
Di sela sela tawa mereka terdengar ketukan dari arah pintu, sehingga semua orang berhenti tertawa. Ustadz Uman yang sejajaran dengan pintupun melangkahkan kakinya sedikit untuk membuka pintunya.
Alangkah terkejutnya, ketika beliau mendapati dua orang pria berpakaian jaket kulit berwarna hitam dengan satu alat tembak di tangannya.
"Ma-af kalian siapa?" tanya beliau gugup
"Kami dari pihak kepolisian, apakah saudari Nissa Aulia ada di dalam?" tanya salah satu di antara mereka yang di jabat sebagai pemimpinnya.
"I-ya ada, ada urusan apa yaa?"
"Izinkan kami masuk dulu, nanti di dalam kami akan jelaskan"
Karena tatapan mereka yang super duper menakutkan akhirnya beliau mengizinkan masuk ke dalam.
Setelah dapat izin dengan paksa akhirnya mereka masuk tanpa ada ucapan salam sama sekali mereka malah langsung menodongkan alat tembak itu di kepala Nissa membuat semua orang panik.
Ahmad yang tengah tiduranpun langsung terbagun dan menutupi wajah sang istri mengunakan jaketnya yang saat ini tak memakai cadar
"A-da apa ini?"
"Anda adalah tersangka pembunuhan Dafit"
Semua orang terkejut dengan pernyataan dari polisi itu terutama Aisyah sebagai sahabat terdekatnya bahkan ia sudah menganggap Nissa adalah putrinya. Saking sayangnya...
"Bembunuhan? apa gak bisa di bicarakan baik baik? datang kaya ayam ngamuk" kata Aisyah serak
"GAK BISA, gara gara dia istri saya masuk penjara dan di benci semua orang. Apa saya akan diam aja jangan harap Nissa..."
"ARIS BISA DI BICARAKAN BAIK BAIK TIDAK?...au Astagfirullah" pekik Aisyah memotong ucapan Farish sehingga membuat badannya terasa linu kembali.
"Neng jangan emosi, kamu lagi sakit" ucap Ahmad mengelus elus kepala sang istri khawatir diiringin syok.
"Saya mau liat buktinya!!"
Farishpun menyodorkan laptop yang berisi vidio dimana Nissa membunuh Dafit, terlihat jelas dalam vidio itu bahwa yang membunuh Dafit itu Nissa. Dan Milalah yang menjadi tersangkanya.
__ADS_1
Setelah selesai menonton vidio yang durasinya sangat pendek sekitar 2 menit, mata mereka kini beralih pandangan pada seorang wanita yang duduk di kursi roda yaa siapa lagi kalau bukan Nissa,
Yang di tatap hanya bisa mengalirkan air dalam sungainya.
"Iya saya pelaku pembunuhan itu, tapi saya gak menuduh Mila sebagai pelakunya...aku mohon maafkan aku, aku melakukan itu karena aku di paksa untuk melakukan hubungan terlarang. Waktu itu aku sangat stres jadi aku bunuh dia" jelas Nissa apa adanya
"Ya Allah Nissa..."
"Maafkan aku, Aisyah..." Nissa meraih tangan Aisyah untuk memohon bantuan darinya, Hanya Aisyahlah yang menurutnya bisa menolongnya, namun Aisyah tak bisa mengatakan apa apa karena saat ini kondisi Aisyah semakin lemah, bicara aja sekarang jadi sulit.
"Aku mohon aku minta maaf, aku tidak akan melakukannya kembali. Aku janji aku akan berusaha menjadi yang lebih baik lagi, tolong beri aku kesempatan" mohon Nissa melengkupkan kedua tangannya di dada air matanya mengalir sangat deras membuat semua orang iba kepadanya.
"Ya sudah Farish jangan di permasalahkan, dia kan gak nuduh istrimu sebagai pelakunya....kasih dia kesempatan, jika dia berbuat lagi maka kau bisa menariknya ke penjara" ujar Hasanah yang mulai menyukai kembali Nissa karena ia tahu Nissa saat ini telah banyak berubah.
"Iya A' maafkan dia, Mila ikhlas lagian itu sudah lama" kata Mila tulus dari hatinya.
"Baiklah, pak sebaiknya kita bicara di luar" ajak Farish kepada kedua polisi itu lalu berlalu pergi dari ruangan itu.
"Makasih semuanya" Mereka hanya memberikan senyuman dan beralih pandangan kepada Aisyah yang nyaris pingsan karena tenaganya terkuras habis.
"Neng kamu istirahat yaa" titah Ahmad mengelus kepala Aisyah sampai Aisyah tertidur kembali, sungguh teriakan tadi membuat ia tak berdaya seperti kemarin kemarin.
"Jangan sampai ada kejadian seperti tadi, kasian Aisyah baru aja siuman"
"Maafkan aku, gara gara aku Aisyah jadi seperti ini" kata Nissa meneteskan air matanya kembali
"Gak papa sayang, kamu gak tahu apa apa...ini semua salah Farish yang tidak melihat kondisi, kamu jangan sedih yaa" tutur Hasanah memeluk Nissa dengan erat.
"Makasih bunda...semuanya makasih"
"Sama sama Nissa, buktikan pada kami kau tidak akan mengulanginya lagi"
Sementara di sisi lain...Kini Farish dan kedua polisi telah sampai di mansionya.
Polisi itu adalah anak buahnya sendiri ia merencanakan ini semua, Farish tadinya ingin langsung menyiksa Nissa makanya anak buahnya lah yang pura pura jadi polisi. Tapi rencananya tak sesuai dengan ekspetasi.
__ADS_1
"Tuan kenapa tuan lepaskan dia?" tanya salah satu dari mereka
"Pikiran saya sama seperti mereka" jawab Farish santai sembari meneguk secangkir kopi
Jika dia melakukan satu kali lagi Farish gak akan segan segan membunuhnya apa lagi orang yang di sakitinya adalah keluarganya sendiri, dia gak akan segan segan membunuhnya dan mencincangnya jadi santapan buaya. Farish memanglah kejam
"Kalian cari saja dua pelaku penusukan adik saya itu" sambungnya
"Iya tuan, saya baru mendapatkan informasi bahwa kedua pelaku itu telah di lenyapkan" jelas Roy membuat Farish tersedak
"Uhuk uhuk...yang bener Roy?"
"Iya tuan, malahan yang bunuhnya itu pemimpinnya sendiri"
"SIALAN!! tapi kenapa Roy? bukannya dia sendiri yang meminta?" tanya Farish mengerutkan keningnya heran
"Saya juga kurang faham tuan, tapi wanita itu sangat mengincar nyonya muda dan yang kena adalah nona muda..."
"Kau sudah menemukan mansionnya?" tanya Farish memotong ucapan Roy.
Roy hanya bisa menghela nafas berat gak mungkin juga ia mengelak bisa bisa di pecat hhii...
"Ini tuan" Roy memberikan laptopnya memperlihatkan mansion wanita itu alangkah terkejutnya ketika melihat gambar mansion itu seraya tertawa lepas kemudian.
Gambar itu memperlihatkan sebuah rumah seperti kandang sapi, temboknya berwarna abu abu di hiasi atap atapnya oleh jerami juga terlihat orang orang yang berjajar dengan bagian perut yang buncit juga sebagian ada yang kurus. Terkesan seperti kandang sapi tapi di huni kambing buncit hha..
"Hahah...ini mansion apa kandang sapi Roy? orang orangnya kaya kambing hamil, gak salah Roy? hha..." ucap Farish tertawa lepas membuat suasana renyah.
"Benar tuan, emm apa tujuan dia melakukan ini semua karena ingin...emm bukannya tujuan dia membunuh itu kepada nyonya muda? dan setelah itu...."
Roy menatap Farish dan begitu juga dengan Farish yang menatap Roy sehingga keempat mata itu bersatu. Tawa mengerikan pun keluar dari mulut mereka membuat bulu punduk merinding.
Jika mereka sudah bertingkah seperti itu, tandanya mereka sudah mengetahui maksud dari wanita itu. Dan itu akan memudahkan mereka untuk memecahkan kasus ini juga mengetahui siapa pelaku sebenarnya.
...Bersambung........
__ADS_1