Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
sn 2 : Ke Cianjur


__ADS_3

Matahari mulai meninggi, sekitar pukul 14:12, terdengar suara mesin mobil menyala. Siang ini keluarga ustadz Usman akan pergi kerumah orang tua Nurul karena beliau sedang sakit ma'lumlah udah sepuh, di cianjur. Sekalian kepengen bertemu dengan Aisyah.


Setelah semua barang barang pribadi karena mereka akan menginap telah usai di masukan ke dalam bagasi. Segera anggota keluarga masuk kemobil, Ahmad membiarkan sang abi istirahat (tak nyetir) dan duduk di belakang bersama Nurul dan juga Nabila.


*Mata Aisyah terlihat gantuk berat, beberapa kali ia menguap yaa aneh gitu ratu tidur tapi gak tidur hhe.. untungnya Ahmad peka "Heyy,, kamu ngantuk yaa?, udah tidur aja jangan di tahan" titah Ahmad mengelus elus kepala sang istri yang tertutup hijab.


Aisyahpun tertidur di dalam mobil, sesekali Ahmad melirik ke arah sang istri seraya tersenyum dengan tangan saling berjabat di atas pangkuan Aisyah. Hahh iya dia nyetir pake satu tangan.


Singkat cerita akhirnya sampai juga di rumah orang tua Nurul, rumahnya terlihat sederhana terbuat dari bambu namun indah bila di pandang juga menyuguhkan pemandangan sawah di depan rumahnya.


Udaranya pun sejuk jika di hirup, terlihat Aisyah yang langsung meraih handpon di tas kecilnya seraya memotret ke indahan pedesaan. Sementara Ahmad hanya geleng geleng kepala yang baru keluar dari mobil setelah memakirkan mobil.


Ahmadpun menghampiri sang istri dan berbisik "indah yaa pemandangannya, tapi kayanya ada yang kurang deh"


"Apa?" tanya Aisyah tanpa menoleh sedikitpun, matanya hanya terpokus kepada layar handpon.


"Kamu di sini" Ahmad meletakkan jarinya di layar handpon Aisyah, kode kurang kalau di poto itu tanpa Aisyah dan dirinya "kita potbar mau gak?" tanya Ahmad nyengir ketika Aisyah melirik ke arahnya.


"Ayok, A'a yang potoin Aisyah" seru Aisyah menyodorkan handponnya dan berlari ke tempat yang bagus untuk selfi.


"Ihh neng potbar, jadi kita poto bareng gitu" pekik Ahmad merajuk


"Ouhh, terus siapa yang poto?" tanya Aisyah menghampiri sang suami


"Die ku amang we" ucap Fadli (paman Ahmad/adik Nurul) yang baru saja selesai memberi obat untuk padinya.


"Wios mang, amang istirahat we pasti capek tos ngaberak (menaburkan obat pada padi)" elak Ahmad lembut sementara Aisyah hanya mengerutkan keningnya, tak paham apa yang di obrolkan mereka.


"Ahh wios sok ngagaya, iraha dei atuh anjeun ka die"


Ahmadpun menyodorkan handponnya kepada Fadli dan mulai bergaya. Setelah beberapa poto di ambil merekapun pergi masuk ke dalam rumah karena sudah di tunggu ma' Titi

__ADS_1


"Assalamualiakum" salam mereka berdua kompak, mengecup punggung tangan beliau


"Waalaikumussalam warohmatullah, ini bojo mu?" tanya ma' Titi pelan.


"Mhn ma'" jawab Ahmad sementara Aisyah hanya tersenyum sama halnya ia tak paham bahasa sunda yaa walaupun ada beberapa kata yang masih ingat.


"Neng...wios ema' ninggal pamente?" tutur ma' Titi


"Neng ma' pengen liat wajah kamu" bisik Ahmad kepada sang istri. Aisyahpun membuka cadarnya untuk sang nenek, yaa untungnya di kamar itu gak ada siapa siapa hanya mereka bertiga.


"Masya Allah" ucap ma' Titi mengangkat tangannya itu juga di bantu Aisyah dan beliau meletakkan tangannya di pipi mulus Aisyah dengan mimik wajah senang "cucu nenek cantik, wajahnya bercahaya. Kamu beruntung nak punya istri seperti Aisyah" sambung ma' Titi dalam bahasa sunda.


Aisyah hanya tersenyum tak membalas apa yang di ucapkan sang nenek " Emm nenek udah makan belum?" tanya Aisyah mengalihkan pembicaraan.


"Atos" ucapnya seraya merebahkan tangan di atas perut beliu.


"Alhamdulillah"


'Atos itu udah yaa? ahh iya kali, kalau belum itu apa yaa lupa lagi' batin Aisyah kebingungan


"Tahu lah, udah kan artinya" jawab Aisyah nyengir


"Istriku emang pinter" puji Ahmad mengelus elus kepala Aisyah sementara ma' Titi kembali tertidur karena mungkin bawaan dari sakit.


Aisyah dan Ahmad berpamitan kepada sang nenek untuk keluar dari kamar. Setelah keduanya mengecup kening sang nenek merekapun pergi keluar kamar dan menemui yang lainnya.


Singkat cerita malampun tiba...Di kamar yang gak begitu luas tanpa tandas pengantin baru itu tengah berbincang bincang di sana keliatannya Aisyah mulai nyaman dengan kehadiran sang suami di sampingnya.


Tokkk....tok...


"Maaf Ummi ganggu gak?" tanya Nurul memastikan sebelum ia membuka pintu itu.

__ADS_1


"Ada apa Mi?" tanya Aisyah membuka pintu


"Ini nenek katanya pengen tidur di temani kamu, kamu mau kan tidur malam ini sama nenek?" tanya Nurul merasa tak enak kepada Ahmad.


Aisyahpun menoleh ke arah Ahmad yang tengah memperhatikan mereka "Gak papa, aku izinin" ucap Ahmad tersenyum.


Aisyahpun menghampiri sang suami dan meminta maaf karena malam ini ia tak bisa menemani Ahmad tidur. Aisyahpun mengecup punggung tangan Ahmad begitu juga dengan Ahmad yang mengecup kening sang istri.


Singkat cerita Aisyah telah sampai di kamar ma' Titi.


"Ma' maaf sebelumnya Aisyah gak ngerti bahasa sunda" ujar Aisyah terus terang seraya duduk di bibir ranjang.


"Ohoho...dari tadi teh Ahmad bisik bisik karna nerjemahin" seru ma' Titi terkekeh sementara Aisyah hanya tersenyum malu "iya ema akan bicara bahasa yang kamu faham, emm tapi bukannya kamu orang sunda (sukabumi)?" tanya ma' Tati heran.


Sudah tahukan alasan Aisyah gak paham bahasa sunda? yaa karena ia cuman tinggal satu tahun di Sukabumi setelah beberapa tahun di Bandung setelahnya ke Jakarta.


"Neng pengen jadi apa?" tanya ma' Titi setelah mengetahui alasan Aisyah tak paham bahasa sunda.


"In syaa Allah...kepengen jadi dosen sekaligus pendakwah"


"Masya Allah emang yaa kalian itu cocok, dulu ema' tanya Ahmad waktu kecil kepengen jadi apa? kata Ahmad pengen jadi pendakwah sekaligus dosen. Alhamdulillah sejak SMA Ahmad udah jadi pendakwah sekarang tinggal dosennya, mudah mudahan cita cita terakhirnya tercapai"


"Amiin" ucap mereka berdua serya mengeluskan tangannya ke wajah.


'Emm kenapa bisa sama yaa' batin Aisyah binggung.


"Tapi neng kamu jangan terlalu tinggi pendidikannya melebihi suamimu" sambung ma' Titi


"Iya ma' Aisyah paham, Aisyah juga berusaha untuk tidak melebihi pendidikan dari A'a karena Aisyah takut ketika Aisyah mendapatkan status pekerjaan lebih dari A'a ataupun orang orang akan lebih memuji Aisyah ketimbang A'a otomatis A'a akan merasa tersinggung ataupun minder dan pada akhirnya A'a akan benci kepada Aisyah. Takutnya rumah tangga kita jadi berantakan cuman gara gara seperti itu" ujar Aisyah panjang lebar


"Masya Allah, iya kamu harus bersikap rendah hati di hadapan suamimu yaa, kamu jangan pernah membantah suamimu. Patuhilah apa yang di perintahkan suamimu karena surgamu sekarang ada pada keridhoan suamimu" pesan ma' Titi.

__ADS_1


Setelah berbincang bincang cukup panjang lebar akhirnya keduanya memutuskan untuk tidur.


"Ma' kita tidur udah malam, kita keasyikan ngobrol hhe..." ajak Aisyah terkekeh dan di angguki sang nenek.


__ADS_2