
Takk...tak...tak...suara hentakan kaki terdengar jelas di telinga mereka, mimik wajah khawatir, mata yang sembab terlukis jelas di wajah mereka.
"Assalamualakum" salam orang orang yang baru sampai di depan ruang IGD.
"Waalaikumussalam waromatullah..." jawab Mila lirih
"Waalaikumussalam" jawab Ahmad pelan di sela sela isaknya lalu memeluk sang abi dan umminya.
"Gimana sudah ada kabar dari dokter?" tanya Rahmat khawatir
"Dari tadi dokter belum keluar keluar" jawab Mila karena Ahmad tak membalas pertanyaan sang mertua
"Ya Allah semoga operasinya lancar"
"Mereka siapa?" tanya Nurul menatap bodyguard binging
"Mereka dari pihak kepolisian yang disuruh jaga di sini"
"Disuruh sama siapa?"
"Sama A'a"
"Terus Farishnya kemana?"
"Katanya ikut mencari pelakunya, tadi aja A'a keliatan marah banget" jelas Mila mengingat ketika Farish marah di dalam mobil.
"Ya sudah, sebaiknya kita sholat dulu" ajak ustadz Usman karena waktu menunjukan pukul 11:54, merekapun mengangguk lalu pergi ke madrasah, di sana hanya bodyguard Farish saja yang setia menjaga di depan ruang IGD kecuali bodyguard perempuan yang setia menjaga Mila.
Entahlah bodyguardnya Farish itu agama apa, dari pengakuan mereka mereka tak mempunyai agama. Walaupun begitu mereka tetap menghargai agama agama yang ada, tanpa membandingkan atau melarang mereka untuk melaksanakan kegiatan sesuai aturan agamanya masing masing.
"Ayok nak kita sholat!! apa kau lagi datang bulan?" tanya Nurul kepada bodyguard perempuan
"Sholat? ahh gak nyonya"
"Agamamu apa?"
"Emm saya gak tahu" jawab wanita itu lembut walaupun wajahnya nampak serem
Nurul menghela nafas berat, baru kali ini beliau menemukan orang yang tak punya agama tapi bukan berarti ia tak tahu ada orang yang sama sekali tak percaya akan tuhan "Kalau gitu saya sholat dulu yaa" Nurulpun masuk ke dalam mushola dan melaksanakan sholat berjamaan bersama yang lainnya.
Di sisi lain....
Farish baru saja sampai di mansionnya, mansion ini adalah warisan dari alm. pamannya. Beliau di bunuh oleh anak buahnya sendiri karena ia ingin menguasai hartanya.
__ADS_1
Renacananya tak sesuai dengan ekspetasi, sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan ia sudah dahulu lenyap dari dunia karena Farish berhasil membunuhnya dengan sadis seperti pria itu membunuh pamannya, ketika Farish duduk di bangku SMA kelas 2.
Farish bisa di katakan pshycophat/mafia, tak banyak orang yang mengetahuinya karena Farish selalu menunjukan wajah yang ramah, Farish juga adalah seorang detektif semenjak ia menikah ia hanya menjadi detektif ia tak berani lagi membunuh tanpa alasan yang jelas.
Farish menyembunyikan identitasnya dari orang orang sehingga orang di sekitarnya tak mengetahui siapa pemimpin mansion ini, banyak orang yang meminta bantuan padanya tentang kasus apapun itu, namun itu sekarang sudah jadi urusan sekretarisnya. Ia hanya pokus kepada keluarganya.
Farish selalu meminum obat dari dokter agar emosinya bisa dikontrol namun apalah dayanya ketika keluarganya di sakiti emosinya langsung memuncak tak bisa di kendalikan, seperti saat ini.
Ia terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga sang istri dan adik tercintanya.
Farish juga tak meneruskan bisnis membuat senjata sang paman karena ia tehu kalau itu tidak baik apa lagi uangnya tidak halal, Farish hanya mengembangkan bisnis lain yang menurutnya halal. Banyak sekali harta peninggalan pamannya belum lagi ia harus mengurus bisnis sang ayah angkat.
...***...
Farish masuk ke dalam mansion itu. Semua penjaga mansion itu tak berani menatapnya karena mereka menghormati dirinya sebagai pemimpin.
"Assalamualaikum" salam Farish pelan
Farish masuk ke dalam ruangan yang begitu luas dengan kursi dan meja kerja juga rak buku dan lain lain bisa di bilang ruang kerjanya, Farish jarang sekali datang ke sini namun setelah menetap di Bandung ia jadi sering datang ke sani. Itupun mengurus bisnisnya hhii...
Tok...tok...tok...
Suara ketukan dari balik pintu, masuklah seorang pria bertubuh gagah terlihat dari otot otot lengannya juga wajahnya yang begitu menyeramkan tapi ketika di hadapan Farish seolah olah ia tak ada apa apanya hanya seorang manusia biasa.
"Gimana, orang itu sudah kau temukan?" tanya Farish santai sambil menikmati cemilan yang baru sampai
"Handpon? ah ya sudah berikan padaku"
Pria itu memberikan handpon preman itu kepada Farish
"Bagus" Farish pun membuka handpon yang di berikan sekretarisnya, untungnya handpon itu tak di kunci jadi mudah untuk memeriksa satu persatu isi aplikasinya.
Farish mengerah kepada aplikasi kontaknya Farish meneliti siapa saja nama yang ada di kontak itu, Farish membulatkan matanya ketika mendapati nama 'Nyonya muda'
Lantas ia berfikir kalau ini adalah suruhan bukan preman biasa di jalanan, ia berfikir kembali kalau yang menyuruhnya itu adalah seorang perempuan andai saja nama aslinya tercantum di sana jadi sangat mudah untuk menemukan siapa pelaku sebenarnya.
"Sudah cari info tentang siapa yang menyuruh mereka?" tanya Farish tegas
"Mereka di suruh oleh seorang wanita tuan"
"Siapa namanya?"
"Namanya di sembunyikan tuan, tapi wanita itu bukan wanita biasa ia adalah seorang mafia yang berhasil membunuh sekitar 50 orang sekaligus, itu sih menurin info"
__ADS_1
"Wah hebat juga, kalau ada telpon masuk kau angkat jangan bicara biarkan wanita itu ngomel ngomel kalau bisa suaranya rekam"
"Selidiki lebih lanjut tentang wanita itu, juga cari tempat ia berkembang" Masud Farish itu mansionnya
"Baik tuan"
Farishpun beranjak pergi ke rumah sakit kembali karena ia sangat khawatir dengan kondisi sang adik.
Di rumah sakit....
"Kemana mereka?" tanya Farish kepada bodyguardnya
"Mereka pergi ke mushola tuan"
Tak...tak...tak...
Suara langkah kaki yang terdengar jelas di telinga Farish, Farish menghentikan langkahnya ketika akan pergi ke mushola untuk menyusul mereka tapi mereka sudah ada di hadapannya.
"Farish? sudah ketemu pelakunya?" tanya Rahmat
"Belum yah" jawab Farish sembari mengecup tangan paru baya itu satu persatu
"Keliatannya kamu marah sekali!!"
"Siapa yang gak marah adiknya di sakiti apa lagi Aisyah lagi hamil, awas aja kalau ketemu sama pelakunya aku bawa dia ke kebun binatang"
"Ngapain?"
"Iya untuk di kasih ke harimaulah, biar mati sekalian. Sebelum itu aku patahin dulu jari jemarinya yang renyah" jelas Farish menggerakan memotong jari membuat semua orang linu mendengarnya
'Sok soan di nasehatin aja langsung mewek" batin Nissa ketus
"Kau sadis A'a"
"Emang kau berani membunuh seseorang"
"Hhe gak yah" jawab Farish berbohong sebenarnya ia pernah melakukan hal itu
'Ribet yaa jadi tuan, harus berbohong sama keluarganya sendiri' batin para bodyguardnya
'Awas aja kalau sampai ibuku (Aisyah) meninggal aku bunuh tuh mereka, aku gak rela kalau ibu ku meninggal' batin Nissa ngerutu
Bersambung.....
__ADS_1
Ayok siapa pelaku sebenarnya, penasaran yaa? jangan lupa dukung yaa dengan cara tekan like vote dan tambahkan ke paporit karena setiap hari akan upp walaupun satu bab hhe...
Tapi author gak maksa lho yang mau aja😅😅