Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
sn 3 : Tolong..!!


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu begitu cepat, hari ini adalah hari bahagia berbarengan dengan kesedihan karena Aisyah akan berpisah dengan kawan kawannya terutama Renata.


Terlihat kedua sejoli itu tengan berpelukan, dengan mata berbinar "Aisyah tetap di jakarta yaa" pinta Renata dalam dekapan Aisyah.


"Aku juga ingin tetap di sini tapi aku gak bisa Ren..."


"Tapi suamimu kan ngajar di sini kenapa mau ke bamdung sih, di sini yaa?" sela Renata


"Suamiku akan berhenti jadi dosen"


Renata melepaskan pelukannya "Kenapa?" tanya Renata terkejut


"Beliau di amanahin untuk mengurus pesantren pamanku di sana jadi aku juga ikut ke sana, kamu jangan sedih yaa ini hanya perpisan bukan berarti kita harus saling melupakan, kamu jangan sampai lupakan aku yaa minimal satu atau dua hari sekali kita saling kabar kabaran. Jangan sampai putus yaa tapi persahaban kita"


"Hiksss...hiks...Aisyah...iya aku tak akan melupakanmu, kita akan selamanya jadi sahabat" Aisyah mengangguk lalu keduanya berpelukan kembali.


"Neng...ayok kita pulang..." kata Ahmad yang dari tadi memperhatikan mereka begitu juga dengan keempat parubaya.


"Renata aku pamit yaa, jangan kangen...nanti kita akan tetap menyambung silaturahim walaupun lewat vc. Satu lagi...semoga kamu cepat di lamar sama si Vino hhe..." bisik Aisyah menyungingkan senyumnya walaupun matanya berbinar.


"Ihh paan sih...do'ain yaa moga jodoh hha..." kata Renata tersipu di akhiri tawaan kecil.


Setelah mengikhlaskan dan melepaskan satu sama lain Aisyah menghampiri Ahmad lalu memeluknya ia tak perduli orang orang bilang apa.


"Ayok pulang..." ajak Ahmad di angguki Aisyah kemudian


...***...


"Ayah bangga baget sama kamu bisa mendapatkan nilai paling tinggi di kampusmu" kata Rahmat senang


"A'a juga bangga punya istri kaya kamu" kata Ahmad mengelus elus kepala Aisyah


"Bunda juga bangga banget, tak sia sia bunda melahirkanmu hha..."


"Iya dong ini juga ada campur tangan dari kalian kalau gak ada yang nyemangatin, gak ada yang marah ketika Aisyah bercanda dalam


belajar (Aisyah melirik ke arah Ahmad yang tengah menyetir) gak mungkin Aisyah bisa seperti ini..."


"Makasih semuanya udah jadi penyemangat untuk Aisyah, emm mana hadiah untuk keberhasilan Aisyah, katanya mau kasih hadiah kalau Aisyah dapet nilai tertinggi" cerocos Aisyah mengangkat tangannya seperti anak kecil minta uang

__ADS_1


"Ohh ya? emang kami pernah bicara seperti itu?"


"Iya masa lupa sih"


"Perasaan gak...ah ini akal akalan kamu agar di kasih hadiah"


"....." Aisyah hanya diam merajuk


"Marah ceritanya" ledek Ahmad


Aisyah semakin cemberut tak bicara satu katapun


Cekittt....


Segera Aisyah keluar dari mobil tanpa menunggu Ahmad membukakan pintu untuk dirinya.


"Hehe..." terkekeh


"Ihh kesel kenapa sih mereka gak inget ahh...sabar yaa dek nanti ummi sendiri yang beli, mereka lupa atau pura pura lupa?" rutu Aisyah terus berjalan


"Non...selamat yaa...gimana nilainya bagus?" tanya bi Siti yang menyambut dirinya di depan pintu


"Masya Allah selamat yaa non...bibi punya sesuatu untuk non ayok ikut bibi ke kamar bibi" Siti meraih tangan Aisyah lalu berlalu menuju kamarnya.


"Bi kok gelap sih, Aisyah gak mau masuk Aisyah takut" kata Aisyah ketakutan keringat dingin mulai keluar dari dahinya.


"Gak papa nanti bibi nyalahin lampunya, ayok nonm.." Aisyahpun memberanikan dirinya masuk ke dalam kamar itu.


Bi Siti segera keluar meninggalkan Aisyah sendiri di sana lalu menutup pintunya


Beuggg....


"Bibi buka bibi bibi buka...biii bibi bukaaaa" pekik Aisyah panik sementara di luar sana tersenyum sekaligus tertawa


Aisyah menyenderkan tubuhnya di tembok karena merasa lelah, ia melirik ke sekeliling ruangan sangat gelap hanya ada pencahayaan dari kaca kecil di atas.


Aisyah menangis terisak isak di sana, tubuhnya gemetar keringat besar keluar dari dahinya ia mengingat waktu kejadian Aisyah di kurung di gudang oleh pamannya.


_Flasback Off_

__ADS_1


Di saat Aisyah di tuduh sebagai pembunuh neneknya Aisyah di bawa pamannya ke gudang di sana Aisyah di kurung oleh pamannya.


"Ini hukuman dari paman karena kamu telah membunuh nenek, kamu esok paman akan bawa kamu ke penjara" kata paman Aisyah kejam.


"Paman Aisyah gak bunuh nenek, paman percayalah sama Aisyah...Aisyah gak mungkin bunuh nenek, Aisyah sangat sayang sama nenek gak mungkin Aisyah bunuh nenek...pamannn" Aisyah berlutut di kaki Manshur namun ia seret Aisyah sampai jatuh ke belakang.


Aisyah tak memikirkan rasa sakitnya ia langsung bangkit dari jatuhnya namun pintu itu segera Manshur tutup


Bluggg....!!


"Pamannnn...paman..buka pamannnn Aisyah takut pamannn" pekik Aisyah menggedor gedor pintu


Setelah lelah mengedor pintu Aisyah bersandar di tembok menekukkan kakinya. Ia melirik ke sekeliling sangat gelap minim cahaya, di langit langit terlihat sarang laba laba juga tikus yang berkeliaran di sana membuat Aisyah semakin panik dan ketakutan.


_Flasback on_


"Kenapa sih mereka tega kurung Aisyah, ya Allah tolongin Aisyah hikss...Aisyah takut...hiks...tolongin Aisyah..." Aisyah menutup telinganya sambil terisak isak, matanya melirik ke sekeliling ruangan itu.


Aisyah bingung kenapa mereka bisa setega itu, apa tujuannya? apa mereka akan jadi mafia setelah ini? atau jadi pisikopat?


Kenapa A'a biarin Aisyah di kurung bunda...ayah...ummi...sama abi...? kenapa apa salah Aisyah, mereka gak igat kalau Aisyah lagi hamil? apa mereka sengaja mau bunuh bayiku? pikir Aisyah yang mulai memenuhi pikirannya.


"Bi gimana berhasil?" tanya Rahmat tersenyum sinis


"Iya nyah non Aisyah udah terkurung di sana, tapi bibi kasian nyah tuan, tadi juga non Aisyah teriak histeris" kata bi Siti merasa bersalah


"Bagus, bibi gaak usah khawatir"


"Sudahlah nyah tuan...jangan jadi monster, kasian non Aisyah diakan lagi..."


"Diammm" pekik Rahmat membuat bi Siti berkeringat dingin lalu menunduk


"Iya benar juga yah jangan terlalu berlebihan Aisyah pasti nangis di sana"


"Ahmad mau susul Aisyah, Ahmad takut Aisyah ke napa napa" kata Ahmad berlalu menuju kamar bi Siti.


"Iya aku juga" kata Nurul berlalu di ikuti ustadz Usman


"Iya takut Aisyah kenapa napa kasian dia lagi hamil lagi, awas yaa Yah kalau sampai terjadi apa apa sama Aisyah" kata Hasanah marah lalu pergi

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2