
"Aisyah baik baik aja" jawab Aisyah menyungingkan senyumannya.
'Ya Allah abikan suka merokok apa aku kerumah abi yaa?, hmm tapi harus nunggu besok' batin Aisyah
Ya emang sih sebelum nikah beliau suka merokok kapanpun itu namun setelah menikah Nurul hanya mengijinkan merokok di kala sudah makan saja. Entahlah alasannya apa, cowok pasti tahu alasannya apa.
Keesokan harinya, jam menunjukan pukul 06:45 waktunya keluarga besar sarapan pagi, di sebuah ruangan yang penuh dengan peralatan dapur terdapat dua sejoli yang tengah makan.
"Neng...tumben kamu gak bikin sambel, ini juga lauk pauknya gak pedes biasanya juga pedes pake bagettt" ujar Ahmad seraya memasukan sesendok nasi terakhir ke mulutnya
"Aisyah lagi gak mau yang pedes pedes" jawab Aisyah santai
'Hmm aneh, yang pertama kemarin nangis sekarang masak masakan kesukaanku, di sini gak ada sama sekali masakan kesukaannya. Ya Allah istriku ini kenapa?' batin Ahmad heran
"A' nanti aku mau izin kerumah sebelah yaa" kata Aisyah meraih piring kotor milik Ahmad lalu di tumpuk ke piringnya.
"Mau apa sayang?"
'Apa yaa alasannya' batin Aisyah bingung
"Mau main sama Hasna?" tanya Ahmad kembali
"Emm ah iya mau main sama Hasna" jawab Aisyah ragu
"Ya sudah A'a izinin"
"Makasih A'a"
"Sayangnya mana?"
Aisyah menghela nafas kasar lalu tersenyum "Makasih A'a sayang" ucap Aisyah terpaksa
'Sebaiknya aku ikutin'
.
.
"A'a aku pergi dulu yaa Assalamualaikum" ucap Aisyah seraya mengecup punggung tangan sang suami
"Waalaikumussalam warohmatullah..."
Aisyahpun pergi menuju rumah sebelah yaitu rumah orang tuanya, tak menunggu waktu lama akhirnya Aisyah sampai di depan pintu.
"ASSALAMUALAIKUM UMMI, ABI, BUNDA, AYAH, ARISH, MILA, akh capek baget tenggorokanku sampai kering" pekik Aisyah ngos engosan kaya di kejar setan
Krakkk...
Suara pintu terbuka diiringin jawaban salam dari dalam rumah.
"Aisyah? kirain ummi siapa"
"Eh Aisyah sekalian seRT, kupingku risih denger suara kamu" seru Farish yang akan keluar rumah
"Biarin"
"Terserah bu ratu deh" ucap Farish ketus, beranjak pergi meninggalkan kedua wanita itu
"Ada apa Syah? mau main sama Hasna?" tanya Nurul lembut
__ADS_1
"Ah gak ummi, Aisyah mau ketemu sama abi, abinya ada?"
"Ada"
"Di mana ummi? apa boleh Aisyah ketemu sama abi sekarang?"
"Boleh, abimu lagi ada di taman belakang"
"Lagi ngpain ummi?"
"Lagi ngerokok"
'Alhamdulillah' batin Aisyah mengucap hamdalah
Aisyahpun beranjak pergi menuju taman belakang di sana Nurul masih bingung tumben tumbenan menantunya ingin menemui suaminya padahal Aisyah jarang tanya tanya soal suaminya. Lagi lagi yang menganehkan ketika ia mengucap kata merokok replek bibirnya mengembang. Sungguh menganehkan...
"Assalamualaikum ummi"
"Waalaikumusalam warohmatullah...itu istri kamu kenapa?"
"Emang dia tadi nanyain apa? gak tahu"
"Abimu"
"Abi? bukannya dia mau main sama Hasna!!"
"Tadi ummi juga nanya mau main sama Hasna tapi katanya bukan"
"Kita ke sanah ajah mi, abinya lagi di mana?"
"Ikutin ummi"
Aisyahpun mengayunkan kembali kakinya dan berdiri di samping mertuanya dengan tangan di simpan di belakang seraya bajunya ia remas remas.
"Assalamualaikum abi"
"Waalaikumussalam warohmatullah..eh menantu abi, ada apa?"
"Emm abi apa Aisyah boleh duduk di sebelah abi?"
"Emm bukannya gak boleh abi lagi ngerokok" tolak abi lembut
"Gak papa bi, boleh yaa" rengek Aisyah
"Ya sudah abi matiin dulu rokoknya" Ustadz Usman akan mematikan rokoknya dengan cara mengoreskannya ke lantai namun Aisyah segera menghentikan kegiatannya.
"Ehh jangan abi, lanjutin aja...maaf kalau Aisyah mengganggu"
"Gak papa abi matiin dulu rokoknya"
"JANGAN ABI" pekik Aisyah keceplosan "Maaf abi"
"Ya sudah, sini duduk" titah ustadz Usman menepuk nepuk bangku di sebelahnya, tanpa menaruh kecurigaan.
"Menantu abi ini mau apa? tumben mau ngobrol sama abi?" rayu ustadz Usman terkekeh
'Gak sih sebenarnya Aisyah ngelakuin ini karena Aisyah ingin rokoknya abi doang hhe...' batin Aisyah tersipu
"Hehe iya abi, ada yang mau di bicarain" kata Aisyah dengan mata terus melirik ke arah batang berasap
__ADS_1
"Mau bicara apa?" Aisyahpun bertanya seputar Ahmad ataupun tentang pondok pesantren, uh untungnya ia udah nyiapin beberapa pertanyaan jadi ia gak gugup
Sementara di sisi lain, kedua sejoli itu sedang ngumpet di balik pintu untuk memperhatikan gerak gerik Aisyah.
"Kita nguping apa yang mereka bicarakan" titah Nurul kepo
"Maaf yaa istriku kami nguping soalnya kamu mencurigakan sekali" gumam Ahmad gak enak
"Iya maaf mantu"
"Mungkin Aisyah lagi ngidam" bisik Farish mengagetkan mereka berdua
"Astagfirullah Farish kau ngagetin"
"Sembarangan kalau ngomong" seru Nurul menepuk bahu Farish sampai ia mengaduh kesakitan
"Liat aja mata Aisyah pokus sama satu titik, gak ngerasa apa?" ujar Farish membuat Ahmad resah ia teringat kembali dengan kejadian di villa.
"Gak mungkin, ummi kan udah ngewanti wanti Ahmad....kalau Aisyah hamil pasti bakalan pingsan, pas tadi teriak dia gak pingsan padahal itu sangat menguras tenaga" jelas Nurul tak percaya
"Iya kau ininsembarangan kalau ngomong"
"Hah terserah deh..."
Di sana terlihat batang berasap itu satu isap lagi akan habis, Aisyah ingin sekali meminta rokok itu tapi masih ragu, keringatnya sudah keluar tapi ia masih susah untuk membuka suaranya.
"ABI JANGAN DI BUANGG" pekik Aisyah ketika sang mertua akan melemparkan puntung rokoknya
"Kenapa?" tanya ustadz Usman mengeryitkan keningnya
"Emm emm Aisyah pengen ngisap rokoknya" jawab Aisyah ragu
"Maaf Aisyah abi gak bisa berikan ini, ini udah abis lagi pula engak baik untukmu" tutur ustadz Usaman
Terlihat Aisyah menundukan kepalanya, matanya sudah berkaca kaca. Ustadz Usman yang melihatnya sangat heran, kenapa menantunya itu pengen rokok?
"Kamu kenapa pengen rokok?" tanya ustadz Usman
Aisyah mengangkat kepalanya "Kemarin Aisyah liat ustadz Fikri ngerokok, gak tahu kenapa Aisyah pengennn banget nyium bau rokok. Aisyah cuman ingin nyium baunya aja gak sampai di hisap kok" jelas Aisyah meneteskan air matanya
'Menantuku ini kenapa? apa aku kasih aja!!' batin ustadz Usman bingung
"Boleh yaa abi!!" rengek Aisyah
"Aisyah bilang apa?" tanya Nurul tak bisa mendengar suara kecil Aisyah
"Gak tahu"
Ustadz Usman pun beranjak pergi meninggalkan menatunya. Aisyah hanya bisa diam, tak mengucap satu kata ataupun beranjak pergi.
"Abi Aisyah kenapa?" tanya Nurul namun ustadz Usman hanya melintas tak menjawab pertanyaan sang istri
"Aku ke sana yaa" ujar Ahmad mengayunkan langkahnya namun segera di hentikan oleh sang abi
"Jangan dulu, jangan sampai ada yang berani ke sana" tekan ustadz Usman
"Tapi kenapa bi?"
"Turutin aja apa yang di akatakan abi" titah beliau melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
__ADS_1