
Di dalam sana Aisyah tengah berjuang melahirkan titipan dari Sang Ilahi, yaa bayi yang belum tentu hidup dan berkembang di dunia ini, kalau lahir? yaa sudah pastilah dan entah siapa diantara mereka berdua yang akan meninggal? akh tidak tidak pasti keduanya selamat, semoga saja.
Ahmad dan Hasanah hanya pokus kepada wanita yang tengah mengiris kesakitan bertarung dengan terjangan maut, air matanya juga terus mengalir deras membasahi pipi mereka.
"Ayok buk...kepalanya sudah terlihat dorong terus...tarik nafas buk 1...2...3..." seru dokter heboh
Suara tangisan bayi mungil nan menggelegarpun terdengar jelas ditelinga mereka, seketika senyuman terbit di bibirnya karena ia telah berhasil berjuang menaruhkan nyawanya demi seorang bayi mungil yang ada dalam kandungannya namun berbeda dengan Ahmad dan Hasanah yang masih pokus kepada wanita yang kini tengah bernafas lega, tak memperdulikan bahkan tak melirik sedikitpun ke arah dokter yang tengah menggendong bayi yang masih berlumur darah di sekujur tubuhnya.
"Alhamdulillah..." ucap mereka kompak di luar sanah, betapa bahagianya mereka ketika mendengar suara tangisan bayi di dalam sana.
"Aisyahnya?"
Pudar sudah, tak ada lagi senyuman yang tersunging di setiap bibirnya. Pantas saja dari tadi hati mereka masih menganjal lah ternyata ini sebabnya, suara bayi terdengar sangat jelas bertanda bayinya selamat lalu bagaimana dengan ibunya, apakah dia selamat ataukah? ah tidak jangan sampai itu terjadi
"Bi...gimana kalau Aisyah tak selamat?...hiks...ummi gak sanggup, ummi gak rela jika Aisyah yang pergi...ummi ingin masuk kesana..." ujar Nurul menangis histeris sembari mengayunkan kakinya ke arah pintu namun langkahnya terhentikan karena Usman menarik tangannya hingga ia terjatuh di pelukannya.
"Jangan sayang...dokter belum mengijinkan, kita tunggu yaa" ujar Usman menenangkan
"Abi juga pasti gak rela 'kan kalau mantu kesayangan kita pergi? sakitt bi..ummi gak sanggup hiks...nanti..nanti gimana dengan Ahmad? kasian dia bi...ummi gak sanggup nati liat Ahmad murung Ya Allah selamatkan Aisyah..." tutur Nurul histeris sembari memukul mukul dada Usman
"Suttt jangan bicara seperti itu, kita berdo'a semoga Allah memberi kesempatan untuk mantu kita dan berkumpul bersama lagi, positif thinking sayang. Aisyah wanita kuat ummi percaya itu 'kan? Aisyah baik baik aja" tutur Usman tak kuasa lagi menahan air matanya sehingga jatuh tanpa permisi.
__ADS_1
Begitu juga dengan yang lainnya yang dipenuhi dengan air mata....
Sementara di dalam sana, suasana menjadi tegang pasalnya Aisyah terlihat masih tersenyum dan mengucapkan syukur atas kelahiran bayi mungilnya. Namun beberapa detik kemudian nafas Aisyah menjadi tersengal sengal seperti orang yang tengah sakarat seketika itu juga Ahmad dan Hasanah panik dan langsung meminta sang dokter untuk memeriksanya.
"Bun A'...Aaa...Ais...Aisyah...." ucap Aisyah tersengal sengal
"Suttt....jangan katakan itu, kamu kuat sayang...kamu jangan tinggalkan A'a yaa, kamu sudah janji kita akan merawat bayi kita sama sama...aku mohon jangan tinggalkan kami yaa sayang" mohon Ahmad memotong ucapan Aisyah sembari memegang erat tanganya seraya mengecupnya.
"DOKTER CEPET SELAMATKAN PUTRI SAYA...JANGAN SAMPAI IA MENI...hikss...cepet dok" pekik Hasanah histeris meminta sang dokter untuk melakukan tindakan yang nantinya akan menyelamatkan putri sematawayangnya.
Aisyah mengangkat tangannya ia ingin meraih tangan Hasanah, menggengamnya dengan erat... lalu ia mengelengkan kepalanya pelan bertada bahwa tak perlu susah payah menyelamatkannya dengan cara apapun karena maut tengah menantinya. Terlihat Aisyah akan mengatakan sesuatu, dengan sigap mereka mendengarkannya
"Ja..jaga daa...dan ra...rawat ba..bayi kita de....dengan ba..baik ya A'...a..aku mo...mohon ikh...ikhlas...kan a..aku...pergi Laa..ilaha ilallah...mu..muhamadarosulillah...'Tittttttt' (garis seperti rumput di layar tiba tiba saja berubah menjadi sebuah garis lurus)
"AISYAH BANGUN..." pekik Hasanah histeris
"NENG BANGUN...NENG BANGUN...jangan tinggalkan A'a sendirian di sini hiks...hiks...(Ahmad mencondongkan badannya dengan kepala di rebahkan di lengan sang istri)...neng A'a mohon bangun...bangun sayang...A'a gak sanggup hidup tanpa dirimu, aku...aku gak tahu apa nanti aku..aku bisa merawat bayi kita dengan baik tanpa dirimu!!. Aku..gak sanggup neng...mungkin aku...bakalan nyalih bayi kita karena dirinyalah kau pergi, hiks...aku mohon jangan sampai itu terjadi sayang...aku mohon bangunlah" ujar Ahmad histeris, mungkin itu isi curahan dari hatinya yang paling dalam!! mungkin 'kan?
Kalau di pikir pikir sih memang benar akh jangan salahkan dia, dia gak tahu apa apa...ini juga 'kan salah dirinya. Oh tidak tak ada yang harus disalahkan semuanya salah bukan?, dan mungkin ini sudah jadi takdirnya.
"Ada apa ini ada apa? kenapa mereka teriak?" seru di luar sana tanda tanya besar di benak pikirannya
__ADS_1
Krakkk....
Suara pintu terbuka diiringin seorang dokter keluar dari ruangan itu dengan wajah lesunya
"Dok kenapa mereka teriak ada apa?"
"Pasien...mening...me...meninggal" jawab dokter to the poin namun gugup
Deggg....!!
Bagaikan petir menyambar di siang bolong, mereka langsung masuk begitu saja keruangan tanpa meminta izin kepada sang dokter dahulu bahkan nie dokternya sampai terseret gara gara dorongan mereka.
Dokter itu hanya bisa menghela nafas kasar dan mengelus dadanya, ia memaklumi tingkah mereka...ia aja sebagai dokternya merasa terpukul juga rasa bersalah tertanam didirinya. Andai aja ia tak memberikan pilihan kepada pasien dan langsung melakukan tindakan dengan cara sesar pasti keduanya bakalan selamat, mungkin!!.
"AISYAH...." pekik mereka seraya memeluk tubuh yang masih lentur terbaring lemas
"Ya Allah kenapa ini bisa terjadi padamu sayang...ini semua salah ayah, ayah selalu membuat dirimu menderita maafkan ayah...Ya Allah kenapa kau mengambil putriku begitu cepat, apa Kau sudah merindukannya? sehingga Kau harus menyakitkan hatiku. Aku belum siap menerima ini semua, KAU JAHAT, KAU TEGA MENYAKITI HATIKU. BANGUN PUTRIKU...BANGUNNNN" pekik Rahmat histeris dalam dekapannya
"Mat...jangan bicara seperti itu, itu gak baik Mat...juga jangan salahkan dirimu Mat, di sini tidak perlu ada yang di salahkan..." sahut Usman, niat hati ingin menenangkan Rahmat namun Rahmat malah semakin kesal dan marah.
"DIAM...kau tak tahu bagaimana rasanya ditinggalkan seseorang yang kau sayangi...sakit Man sakit, aku belum siap ditinggalkannya, dia putriku satu satunya...aku tak sanggup..hiks..." ujar Rahmat dalam isaknya
__ADS_1
Usman menyentuh bahu Rahmat lalu mengelusnya pelan "Iya aku tahu rasanya seperti apa...tapi kita tidak bisa menyalahkan siapapun apalagi diri kita sendiri..." tutur Usman memeluk erat tubuh sang sahabat sekaligus besan.
Sudah tak ada harapan lagi, berusaha sekuat tenaga menggoyang goyangkan tubuh Aisyah hingga berabad abadpun jika Dia tak menghendakinya percuma saja, dengan berat hati mereka harus menerimanya, harus berusaha mengikhlaskan wanita yang selama ini ceria tak gampang geluh juga penyayang tanpa membedakan siapapun itu dengan sepenuh hati:') meninggalkan mereka dan dunia ini.