
Tak terasa perut Aisyah semakin buncit aja dan kemungkinan besar beberapa hari lagi Aisyah melahirkan, bukannya mereka senang melainkan mereka terlihat sangat cemas takut terjadi apa apa pada Aisyah dan calon bayinya, kata kata dokter sukses membuat mereka was was. Enatahlah diantara mereka siapa yang akan selamat, entah itu ibunya entah bayinya atau mungkin kedua duanya?
Di sebuah ruangan terlihat Aisyah tengah merebahkan kepalanya di bahu sang suami sembari mengelus elus perutnya yang buncit, begitu juga dengan Ahmad yang terus memanjakan istrinya penuh kasih sayang.
"Neng...nanti lahirannya sesar aja yaa" saran Ahmad lembut
Aisyah mengangkatkan kepalanya melihat sosok pria yang menurutnya tampan, akh apaan sih memang dia tampan buktinya banyak cewek yang naksir padanya "Gak mau...Aisyah pengen ngerasain gimana rasa sakitnya lahiran" elak Aisyah ketus
"Placese lahirannya sesar yaa!!, A'a takut kehilangan kamu sayang...kalau A'a kehilangan calon bayi kita A'a ikhlas kok, kalau kamu yang akhh jangan pokonya nurut yaa...A'a gak mau kehilangan kamu sayang" rayu Ahmad matanya sudah berkaca kaca.
"Sutttt jangan ngomong gitu, aku wanita kuat...jika aku yang pergi aku mohon padamu ikhlaskan aku dan jaga bayi kita baik baik, jangan pernah menyakiti hatinya. Sayangilah dia...ajarkan dia sholat, ngaji, awas kalau ngajarin dia ngegombal aku gak ikhlas hhe..."ujar Aisyah di akhiri kekekehan
"Aku gak ikhlas kalau kamu yang pergi, aku akan berdo'a pada Allah agar kau dan bayi kita selamat...dan kita bisa berkumpul bersama, kita akan merawat bayi kita sama sama yaa" tutur Ahmad meneteskan air matanya
"A'a cengeng, jangan nagis dong, Aisyah kuat kok A'a jangan khawatir kaya gitu...(Aisyah menyeka air mata yang jatuh membasahi pipi suaminya)....sudah ikhh jangan cengeng, kaya anak kecil aja hhe..." sahut Aisyah menepuk bahu sang suami, ia juga terlihat meneteskan air matanya tanpa ia minta.
Ahmad tak bisa bicara apa apa lagi, ia pun memeluk sang istri dengan penuh kasih sayang....di sela sela dekapannya tiba tiba Aisyah merasa sakit di bagian perutnya sontak membuat Ahmad panik.
"Kamu kenapa neng?" tanya Ahmad panik
"Perut Aisyah sakit, kayanya aku mau lahiran" jawab Aisyah menahan rasa sakit di perutnya
Ahmad pun mengendong Aisyah untuk membawanya kerumah sakit "Ahmad, Aisyah kenapa?" tanya semua orang menghampiri Ahmad yang baru saja keluar dari kamarnya
"Kayanya Aisyah mau lahiran"
Panik gak? panik gak? ya paniklah masa engga!! haha...itulah yang mereka rasakan saat ini, merekapun segera membuntuti Ahmad kerumah sakit terdekat.
__ADS_1
Singakt cerita mereka sudah sampai di rumah sakit, Aisyah langsung di tangani oleh dokter. Betapa khawatirnya mereka, terlihat di depan pintu ruangan berbagai macam tingkah laku mereka, ada yang mondar mandir gak jelas, ada yang terus berzikir dan berdo'a juga menggigit kuku-kukunya pokonya kumplit deh.
Sementara di dalam sana terlihat Aisyah nampaknya tak merasakan sakit di perutnya lagi... kata dokter Aisyah baru pembukaan 6 dan mungkin beberapa menit lagi ia akan melahirkan. Sebelum dokter melakukan tindakan, dokter nampaknya tengah bertanya...
"Emm maaf buk, lahirannya mau normal atau sesar?" tanya dokter sopan
"Sesar/normal" ucap mereka berdua kompak
"Jadinya mau sesar atau normal?" tanya dokter kembali
"Sesar/normal"
Dokter menghela nafas kasar sembari mengelus elus dadanya bertanda ia harus sabar menghadapi keputusan yang berbeda itu
"A'a Aisyah pengen lahiran normal gak papa 'kan dok?" rengek Aisyah, mengedip gedipkan matanya manja
Ya memang Aisyah bisa melahirkan kedua cara itu, cuman jika ada salah satu di antara mereka yang tak selamat mungkin itu sudah takdir-Nya.
Ahmad menghela nafas kasar ia pun setuju dengan keputusan sang istri yaitu melahirkan secara normal, tetap rasa was was itu menghantui dirinya, ia takut sang istrilah yang natinya akan meninggal. Ahmad terus saja berdzikir dan berdo'a kepada-Nya agar keduanya bisa selamat...
Beberapa menit kemudian perut Aisyah kembali sakit namun sakitnya tak seperti tadi, rasa sakitnya sangat luar biasa sampai ia mengeluarkan keringat sebesar biji jagung di keningnya...dengan sigap Ahmad menghubungi dokter dengan cara menekan tombol di samping ranjang.
Krakkk...
Datanglah seorang dokter juga seorang suster, awalnya dokternya itu seorang pria namun Ahmad meminta dokternya itu seorang perempuan, Bukannya sah sah aja yaa seorang pria yang ingin menjadi dokter kandungan? namun Ahmad kekeh tak ingin ada pria lain yang berani menyentuh istrinya walaupun itu sangat darurat.
Ya iyalah siapa sih yang mau istrinya di sentuh pria lain apa lagi ini proses melahirkan 'kan sang dokternya pasti liat anunya, dan itu yang tak diingin 'kan Ahmad, ia menekankan bahwa itu milik dirinya jangan sampai ada orang lain yang berani merebut darinya haha... (sorry agak jorok ๐๐ ๐)
__ADS_1
"Tarik napas buu" titah sang dokter kepada Aisyah yang tengah menahan rasa sakitnya sembari berpegangan di tangan Ahmad sampai ia mengaduh kesakitan sangking kencangnya.
'Ya Allah ternyata sakitnya seperti ini, diriku aja yang merasakan genggaman istriku, udah terasa sakitnya apa lagi perempuan perempuan yang berjuang melahirkan titipan dari-Mu pasti lebih sakit melebihi apapun. Makanya kenapa kita harus menghormatinya? karena seorang ibu telah mengandung kita selama 9 bulan lebih, membawa kita kemana mana tanpa pernah mengeluh, ia melalui hari harinya penuh ketabahan dan keikhlasan'
'Segala rasa cinta dan kasih sayang tercurahkan kepada buah hatinya yang ada dalam kandungannya, meskipun ia belum tahu seperti apa bentuk dan rupanya. Bahkan ia rela menaruhkan nyawanya demi siapa? demi kita...Jadilah anak yang berbakti kepadanya, ridho Allah ada pada keridhoan orang tua:)' batin Ahmad sembari menahan rasa sakit di tanganya mungkin rasa sakit itu menular ke seluruh badannya hhe...
"Ayok buk tarik nafas" titah dokter kembali, Aisyahpun menarik nafas panjang lalu ngahejen (ups maaf authornya gak tahu bahasa indonesianya๐ ๐). Di saat itulah bunyi yang membuat semua orang malu di hadapan orang lain terdengar (kentut) semua orang yang ada di ruangan itu ingin tertawa namun mereka tahan.
"Ups..maaf..." ucap Aisyah tersipu sembari melirik ke arah suaminya juga dokter yang tengah menahan tawanya.
"Ya Allah neng...lagi tengang tengang gini, bikin A'a jadi malu aja" ujar Ahmad tersipu
"Iya nih hhe..." ujar Hasanah yaa jadi Hasanah juga ikut temani Aisyah
"Gak papa pak, buk ini sudah biasa kok...bahkan ada yang lebih parah dari ini ya 'kan sus?" sahut dokter itu santai
"Iya pak bahkan ada yang sampai buang air besar, pokonya macem macem deh" sahut suster mengingat ingat
Bumm...!!
Tiba tiba saja ruangan yang penuh dengan ketegangan berubah drastis menjadi ruangan penuh dengan tawa membuat orang di luar sana kebingungan
"Ada apa, kok mereka tertawa?"
"Entahlah mungkin dokternya gelucu supaya mereka gak tegang" sahut Nurul
"Hmm mungkin, ya sudah kita lanjut berdo'a saja semoga Aisyah juga calon bayinya selamat" ajak ustadz Usman
__ADS_1