
Adam melempar berkas laporan penjualan pada pimpinan divisi pemasaran. Adam juga memaki dengan wajah yang terlihat sangat marah. Orang yang sedang dimarahi kemudian keluar dari ruangan Adam dengan raut wajah yang ketakutan.
Penjualan perusahaan dalam bulan ini tidak mencapai target yang diinginkan. Tapi sepertinya bukan itu alasan satu-satunya yang membuat Adam sangat emosi. Nampaknya Adam membawa masalah dalam rumah tangganya ke perusahaan. Adam menjatuhkan tubuhnya ke kursi sambil mengatur nafas.
Sekretaris Bian yang sedari tadi mematung,melihat tingkah Adam dengan heran. Selama ini yang mampu membuat pikiran Adam sangat kacau itu hanya ada satu nama yaitu Nesa,yang saat ini sudah menjadi istrinya. Dan pada akhirnya,Sekretaris Bian pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa anda sedang ada masalah Tuan?"
Adam tidak menjawab. Adam menyandarkan kepalanya di kursi dengan mata yang terpejam. Entah apa yang sedang dipikirkannya,Sekretaris Bian tidak tahu. Masalah yang baru-baru ini menimpanya adalah kehilangan calon buah hatinya. Ya mungkin saja Tuan Adam masih memikirkan hal itu. Sekretaris Bian menduganya sendiri akhirnya.
"Kamu boleh keluar. Dan selesaikan pekerjaanmu" Perintah Adam kemudian
"Baik Tuan" Dengan langkah cepat Sekretaris Bian keluar dari ruangan Adam
Hari ini rasanya Adam sangat tidak bersemangat untuk bekerja. Persoalan dalam rumah tangganya dan masalah di perusahaan yang tengah dia hadapi,membuatnya sangat emosional.
Adam memutuskan untuk pulang dan menyerahkan segala urusan pekerjaannya pada Sekretaris Bian. Alih-alih pulang ke rumah dan ingin segera bertemu istrinya,Adam justru pulang ke apartemennya. Setelah hari sudah gelap dan lewat dari jam makan malam,barulah Adam kembali ke rumah.
Adam membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci. Adam menyalakan lampu kamar dan melihat Nesa tertidur di sofa. Nesa yang mungkin saja belum benar-benar terlelap akhirnya bangun saat cahaya lampu menerangi seluruh ruangan dan memberikan efek silau di kelopak matanya.
Nesa mengusap matanya pelan.
"Kenapa tidur disini?" Tanya Adam yang sudah berjongkok di depan Nesa
"Aku menunggumu. Kamu baru pulang?" Jawab Nesa sambil bertanya juga
"Iya" Adam bangkit dan membuka pakaian yang dikenakannya
"Pindah ke kasur dan cepatlah tidur" Pinta Adam sambil mengambil piyamanya di lemari
Dengan wajah yang cemberut,Nesa pindah ke atas tempat tidurnya.
"Kamu tidak mandi dulu?" Tanya Nesa heran. Karena biasanya setelah dari kantor,Adam selalu mandi.
"Aku sudah mandi di apartemen tadi" Jawab Adam
"Apa? Sebelum pulang ke rumah,kamu ke apartemen dulu?" Tanya Nesa lagi dengan penasaran
"Iya. Karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan di apartemen" Jawab Adam lagi menjelaskan dengan tujuan agar Nesa tidak bertanya lebih lanjut
Jawaban Adam agak tidak bisa Nesa terima. Pekerjaan apa yang membuat Adam sampai harus mengerjakannya di apartemen. Nesa masih ingin bertanya tapi tidak berani. Akhirnya Nesa berusaha untuk percaya dan menepis semua pikiran buruknya.
Adam kemudian duduk bersandar di samping Nesa. Tangan Nesa terulur dan melingkar di pinggang Adam. Tanpa berpikir akan seperti apa reaksi Adam,Nesa mencium bibir suaminya itu dengan lembut. Tapi bibir Adam seolah kaku tidak membalas ciuman Nesa.
"Apa kamu tidak merindukanmu?" Tanya Nesa akhirnya dengan agak sebal
__ADS_1
Melihat Nesa yang tampak bersedih,Adam mengangkat wajah Nesa yang tertunduk,lalu memagut bibirnya dengan pelan. Pagutan bibir mereka tidak bisa lepas karena mereka saling membalas ciumannya. Setelah Adam merasa ada yang sedang bangkit dari sana dan meminta permainan yang lebih,Adam melepaskan ciumannya.
"Sudah puas kan? Sekarang tidurlah" Pinta Adam dengan nada yang dibuat selembut mungkin
"Tapi....?" Nesa menggantungkan kalimatnya
"Memangnya sudah boleh melakukannya sekarang?" Tanya Adam yang seolah mengerti dengan kemauan Nesa
"Memang belum boleh. Karena perempuan yang habis keguguran itu butuh waktu minimal 2 minggu untuk bisa kembali melakukan hubungan suami istri" Jawab Nesa menjelaskan
"Lantas,apa yang kamu mau?" Tanya Adam heran
"Aku sangat merindukanmu" Ucap Nesa sambil menatap Adam dengan wajah yang memelas
Adam jadi tidak tega jika harus bersikap acuh pada Nesa. Adam pun kembali mencium bibir Nesa. Ciuman Adam bukan hanya di bibir tapi di seluruh bagian sensitif Nesa. Nesa juga memuaskan hasrat Adam dengan cara lain. Tubuh mereka yang sama-sama polos akhirnya terkulai lemas dengan posisi saling berpelukan.
Adam menarik selimut dan menutupi tubuh mereka.
"Sayang..."
"Hm..."
"Tadi Dea kesini" Ucap Nesa memberitahu
"Oh ya?"
"Apa saja yang kalian bicarakan?" Tanya Adam
"Tidak ada. Hanya mengobrol santai saja" Jawab Nesa
"Kamu senang dia datang?" Tanyanya lagi
"Tentu saja. Aku jadi tidak merasa kesepian tadi" Jawab Nesa cepat
"Kamu menanyakan teman laki-laki mu itu juga kan?" Tanya Adam penasaran
"Iya. Apa tidak boleh jika hanya sekedar bertanya kabar?" Jawab Nesa jujur seolah sudah tahu siapa yang Adam maksud
"Boleh. Yang tidak boleh itu jika bertanya tapi memakai perasaan" Jawab Adam seolah menyindir
Nesa terdiam sesaat. Apa dia sudah salah bicara lagi ya? Apa mungkin Adam masih cemburu? Entahlah hanya Adam yang tahu,kalimat itu dilontarkannya dengan serius atau hanya sekedar candaan saja.
"Tidak. Aku hanya mencintai suamiku" Balas Nesa sambil memeluk tubuh Adam dengan manjanya
"Kalau begitu tidurlah. Aku sudah mengantuk" Pinta Adam kemudian
__ADS_1
"Iya" Saat Nesa ingin memejamkan matanya,Nesa baru teringat dengan saran Dea tadi yang menyuruhnya untuk pergi berlibur
"Sayang. Apa kamu sudah tidur?" Tanya Nesa sambil menusuk-nusuk pipi Adam dengan jarinya
"Hm...Apa lagi?" Adam merespon tanpa membuka matanya
"Aku minta sesuatu,boleh?"
"Katakan" Pinta Adam
"Aku..." Ragu-ragu Nesa untuk mengatakannya
"Cepatlah. Aku sudah sangat mengantuk" Pinta Adam lagi dengan sedikit memaksa
"Aku ingin pergi berlibur" Ucap Nesa akhirnya
"Kemana?"
"Ke Bali. Sepertinya seru jika kita bernostalgia di tempat kita pertama bertemu" Jawab Nesa dengan sangat antusias
"Tidak" Tolak Adam tegas
"Kenapa?" Tanya Nesa dengan agak terkejut
"Kamu belum pulih. Kamu harus banyak-banyak istirahat bukan jalan-jalan" Jawab Adam dengan alasan yang masuk akal
"Tapi kenapa tadi kamu bertanya aku ingin pergi berlibur kemana? itu sama saja kamu memberiku harapan palsu" Protes Nesa
"Karena aku pikir kamu hanya ingin pergi berlibur ke taman kota saja" Jawab Adam asal
"Mana ada berlibur hanya ke taman kota" Protesnya lagi
"Kenapa tiba-tiba saja kamu ingin berlibur? dulu saja kamu menolak ajakan bulan maduku" Sanggah Adam
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin saja" Nesa yang sudah kesal menjawabnya dengan acuh
"Tetap tidak boleh" Adam berkeras hati
"Tapi sayang..." Nesa memohon akhirnya
"Jika aku bilang tidak,itu artinya tidak. Apa kamu mengerti?" Kali ini Adam menolak dengan menekankan suaranya
Nesa tidak menjawab. Dengan perlahan Nesa melepas pelukannya dan berbalik badan membelakangi Adam. Walaupun matanya terpejam tapi Adam bisa merasakan jika Nesa sedang sedih dengan tolakannya untuk berlibur.
"Aku janji setelah semuanya baik-baik saja,kita akan pergi berlibur ke Bali" Ucap Adam akhirnya dengan lembut
__ADS_1
Nesa bingung. Apa yang dimaksud 'jika semuanya sudah baik-baik saja'. Apa itu berarti jika dia sudah bisa melupakan kesedihannya. Begitukah maksudnya? Ah entahlah,Nesa malas untuk bertanya lagi karena dirinya juga sudah mengantuk. Berdebat pun percuma,karena jika Adam sudah mengambil keputusan maka akan sulit untuk merubahnya.
Bersambung....