
Kita beralih ke Sukabumi...
Hari telah berlalu, diruang makan terlihat keluarga kecil tengah makan malam. Makanan berbagai macam tersususun rapi di meja makan itu, seperti ada ayam bakar, sate maranggi, ikan gereng dan lain sebagainya, membuat mulut terus membendung air seolah olah air itu ingin keluar. Saking menggugah seleranya.
Beberapa hari ini Aisyah tak ingin makan bersama mereka ia memutuskan untuk makan sendiri di kamarnya dengan berbagai alasan mulai nanti aja, masih kenyang dan lain sebagainya. Mungkin moodnya lagi buruk.
Malam ini Hasanah memasak masakan kesukaannya jadi ia ukut makan bersama yaa walaupun dari tadi terus menunduk, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini...! bukan hanya soal makan soal bicarapun akhir akhir ini dia jarang bicara, biasanya dia yang paling cerewet dan usil di saat makan.
"Di makan dong sayang jangan di aduk aduk mulu" seru Rahmat yang dari tadi memper hatikana putrinya yang tengah mencampur campurkan antar nasi dan lauknya tangannya pun di tekuk di dagu dengan tatapan kosong.
"Heyy sayang kenapa?" tanya Hasanah lembut. Aisyah terbangun dari lamunannya karena Hasanah menepuk bahunya pelan.
"Gak Bun, Aisyah lagi gak selera makan. Aisyah mau belajar, bentar lagi ujian dah Bun Yah" ucap Aisyah lemas tanpa menyapa kakak angkatnya.
"Kenapa dia Bun, Ayah gak paham. Biasanya juga ceria terus tadi kenapa gak pamitan sama Farish?" tanya Ayah, memasukan sesendok nasi yang di taburi lauk kemulutnya kemudian.
Disana Ada Farish juga yang sendari tadi memperhatikan Aisyah 'Aisyah kayanya marah madaku' batin Farish.
"Ris kamu tahu Aisyah kenapa?" tanya Bunda Farispun menggeleng pelan
"Gak tahu Bun, akhir akhir ini juga Aisyah cuek sama Farish entah kenapa Farish juga bingung" Tutur Farish, menuangkan air mineral kedalam gelas lalu meneguknya sampai setengahnya.
"Kalau ke temen temen nya gimana yaa!, Emm apa Bunda tanyain Nissa aja yaa" gumam Bunda, meraih ponselnya lalu menghubungi Nissa.
Tring...tring...tring...
"Assalamualaikum....ada apa bun?" seru di sebrang sana
" waalaikumussalam, Niss bunda mau tanya. Apa akhir akhir ini Aisyah selalu murung?" tanya Bunda dengan nada cemas.
__ADS_1
"Emm iya Bun, akhir akhir ini Aisyah keliatan cuek terus murung juga" jelas Nissa di sebrang sana.
"Emm gitu yaa, kamu tahu Aisyah kenapa?" tanya Hasanah
"Gak Bun"
"Ya udah terima kasih yaa" Hasanah memutuskan saluran telponnya dengan senyum kecut yang tersunging di bibirnya.
"Bunda ke kamar Aisyah dulu yaa" Rahmat pun mengangguk pelan.
Di sisi lain Aisyah tengah menangis terisak isak 'truk truk truk' suara sandal yang menyentuh lantai kramik, membuat Aisyah terkesiap lalu menghentikan isaknya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aisyah udah tidur" tanya Hasanah menghampiri Aisyah yang tengah tertidur di atas ranjangnya.
'Apa sebaiknya aku cerita ke Bunda?' batin Aisyah, sedikit terisak.
"Aisyah udah tidur yaa, katanya mau belajar" tutur Hasanah lembut. Tangannya mengelus ngelus kepala yang terhalang jilbab.
"Kenapa sayang?" tanya Bunda membalas pelukannya dengan erat
"Bun..apa salah kalau Aisyah menyukai seseorang?" tanya Aisyah meneteskan air matanya dan jatuh ke baju sang bunda.
"Boleh kamu menyukai seseorang asalkan kamu jangan pacaran" jawab Hasanah tenang.
"Tapi kenapa rasa sakit itu muncul?" ucap Aisyah ter isak isak
"Coba kamu jelasin sedetail mungkin" titah Hasanah melepaskan pelukannya dan menyungingkan senyumannya.
"Bunn aku mengagumi seorang laki- laki mungkin udah sekitar 2 bulan terakhir aku menyembunyikan rasa kagumku kepadanya. Pas kemarin Aisyah denger kalau temen Aisyah menyukai dia juga dan ternyata coba apa Bun?" Bunda menggelengkan kepalanya pelan sembari tangannya menyentuh pipi mulus milik Aisyah "lelaki yang selama ini Aisyah kagumi, ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama kepada teman Aisyah jadi mereka saling suka mungkin sekarang mereka pacaran. Jahat banget kan Bun? hiks...hiks... sakit Bun..." sambung Aisyah ia kembali memeluk sang Bunda, menangis terisak isak.
__ADS_1
Hasanah hanya tersenyum lebar mendengar rengekan sang putri "Kamu harusnya ber syukur" tutur Hasanah lembut membuat Aisyah melepaskan pelukannya.
"Kenapa harus bersyukur, Aisyah lagi sedih lho Bun!"
"Dengerin baik baik yaa 'ketika kamu berharap kepada manusia, maka Allah timpakan kepadamu pedihnya suatu pengharapan, supaya kamu tahu bahwa Allah mencemburui hati yang berharap selain kepadanya _Imam Syafi'i_ intinya Allah itu cemburu kepadamu sayang"
"Jadi Bun Allah itu cemburu yaa? maafkan Aisyah ya Allah" Tanya Aisyah dan penuh penyesalan telah melupakan Allah SWt.
"Iya jadi kamu jangan terlalu berharap selain kepada-Nya, yang berlebihan itu gak baik sayang. La tahzan innallaha ma'ana: jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita. Smail dong jangan gitu, biarin jodoh itu udah ada yang ngatur. Sekarang kamu harus belajar dengan giat karena sebentar lagi ujian kenaikan kelas, kamu harus jadi juaranya oke" tutur Bunda menyemangati Aisyah
"Emm ya Bun, Aisyah gak boleh sedih lagi cuman gara gara cinta, Aisyah lupain itu kamu harus terus memperbaiki diri untuk Allah. Aisyah jangan berharap lebih... kuat Aisyah kuat" seru Aisyah membuat Hasanah terkekeh.
"Ya dong, kamu harus terus memperbaiki diri dan memperbaiki diri, jodoh itu gak akan ketuker iget itu. Ayah sama bunda aja gak pacaran"
"Wah gimana ceritanya Bun?"
"Emmm"
"ceritain dong bu please" mohonnya
"Yaa jadi waktu itu kami di jodohkan oleh almarhum kakek kamu karena Ayah kamu yang meminta kepada kakek, awalnya Bunda menolak dan benci banget kepada Ayahmu tapi sekarang malah Bunda yang gak mau kehilangan Ayahmu saat ini" cerita Bunda membuat Aisyah tertarik akan cerita masa lalunya.
"Dari nol dong Bun"
"Panjang sayang itu yang ringkasnya, kalau Bunda ceritain dari awal sampai sekarang pasti kalau di tulis bisa sampai satu buku nduk hha..." seru Hasanah tertawa jail.
"Ahh Bun ceritain yaa, setiap Aisyah mau bobo ceritanya yaa" rengek Aisyah mengedap kedipkan matanya.
"Iya In Syaa Allah" merekapun saling berpelukan.
__ADS_1
Hasanah merasa lega kalau putrinya sekarang ceria ke.bali dan mau di ajak makan bersama, belajar dan di ajak bicara.
Bersambung....