
Setelah perjalanan cukup jauh dan sekarang waktu menunjukkan pukul 07:57 malam akhirnya Ahmad sampai juga di rumahnya "Mas bangun udah sampai" seru sang sopir membangunkan Ahmad yang tengah tertidur pulas mungkin ia kecapeas seharian jalan jalan menelusuri sepanjang jalan.
"Huah udah samapai yaa pak?" tanya Ahmad menutup mulutnya dengan kedua tangan dan di angguki sang supir. Ahmadpun menyodorkan uang dengan bayaran lebih sesuai apa yang ia janjikan tadi.
Kemudian Ahmad membuka pintu mobil seraya menutupnya dan meraih koper yang baru saja di keluarkan dari bagasi mobil oleh sang supir.
"Makasih pak" ucap Ahmad di angguki sang supir, iapun masuk kedalam rumahnya.
Tukkkk...tukkk...tukkk...
Suara ketukan pintu dan ucapan salam yang ia lontarkan berbarenan. Tak memakan waktu cukup lama akhirnya pintu itu di buka oleh sang ibu.
"Waalaikumussalam..putraku ya Allah kok gak ngasih kabar kalau mau pulang" tutur Nurul memeluk sang anak erat karena beliau bener bener kangen kepada putranya itu air mata terharupun ikut menetes saking terharunya.
Nurul melepaskan pelukannya seraya membawanya ke dalam rumah, Ustadz Usman sangat terkejut ketika didapatinya sang anak yang baru sampai di ruang keluarga bersama Nurul.
"Ya Allah...putraku Masya Allah, kenapa kamu gak ngabarin Abi? Abikan bisa jemput kamu" tutur Ustadz Usman memeluk erat sang anak, sementara Ahmad hanya tersenyum.
Singkat cerita... mereka sekarang sedang berbincang bincang. Ahmad memberi kabar bahwa ia mendapatkan nilai tertinggi di kampusnya itu, sontak membuat Nurul dan Usman meneteskan air mata terhary seraya mengucap syukur atas keberhasilan putranya.
Siapa sih yang gak bangga kalau putranya mendapatkan nilai tertinggi di kampus, wajardong kalau mereka menangis!!
"Mad" panggil Usman dalam tangisannya, Ahmad yang tadinya tersipu karena dipuji oleh kedua paru baya itu seketika wajahnya kembali datar seraya menoleh ke arah sang ayah "Abi punya kabar baik" sambung beliau nyengir memperlihatkan gigi putihnya
"Kabar baik apa Bi?" tanya Ahmad mulai menyungingkan senyumnya
"Aisyah ada di rumahnya" ucapan beliau membuat pria 28 tahun itu tersenyum bahagia, ia berharap kalau Aisyah jodohnya dan juga Aisyah pulang dalam status masih sendiri.
"Kapan kamu mentaarufnya?" tanya baliau meletakkan handponnya ke atas meja setelah melihat poto poto wisuda sang anak.
__ADS_1
"Emm kalau bisa esok" ujar Ahmad gugup. Ahmad tak ingin menyia nyiakan kesempatan ini, karena menurutnya kalau nanti dan nanti takutnya Aisyah keberu pergi lagi seperti dulu.
Waktu terus berjalan hingga waktu pagipun tiba. Ahmad beserta kedua orang tuanya telah selesai bersiap siap kini mereka tinggal ke rumah Hidayatullah. Terlihat mimik wajah berseri Ahmad, ia tak sabar untuk mentaaruf pujaan hatinya.
Sandal adalah alat transportasi mereka untuk pergi kerumah Hidayatullah, yaa karena rumahnya sangat berdekatan jadi mereka memutuskan untuk jalan kaki.
Tokkk tokk tokkk
Beberapa ketukan dan ucapan salam telah berbunyi berbarengan
'krakkk...!!' pintu itu terbuka disambutlah kedatangan mereka oleh pembantu pembantu Rahmat.
Sebelumnya ustadz Usman menghubungi keluarga Hidayatullah jadi mereka tahu akan kedatangannya dan mempersiapkan segalanya termasuk hidangan yang terlihat menggiurkan lidah yang tertata rapi di atas meja.
"Silahkan masuk" ucap salah satu pembantu mempersilahkan, setelah ucapan terimakasih yang mereka lontarkan, akhirnya ketiga sejoli itu masuk ke dalam rumah seraya duduk di kursi yang tertata rapi di ruang tamu.
Trak...trakk..trakk
"Ehh udah datang, maaf yaa jadi nunggu" seru Hasanah duduk di kursi yang berbeda begitu juga dengan Rahmat yang duduk lebih dekat dengan calon mantu.
"To the poin aja yaa, seperti apa yang kami bilang di telpon. Kalau kami akan mentaaruf Aisyah untuk putra kami Ahmad" ujar Usman sedikit canggung
"Kami setuju" ucap Rahmat singkat sembari nyangir
"Alhamdulillah..."
"Emm apa kamu siap ikrarnya akan berlangsung esok malam?" tanya Rahmat, membuat semua orang terkejut 'dua hari lagi...? emang cukup untuk menyiapkan segalanya..?'
"Apa gak terburu buru Man?"
__ADS_1
"Lebih cepat lebih baik!! kamu siap gak. Jangan terlalu mikir panjang tar anak saya keburu berangkat ke Jakarta lho" ujar Rahmat menakut nakuti Ahmad seraya mengangkat angkat alisnya. Bukan tanpa alasan Rahmat berbicara seperti itu, Rahmat takut kalau putrinya kabur kaya di si netron si netron karena gak mau nikah hha....
"Tapi gimana dengan tander, ketring dan lain lain" tanya Nurul
"Huff...Jadi gini...kita ijab kabul dulu, weddyngnya kapan kapan atau setelah Aisyah lulus kulian nanggung kuliahnya satu semester lagi. Ini juga Aisyah di kasih waktu libur cuman enam hari" jelas Rahmat di angguki mereka.
"Iyaa kami setuju tapi gimana dengan Aisyah?" tanya Ustadz Usman
"Tenang aja" jawabnya singkat
Sementara di sisi lain...Aisyah tengah menekukkan kakinya dan dipeluknya kepalanyapun ia rebahkan di atas kaki yang ia tekuk guna menutup mulutnya yang tengah berisak "kenapa sih Ayah tega banget bilang seperti itu, aku gak tahu siapa yang saat ini sedang mentaarufku. Hahh aku harus bisa berusaha ikhlas menerima semua ini hikss hikss" gumam Aisyah dalam isaknya.
'Ayah tega banget bilang seperti itu?' yaa jadi waktu kemarin malam sampai di rumah Rahmat sangat marah kepada putrinya itu...
_Flasback_
Setelah Aisyah memakirkan mobilnya, Aisyahpun keluar dari mobil dan bergegas ke dalam rumah dengan wajah berseri seri. Saat Aisyah akan masuk ke dalam rumah Aisyah di kejutkan oleh Rahmat yang tengah mematung di balik pintu dengan tatapan tajam kepadanya, sontak gadis itu ketakutan ujung bibirnya 100% turun kebawah.
"Kamu malu maluin Ayah aja, kenapa kamu selalu menolak lelaki yang datang kerumah. Emang gak ada salah satu dari mereka yang kamu sukai, padahal Ayah liat mereka baik, sholeh ganteng. Kamu mau yang seperti apa?" tanya Rahmat marah sementara Aisyah ia hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Ayah gak mau tahu kalau ada lagi lelaki yang mentaaruf, kamu harus menerimanya"
"Tapi Yah, gimana kalau yang terakhir itu bukan jodoh Aisyah?" elak Aisyah mengangkat kepalanya.
"Ayah sudah sholat istikhoroh, jadi kamu jangan takut. Kamu jangan bantah Ayah" sambung Rahmat membuat Aisyah semakin marah namun ia tahan kemarahannya itu dan mulai mengikhlas apa yang akan terjadi di kemudian hari.
"Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:" Wanita dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya....." (HR. Bukhari Muslim) Nah dari hadist tersebut apakah kamu ingin melihat wajah putri saya sebelum kamu kecewa? karena wajah putri saya?" tanya Rahmat memastikan
Ahmad menggelengkan kepalanya, ia tak memperdulikan soal kecantikan. Ia menerima Aisyah apa adanya dan ia takkan pernah merasa kecewa.
__ADS_1
Bersambung....