
Sepanjang jalan Ahmad terus menyungingkan senyumannya, mungkin bujangan itu sedang memikirkan kejadian tadi. Ahmadpun membelokkan sepeda motornya dan memakirkan di halaman rumahnya.
Kemudian bujangan itu membuka pintu diiringin dengan mengucapkan salam lalu masuk dan menutup pintu kembali. Ruangan keluarga kini terasa hening, karena Ustadz Usman sedang sakit.
Ketika bujangan itu mulai menaiki tangga, dilihatlah Nurul sedang membawa kompresan dan masuk kekamarnya. Ahmad teringat kalau Abinya sedang sakit, iapun langsung pergi kekamar orang tuanya.
" Assalamualikum, Ummi..Abi..." ucapnya mengtuk pintu.
"Waalaikumussalam, masuk"
Ahmadpun membuka pintu dan masuk kekamar orang tuanya, dilihatlah lelaki paru baya itu tengah terbaring lemas namun bibirnya tetap mengyungingkan senyumannya, walaupun sedikit tipis.
Ahmadpun menghampiri pria paru baya itu dan mengecup tangan serta keningnya dan membacakan do'a menjenguk orang sakit "Allahumma rabban naasi adzhibil ba'sa isfi angtasy syafii laa syifaa a' illa syifa uka syifaa al laa yugho diru saqomaa. Cepat sembuh Ya Abi"
"Terima kasih yaa nak, gimana rasanya jadi kepala madrasah?" tanya Ustadz Usman, membuat Ahmad tersipu malu.
"hhe yaa gitu Bi, Alahamdulillah seru" jawab Ahmad, nyengir.
"Yaa udah selamanya yaa gantiin Abi" ucap Ustadz Usman, terkekeh. Begitu juga dengan Nurul yang tengah menempelkan kompresan di kening sang suami.
"Boleh Bi...ehhh gak deh"
"kenapa?" tanya Nurul.
"Kan Ahmad mau kuliah di Kairo, ouh yaa Bi, Mi gimana udah ada kabar dari sana?"
"Belum nak, yang sabar yaa. Insya Allah kamu bakal ada kesempatan untuk kuliah di sana"
"Iya Bi...Ouh yaa Ahmad kemaren dapet gaji di pondok, tar Ummi ambil uangnya di Ahmad, takutnya Ummi sama Abi butuh"
"Emm sebenarnya uang yang selama ini kamu kasih kepada kami dari hasil ngajarmu. Ummi simpan di bank, kami gak pernah pakai sedikitpun" jawab Ummi
"Kenapa Ummi?, kan itu uang Ahmad kasih untuk Ummi sama Abi"
"Kami simpan uang itu untuk kamu nikah nanti haha..." canda Ustadz Usman, membuat Nurul terkekeh.
__ADS_1
"Abi...bicara apa, Ahmadkan pengen sekolah dulu.."
" Yaa kan takutnya berubah pikiran, tapi Ummi setuju lho kalau kamu nikah muda, biar ada yang ngurus kamu. Ummikan mau pokus ngurus adikmu sama nie kakek kakek ganteng" ucap Nurul, ngasal.
"Ummi.. kan Ahmad bisa ngurus diri sendiri"
"Bener kata Ummimu, biar Abi gak ada saingan hha..." seru Ustadaz Usman. "Ouh yaa Mi...Ummi setuju gak kalau Aisyah jadi mantu kita" ucap Ustadz Usman tiba tiba, membuat Ahmad terkejut.
"Ihh setuju banget, malahan Ummi nganggap Aisyah mantu kita" Ahmadpun mulai salting, tapi lagi lagi ia bersikap seolah olah tidak ada kata seperti itu yang terucap.
"Abi sama Ummi bicara apa?? Ahmad ke kamar dulu yaa...Assalamualaikum" Ahmad langsung pergi kekamarnya setelah mengecup kening kedua paru baya itu, bergantian.
"Ummi tahu gak?" Nurul menggelengkan kepalanya "anak kita kayanya suka deh sama putrinya mba Hasanah" sabung Ustadz Usman.
"gimana ceritanya Bi...kan Ahmad belum tahu siapa Aisyah!!"
"Ummi belum tahu yaa...sini Abi bisikin" jawab Ustadz Usman, matanya melirik ke Arah Ahmad yang tengah berjalan ke arah pintu kamar.
'Ya Allah' batin Ahmad, tersenyum lebar dan membuka pintu. Kemudian ia keluar dari kamar itu dan segera pergi ke kamarnya.
'Brug'
Ahmad membaringkan badan di ranjangnya, matanya menggarah kelangit langit yang terisi dengan tulisan kaligrafi yang ia ukir setiap pulang dari pondok, tangan disilangakan di dada dengan salah satu kaki di tekuk.
"Hah...kenapa sih gadis itu terus ada dibenak pikiranku" Ahmad membuang nafas berat, lalu bola matanya mengarah ketangan kekernya yang tadi dipegang gadis berniqob itu dan menyungingkan senyumannya, kemudian.
"Emm tapi tadi kenapa yaa mereka keliatannya deket banget, padahal selama ini si Farish gak pernah cerita tentang adiknya!! gadis itukan putri dari tante Hasanah, kalau memang mereka adik kakak pasti si Farish tinggal dirumah tante Hasanah. Tapi si Farish rumahnya beda lain, emm tapi si Farish bilang orang tuanya udah meninggal, Ahh Au ahh pusing" gumam Ahmad, terus mentap tangannya.
'tringg tringg'
Suara telpon bunyi, segera bujangan itu bangun dari tidurnya dan meraih ponsel yang berada di meja dekat ranjangnya.
"Assalamualaikum" salam dari sebrang sana (Farish)
"Waalaikumussalam warohmatullah" jawab Ahmad
__ADS_1
"Besok jadi jooging?"
"jadi lah, gua tunggu dirumah hha..."
" loo yang harus kerumah gua "
"iya gua yang kerumah loo, emm gua mau nanya sesuatu"
" nanya apa?"
'ehh kalau saya nanya tentang gadis itu pasti diketawain, sebaiknya saya cari tahu aja sendiri' batin Ahmad
"woyyy, mo nanya apa?"
" ahh gak jadi"
" aneh lo, ehh gimana rasanya dipegang cewek? enak!!"
"paan sih lo, ngingetin kejadian tadi aja"
" ahh gua tahu lo saltingkan?"
" eng...ngalah, heh..biasa biasa aja" ucap Ahmad gugup.
"ahh jangan bohong, gua dukung deh lu sama si Aisyah"
" ahh masa gua sama bocil"
" ehh lu ngomongnya kaya si Aisyah aja, fiks inimah jodoh. Dengerin gua si Aisyahtuh udah SMA, yaa badannya aja yang small, tapi lucu beeh sama yang badannya kecil tuh. Gua juga suka"
'degg'
"emm gua udah ngantuk nie, gua mo tidur...gua tunggu lagi kabarnya besok" Ahamadpun langsung memutuskan sambungan telpon, Ahmad sangat takut kalau sahabatnya juga menyukai gadis berniqob itu, apa lagi kan gadis itu sangat akrab dengan si Farish. Kalau di suruh milih antar keduanya pasti gadis itu memilih si Farish, pikirnya.
Bersambung.....
__ADS_1