Takdir Cinta Gadis Bercadar

Takdir Cinta Gadis Bercadar
sn 3 : Sabar Ahmad, sabarr


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Hari yang di tunggu tunggu telah tiba, di mana hari ini adalah hari kepulangan Aisyah dari rumah sakit setelah di nyatakan sembuh, bukan berarti sembuh total!! Aisyah harus menjalani masa pemulihan di rumahnya.


Kini mereka telah sampai di rumah bahkan mereka sedang berbincang di ruang keluarga


"TEH AISYAH...Assalamualaikum..." pekik gadis berjilbab syar'i yang baru sampai dan langsung memeluk tubuh sang kakak ipar.


Masih ingatkah Nabila? itu lho adik kecil Ahmad, iya benar itu dia, sekarang Nabila sudah remaja bahkan nie Nabila sudah mau masuk SMA. Sejak Aisyah di rawat di rumah sakit Nabila tidak bisa menjenguknya karena ia harus mengikuti ujian kelulusan, Nabila mondok sambil sekolah di Jakarta jadi baru sekarang ia bisa pulang.


"Waalaikumussalam..."


"Ikhh kamu berisik, teh Aisyah mau istirahat sana pergi" usir Ahmad datar


"Ihh teh Aisyah lagi ngobrol di bilang mau istirahat" ketus


Ahmad tak mau kalah ia pun meraih kepala sang istri lalu merebahkan di bahunya seraya di elus elus "Liat ini mau istirahat"


"A'a ihh paan sih gak papa, Nabila kan ingin ngobrol sama aku...(Nabila menjulurkan lidahnya bertanda kakaknyalah yang kalah, sementara Ahmad mendengus kesal dan itu sukses membuat suasana menjadi ramai).... Emm gimana ujiannya? katanya kamu ujian yaa!! teteh gak sabar pengen ikut wisuda hhi..." tanya Aisyah dalam gelak tawa


"Alhamdulillah lancar, nanti aku ajak deh teteh ke Jakarta hhi..."


"Emang kapan wisudanya?" bukan Aisyah yaa kali ini yang bertanya Ahmad


"Katanya 3 minggu lagi soalnya kan masih banyak yang harus di persiapkan apalagi kan belum..emm belum apa yaa lupa namanya pokonya yang di semprot semprot warna gitu hhi..." celoteh Nabila terkekeh.


"Emm teh kita ke pantai yuu" bisik Nabila di telingan Aisyah


"Waktu itu teteh mau ke pantai cuman sayang tetehnya malah ke rumah sakit hha..."


"Nanti teteh bujuk A'a yaa"


"Oke" Aisyah dan Nabila menyatukan kedua tangannya (tos) membuat semua orang semakin bingung dibuatnya.


"Kalian gombrolin apa?"


"Rahasia hha..." jawab keduanya kompak

__ADS_1


Tak terasa malampun tiba, di sebuah ruangan yang cukup luas dengan peralatan ruang tidur. Terlihat Aisyah sedang membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan kepala di rebahkan di paha sang suami sementara Ahmad sendiri tengah merebahkan kepalanya di kepala ranjang dengan tangan terus mengelus kepala sang istri.


"A'" panggil Aisyah memulai pembicaraan


"Apa sayang?"


"Emm dari awal kita nikah sampai saat ini belum pernah yang namanya bulan madu, Aisyah pengen..." rengek Aisyah meremas remas bajunya, kaya anak kecil yang di tegur saja kau ini.


Permintaannya itu sangat menusuk hati, ia teringat kembali dengan ucapan sang dokter. Ia takut kebablasan dan pada akhirnya Aisyah hamil!! kalau sudah hamil gimana nanti dengan nasibnya?


"A'a ihh jangan bengong, mau yaa please...katanya pas kemarin mau tapi malah gak jadi, mau yaa..." rengek Aisyah membujuk agar suaminya mau


"Pengennya kemana?"


"Emm ke pantai sekalian ajak Nabila katanya dia juga pengen ikut"


'Sama Nabila?, emm ada dindin bagus deh kalau gitu hha...' batin Ahmad tersenyum jail


"Ya udah ayok, maunya kapan?"


"Yee, makasih A'a, emm dua hari lagi yaa..." Aisyah mengecup pipi Ahmad dan malah pipinya yang merah merona hha...kau ini...


...***...


...___________...


Dua hari kemudian, mereka berangkat bertiga saja karena yang lain harus mengurus pesantren yang hampir kewalahan menerima santri/wati baru. Awalnya Ahmad tak ingin merepotkan mereka tapi mereka membiarkan Ahmad, Aisyah dan Nabila liburan dan itu kapan lagi coba.


Banyak sekali santri/wati dari mana mana untuk mondok di sana, yaa siapa sih yang gak mau...pemimpinnya aja ganteng, pinter, ramah. Bahkan nie banyak ibu ibu rempong yang ingin menjadikan Ahmad sebagai menantunya, tetap pada pendiriannya.


Ahmad setia kepada sang istri walaupun ia tak bisa memberikannya keturunan begitu juga Nurul dan ustadz Usman yang memang sangat menanti seorang cucuk tapi karena mereka terlalu sayang pada Aisyah jadi mereka tetep pada pendiriannya.


Mereka sih nanti berencana untuk mengadopsi anak, tapi entahlah kedepannya akan seperti apa? kita tunggu aja hhi..


"Udah selesai semuanya?"


"Udah, kami berangkat dulu yaa...Assalamualaikum.." ucap Ahmad sembari mengecup punggung tangan keempat orang tuanya begitu juga dengan Aisyah dan Nabila

__ADS_1


"Awas kebablasan bro" bisik Farish terkekeh


"Tenang aja" jawab Ahmad so kuat, padahal sebenarnya ia sangat menantikan. Apa lagi ia tak pernah dapat jatah lagi setelah Aisyah kerumah sakit, uhh kasian


"Nabila kamu harus jadi pembatas yaa" titah Nurul, Hasanah dan yang lainnya


Nabila hanya mengangguk walaupun ia tak mengerti apa yang di omongkan mereka, sekarang pikirannya itu sedang traveling mengelilingi pantai, bermain pasir, juga yang lainnya.


Setelah berpamitan merekapun berangkat ketujuan, terlihat mimik wajah Nabila dan Aisyah sangat senang beda dengan Ahmad yang selalu was was, ia takut nanti sang istri minta ataupun dirinya yang kebablasan. Sunguh merepotkan


Kita liat aja nanti, apakah seorang Ahmad bisa menahan hawa nafsunya ataukah Aisyah sendiri yang merengek?


Puluhan menit telah berlalu akhirnya mereka sampai di pantai yang tak terlalu ramai, itu permintaan dari Aisyah karena ia tak suka akan keramaian.


Terlihat Nabila dan Aisyah berlari ke arah pantai meninggalkan Ahmad yang kerepotan membawa koper mereka.


"Sabar Ahmad, sabar" gumam Ahmad menghela nafas kasar seraya melanjutkan perjalanannya menuju villa.


"MAINNYA JANGAN JAUH JAUH" pekik Ahmad namun mereka malah mengabaikan pekikannya, terlalu senang jadi lupa sama suami sendiri hha...


Lagi lagi Ahmad menghela nafas berat dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang setelah sampai di villanya.


Di pinggir pantai, Aisyah dan Nabila tengah membuat istana pasir. Ini pertama kalinya Aisyah ke pantai jadi agak nora dikit gitu gak papa yaa yang penting bahagia.


"Di sini teh benderanya" titah Nabila kepada Aisyah yang ingin menancapkan bendera kecil. Entah dari mana peralatannya, ah mungkin itu mainan anak kecil yang ada di sebelah Aisyah


Di sela sela tawa mereka terlihat Renata yang berjalan mengendap ngendap dari belakang sehingga Aisyah tak mengetahui keberadaannya.


Dorr...


Renata mengagetkan Aisyah sampai ia terjatuh dan menimpa istana pasirnya, rasa marahpun keluar. Aisyah mengomel gomel entah apa itu sampai ia melirik ke arah belakang dan ternyata itu sahabatnya.


"RENATAAA..." pekik Aisyah seraya memeluk sahabatnya itu


"Ya tuhan gua kangen sama loe, loe udah sembuh? benarkan ini loe Aisyah? gua khawatir tahu...gua hubungin loe beberapa kali tapi gak di angkat, hati gua rasanya gimana gitu...gua udah resah...OMG HALLO gua kaget ternyata loe masuk rumah sakit, yaa gua langsung tancap gas ke Bandung bahkan gua gak mandi lho ihh kan jorok hha.." celoteh Renata dalam dekapan


"Wah? ternyata sahabatku ini khawatir yaa, kirain gak hha" ledek Aisyah membuat Renata mengerucutkan bibirnya tapi setelah itu ia tersenyum lalu memeluk kembali tubuh Aisyah yang tadi sempat terlepas.

__ADS_1


Pengunjung yang ada di sana terharu melihat kedua wanita yang berbeda agamanya yang saling menyayangi serta menerima kekurangan dan kelebihan masing masing. Sungguh mengharukan.


__ADS_2