
Setelah mereka berdua melaksanakan sholat, berdzikir dan membaca Al-Qur'an. Aisyah pergi ke dapur untuk membantu sang ibu mertua memasak, sedangkan Ahmad ia tidur kembali karena masih merasa ngantuk.
Krakkk....!! suara pintu terbuka.
Aisyah membuka pintu kamar dan menghampiri sang suami untuk membangunkannya karena makan sarapan telah siap tersaji di meja "A' bangun, kita sarapan" ajak Aisyah menggoyang goyangkan bahu sang suami pelan.
"Lima menit lagiii" elak Ahmad serak, masih memejamkan matanya.
Aisyah memutuskan untuk menunggungnya, ia menghitung setiap detiknya di dalam hati. Di saat ia mencapai waktu 3 menit tiba tiba Ahmad membuka matanya di dapatinya Aisyah yang tengah memperhatikannya seketika matanya melirik ke arah lain "Kamu masih di sini?" tanya Ahmad serak.
"Emm iya"
"Emang siapa yang nyuruh kamu nunggu?" tanya Ahmad memperhatikan wajah kemerah merahan itu
"Ayok kita sarapan, keburu dingin nanti..." ajak Aisyah mengalihkan pembicaraan.
"Jawab dulu" titah Ahmad merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri membuat Aisyah terkesiap dan sedikit geli "Ayok jawab dulu, kenapa kamu nunggu?" sambungnya terkekeh.
"Ihh udah jangan di bahas, itu lauk pauknya takut keburu dingin, juga Ummi sama abi udah nungguin"
"Nanti atuh, masih ngantuk"
"Ini udah lima menit, ayok bangun"
"Kok tahu?"
"Di itung"
"Huahhh yaa udah ayok" ajak Ahmad beranjak turun dan menarik tangan sang istri kemudian
"Gosok gigi sama cuci muka dulu"
"Emm emang bau yaa?" tanya Ahmad meletakkan tangannya di mulut seraya membuang nafas dari mulutnya "Gak bau ahh, coba cium" Ahmad mendekatkan bibirnya di hadapan sang istri namun Aisyah mendorongnya pelan dengan telapak tangannya guna menghindar membuat Ahmad menatapnya marah.
"Iya gak bau, yaa kalau gak gosok gigi, cuci wajah kek" ujar Aisyah terkekeh.
__ADS_1
"Gak usah, kelamaan. Belum cuci muka aja masih ganteng, apa lagi kalau udah cuci muka pasti kamu terpesona hha..." seru Ahmad membangga banggakan diri sementara Aisyah hanya menatapnya sinis dengan hati bergumam 'Yaa emang bener suamiku ganteng'
"Ahh udah ayok, kita ke bawah" Ajak Aisyah melangkah lebih dulu sementara Ahmad hanya tersenyum seraya mengikutinya dari belakang.
Singkat cerita mereka sampai di ruang makan, di atas meja terdapat lauk pauk yang menggiurkan lidah juga mata yang menatap senang ke arah mereka dan senyuman di bibir yang mereka sungingkan.
"Emm kenapa kalian lama banget, udah itu yaa?" tanya Nurul terkekeh membuat pipi keduanya memerah.
"Mi, gak boleh tanya gitu...liat pipi mereka merah" bisik ustadz Usman namun terdengar di telinga mereka "Udah cepet kalian duduk, keburu dingin lauk pauknya" titah ustadz Usman di angguki kedua sejoli itu.
Aisyah duduk di samping kanan Nabila dan di samping kiri Ahmad. Aisyah meraih piring dan meraih nasi sama lauk pauk kesukaan sang suami kemudian di sodorkan piring itu kepada sang suami. Setelahnya ia meraih piring dan meraih lauk pauk untuknya.
Aisyah melihat Nabila makannya berantakan, iapun membantu sang adik ipar untuk makan dengan menyuapinya "biarin Nabila makan sendiri, dia harus belajar mandiri" ujar Ahmad datar.
Kata kata tersebut membuat Aisyah menghentikan kegiatan menyuapi sang adik ipar "Dede makan sendiri lagi yaa" ucap nya pelan seraya menyodorkan sendok kepada Nabila.
"Neng,,, suamimu itu bukan melarang kamu untuk menyuapi Nabila, tapi dia cemburu meliatmu perhatian sama Nabila" seru ustadz Usman terkekeh membuat Ahmad tersipu. Yaa emang Ahmad berkata seperti itu karena Ahmad cemburu,,, masak iya adik kecilnya di suruh makan sendiri biasanya juga ia suapi.
Aisyah menatap wajah Ahmad yang tengah mengunyah nasi "A'a mau Aisyah suapin?" bisik Aisyah pelan.
"Emm bohong tuh" ledek ustadz Usman terkekeh
"Tehh, Nabila ingin di suapi lagi" seru Nabila dengan suara menggemaskan.
"Kamu belajar makan sendiri yaa" titah Aisyah menyungingkan senyumannya
"Teteh gak usah dengerin A'a, A'a bohong...A'a selalu suapin Nabila kok"
"Itukan dulu waktu kamu masih kecil, sekarang kan kamu sudah besar jadi belajar sendiri" elak Ahmad datar
Tak seperti biasanya Ahmad begitu datar kepada sang adik, biasanya juga selalu di manja, untungnya Nabila gak terlalu memperdulikan ucapan sang kk.
"Nabila jangan peduliin perkataan A'a dia tuh sebenarnya malu sama teteh Aisyah, jadi A'a bersikap seperti itu" bisik Nurul kepada Nabila, dan di anggukinya.
"Iya Ummi"
__ADS_1
Merekapun kembali makan hidangan yang telah di sediakan Nurul bersama Aisyah, pujian pun di lontarkan sang ayah mertua membuat Aisyah tersipu begitu juga dengan suaminya yang memujinya yaa walaupun nadanya datar sama wajahnya sedikit dingin.
Yaa mungkin ia masih gengsi, apa lagi ini di hadapan kedua orang tuanya serta adiknya. Pasti rasanya masih malu malu, gak seperti di kamar manjanya minta ampun yaa walaupun sedikit datar tapi kebanyakan tersenyum.
Singkat cerita mereka telah selesai sarapan Aisyah mencuci piring kotor awalnya di bantu Nurul namun Aisyah menyuruh sang ibu mertua untuk duduk. Karena bosan hanya duduk duduk aja. jadi beliau memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Di sela sela mencuci piring Ahmad menghampiri sang istri, ia melirik terlebih dulu ke sekeliling ruangan memastikan tak ada orang di sana.
Ahmad pun mendekati sang istri dan melingkari tangannya di perut sang istri membuat Aisyah terkejut "Lagi ngapain?" tanya Ahmad menopangkan dagunya di bahu sang istri.
"Ihh lepasin, ganggu aja" elaknya berusaha melepaskan dekapannya namun dekapan itu semakin erat dibuatnya.
"Udah gini aja yaa, gomong gomong ternyata perut kamu kecil yaa"
"Iyalah emang aku badut gitu yang perutnya buncit?" tanya Aisyah masih mencuci piring, sepertinya Aisyah mulai nyaman dengan dekapan itu.
"Emang gak mau buncit gitu, di dalamnya ada bayinya...?" kode Ahmad membuat Aisyah menoleh dengan tatapan sinis
"Maksudnya?" tanya Aisyah mengerutkan keningnyanya seraya melanjutkan mencuci piring terakhir.
"Ya emang gak mau gitu kaya Mila perutnya buncit?" wajab Ahmad menggaruk keningnya padahal gak gatal tapi rasanya ingin menggaruk. Sementara Aisyah semakin bingung dibuatnya, ternyata ia gak peka...
"Emm A'!!" panggil Aisyah setelah beberapa saat terdiam, mengelap tangannya dengan elap kering karena dia telah selesai mencuci piringnya.
"Hmmm"
"Emm Aisyah mau minta izin" ucap Aisyah ragu
"Apa?"
"Emm boleh gak Aisyah lanjutin kuliah tanggung satu semester lagi" Aisyah meremas remas tangannya, ia berharap dia mengizinkannya.
"Gak boleh" Terlihat rautan wajak kecewa yang di tunjukkan Aisyah "Gak boleh kalau kamu pergi ke Jakartanya tanpa A'a dan tinggal di sana sama A'a" sambungnya mengecup pipi sang istri kemudian.
"Maksudnya boleh?" tanya Aisyah memastikan, diangguki sang suami. Sontak Aisyah memeluk sang suami dengan perasaan bahagia dan mengucapkan terima kasih. Pelukan itu membuat Ahmad menyungingkan senyumnya lebar seraya membalas pelukan sang istri walau hatinya dag dig dug ser.
__ADS_1
Bersambung.....