Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
Dia mencintaimu


__ADS_3

Waktu terus berjalan, matahari semakin meninggi Pria itu telah sampai di depan rumah Aisyah, ia mengenakan kaos oblong berwarna hitam dengan sarung dan peci. Yaa seperti biasa pria itu selalu berpenampilan seperti itu.


Tak lama setelah menunggu akhirnya Aisyah keluar rumah dengan senyum kecutnya itu berjalan aja lunglay "kenapa kamu jalannya seperti itu kaya habis bangun tidur aja" tanya Farish terkekeh.


"Kenapa nanya kalau tahu" jawab Aisyah datar


"Tukang molor" ledek Farish membisikan di telinga Aisyah


'Biarin akh aku males bercanda sama dia' batin Aisyah


"Jadi gak kalau gak jadi Aisyah tidur lagi nie" seru Aisyah membalikkan badannya.


"ettt...jangan mau kemana?"


"Yaa udah ayok, nie kunci mobilnya" tutur Aisyah menyodorkan kunci mobil, diraihlah kunci itu dan langsung menjalankan mobilnya setelah menyalahkan mesinnya terlebih dulu.


Di dalam mobil tak ada kata kata yang di lontarkan di mulut mereka berdua. Tak ada curiga sama sekali di benak pikiran Farish kalau Aisyah tuh sedih bukan habis bangun tidur.


Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di taman, Aisya sebenarnya malas untuk menemani mereka berdua, hanya jadi nyamuk doang pikirnya.


Farishpun melirik ke sana kemari mencari Nissa, matanya terhenti ketika melirik ke sebuah bangku dimana bangku yang selalu ia duduki dengan gadis berniqob itu.


Farish menarik tangan Aisyah di bawanya ia menuju tempat duduk mereka 'Itu si Nissa...Ya Allah ini kan tempat paporitku sama Aris!' batin Aisyah setelah melihat sahabatnya yang tengah duduk di bangku lumayan lanjang itu mungkin muat untuk tiga orang.


"Assalamualikum, Niss udah nyampe, dari kapan?" tanya Farish halus


"Waalaikumussalam, ahh iya silahkan duduk" titah Nissa lembut membuat Aisyah semakin jengkel.


"Ehh Niss, aku dijadiin nyamuk lho sama kalian bete banget" ujar Aisyah tersenyum kecut.


"Hhe.. maaf yaa Syah" seru Nissa lembut tak seperti biasanya.

__ADS_1


Disana Aisyah di minta duduk di tengah tengah mereka itupun setelah cek cok. Aisyah mengalah karena tak ingin berdebat. Iapun duduk sembari bersungut "aku liatnya ke sana aja deh, males banget jadi nyamuk ahh tidak tidak mungkin aku jadi syaiton sekarang"


"Diem, jangan bersisik, pake tuh handsetnya biar gak denger perbincangan kita" suruh Farish


"Gak di suruh juga Aisyah akan lakukan itu...males denger cinta cintaan" cerocos Aisyah, membuat mereka berdua terkekeh.


Aisyahpun memakai handset yang ia siapkan tadi, ia pura pura meninggikan polumenya padahal tingkat polumenya 0. Mungkin dia kepo apa yang mereka bicarakan.


"Emm Nis...orang tua kamu gak melarang kamu ketemuan sama aku?" tanya Farish dalam keheningan.


'Aku? lebai' batin Aisyah dengan nada geli.


"Gak malah mereka mendukung" jawab Nissa santai, melirik ke arah Farish seketika Farish memalingkan wajahnya.


'terserah' batin Aisyah meledek.


"Emm gimana dengan orang tua Aris" tanya Nissa gugup. Maksud Nissa itu menanyakan orang tua angkat Farish, dia udah tahu kalau orang tua Farish telah meninggal dunia. Tiga hari ke belakang kan mereka selalu chatingan tanpa ada yang tahu mungkin hanya orang tertentu aja yang tahu.


"Ahh licik jangan gitu dong ihh authornya kok nyakitin hati istrinya kan dia gak mau ada kata poligami yang terucap...ihhh sebel deh" sambung Aisyah guna mereka tak curiga.


"Kirain kenapa!" guamam mereka berdua.


Dua sejoli itupun kembali saling tanya menanya tentang pribadi 'kenapa dia manggil Aris dengan panggilan yang sama, hemm ini mah pasti di suruh Aris. Aris kenapa sih orang lain harus manggil itu padamu, ini kan khusus panghilan diriku untukmu. Ahh aku benci' batin Aisyah mulai menitihkan air matanya, rasanya ia ingin menjauh dari mereka. Ingin teriak se keras mungkin, dan menangis dengan isak yang keras.


Aisyah terus mendengar percakapan mereka berdua membuat luka Aisyah semakin dalam di hatinya. Ia meninggikan polumenya tapi tetap kekekehan mereka berdua masih terdengar di telinganya membuat dia semakin gak betah.


"Ahhhh" teriak Aisyah kesal membuat keduanya berhenti ketawa "emm Aisyah kesana dulu, kalian lanjutin aja, bosen di sini pengen nyari udara segar di sana" ucap Aisyah pergi meninggalkan mereka.


Tanpa ada kecurigaan di benak pikiran mereka kalau Aisyah tengah cemburu, merekapun melanjutkan percakapan setelah Aisyah melaju beberapa langkah.


Aisyah pergi ke sebuah danau yang agak jauh dari tempat mereka, di sana Aisyah murung satu persatu batu yang ada dihadapannya ia lempar ke dalam danau itu, Aisyah menangis terisak isak, membasahi cadarnya.

__ADS_1


Hatinya hancur padahal tadi pagi ia sangat ceria karena kepergian orang yang selau menjahilinya. "Andaikan ada kak Ahmad aku pasti tenang, karena waktu itu juga dia yang menenangkan hati Aisyah pas waktu Aisyah hampir terbunuh" gumam Aisyah tanpa ia sadari dengan tangan yang terus melempar batu ke danau.


sementara di sisi lain...


Ahmad tengah tersenyum ketika melihat sorban yang waktu itu Aisyah kembalikan kepadanya, ia selalu memakai sorban itu setiap hari semenjak Aisyah memakai sorban miliknya. Ustadz Usman melihat putranya yang tengah tersenyum membuat beliau jadk terkekeh.


"Abi nertawain siapa?" tanya Ahmad tersadar kalau Abinya tertawa


"Kamu lucu kalau lagi bucin, itu sorban yang waktu Aisyah pakai kan? terus aja di pakai kaya gak ada sorban lain aja" ledek Ustadz Usman sembari nyetir mobil.


"Apaan sih Bi.."


"Baru kali ini Abi liat senyummu semanis itu padahal kamu itu orangnya kalau lagi senyum pasti tipis atau gak senyum lebar tapi pait, emang yaa putri pak Rahmat itu, bisa aja membuat hatimu jadi meleleh, yaa walaupun Abi liat Aisyahnya selalu jengkel liat dirimu" ledek Ustadz Usman.


Seketika wajah Ahmad jadi dingin kembali, tak ada kata kata yang ia lontarkan setelahnya.


Aisyah di sana, terus aja memikirkan Ahmad, sambil senyum senyum. Kayanya gadis itu pengen curhat tentang kesedihan hatinya itu deh...


" ihhh paan sih kok aku jadi inget dia sih ahh udah akkh lebih baik aku pulang" gumam Aisyah tersadar dari lamunannya. Gadis berniqob itupun pulang tanpa mengajak Farish ataupun izin. Kayanya Aisyah lupa deh sama si Farish.


Emang bener yaa apa yang dikatakan Ali bin Abi Thalib :" jika kamu sedang bahagia dan teringat seseorang artinya kamu kamu mencintai orang itu, Jika kamu sedang sedih dan teringat seseorang artinya orang itu mencintaimu".


Yaa seperti itu pikiran Aisyah saat ini ia memikirkan Ahmad yaa emang bener Ahmadnya menyukai dia, tapi tidak dengan Ahmad cintanya bertepuk sebelah tangan.


Beberapa jam kemudian, Farish dan Nissa sudah merasa puas ia teringat kepada Aisyah yang tak kunjung balik lagi iapun berinisiatif untuk menghubunginya.


"Aisyah kamu di mana?" tanya Farish kebingungan.


"Pulang" Aisyahpun langsung menutup saluran telponnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2