
Itulah sebab Aisyah pindah sekolah dan tinggal bersama kedua orang tuanya.
"Kami bener bener minta maaf, Aisyah...paman minta maaf sudah menampar Aisyah sekaligus paman sudah mengurungmu semalaman di gudang maafkan paman yaa" tutur Manshur menghampiri Aisyah seraya memeluknya erat. Air mata penyesalanpun ikut keluar dari netranya.
Aisyahpun membalas pelukan pamannya seraya tersenyum bertanda ia telah memaafkan Manshur "Aisyah sudah memaafkan paman sebelum paman meminta maaf" tutur Aisyah lembut.
"Bibi juga minta maaf udah bentak kamu waktu itu" seru Maryam memeluk Aisyah.
"Kami senang akhirnya bangkai yang selama ini terkubur akhirnya tercium juga baunya" tutur Rahmat mengucap syukur banyak banyak.
Rahmat sangat bersyukur karena kebenaran telah menang begitu juga Hasanah yang terus mengucap syukur karena memang bukan putrinya yang membunuh mertuanya.
"Kami juga minta maaf kepadamu dan istrimu"ucap Manshur melepaskan pelukannya. Di angguki Rahmat dan Hasanah.
"Udah kalian jangan nangis mulu, kalian minum dulu terus rehat di kamar, kalian pasti cape habis perjalanan jauh?" titah Rahmat di angguki keduanya "Ternyata seorang yang tegar bisa cengeng juga yaa hha..." ejek Rahmat pasalnya Rahmat tak pernah melihat Manshur menangis ketika ada hal yang membuatnya menangis ia selalu menahanya, bersikap tegar.
Padahal Manshur juga suka menangis ketika mengingat dosa betul tidak?
"Ngeledek, A'a juga manusia kali yang bukan...." elak Manshur dihentikan oleh Rahmat karena beliau akhirnya bakalan ceramah.
"Sudah sudah Rahmat cuman bercanda tapi emang pakta kan hhe.."
"Bilang aja kamu gak mau di ceramahin" seru Manshur terkekeh
Suasana semakin membaik tak ada lagi perasaan benci di hati mereka masing masing.
"Ayah...Aisyah harus berangkat sekarang" ucap Aisyah dalam pembicaraan mereka. Aisyah tersadar kalau ia harus pergi ke Jakarta sekarang juga karena waktu terus berjalan tanpa jeda.
"Mau kemana sayang?" tanya Maryam mengerutkan keningnya begitu juga dengan Manshur
"Gini.... jadi Aisyah tuh dapat beas siswa di Jakarta nah besok mulai masuk"
"Ouh, Jadi sekarang harus ke sana?" tanya Manshur mendahului pembicaraan Rahmat "Alhamdulillah...yang rajin yaa jangan sia siain kesempatan emas ini, jangan kaya A' Farhan (Putra ke 1) yang gak beres kuliahnya jadi sekarang hanya mengandalkan hasil dari ngajar sama dagang untuk membiayai anak sama istrinya. Padahal paman udah biayain kuliah ehh malah jadi gini. Kamu jangan niru A' Farhan yaa" sambung beliau menyayangkan kesempatan putranya itu.
__ADS_1
"Iya in syaa Allah paman"
"Assalamualikum" salam Farish dan Mila kompak seraya menghampiri mereka yang tengah asyik ngombrol.
"Waalaikumussalam"
'Hah pake dateng segala bisa bahaya nie' batin Aisyah memutarkan bola matanya.
"Masya Allah Kiai, gimana kabar Kiai?" seru Farish mengecup tangan Manshur
"Alhamdulillah baik..ahh ini siapa?" tanya Manshur melirik ke arah Mila seraya tersenyum lebar.
"Istri" jawabnya singkat
"Emm udah punya istri aja, Aisyah kapan nie hhe..." ledek Manshur
'tuh kan' batin Aisyah
"Iya ini kapan yaa" seru Maryam menfelus elus bahu Aisyah " Ahh jangan dulu yaa, pokus dulu sekolahnya sampai berhasil oke" sambung Maryam
"Ayah, Aisyah di anterinnya sama Aris aja, kan di sini ada paman sama bibi gak enak kalau di tinggalin" ujar Aisyah menghentikan tawaan mereka
"Gak papa kamu anter aja Aisyah" seru Manshur
"Ahhh jangan paman Jakarta itu cukup jauh , sebaiknya Ayah sama Bunda di sini. Biar Arish yang antar Aisyah" elak Farish menyungingkan senyumnya.
Karena mereka tak ingin berdebat akhirnya yang mengantar Aisyah adalah Farish dan istrinya Mila.
Singkat cerita mereka telah pamitan secara bergantian. Karena Aisyah jomblo jadi ia duduk di belakang sendirian "ternyata bengini yaa nasib jomblo, kemana mana minta tolong sama orang, ngajak ke siapa saja yang ia kenal aduh aduh..." ledek Farish sembari menyetir mobil milik Rahmat yang akan ia keluarkan dari halaman rumah Hidayatullah.
"Jomblo itu enak, bebas sama siapa aja gak ada yang ngelarang" elak Aisyah, memainkan handponya
"Ihh justru kalau udah nikah enak, iya gak sayang" elak Farish mengelus elus kepala Mila membuat Aisyah semakin mual, jiji liatnya sementara Mila hanya tersenyum.
__ADS_1
"Diem akh, Aisyah mau tidur. Jiji liatnya sama yang uwu uwuan" ucap Aisyah datar seraya merebahkan tubuhnya di kursi mobil.
"Kamu ngantuk gak?" tanya Farihs mengelus elus pipi Mila membuatnya terkekeh.
"Gakkk" jawabnya simpel
"Kalau mau tidur tidur aja yaa, kaya si jomblo tuh. Kerjaannya tidur mulu" seru Farish membuat gadis itu semakin emosi
"Udah ihh jangan mancing manjing emosi dia, kasian liat tuh kayanya cape banget" ujar Mila menepuk tangan Farish pelan
"Bener tuh, marahin aja. Puas liatnya juga" seru Aisyah yang dari tadi mendengar percakapan mereka.
"Ehhh nguping lagi, udah sana tidur"
"nye nye nye" ledek Aisyah
Memang yaa mereka ini gak bakalan akur sampai kapanpun, jikalau mereka menikah pasti rumahnya bakalan ramai malahan lebih ramai dari pasar. Beda dengan Mila, orangnya kalem, sabar, juga penurut. Terus gimana yaa kalau sama si Ahmad, apa bakalan berantem terus, apa bakalan saling diam diaman...?
Beberapa jam kemudian mobil itu tinggal ia belokkan ke halaman rumah Aisyah. Farish meng aba aba kepada Mila agar menahan tubuhnya supaya tidak kejedot. Jadi Farish akan membangunkan Aisyah secara sadis yaitu dengan memberhentikan mobilnya secara dadakan sehingga Aisyah yang tengah tidur itu akan jatuh ke bawa kursi karena Aisyah tak memakai seat belt.
Bruggg...!! Farishpun terkekeh sedangkan Mila hanya geleng geleng kepala dengan tingkah laku suaminya yang super jail itu.
"Astagfirullah, awww punggungku sakit.." ucap Aisyah mengaduh, iapun bangun dan duduk ke atas kursi, Aisyah memukul bahu Farish seraya merengek "kalau berhenti itu pelan pelan, jangan asal rem. Aisyah jadi jatuhkan sakit tahu badan Aisyah, tega banget 'plakkk'" Aisyah memukul bahu Farish kencang dengan ekspresi datar.
"Aww sakit "
"Sakit? uhhh kasian, udah akh byy" Aisyah bembuka pintu mobil seraya masuk ke dalam rumahnya di sana Aisyah di sambut oleh pembantu dan satpamnya. Yaa jadi itu rumah milik orang tuanya dulu, mungkin sekitar 16 tahun yang lalu.
Rumah itu tak begitu luas seperti rumah yang sekarang, tapi itu rumah menurut Aisyah sangat berharga karena di sinilah Aisyah di lahirkan dan di rawat.
Rahmat tak menjualnya kepada siapapun, ia yakin rumah ini suatu saat akan terpakai ehh iya ternyata sekarang Aisyah yang menempati rumah itu.
Rahmat mencari pebantu dan satpam untuk menjaga rumah itu, ia membolehkan putra putrinya untung tinggal di sana. Kebetulan mereka adalah suami istri jadi hanya satu keluarga yang menempati rumah itu.
__ADS_1
Bersambung.....