Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
sn 4: perjodohan


__ADS_3

Hari dimana santri/wati pulang ke rumahnya masing masih telah tiba, kebanyakan dari mereka yang senang dengan kepulangannya karena mereka kangen dengan rumahnya ahh tidak tidak mungkin dengan gawainya!! ups hhe...


Skip aja, semua santri/wati telah habis pulang kerumahnya masing masing tanpa ada yang tersisa mungkin cuman Nabila yang tinggal di sini hha.., terlihat seluruh anggota keluarga besar tengah mengumpul di ruang keluarga.


Nabila dari tadi tak bicara satu katapun bahkan ketika Ahmad merayu dirinya Nabila malah membalasnya dengan senyuman. Malangnya Nabila, kenapa ia harus mengalami nasib seperti ini.


"Bila kamu kenapa?" tanya Ahmad seketika mata tertuju kepadanya


"Lagi gak mood" jawab Nabila singkat tanpa busa basi


"Aku ke kamar dulu" ucap Nabila beranjak pergi


'Nabila kok jalannya aneh gak seperti biasanya, kaya yang abis di anu...akh paan sih Aisyah Nabila itu anak baik baik mana mungkin dia mau melakukan hal itu lagi pula kita udah mewanti wantinya dan mengajarkannya sek. Jika benar dia melakukannya dengan siapa coba? dia gak gaul sama laki laki toh!! udahlah Aisyah jangan berfikiran yang aneh aneh tentang adik iparmu ini...' batin Aisyah merusaha menepis pikiran buruknya terhadap sang adik ipar


"Nabila kenapa?"


"Ah mungkin dia ditinggal teman temannya, tadi aja mereka pada nangis....Ahmad kasih aja handponnya biar Nabila bisa ngehubungi teman temannya" titah Nurul kepada Ahmad


"Hmm baiklah" sahut Ahmad beranjak pergi kerumahnya untuk mengambil handpon Nabila, selama masa belajar handpon Nabila Ahmad amankan agar ia bisa pokus dengan belajarnya.


Sesampainya di ruangan khusus barang barang canggih, Ahmad meraih handpon Nabila yang ia letakan di atas meja dekat laptop yang menyambung dengan CCTV. Tak ada angin tak ada hujan Ahmad rasanya menginginkan untuk mengecek CCTV lantas iapun duduk di atas kursi berhadapan dengan laptopnya.


"Ini vidio apa? jadi penasaran" Ahmad membuka rekaman CCTV yang ia pasang di toilet putri yang kebetulan menghadap halaman paling belakang dimana tempat Rian dan adiknya mesum. Baru ia putar Ahmad sudah membulatkan matanya ia terkejut melihat sang adik yang tengah berduaan di halaman itu.


Karena penasaran apa yang selanjutnya akan terjadi Ahmad melihat vidionya sampai adegan dimana Rian dan adiknya ciuman, tangan keker Ahmad sudah membulat ia masih menahannya karena masih ada beberapa detik yang belum ia tonton.

__ADS_1


Ketika adegan Rian dan adiknya masuk kedalam bangunan kosong itu Ahmad membualatkan bibirnya dan tanda tanya besar terlukis indah di keningnya "di dalam mereka ngapain? aku curiga jangan jangan..." gumam Ahmad murka pasalnya Ahmad tak menaruh CCTV di dalam bangunan itu karena itu bukan termasuk wilayah pondok pesantren, entahlah itu wilayah siapa yang jelas sih bukan termasuk wilayah pompes Hidayatullah tapi menurut info bangunan itu adalah bangunan yang dulunya rumah seorang kakek tua yang memiliki gangguan ODGJ.


Brugggg...!!


Ahmad memukul meja lalu ia membawa laptopnya pergi kerumah orang tuanya kembali dengan keadaan marah "NABILAA...NABILA KELUAR KAMU" pekik Ahmad membuat semua orang heran


"Ada apa Ahmad?"


"Liat kelakuan putri ummi" titah Ahmad menyodorkan laptopnya, ekspresi yang sama yang mereka tunjukan, terkejut nan marah terutama sang ibunda.


'Ya Allah benar dugaanku jika Nabila telah di anu...astagfirullah...' batin Aisyah menutupi mulut dengan tangannya terkejut


"NABILAAA KELUAR KAMU" pekik Nurul mengetuk ngetuk pintu kamar Nabila, sementara di dalam sana Nabila sudah ketakutan. Tanpa ada pilihan lain Nabila keluar kamarnya menunduk takut


Tamparan mendarat tepat di pipi Nabila hingga kepala si empunya terpalingkan "Kamu ngapain di dalam sana hah?" tanya Nurul sedikit meninggi, nampaknya Nabila tak ingin menjawab pertanyaan dari sang ibu karena ia takut "NABILA JAWAB" sambungnya murka "UMMI SUDAH MEWANTI WANTI KAMU UNTUK MENJAGA MAHKOTAMU TAPI APA APA YANG KAMU LAKUKAN? UMMI GAK MAU INI SEMUA TERJADI PADAMU SEPERTI I...(Nurul menggantung ucapannya) ummi kecewa sama kamu" sambungnya duduk di atas sofa sembari meremas remas wajahnya.


Semua orang marah kepada Nabila kerena ia tak bisa menjaga mahkotanya juga mencemari nama baik pompes, setelah ini mereka harus ngelakuin apa? apa lagi semua santri telah berpulang kerumahnya masing masing, dan mungkin lelaki itu akan pergi jauh jauh seperti di flem flem si cowoknya gak bertanggung jawab.


Namun beda hal dengan Usman yang santai santai di sofa sembari memainkan handponnya tanpa ada ekspresi apapun, terkejut ataupun marah.


"Coba jelaskan sebenarnya apa yang telah terjadi?" tanya Usman santai


Dengan berat hati Nabila menceritakan kejadian sebenarnya yang telah terjadi padanya "Bagus Nabila, bagus LAKUKAN LAGI!! A'a kecewa sama kamu...KENAPA KAMU SEPERTI INI HAH? GIMANA KALAU SEMUA ORANG TAHU? MAU DITARO DI MANA WAJAH A'A? untung saja kamu gak melakukannya diwilayah pompes ini, coba aja di wilayah ini...A'a gak tahu harus ngelakuin apa, A'a harus bicara apa nanti sama alm. Kiai Manshur...A'a KECEWA SAMA KAMU BILAA" sentak Ahmad membuat Nabila semakin berasa bersalah.


"Maafkan aku A', ummi, abi, semuanya aku juga tak menginginkan ini..hiks...maafkan aku" mohon Nabila berlutut di kaki Ahmad

__ADS_1


Tokk...tokkk...tokkk....


Di sela sela persidangan tiba tiba saja ada yang mengetuk pintu, lantas Farishpun pergi untuk membuka pintunya "Waalaikummussalam warohmatullah...Rian? maaf kalau boleh tahu ada apa yaa?" tanya Farish sopan


"Emm apa kita boleh membicarakannya di dalam gak enak kalau diluar hhe..." pinta ibunda Rian cengengesan


"Maaf sebentar" Farish beranjak pergi ke dalam untuk memberi tahu mereka jika ada tamu "Maaf ada tamu sebaiknya kita tunda dulu" saran Farish dan diangguki mereka.


Singkat cerita mereka sudah berada di ruang tamu, semua orang sudah duduk rapi di sana, dan ibunda Rian mengawali pembicaraannya, dengan kedatangannya kesini kedua orang tua Rian meminta maaf kepada pihak keluarga Hidayatullah atas apa yang diperbuat putranya kepada Nabila.


Selain meminta maaf mereka juga berani untuk bertanggung jawab dan akan menikahkan Nabila dengan putranya, sebenarnya waktu Rian sampai di rumahnya ia memberanikan diri untuk menceritakan kelakuannya yang tak masuk akal kepada kedua orang tuanya. Marah kecewa itulah isi hati mereka, jika sudah seperti ini ceritanya mereka terpaksa harus menikahkan kedua sejoli itu.


Dan pada akhirnya kedua keluarga itu menyetujui dan merencanakan pernikahan mereka malam ini, lebih baik lebih cepat bukan?.


"Ya kami setuju" ucap Usman santai


'Huufff maafkan teteh Cika, teteh gagal...teteh gagal mendidik Nabila...' batin Nurul menghela nafas kasar


"Baiklah kita nikahkan mereka malam ini, lebih cepat lebih baik bukan?" sahut ayahanda Rian


"Baiklah kita setuju, tapi kami mohon rahasiakan ini dari siapa siapa, jika memang ada yang bertanya kenapa Rian dan Nabila nikah jawab aja mereka dijodohkan" saran Ahmad karena ia tak ingin mencemari nama baik pompesnya


"Baiklah"


'Cihh gara gara si Rian idupku jadi hancur...HANCURR' batin Nabila kesal.

__ADS_1


__ADS_2