
Waktu yang di tunggu tunggu akhirnya datang juga, di ruangan yang penuh dengan cat berwarna putih dan sedikit cat berwarna pink untuk bagian bunganya,,,terdengar elakan dari mulut mempelai wanita karena ia tak ingin wajahnya dirias dengan make up.
Berkali kali gadis itu menolak namun sang ibu terus membujuknya agar memakai sedikit riasan di wajahnya "Ayok nak pake dikitttt aja" bujuk Hasanah kepada sang putri.
"Gak mau,, gini aja yaa" elak Aisyah menutupi wajah dengan kedua tangannya
"Ayok sayang, itu mbaknya kasian dari tadi gak jadi jadi rias wajah kamu" bujuk Hasanah menyungingkan senyumnya ke tukang rias itu "Kasian lho kalau mbaknya gak rias kamu otomatis mbaknya gak bakalan dapet bayaran...kasian kan?" bisik Hasanah menakut nakuti. Kaya anak kecil aja, harus di bujuk hha...
'Iya juga, apa aku pake aja!!' batin Aisyah melirik mbak rias dengan tatapan iba.
Setelah di bujuk akhirnya Aisyah mau untuk dirias "Mbak jangan tebel tebel make upnya" sungut Aisyah diangguki sang perias.
Mbak rias itu sedikit kesulitan saat merias wajah Aisyah karena dari tadi dia gak mau diam terus aja bersungut katanya jangan tebel lah, geli lah, gak enak lah bla bla bla dehh pokonya.
Terdengar lantunan Ayat suci Al-Qur'an surah Ar-Rahman yang Ahmad lantunkan di pengeras suara untuk maharnya sontak membuat gadis berniqob itu diam sehingga mbak periasnya tak kesulitan lagi.
Aisyah terus menghayati setiap bacaannya sampai ayat terakhir selesai Ahmad bacakan 'Benarkah itu suara calon suamiku?, masya Allah...aku akan selalu memintanya untuk melantunkan ayat Al-Qur'an di telingaku' batin Aisyah terlihat senyuman yang mulai ia sunggingkan.
"Mbak sudah riasnya?" tanya Hasanah yang menghampiri sang anak setelah tadi pergi keluar kamar.
"Ahh iya sudah buk" ujar sang perias tersenyum lebar
"Masya Allah putri Bunda cantik banget" puji Hasanah membuat Aisyah membuka matanya perlahan seraya melirik ke arah kaca yang lumayan besar menempel di meja rias itu.
"Ahh iya dia siapa? kok cantik banget" pujinya terkekeh
__ADS_1
"Emm tadi aja gak mau, sekarang udah keliatan cantik aja sombongnya minta ampunnnn" seru Hasanah mencubit hidung sang anak sementara Aisyah hanya nyegir memperlihatkan gigi putihnya. Kini Aisyah tinggal memakai cadar aja dan segera turun kebawah.
Di sisi lain....
Di ruangan yang luas dengan sedikit bunga yang tertata rapi di sana membuat suasana semakin syahdu dan juga tamu undangan yang duduk di atas tikar berjajar dengan rapi. Juga terlihat Ahmad yang tengah meletakkan mic di atas meja kecil setelah selesai melantunkan surah ar-rahman untuk maharnya.
"Alhamdulillah, mahar surat Ar-Rahmannya telah selesai di bacakan. Kini kita mulai ikrarnya, apakah ananda Ahmad sudah siap?" tanya pak penghulu yang duduk di hadapannya dengan sang calon mertua.
"In syaa Allah, saya siap" ucap Ahmad lantang
Kedua tangan yang berbeda arahpun saling merangkul satu sama lain dengan erat guna tak mudah lepas, Rahmat segera melantunkan ikrarnya dengan sedikit lantang karena memang suara Rahmat semakin hari semakin berkurang mungkin karena efek paktor U.
Hingga di tekanlah tangan itu dan mulailah Ahmad melantunkan ikrarnya dengan suara lantang tanpa meleset sedikitpun sampai kata 'SAH' itu berbunyi dari mulut para saksi di sana.
Kini semua mata tertuju pada penganti wanita yang baru sampai menuruni setiap anak tangga dengan dituntun oleh sang bunda Hasanah dan sang ibu mertua Nurul.
Mata Aisyah berkaca kaca rasanya ingin menangis, seketika hatinya hancun berkeping keping karena didapatinya Ahmad yang mengucap ikrar untuknya...beberapa kalimat kalimat negatif bermunculan di benak pikirannya, namun ia berusaha untuk mengangkis semua pemikiran buruk tentang suaminya dan berusaha tuk mengiklaskan takdirnya.
"Kenapa bengong? ayok dekati istrimu" seru Rahmat terkekeh
Segera Ahmad mendekati sang istri terlihat matanya dipenuhi dengan air mata terharu namun bibirnya terus tersunging senyuman 'Apa aku bermimpi, dia kan pemilik mobil yang mogok itu!! masya Allah ternyata dia Aisyah,,,kenapa selama ini aku enggak engeh' batin Ahmad seraya duduk dihadapan sang istri yang tengah menundukkan kepalanya.
Ahmadpun mengulurkan tangan kanannya, tapi Aisyah tak berani untuk memengang tangannya itu apalagi melihat wajahnya "Aisyah ayok jabat tangan suamimu" bisik Hasanah yang greget pengen nyatuin kedua tangan yang berbeda itu.
Aisyahpun mengangkat tangannya pelan sembari gemetar,,, belum sampai ehh tangannya udah di turunin lagi bahkan sampai ia tutupi dengan tudungnya yang panjang. Aisyah takut karna ini pertama kalinya ia harus menjabat tangan lawan jenis selain sang ayahnya, paman, dan kknya.
__ADS_1
"Ayok nak jangan takut, diakan sudah halal untuk kamu pegang" seru Nurul lembut
"Iya ayok, sama Aris aja berani mukul masa sama yang udah halal susahnya minta ampun" ledek Farish datar
"Itukan gak kena langsung sama kulit Aris, lagian kan Aris kknya Aisyah" elak Aisyah dengan gigi atas dan bawah yang menyatu sehingga terdengar hanya gunyaman.
Masih sempat sempatnya ia membalas ledekan Farish hha...
"Iya deh terserah" pasrah,,,semua orang terkekeh dengan tingkah lucu pengantin wanita sama kknya itu.
Karena kelamaan tamu tamu udah pada laper akhirnya Hasanah memaksa tangan Aisyah untuk menjabat tangan Ahmad, sampai lah tangan itu diatas telapak tangan Ahmad seketika ia menjerit pelan seraya menutup mulutnya dengan tangan satunya lagi.
"Gak papa kan? ayok kecup tangan suamimu" titah Hasanah
Aisyahpun mengecup tangan Ahmad untuk pertama kalinya rasanya aneh, asing, takut, deg degan lagi pikirnya. Kini giliran Ahmad yang meletakkan tangan kanannya di pangkal rambutnya seraya membaca do'a dan mengecupnya kemudian.
Awalnya ada kekehan karena sama hal dengan Aisyah. Ahmad juga sulit untuk mengecup keningnya, sekitar tiga kali Ahmad mengurungkan niatnya itu tapi ia berusaha untuk mengecup kening sang istri dan akhirnya jadi juga, pipinya langsung kemerah merahan begitu juga dengan Aisyah yang pipinya muai berubah menjadi warna merah merona.
Semua tamu undangan mengucapkan selamat sekaligus mendo'akan kebaikan untuk mereka terutama keempat paru baya, Sahabat, kk dan juga Kiai Manshur beserta keluarga kecilnya kecuali sang istri yang lebih dulu pergi meninggalkan beliau karena beliau mengidap penyakit kanker.
Iyaa Kiai Manshur pagi tadi baru sampai di rumah Hasanah...beliau bela belaan datang jauh jauh hanya ingin menjadi saksi sang ponakan. Terlihat mimik wajah senang yang beliau tunjukkan, beliau juga bersyukur bisa menjadi saksi ponakan tersayang sebelum ia pergi untuk selama lamanya.
Karna memang usia beliau sudah sangat sepuh tapi masya Allah beliau masih bisa berjalan yaa walaupun jalannya seperti siput.
Bersambung.....
__ADS_1