
Hahhh pagi begitu cerah tak ada awan hitam yang membuat sebagian makhluk hidup resah. Udara yang begitu pas untuk di hirup, rasanya sangat sejuk beserta bunga bunga yang akan mekar di setiap sedut rumah.
Tak seperti biasanya, gadis berniqob itu sudah berpakaian rapi dengan baju gamisnya yang masih pas untuk remaja seusianya yaa intinya gak keibu ibuan dan juga hijab yang menutupi bagian dadanya membuat ia semakin terlihat dewasa jika dipandang.
Aisyah menuruni anak tangga dengan mimik wajah berseri tak seperti kemarin wajahnya terus cemberut "Pagi Bun, pagi Yah" sapa Aisyah memperlihatkan aura bahagia.
"Emm kamu kesambet apa sayang kayanya seneng banget. Gak seperti kemarin, disuruh makan aja gak mau" ledek sang Ayah
"Ya harus bahagia dong" ujarnya seraya duduk di atas kursi dekat sang Ayah.
"Tadinya Bunda mau kekamar kamu...biasa untuk bangunin kamu hhe.." ucap Hasanah yang tengah menaruh lauk pauk terakhir yang ia pasak hari ini.
"Emm hari ini kamu seneng banget berarti kamu terima dong dengan keputusan Ayah kemarin?" tanya Ayah, meraih piring yang berisi nasi serta lauk pauk yang di sodorkan sang istri "Makasih sayang" sambungnya memperlihatkan senyumnya kepada sang istri.
"Sama sama" jawab Hasanah membalas senyuman sang suami
"Emm Gimana yaa" seru Aisyah, menggerak gerakan sendong di piring mengikuti arahan bentuk piringnya "Aisyah bingung soalnya Ayah sih gak ngasih tahu siapa" rengek Aisyah membuat keduanya terkekeh.
"Tapi kenapa yaa gaun itu sama yang pernah di beli mas misterius" seru Aisyah membuat keduanya mengerutkan keningnya
"Siapa mas misterius?" tanya keduanya kompak
"Mas misterius itu orang yang pernah bantu memperbaiki mesin mobil Aisyah karena mogok hhe..."
"Apa mogok? Aisyah kamu ini jorok banget" elak Ayah marah
__ADS_1
"Udah Ayah jangan marah marah, cepet tua lho hhii..."
"Maaf Yah, Aisyah juga gak tahu kenapa. Lanjut lagi yaa ceritanya" ucap Aisyah pelan sembari nyengir dan di angguki sang Ayah "sampai mana? ouh iya...dia juga orangnya baik ganteng lagi" sambung Aisyah menekukkan sikunya di atas meja dengan tatapan genit.
"Astagfirullah" pekik sang Ayah, karena sang anak bengong
"Astagfirullah"pekik Aisyah terkejut, bangun dari halunya "Ihh Ayah ngagetin..."
"Kamu tahu dari siapa kalau dia membeli baju sang sama percis kaya kamu punya?" tanya Hasanah, memasukkan sesendok nasi serta lauknya kedalam mulut kemudian.
"Yaa jadi pas kemari kita bertemu lagi, gak sengaja kita bertabrakan...Aisyah tahu gaun itu karena tasnya jatuh dan gaunnya keluar. Juga yang mengejutkan Aisyah itu ketika di tanya nikahnya kapan? Bunda, Ayah tahu gak dia jawab apa? dia bilang nikahnya esok malam. Awalnya sih Aisyah terpukul hhe...tapi setelah Aisyah dapatkan gaun itu Aisyah jadi yakin kalau dia yang kemarin mengkhitbah Aisyah....Ahh gak sabar pengen liat" cerocos Aisyah membuat kedua sejoli itu senang mendengarnya tapi juga tanda tanya bermunculan di benak pikirannya.
"Ciri cirinya gimana?" tanya sang Ayah memastika kalau mas misterius itu calon menantunya.
"Gak tahu sih soalnya dia pakai masker sama pake topi jadi Aisyah gak tahu bentukan yang sesungguhnya tapi tenang, Aisyah inget badannya itu tinggi, emm tingginya itu...ahh kaya mang Asep tapi gak kurus kaya mang Asep..."
"Maaf mang gak ada apa apa"
"Ouh kalau begitu mamang permisi" Mang Asep garuk garuk kepala bingung dengan tingkah laku Aisyah seraya pergi ke depan rumah untuk berjaga lagi.
"Hhhffftt...kamu sih gak hati hati kalau bicara, jadi mang Asepnya bingung" seru Hasanah membuat putrinya semakin malu
"Hhe..lanjut yaa, yang Aisyah liat itu alisnya tebel kaya ulat bulu yang nempel di pohon gitu Bun, Yah" Mereka bertiga tertawa lepas
"Hha..kamu ada ada aja, momen yang Ayah sama Bunda tunggu tunggu hhe..lanjut sayang"
__ADS_1
"Hhe...lanjut yaa, kan dia pake masker tuh..jadi hanya terlihat bagian matanya, matanya itu belo percis kaya Aisyah tapi rambut matanya itu gak seperti Aisyah panjang sama lentik" sambung Aisyah mengkedap kedipkan matanya genit.
"Ya Allah, yang pertama tubuhnya kaya mang Asep" kata Asep disana Hasanah memelankan suaranya karena takut mang Asep melintas tiba tiba lagi hhe... "yang ke dua alisnya di samain sama ulat bulu, terus yang ketiga matanya belo kaya kamu hha...guti Ya Allah, perut Bunda sakit lho...gara gara nertawain kamu" seru Hasanah terkekeh
"Tar...ciri ciri itu kaya calon mantu kita ya Bun?" tanya Rahmat membuat gadis itu semakin senang
"Apa?, yee Alhamdulillah moga aja deh" pekik Aisyah seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya mengucap syukur.
"Ahh iya kayanya, gaunnya yang waktu kamu tunjuk bukan pas kita nyari gaun untuk Nissa?" tanya Hasanah memastikan
"Iya Bun, Bunda yaa yang nyuruh dia untuk beli gaun itu?, Ahh makasih Bunda...Aisyah seneng banget, emm jadi gak sabar deh pengen jabut alisnya hhee..."
"Iya berarti bener itu calon mantu Bunda, hebat yaa bisa gitu. Mungkin emang kalian tuh udah di takdirkan berjodoh" seru Hasanah memasukkan sesendok nasi terakhir ke dalam mulutnya.
"Kamu beneran seneng?" tanya Rahmat menyungingkan senyumnya.
"Seneng sih kalau mas misterius itu, tapi jangan bilang kk kulkas itu yaa" elak Aisyah membuat kedua paru baya itu terkekeh. Entah kenapa mulutnya berkata seperti itu.
"Bener yaa kamu jangan kecewa"
"Emm gak tahu Yah, yaa Aisyah berharap mas misterius itu yang kemarin datang kerumah ini" ucap Aisyah merasa khawatir ia takut kalau yang kemarin datang kerumahnya adalah kk kulkas. Aisyah berkata seperti itu karena Aisyah baru ingat kk kulkas itu selalu datang ke rumahnya untuk mengkhitbahnya mungkin sekitar 5 kali ia datang kerumahnya.
Namun gadis itu selalu menolaknya (lewat telpon sih) alesannya balum siaplah, masih kuliahlah bla bla bla. Tapi Ahmad bener bener mencintai Aisyah jadi ia tak mudah menyerah.
"Kamu jangan seperti itu, Ahmad tuh orangnya baik, sholeh, sama serius. Coba kamu inget inget di antara semua laki laki yang datang kerumah ini untuk mengkhitbahmu beberapa kali siapa? Ahmad kan? berarti emang dia itu serius tulus banget mencintaimu. Bahkan dia bilang dia akan menerimamu apa adanya tanpa melihat kekurangan dan kelebihanmu"
__ADS_1
"Karena menurutnya menikah itu bukan hanya sekedar di jadikan temen curhat ataupun di jadikan pembantu di rumahnya untuk mengurusi dirinya saja, tetapi untuk mendapatkan ridha dari ilahi dengan cara memperbaiki diri sama sama" jelas Rahmat sementara Aisyah hanya diam. Rahmat berharap putrinya akan menerima Ahmad seperti Ahmad yang menerimanya apa adanya tanpa melihat kekurangan serta kelebihannya.
Bersambung....