
Dua bulan telah berlalu, kondisi Aisyah baik baik aja. Tak perlu ada yang di khawatirkan, Ahmad sebagai suaminyapun merasa senang karena Aisyah terlihat ceria tak ngeluh dengan kondisinya saat ini walaupun sesekali ia suka pingsan.
Di sebuah taman belakang rumah terlihat Mila tengah memanjakan buah hatinya yang tengah makan bubur, Hasna kini sudah menginjak satu tahun setengah. Baru saja Hasna bisa berjalan walaupun sering terjatuh.
"Dedek Hasna buka mulutnya sayang à...(Mila menyodorkan sesendok bubur ke mulut Hasna) yee pinter putri ummi"
Di sela sela keasyikannya bersama Hasna, Mila tak menyadari jika di belakangnya ada seseorang yang berlaga aneh dan memakai topeng sehingga tak ada yang mengetahui wajah aslinya, pria itu terus saja mendekati Mila dan
Hap....
Mulut Mila di bekam kain, entah pake apa sehingga membuat ia tak sadarkan diri. Kemudian pria itu mengendong Mila di bawanya pergi entah kemana.
Suara tangisan Hasna membuat Hasanah lari kocar kacir mencari keberadaan suara itu. Hasanah kaget melihat bubur berserakan di mana mana.
Hasanahpun menggendong Hasna lalu menidurkannya agar ia tenang "Cup cup cup cucuk oma kenapa nangis?" Hasanah menepuk pantatnya agar tenang sekaligus tidur "Mila kemana? kok lantai kotor Ya Allah" sambung Hasanah bingung
Hasanah mengayunkan kakinya menuju ruang tengah dengan suara yang terus memanggil nama FARIS namun tak kunjung ketemu.
"Ada apa bun?, tadi Hasna kenapa nangis, Milanya kemana?" tanya Aisyah khawatir dan Hasanah menjelaskan apa yang telah terjadi
"Bubur berserakan? apa ada yang terjadi? CCTV!!" Aisyah beranjak pergi meninggalkan Hasanah menuju kamar rahasia yang hanya bisa di masuki kedua pasangan sejoli itu.
Sebenarnya orang lain tak mengetahui jika pondok pesantren mempunyai CCTV yang Aisyah pasang di beberapa sudut setiap ruangan kecuali ruang kamar. Masa iya ruang kamar di pasang bisa wow dong...
Terlihat Ahmad baru saja masuk kedalam rumah, Hasanah langsung menyuruhnya untuk menyusul Aisyah, saat ini Hasanah lebih panik kepada putrinya, mungkin takut terjadi apa apa.
Ahmad berlari menyusul Aisyah yang tengah menaiki anak tangga seraya berseru "Astagfirullah neng hey jangan lari" titah Ahmad panik
Aisyah mengabaikan titahan Ahmad ia terus berlari kecil menuju kamar rahasianya. Sesampainya di ruangan rahasia Aisyah langsung ngecek CCTV untungnya nyala jadi merekam semua yang telah terjadi barusan.
Ahmad baru saja sampai di depan pintu, mengatur nafasnya yang tersengal sengal, ia pun mendekati sang istri lalu menjitak keningnya kemudian "A'a ih kenapa mukul Aisyah?" rengek Aisyah manja
__ADS_1
"Kamu bikin A'a panik aja"
"Hhe...maaf Aisyah ini pengen....A' liat ini" seru Aisyah menunjuk ke layar komputer
Di dalam komputer itu terlihat jelas Mila di bawa oleh pria bertopeng. Ahmad langsung menghubungi Farish namun handponnya tak aktif.
Ahmad dan Aisyahpun pergi ke ruang tengah untuk memberi tahu informasi mengejutkan ini. Mata dan mulut mereka membulat ketika melihat vidio itu rasa khawatirpun hadir di benak pikiran mereka.
"Gimana nie, si Farishnya lagi mitting biasa orang sibuk" jelas Rahmat panik. Yaa emang Farish sedang ada jadwal mitting dengan orang yang penting dan itu tidak bisa di ganggu jelas saja perusahaannya semakin mengembang dan mungkin bisa di katakan ia sukses.
"Ya Allah, istri ngilang dia malah enak duduk manis di sana ngurus perusahaan"
Tringg....
'Datanglah dan saksikan' isi chat yang masuk ke handpon Ahmad dan juga kiriman alamat yang harus mereka datangi. Merekapun langsung tancap gas menuju tempat yang di kirim nomor tak di kenal itu.
Sementara di sisi lain...Mila kini berada di sebuah ruangan minim cahaya, kedua tangan dan kakinya di rantai. Dari tadi Mila tak sadarkan diri mungkin efek obatnya belum habis saking kuatnya.
Brugggg....!!
Byurrrr...!!
Hujan buatan menimpa tubuh Mila sehingga membuatnya tersadar dari pingsannya "Aku di mana? ka-u kau siapa? jangan berani mendekat...PERGI...KAU SIAPA? PERGII!!" kata Mila ketika pria itu terus mendekatinya
Pria itu melepaskan rantai yang terpasang di kaki dan tangan Mila, memang rantai itu telah terbuka namun itu sangat tidak membantu tetap saja ia masih terkurung di ruangan itu.
Tubuh Mila gemetar pria itu terus saja mendekati Mila dan seketika Mila tak bisa berjalan mundur lagi karena ada tembok yang menghalanginya.
"Mau apa kau? kau siapa? jan...arrrgggg" hijab Mila di tariknya kasar sehingga nampaklah rambut panjangnya yang indah. Pria itu langsung mendorong Mila kasar samapai Mila terjatuh tepat di atas ranjang.
Pria itu tak segan segan merebahkan tubuhnya di atas Mila, Mila berusaha mendorong tubuh keker di hadapannya namun kekekeran itu yang membuatnya kesulitan untuk lepas.
__ADS_1
Kemudian pria itu menarik baju Mila hingga robek dan terlihatlah dua belah dadanya
"Wah itumu besar juga yaa, emm pasti nikmat" ucap pria itu tergiur
"HEYYY JANGAN SENTUH"
"Suttt sayang nikmati aja, jangan khawatir setelah ini aku akan MEM-BU-NUH-MU HAHAHA..." pekik pria itu langsung tancap gas menghabisi tubuhnya tanpa ada yang tersisa secara kasar tentunya membuat Mila menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, air matanya terus menetes tak ada hentinya.
'Ya Allah A'a tolongin Mila...maafkan Mila A'a...' batin Mila seraya menahan desahannya agar tak terdengar.
Mulut Mila terlihat sedikit sobek dan bengkak akibat eluman kasar dari pria itu. Setelah merasa puas ia langsung mencambuknya dengan sangat kasar sehingga keluarlah darah dari mulut dan hidung Mila.
Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri yang sudah di lumuri dengan darah juga bekas sentuhan dari pria itu yang tertanam jelas di sekujur tubuhnya.
Pria itu memberikan baju pendek dan celana agak panjang kepada Mila untuk ia pakai "Kenapa kau nyuruh aku untuk memakai pakaian itu, bukannya kau yang sudah merobek bajuku dan merengut mahkotaku HAH?"
"PAKE" pekik pria itu murka
Mila tetap saja diam tak menyentuh bajunya, karena kesal akhirnya pria itu memaksakan Mila untuk memakai bajunya. Setelah selesai memakaikan baju kepada Mila pria itu langsung memborgol tangan Mila lalu di letakan di tengah tengah ruangan yang cukup luas nan mengerikan.
Tak tak tak..
Suara hentakan kaki terdengar jelas di telinga Mila "MILAAA" pekik Aisyah berlari menuju Mila namun pria itu segera menghentikan langkahnya dengan tembakan
Semua kaki langsung berhenti di jarak yang agak jauh, Ahmad yang melihat Aisyah hampir pingsan langsung merangkulnya. Tubuh Aisyah sangat lemas habis terkuras, bodohnya mereka kenapa libatkan Aisyah bukannya mereka sayang kepadanya tapi kenapa Aisyah diizinkan ikut.
"Kalian tahu siapa dia?" ujar pria itu santai sambil duduk di atas kursi "Lihatlah sekujur tubuhnya sudah kotor CIH sangat menjijikan" sambung pria itu mengangkat kepala Mila dan menunjukan kepada yang lain membuat semua orang merasa iba, namun apalah dayanya mereka tidak bisa membantu Mila.
"Sebaiknya kalian pergi, aku tidak ingin kalian menjadi sepertiku. Aku takut pria ini melakukan hal yang sama kepada kalian" titah Mila tersengal sengal menahan rasa sakitnya
"Ck. mana mungkinlah aku membunuh keluargaku sendiri"
__ADS_1
"Keluarga? KAU SEBENARNYA SIAPA?" pekik Nissa
"Mi-um-mi hehe tatata"