Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
sn 2 : Mas Misterius?


__ADS_3

Kelanjutan episode sebelumnya...


"Emmm neng kalau boleh tahu kamu mondok di mana?" tanya Ahmad memasukan sesendok nasi ke mulutnya


"Di pondok paman Manshur" jawab Aisyah santai


Kata kata tersebut membuat Ahmad menyemburkan air dari mulutnya ke wajah cantik sang istri "A'a...ihhh aku gak ke surupan pake di sembur segala, jadi basah kan!" rengek Aisyah, menghentak hentakan kakinya ke lantai.


Percis kaya anak kecil yang tengah merajuk, rupanya Aisyah mulai berani menunjukkan sikap manjanya setelah kepada orang tuanya.


"Ya Allah neng maaf, A'a gak sengaja" pekik A'a mengelap elap wajah Aisyah lembut dengan tissu "maaf yaa, jangan merajuk... cepet tua lho" rayu Ahmad mencolek hidung Aisyah.


Sementara Aisyah dia hanya diam, tak menjawab pertanyaan dari suaminya. Aisyah kayanya merajuk deh...? soalnya wajah dia tuh keliatan kesel banget, bibirnya pun ikut bersungut. Emm dasar anak manja.


"Emm A'" panggil Aisyah meletakan sebuah poto di meja membuat mata Ahmad membulat.


"Ka..kamu nemu poto ini di mana?" tanya Ahmad gugup


"Fi buku diary A'a, waktu itu Aisyah gak sengaja jatohin buku A'a, pas mau di ambil ehh ada poto ini ya udah Aisyah ambil aja soalnya pengen tahu dia siapanya A'a" jawab Aisyah santai sembari minum teh manis


"emang itu siapa? kakak gak mungkin, adik juga gak mungkin, sepupu ahh tidak tidak kejauhan. Ahh aku tahu itu perempuan pertama yang ada di hati A'a kan?" tanya Aisyah membuat Ahmad semakin menelan saliva nya dalam dalam.


"Oke A'a jelasin. Tapi jangan marah yaa" pinta Ahmad canggung


"Ngapain juga marah"


"Awass...."ancam Ahmad tergalak "Iya bener apa yang di katakan kamu dia tuh wanita pertama yang A'a kagumi, dia juga wanita pertama yang berhasil membuat A'a deg degan. Tapi sayang cuman bisa liat di samping nya doang" jelas Ahmad bernada senang.

__ADS_1


"Ya udah sekarang kan A'a udah tahu bentukan wajah aslinya" potong Aisyah


"Belum"


"Hadeh...maksud Aisyah tuh A'a udah tahu matanya seperti apa, apa lagi bentukan wajahnya, bibirnya idungnya juga..." jelas Aisyah membuat Ahmad semakin bingung "Ini Aisyah A'a..." pekik Aisyah menyilangkan tangannya di dada setelah menunjuk nunjuk poto itu.


"Ahh masa...ngaku ngaku deh ahh abongna pake cadar emm" elak Ahmad tak percaya


"Coba A'a inget iget...A'a jarang kan ketemu dia? apa lagi kalau malam jum'at. Padahal satu pondok gak nongol tuh batang idungnya, coba ada lagi gak yang pake cadar selain Aisyah?" tanya Aisyah di angguki Ahmad.


Iya jadi di pondok pesantren Kiai Manshur itu setiap malam jum'at nya selalu di gabungin antara laki laki dan perempuan. Tanpa mereka sadari ketika ada salah satu dari mereka yang berani menatap ikhwan atau akhwat pasti kena poin. Banyak banget yang terkena poin tersebut, bahkan malam itu di jadikan sebagai kenikmatan dunia oleh para santri santriawati di sana.


Makanya Asiyah selalu di larang keras oleh Kiai Manshur untuk tidak ikut kajian cukup temenin nenek nya, alesannya karena takut jadi pitnah, kiai Manshur sangat hati hati menjaga nama atau fisik Aisyah dari publik bahkan semua santri tak mengetahui keberadaan Aisyah bahkan namanya saja tak terdengar di telinga para santri laki laki.


"Ohh jadi itu alasannya, iya yaa takut jadi sorotan. Kamu kan dari dulu pakai cadar...Ahh pokonya A'a seneng banget ternyata cinta pertama dan terakhir A'a itu kamu neng" seru Ahmad memeluk sang istri seraya mengecup kening sang istri.


Setelah mereka selesai makan, merekapun siap siap untuk berangkat ke jakarta menggunakan mobil milik Aisyah. Ahmad sempat canggung dan malu karena ia belum bisa membelikan kendaraan untuk sang istri paling hanya sepeda motor yang ia miliki sekarang.


Tapi Aisyah berkata untuk tidak gak enakan gitu, ini juga kan bukan Aisyah yang beli sendiri pake uangnya tapi ini kan hadiah dari orang tuanya. Hakikatnya Aisyah hanya wanita biasa yang tak punya apa apa, yang punya apa apa itukan orang tuanya.


Mereka berdua berpamitan kepada Hasanah dan Rahmat untuk berangkat ke Jakarta mungkin mereka akan tinggal di Jakarta.


Di sela sela perjalan yang cukup jauh Ahmad tak sengaja bersin hingga sapu tangan yang di berikan Aisyah waktu itu ia keluarkan dari sakunya untuk menutup mulutnya 'itu kaya sapu tanganku' batin Aisyah merasa tak asing dengan sapu tangannya setelah melirik ke arah sapu tangan.


Aisyahpun meraih sapu tangan itu dari tangan Ahmad "Neng...jangan ada kumannya" seru Ahmad terkejut namun Aisyah tak memperdulikan ucapan sang suami.


Aisyah melirik ke setiap sudut sapu tangan itu di dapatinya gambar berbentuk micky mous kartun paforitnya "benerkan ini sapu tanganku" ucap Aisyah melirik ke arah sang suami yang tengah pokus nyetir lalu melirik ke arah belakang di dapatinya masker dan topi sama percis dengan yang di pake mas misterius, yang tadi Ahmad letakkan di sana.

__ADS_1


Aisyahpun meraih topi dan masker itu "berhenti dulu A'" pinta Aisyah dan di angguki Ahmad, mungkin ini udah jadi rencananya hha...


"Pake" pinta Aisyah menyodorkan topi dan maskernya "Ya Allah mas misterius" pekik Aisyah terkejut setelah Ahmad memakai topi dan maskernya.


"Igat sama saya?" tanya Ahmad berbeda suara tak seperti biasanya.


"Ahhh beneran ini mas misterius, ahh Ya Allah..." seru Aisyah menutup mulutnya dengan ke dua tangannya.


"Gi mana suka gak?" tanya A'a meledek


"Ihh ternyata A'a mas misterius itu, hah...kenapa sih aku pake berdoa kaya gitu segala kan jadi terkabul" gumam Aisyah merasa kecewa yaa karena kirain mas misterius itu orang baru (orang lain) ehh ternyata suaminya sendiri, orang yang selama ini Aisyah takuti sekaligus kesali.


"Ahh udah jangan bicara seperti itu, bersyukur" ujar Ahmad terkekeh karena ia tahu kalau Aisyah belum mencintainya.


"Kedengeran tadi Aisyah bicara?"


"Iya dong"


"Bagus deh, puas yaa kalau dulu itu Aisyah berdoa sama Allah 'andai aja aku punya suami kaya dia, udah ganteng, ramah, bisa kotak katik mesin mobil lagi '" ledek Aisyah membuat Ahmad semakin gemas liatnya. Pasalnya setelah menikah Ahmad merasa kesepian karena sang istri tak seperti dulu yang selalu bersungut ketika di hadapannya.


"Terusin neng" pinta Ahmad membuat Aisyah menghentikan kegiatan bersungutnya.


'Hah...udah akh cape pegel juga nie mulut' batin Aisyah dengan mata mengarah ke depan dengan tangan menyilang di dada.


"Terusin A'a suka dengernya, gemes" seru Ahmad mencubit hidung yang terhalang kain hitam (cadar)


Episode ini belum berakhir yaa ceritanya...masih banyak yang belum terbongkar tentang mas misterius...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2