi.
"Mainan kamu? tapi gak mungkin kamu kan udah gede" ledek Ahmad tertawa lepas membuat gadis itu semakin malu.
"Iya itu mainan zaman old, waktu Aisyah masih kecil" ucap Aisyah santai walaupun hatinya malu.
"Masya Allah kok masih utuh?. Mobil mobila A'a aja udah gak tahu ke mana hhaa..."
"Teu apik" pekik Aisyah bahasa sunda
"Ahaha...ini apa an" seru Ahmad meraih dot bayi warna pink. Segera Aisyah meraih dot bayi itu karena ia malu sekali, pipinya pun mulai memerah "Neng jangan di ambil sini liat" pekik Ahmad merebut kembali dot bayi itu.
"A'a ihhh sini, Aisyah malu" rengek Aisyah berusaha merebut kembali barang nya itu, namun Ahmad terus meledek sang istri sampai Aisyah murka dan di cubitlah perut sang suami membuat Ahamd mengaduh.
__ADS_1
Ahmad berpura pura ke sakitan sampai terjatuh ke lantai sontak membuat Aisyah terkejut dan kebingungan. Apa yang kamu lakukan Aisyah?, suamimu jadi kesakitan kan. Tapi padahal pelan kok pikir Aisyah gelisa.
"A'a maaf, A' sakit yaa" tanya Aisyah kebingungan harus ngapain. Setelah puas mengerjain sang istri Ahmad pun tertawa lepas bertanda kalau ia sedang ngeprank Aisyah "ahh A'a...dasar ngaprak yaa" seru Aisyah memukul bahu sang suami pelan.
"Maaf neng, lucu tahu wajah kamu" ledek Ahmad sementara Aisyah dia memutar kan bola matanya, seketika tubuh Aisyah di angkat guna membawanya ke atas ranjang.
Ahmadpun merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri "Neng ini bener rumah kamu?" Ahmad memberanikan dirinya untuk menanyakan hal itu soalnya ia penasaran banget.
"Iya, kenapa? kecil yaa beda sama yang di Sukabumi?" tanya Aisyah di angguki sang suami "Iya ini rumah di bangun waktu ayah masih kerja serabutan, waktu itu ayah sama bunda belum ke terima kerja jadi yaa ayah kerja apa. Tapi aku salut sama ayah sama bunda, walaupun uang nya gak cukup tapi mereka bisa membangun istana untuk Aisyah yaa walaupun kecil tapi Aizyah nyaman" jelas Aisyah, meneteskan air matanya lalu di seka oleh Ahmad.
"Aisyah di lahirkan dan di besarkan di sini. Dulu waktu aku masih dalam kandungan bunda, rumah ini belum di kasih lantai dulu tuh masih tanah gitu cuman kamar ini doang yang udah di kasih lantai. Setelah aku lahir mungkin sekitar satu minggu akhirnya ada perusahaan yang menerima ayah, dan alhamdulillah ayah bisa membereskan sisa yang belum beliau bangun" cerita Aisyah dengan pipi bergelinang air mata
Mendengar cerita sang istri Ahmad hanya bisa terdiam, dengan hati terharu kepada keluarga Aisyah. Yaa walaupun bergelimbang harta tapi mereka bersikap rendah hati suka nolong orang pikir Ahmad saat ini.
Banyak sekali kenangan yang telah Aisyah lakukan di rumah ini bersama kedua orang tuanya.
"Alasan kamu merawat barang mainan kamu apa?" tanya Ahmad kemudian
"Katanya sih kenang kenangan, makanya rumah ini gak di jual soalnya banyak sekali kenangan di rumah ini. Ayah sama bunda juga sesekali suka main ke sini" jawab Aisyah menyungingkan senyumannya.
"Oh gitu yaa"
Aisyahpun menceritakan tentang masalalunya kepada Ahmad padahal Aisyah tak pernah curhat kepada siapa siapa selain nenek, bunda, ayah dan Mila juga pamannya jangan lupakan cuman curhat kepada kiai Manshur hanya seperlunya saja tak seperti kepada sang bunda, hal kecilpun ia adukan.
Bersambung....
__ADS_1