Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
Kabar Baik untuk Ahmad 2


__ADS_3

Pagi sekitar pukul 09:00 dua sejoli itu tengah bebenah memasukkan barang barang pribadi ataupun bingkisan karena mereka akan menginap mungkin sekitar satu hari di rumah kakek nenek Ahmad.


"Udah semua bi?" tanya Nurul yang baru keluar dari rumah


"Iya udah sayang"


"Abi, Ummi kerumah mba Hasanah dulu yaa. Ummi mau nitip rumah kita" ujar Nurul di angguki sang suami. Nurulpun melangkahkan kakinya kerumah Hasanah.


"Assalamualikum" salam Nurul kepada Hasanah yang tengah menyiram bunga di halaman depan rumahnya.


"Waalaikumussalam warohmatullah, kamu mau kemana Rul?, udah rapi bener. Mau hanimun yaa hha..." seru Hasanah meledek.


"Paan sih Nah, aku mau kerumah mertua. Emm aku nitip rumah yaa"


"Ya in Syaa Allah, aku kirimkan satpam yaa kerumahmu untuk jaga jaga" tutur Hasanah menyungingkan senyumannya.


"Gak papa, gak usah, maksud akutuh.." ucapan Nurul di potong Hasanah


"Ahh gak papa, satpamku ada dua jadi salah satunya jaga rumah kamu oke, gak usah gak enakan gitu. Kita kan sahabat masa iya aku biarin kamu minta tolong" tutur Hasanah mengelus ngelus bahu Nurul, Akhirnya Nurulpun menyetujuinya.


Sedikit busa basi di antara keduanya, setelahnya Nurul kembali untuk segera pergi ke Bandung.


"Gimana udah?" tanya Ustadz Usman yang akan membuka pintu mobil untuk sang anak.


"Udah" jawab Nurul menunduk serta meremas remas ujung jilbabnya, Nurul tidak menceritakan yang sebenarnya karena dia tahu kalau Hasanah mengirim satpamnya pasti Ustadz Usman bakalan menolak dengan cara apapun itu. takut ngerepotin pikirnya.


"Ayok masuk kita sekarang berangkat, keburu mataharinya semakin meninggi" tutur Ustadz Usman yang tengah membukakan pintu mobil untuk sang istri tercinta.


"Makasih Bi" ucap Nurul menyungingkan senyumnya ketika masuk kedalam mobil.


Ustadz Usmanpun menjalankan laju mobilnya setelah beliau masuk mobil dan menyalakan mesin mobil tentunya.

__ADS_1


Setelah beberapa jam menempuh jarak yang cukup panjang entah itu puluhan, ratusan, ribuan km (Author gak tahu hhe) akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yaitu pondok pesantren Hidayatullah untuk menjemput putranya dan juga silaturahim kepada Kiai Manshur.


Ustadz Usman memakirkan terlebih dulu mobilnya, lalu mereka menemui Kiai pendiri pondok tersebut.


"Assalamualikum" salam ke dua sejoli itu


"Waalaikumussalam warohmatullah, Ustadz silahkan masuk" jawab Laila (ponakan kiai Manshur) mempersilahkan untuk duduk


"Iya terima kasih, nduk pak Kiainya ada?" tanya Ustadz Usman ketika hendak duduk di kursi ruang tamu yang cukup luas itu dengan perabotan lumayan mahal itu.


"Ada, sebentar Laila panggil dulu, permisi" Lailapun pergi ke dalam rumah untuk menemui Kiai Manshur yang tengah mengaji di kamarnya.


Tak lama, beliau akhirnya datang juga dan bersalaman dengan Ustadz Usman serta istrinya


"Gimana kabarmu nduk, sudah lama ente gak kemari. Paling cuma jemput putramu hha..." seru Kiai Manshur masih dalam dekapannya.


"Alhamdulillah baik, bagaimana keadaan bapak?" tanya Ustadz Usman melepaskan dekapannya pelan.


"Liat bapak masih sehat" jawab beliau dengan tangan terangkat seperti ingin memperlihatkan ototnya sembari tersenyum semangat.


Sedikit info Ustadz Usman itu adalah santri kesayangan Kiai Manshur dan kini putranyalah yang menjadi santri kesayangan beliau. Jadi mereka sangat akrab, tapi tetep Ustadz Usman selalu menghormati beliau walaupun beliau yang selalu mengajak ustadz Usman bercanda (tak berlebihan)


Merekapun mengobrol ria di sana sembari menceritakan kalau Ahmad akan kuliah di mesir "Apa? Ustadz Ahmad bakalan kuliah di kairo?" gumam Laila yang dari tadi nguping pembicaraan mereka di sudut ruangan, yang lumayan dekat jaraknya "Ahh berarti gak bakalan ketemu lagi dong ahh, padakal aku mau bilang kepada paman untuk jodohkan kita" tiba tiba aja Laila merasa sedih ketika akan di tinggal seseorang yang selama ini ia sukai.


Yaa selama ini Laila berusaha untuk mencari perhatian dari Ahmad namun Ahmad selalu menghindar yaa emang Laila terlihat baik ramah sopan santun tapi tetap Ahmad tak menyukai dirinya karena alasan Laila selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan bisa di bilang egois.


Setelah berbincang bincang cukup lama, Kedua sejoli itu izin untuk menemui Ahmad yang tengah rehat di kobongnya.


Tok...tok...tok...


Suara pintu kobong Ahmad di ketuk sembari mengucapkan salam "Waalaikumussalam warohmatullah" jawab Ahmad membuka pintu itu "Ummi, Abi Ya Allah" seru Ahmad, mengecup punggung tangan keduanya bergantian.

__ADS_1


"Ummi sama Abi mau bicara padamu diluar aja yaa" tutur Ustadz Usman, merekapun duduk di bangku yang terbuat dari bata pembatas teras itu.


"Ada apa Abi?" tanya Ahmad, penuh harapan entahlah harapan apa yang ia maksud.


"Kamu diterima beas siswa di kairo" jawab Ustadz Usman memeluk sang anak sembari menitihkan air matanya.


"Apa bi?... Abi bener gak bohongkan!" tanya Ahmad tak percaya, beliaupun melepaskan pelukannya lalu mengangguk pelan, terlihat sungingan senyuman di bibirnya "Alhamdulillah Ya Allah terima kasih" sambung Ahmad mengucap syukur banyak banyak, air matanya membendung namun ia berusaha untuk tidak menjatuhkannya karena kalau sampai jatuh bisa patal, teman temannya bisa bisa nertawain dirinya.


Yaa tahulah sikap Ahmadtuh cool, dinggin serta datar gak pantas dong seorang yang bersikap seperti itu nangis.


Ahmad diminta untuk beres beres pakaiannya dan pamitan kepada teman temannya karena sekarang juga ia harus pulang. Hahh cukup lama ketika ia berpamitan karena saking banyaknya teman temannya hampir memakan waktu satu jam.


"Mad jangan lupain kita, ouh ya kalau ente nikah jangan lupa ngundang kami" ucap salah satu sahabatnya.


"Ustadz jangan pergi disisi aja" rengek anak didiknya yaa kira kira usianya 10 tahunan.


"Ustadz semoga sukses, belajar yang rajin"


"Alhamdulillah ente akhirnya keterima juga, sukses bro"


"Sana sana pergi biar ane gak ada saingan hha.."


Kira kira seperti itu rengekan teman temannya serta anak didiknya. Mereka merasa kehilangan Ahmad akan meninggalkan mereka ada juga sih yang seneng karena tak ada saingan lagi pikir mereka.


"Udah nak?" tanya Ustadz Usman yang dari tadi memperhatikan sang anak pamitan kepada teman temannya.


"Iya bi.."


"Yaudah ayok masuk ke mobil" titah beliau Ahmadpun masuk kedalam mobilnya dengan hati campur aduk antar bahagia dan sedih.


"Sekali lagi terima kasih bapak" ucap beliau mengecup punggung tangan Kiai Manshur lalu memeluknya erat.

__ADS_1


Merekapun meninggalkan pesantren itu, seperti rencana kedua sejoli itu untuk menginap dulu di rumah orang tua Ustadz Usman.


Bersambung....


__ADS_2