
Hampir dua jam mereka menunggu akhirnya lampu di atas pintu pun padam menandakan operasi telah selesai, jantung mereka kembali berdenyut kencang.
Rasa menyesal, khawatir, takut, marah tertanam sempurna di benak pikiran mereka.
Krakkk....
suara pintu terbuka dan seorang dokter keluar dengan keringat sebesar biji jagung membuat jantung mereka seakan ingin loncat dari gedung saking kencangnya.
"Dok gimana keadaan istri/anak/mantu/sahabat saya?" tanya mereka heboh membuat sang dokter pusing mendengarnya.
"Alhamdulillah operasinya lancar..." Seketika nafas legapun keluar dan senyuman pun terlukis indah di bibir mereka
"Tapi.." lanjut dokter itu membuat senyumanya pudar
"Katakan dok anak dan istri saya baik baik saja kan dok?" tanya Ahmad histeris
"Bu Aisyah mengalami pendarahan yang hebat sehingga mengalami keguguran (syok), kemungkinan besar bu Aisyah tidak bisa hamil karena kondisi rahimnya yang lemah, bisa hamil cuman beresiko bisa bisa merebut nyawa bu Aisyah atau anaknya bahkan bisa dua duanya meninggal"
"Juga tulang punggung bu Aisyah mengalami keretakan akibat benturan yang sangat keras dan saat ini bu Aisyah mengalami ko..koma"
Degg...!!
Bagaikan petir yang menyambar jiwa di tengah siang bolong, jantung rasanya berhenti berdetak.
Hasanah yang dari tadi menahan pingsannya dan akhirnya tumbang juga, Hasanah langsung pingsan tanpa aba aba membuat semua orang semakin panik.
Ahmad yang mendengar penuturan dokter pun langsung duduk lemas, ia meremas remas rambutnya tak percaya, air bening juga ikut keluar tanpa di mintainya.
Ahmad menerobos sang dokter karena ia igin melihat keadaan sang istri. Ketika pintu itu terbuka terlihat seseorang yang tengah terbaring lemas dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.
Ahmad berjalan menghampiri Aisyah dengan tubuh gemetar, ia meraih tangan Aisyah lalu mengecupnya dan mengecup keningnya kemudian.
"Neng...bangun sayang...neng bagun maafin A'a, ini semua salah A'a. Seharusnya A'a yang tertusuk, maafin A'a neng...ya Allah...ini semua salahku kenapa aku ceroboh...neng bagun sayang..."
"Neng bangun kita jajan di luar yaa A'a sekarang gak akan larang kamu jajan di luar, A'a melarang karena A'a takut jajanannya tak higenis. Neng bagun sayang...bukannya kita akan pergi ke pantai besok!! kamu mau ke pantai bukan? bagun yaa sayang kita pergi ke pantai, kita akan main air, main apalagi sayang? arrggg...hiks...hiks...neng ayok bagung...hiksss" Ahmad berusaha membangunkan sang istri namun apa lah dayanya, Aisyah tak kunjung bangun bangun.
"Sabar nak" kata ustadz Usman menghampiri Ahmad
"Abi...hiks...(Ahmad memeluk tubuh sang abi) Abi ini semua salahku, aku ceroboh, aku gagal menjaga istriku, ini semua salahku hikss..." sambung Ahmad dalam dekapan ustadz Usman
"Kamu jangan salahkan dirimu seperti itu, ini sudah jadi jalannya...sabar yaa nak do'akan yang terbaik untuk istrimu" ucap ustadz Usman tak terasa air matanya ikut jatuh melihat sang menantu terbaring tak berdaya.
Begitu juga yang lainnya rasanya ingin memeluk tubuh mungil milik Aisyah namun beberapa pelaratan menempel di tubuhnya jadi mereka kesulitan, mereka hanya bisa melihatnya saja.
"Aisyah bangunlah...Aisyah..." pikik mereka dalam isaknya
__ADS_1
Di sisi lain terlihat seorang wanita yang tengah memandang pemandangan di sebuah taman, ia meraih handpon di sakunya lalu menelpon seseorang.
📞....
"Tangkap dua pria yang saya perintahkan untuk bunuh nyonya Sihab, kurung mereka di ruang bawah tanah. Sesekali kalian siksa mereka, sisanya saya yang beresin" kata wanita itu dalam telpon
"Siap nyonya muda" jawab di sebrang sana
Tut...tutt...tut..
Panggilanpun terputus terlihat senyum kecut tersunging di bibir wanita itu. Hatinya sangat terpukul ketika ia mendapatkan info bahwa yang terbunuh adalah orang lain yang tak punya salah kepadanya.
Air matanya juga mengalir begitu deras di pipinya sehingga membentuk aliran sungai kecil di sana.
"Bersenang senanglah kalian sebelum aku lelenyapkan kalian" gumam wanita itu sembari tersenyum menakutkannya.
...***...
Tuttt...tutt...tuutt...(pangilan tak tersambung)
"Aisyah angkat Aisyah...ya Tuhan ada apa dengan Aisyah kenapa telponnya gak di angkat...hatiku rasanya tak enak ya Tuhan kenapa ini" ucap Renata khawatir
Renata terus saja menelpon Aisyah dan setelah berusaha akhirnya telponpun tersambung hati Renata seketika tenang.
📞...
"Hallo ini siapa yaa?" tanya Renata kembali resah
"Kenapa tanya balik?"
"Ah mungkin anda ayahnya Aisyah?, hai om Aisyahnya ada gak?" tanya Renata gugup
Renata mengeryitkan keningnya karena di sebrang sana tertawa terbahak bahak
"Kenapa anda tertawa?"
"Haha...maaf saya bukan ayahnya Aisyah, saya kakaknya Aisyah" Yaa itu adalah Farish yang menggangkat telpon Renata.
Tadinya Farish akan pergi menemui sekretarisnya karena mendapatkan info tentang wanita misterius itu, namun lajunya terhentikan karena ponsel sang adik yang tergeletak di kursi terus berdering.
"Oh maaf kak, Aisayhnya ada kan?" tanya Renata membuat hati Farish kembali sesak
"Aisyah...Aisyah..."
"Katakan Aisyah kenapa?" khawatir
__ADS_1
"Aisyah mengalami kecelakaan, sekarang Aisyah ada di rumah sakit"
Deggg...!!
Benar saja apa yang di rasakan Renata, hatinya seketika hancur berkeping keping, air matanya menetes begitu saja tubuhnya juga seketika jatuh ke lantai tak percaya akan perkataan kakak sahabatnya.
"Hallo?"
"Kak tolong kirimkan alamat rumah sakitnya" pinta Renata gemeteran
Farishpun memberikan alamat rumah sakitnya seketika Renata tancap gas, ia tak perduli seberapa jauh jaraknya. Yang ia pikirkan sekarang Aisyah, hatinya tak akan tenang jika belum ketemu dengan sahabatnya itu.
Beberapa jam kemudian setelah menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung akhirnya ia sampai juga di tujuan. Renata berlari sekencang mungkin, ia mencari ruang di mana sahabatnya di rawat.
Renata berhenti di ruangan di mana di sana ada dua pria berbadan gagah juga wanita yang nampaknya menyeramkan bagi siapa saja termasuk Renata.
Renata yakin itu ruang inap Aisyah ia pun memberanikan diri untuk menanyakan kepada mereka namun mereka terus saja menanyakan Renata tentang kedekatan Aisyah dengannya.
Mereka tak percaya begitu saja karena Farish menyuruh mereka untuk tidak mengizinkan masuk kecuali ada izin darinya.
Renata tak menyerah begitu saja, Renata meraih handponnya lalu menelpon lewat nomor telpon sahabatnya itu kepada kakak sahabatnya.
📞...
"Kakak aku sudah ada di luar ruangan, tolong bantu aku untuk masuk ke dalam karena mereka tak mempercayaiku kalau aku sahabat Aisyah...cepet buka pintunya"
Krakkk...
Pintupun terbuka diiringi Farish yang keluar dari ruangan itu "Kamu Renata?" tanya Farish dan di angguki Renata
"Beri dia jalan" titah Farish
Bodyguard itupun memberi jalan untuk Renata masuk, sebelum masuk Renatapun menjulurkan lidahnya kepada mereka karena saking kesalnya.
"Haha puas, bleee" kata Renata membuat bodyguard itu kesal namun Farish melototi mereka.
'Kalau bukan temannya non Aisyah sudah saya habisin tu bocil'
'Tapi lucu juga yaa hihi...'
'Menyebalkan!!'
"Jangan pernah berfikir ingin membunuh dia" ancam Farish dengan tatapan mengerikan membuat bodyguardnya tertunduk takut
Renata terkejut ketika berada di ruang itu, air matanya kembali keluar seketika kakinya melangkah dengan cepat
__ADS_1
"Aisyah...hiksss..Aisyah kamu kenapa? kenapa kamu jadi seperti ini, Aisyah siapa yang berani menyakitimu?, jika aku menemukan orangnya aku akan menghabisinya, memotong motong tubuhnya lalu aku lemparkan ke kandang buaya yang ganas. Aisyah kumohon bangunlah hiks..." seru Renata dalam isaknya membuat semua orang linu mendengarnya terkecuali Farish dan Nissa
"Nak maaf kamu siapa?"