Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
sn 3 : Tamatlah riwayatmu...


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu....


"Ya Tuhan badanku makin lemah kaya gini, padahal aku baru nyapu dua ruangan" gumam Nissa, terlihat wajahnya sangat pucat.


Selama beberapa hari kebelakang Farish jarang pulang kerumah dengan alasan inilah itulah membuat Nissa semakin kesal terhadapnya tapi apalah dayanya tubuh Nissa semakin hari semakin melemah ia mau marah tapi Farish sangat pintar merayunya, yaa pastilah merayunya dengan perhiasan atau gak uang. Dasar wanita matre


'Ya iyalah lemah, aku yang setiap hari ngasih obat agar nyonyaa gadungan Nissa Aulia lemah' batin bi Inah (pebantu dirumahnya) tersenyum megerikan di balik pintu.


Waktu itu dimana makan malam akan tiba, bi Inah mengambil tugas memasak nah dari situlah kesempatannya untuk memasukan obat pelemah kedalam masakan kesukaan Nissa.


Ya itu tadi fungsinya itu untuk membuat musuh tak berdaya dan gampang untuk di musnahkan.


.


.


"Sayang gimana kau siap?" tanya Farish kepada wanita tanpa identitas sembari mengendarai mobilnya menuju rumah bak istana itu


"Ragu, aku takut gak bisa"


"Cup, kau ini kuat...pasti kau bisa lagi pula dia sudah lemah" ujar Farish agar wanita itu tenang


"Iya sih tapi kan dia mafia paling kejam sedunia, mau lemah ke mau gak pasti dia yang akan menang. Mana aku baru latihan beberapa hari lagi" celoteh wanita itu cemberut


"Suttt mafia berkelas juga terkejam sedunia itu aku, dia hanya wanita lemah yang tujuannya hanya memanfaatkan hartaku saja, kau wanita kuat sayang...pasti bisa ini juga demi siapa? demi kita dan keselamatan keluarga kita" tekan Farish membuat wanita itu terdiam


Cekittt....


Mobilpun berhenti di pinggir jalan dekat pagar bak istananya "Huhh bismillah" gumam wanita itu menghela nafas kasar


"Roy" titah Farish melalui alat yang terpasang di telinga mereka, Farish memerintah Roy untuk mematikan seluruh lampu yang menyala di rumah itu.


Ceppp...!!


Seluruh lampu rumah padam, terlihat Nissa yang baru sampai di ujung tangga langsung menghentikan langkahnya. Tak ada celah sama sekali yang menerangi ruangan itu.


"BI INAHHH....BIII..." pekik Nissa meraba raba lantai


"IYA NYAH, NYONYA DI MANA?" pekik bi Inah pura pura padahal ia tengah duduk di atas kursi di dapur dan mengisyaratkan kepada wanita yang tengah duduk santai di kursi yang di letakan di depan pintu utama. Mereka menggunakan lensa yang dapat melihat dalam kegelapan yaa:)

__ADS_1


"BI KENAPA LAMPUNYA PADAM" tanya Nissa masih di tempatnya


"YA TUHAN LUPA BAYAR LISTRIK NYAH"


"GIMANA SIH, SEKARANG KAMU ADA DI MANA? CEPAT SINI CARIKAN SENTER GUA TAKut..."


Tak..takk..takk...


Suara hentakan kaki yang terdengar jelas di telinga Nissa ia pun menghentikan kegiatannya, suara itu sepertinya terus mendekati Nisa dan


Hakkk...


"ARRRRGGGGG" pekik Nissa mengaduh kesakitan karena tanganya terinjak


"MAMPUS" bentak wanita itu, ternyata wanita tak jelas identitaslah yang menginjak tangan Nissa sampai berdarah


"Kau siapa?" tanya Nissa gemeteran entah kenapa saat ini ia bisa selemah ini


takk...takk...takk...


Suara hentakan kaki yang terdengar semakin jauh 'Brayyy...!!' semua lampu nyala seperti awal terlihat Nissa membulatkan matanya, ia segera bangun dari duduknya


"Oh jadi lho yaa istri sirih dari tuan Sihab? Lemah!!" kata wanita itu, Nissa melirik ke arah dapur terlihat bi Inah tengah mengasah pisau yang super tajam


"Bi Inah lagi ngapain? itu pisau untuk apa?" tanya Nissa tak berani mendekat karena ia tak mempersiapkan semuanya


"HAHA...esok adalah hari kurban dan bibi ingin sekali berkurban jadi bibi siapkan pisau ini, emm dan nyonya gadungan akan menjadi manusia kurbannya" ujar bi Inah menunjuk ke arah Nissa menggunakan pisau tajamnya.


Nissa menelan ludahnya kasar, kenapa bi Inah jadi sekejam ini bukannya dia yang terlihat paling lemah?


"Aku suka bi...nanti kita bakar dagingnya sama sama yaa bi..." seru wanita itu dengan nada menyeramkan


"Tapi nyonya, sebaiknya kita berikan kepada buaya. Takutnya kita keracunan"


"Ck. benar juga, sangat menjijikan harus makan danging yang penuh racun ihh"


"Kau sebenarnya siapa?" tanya Nissa so kuat


Krakkk....

__ADS_1


pintu utamapun terbuka terlihat keluarga Hidayatullah tengah berjajar di balik pintu, kenapa ada mereka? siapa yang ngundang? jadi waktu itu ada chet dari nomer yang sama juga caption yang sama ke salah satu aplikasi di handpon Ahmad, karena penasaran akhirnya mereka mendatangi alamat yang di kirimkan orang itu.


"Nissa?" ucap semua orang kaget


"Kalian tolongin aku, aku mau dibunuh wanita dihadapan kalian" ujar Nissa menelungkupkan tangannya di dada tak berdaya


"Itu tanganmu kenapa?" tanya Nurul mengayunkan kakinya namun dihentikan oleh wanita itu.


"Berhenti atau kalain yang mati!!" ancam wanita itu menodongkan senjatanya.


Terlihat Nissa mengeluarkan senjata apinya yang ia simpan di sakunya, ternyata ia menyembunyikan pistol itu di sakunya...pintar sekali wanita itu. Nissapun mengarahkan kepala pistol ke arah wanita itu.


Farish yang melihat peluru sudah di luncurkanpun langsung mendorong wanita itu, dan disaat ia jatuh ia segera mengarahkan pistolnya ke arah pistol yang di pegang Nissa


Dorrrr....!!


Pistol itu berhasil terlepas dari tangan Nissa juga pelurunya menembus tangan Nissa hingga ia mengaduh kesakitan "Heh kau pikir aku bodoh...cih menyebalkan" gumam wanita itu bangkit dari tidurnya begitu juga dengan Farish


Nisaa tak menyadari bahwa di belakangnya ada seorang pria yang tengah menatinya, pria itupun meraih kedua tangan Nissa lalu memborgolnya.


"HAHA gimana bagus 'kan dramanya?" tanya wanita itu menyentuh kedua pipi Nissa lalu menekannya dengan kasar "Uluhhh kacihan tangannya berdarah yaa? sini aku obatin" sambungnya sembari meraih tangan Nissa


"Uhh ini yaa yang sakitnya?, bi mana P3Knya" titah wanita itu, bi Inahpun memberikan kotak putih kepadanya


Bukannya obat obatan yang ada dalam kotak itu tapi senjata mematikanlah yang berjajar rapi di dalamnya "coba kalian sini" titah wanita itu kepada keluarga Hidayatullah


"Astagfirullah...neng ini untuk apa?"


"Emm mana yaa yang cocok untuk mengobati luka keluargaku?" gumam wanita itu mengetuk ngetuk kepalanya "Ah ini, kecil tapi tajam ini kayanya pas untuk mengukir nama di sini" sambung wanita itu mengayunkan pisau kecil di tangan Nissa membentuk kalimat yang sangat kecil seketika darah keluar


"Lepasin" ujar Nissa mengayunkan tangannya, dengan tidak sengaja pisau itu menembus tangannya membentuk huruf I besar sehingga dagingnya terlihat "ARRRGGGGGGGG" pekik Nissa histeris


"Upps, itu bukan aku...(ucap wanita itu mengangkat kedua tangannya) kau yang salah disi..."


"Sudah hentikan sudah...neng istigfar..." titah Nurul histeris matanya sudah berair siap untuk di luncurkan


"DIAM, ini baru awal...belum lagi aku harus menggantungnya di pohon cikur eh pohon besar, seperti dia melakukannya kepada seluruh keluargaku tanpa ada yang tersisa satupun" ujar wanita itu meneteskan air matanya di balik topeng, ia mengingat kembali keluarganya yang tergeletak di pesawahan juga di atas pohon beberapa minggu yang lalu, hati mana yang tak hancur melihat orang tercintanya mati secara tidak wajar.


"AKU TAHU KAULAH PELAKUNYA...JIKA AKU TIDAK MELAKUKAN INI MUNGKIN KALIAN AKAN MATI DITANGANNYA"

__ADS_1


__ADS_2