
"Tidak.." Suara Nesa melemah. Nesa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya
"Kenapa Nesa? Bukankah kita juga hampir melakukannya" Ujar Adam tidak peduli
Kemarahan,kecemburuan dan kerinduannya pada Nesa bercampur menjadi satu. Adam menyingkirkan tangan Nesa dan dengan cepat Adam mencium bibirnya.
"Hump...Hump...." Adam menyesap bibir Nesa berulang kali tanpa ampun
"Hentikan..." Adam terus membungkam mulut Nesa. Adam bahkan tidak memberikan Nesa kesempatan untuk mengatur nafasnya saat Nesa mulai terengah-engah
Setelah itu Nesa tidak ingat betul dengan apa yang terjadi karena dia hanya fokus memberontak.
Tiba-tiba saja Nesa terpekik sambil menggigit bibir bawahnya bersamaan dengan keluarnya cairan bening di sudut matanya. Nesa merasakan sakit yang teramat hingga dia merasa tubuhnya seperti terbelah.
Adam berhasil menembus pertahanan Nesa. Kesuciannya sudah terenggut. Adam terus saja memompa tubuh Nesa tanpa rasa bersalah. Airmata Nesa semakin deras membanjiri pipinya tanpa perlawanan lagi karena tubuhnya sudah melemah. ******* demi ******* keluar dari mulut Adam,menikmati setiap gerakan yang dilakukannya. Setelah beberapa saat,Adam mengerang. Ya Adam sudah sampai pada *******. Adam yang lemas menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Adam merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan selama ini.
Kewarasannya terkumpul tatkala melihat bercak darah di sprei.
Adam tergugu. Dia menatap Nesa dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Kemudian Nesa bangun dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Nesa,Kamu berdarah" Ucap Adam panik
"Kamu puas sekarang?" Ujar Nesa dengan suara parau sambil menatap Adam dengan tatapan penuh luka
"Itu artinya,kamu masih..."
"Apa kamu benar-benar menganggapku sebagai perempuan murahan yang dengan gampangnya memberikan kesucianku pada laki-laki?"
"Aku minta maaf" Ucap Adam dengan penuh penyesalan
"Kamu sudah mengambil semuanya dariku. Aku benci sama kamu" Balas Nesa sambil meneteskan airmata
Adam mengusap wajahnya sambil berteriak kesal. Mungkin dia sedang mengutuk kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"Katakan apa salahku? Kenapa kamu menghukumku seperti ini? Aku dekat dengan mas Firman saat hubungan kita sudah berakhir. Dimana letak kesalahan nya. Katakan?" Nesa terisak-isak
"Aku bodoh Nesa. Aku begitu bodoh" Adam memukul kepalanya sendiri dengan frustasi
"Aku akan bertanggung jawab. Kita akan segera menikah" Ujar Adam kemudian
"Tidak akan pernah terjadi pernikahan di antara kita" Balas Nesa tegas
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu menolak menikah denganku? Aku sangat mencintaimu Nesa" Tanya Adam dengan pandangan yang sedikit meredup
"Aku sudah tidak percaya lagi sama kamu" Nesa menjawab dengan raut wajah kecewa
"Sayang,aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf. Aku sangat mencintaimu" Ucap Adam lagi dengan wajah memelas. Tangannya terulur ingin menyentuh tangan Nesa tapi dengan cepat Nesa menepisnya
"Setelah kejadian ini,apa aku masih pantas untuk percaya?" Tanya Nesa dengan wajah sedih
"Tadinya aku ingin mengajakmu kembali. Kemarin aku datang menemui orangtua mu untuk meminta maaf. Mereka mengatakan jika kamu sedang berlibur di puncak. Itu kenapa aku datang untuk menyusul. Tapi aku sangat marah ketika tahu kamu berlibur bersama Firman" Ujar Adam menjelaskan
Nesa diam tak menanggapi. Nesa hanya menangis dan menangis.
Nesa menatap Adam dengan tatapan kosong. Lalu Nesa menurunkan pandangannya dengan wajah sedih.
"Percuma" Lirih Nesa
Tangisnya kembali pecah. Nesa tidak mampu berkata apa-apa lagi. Yang jelas saat ini dia kembali kecewa dengan sikap Adam. Adam mendekat untuk memeluk Nesa tapi Nesa justru membaringkan tubuhnya membelakangi Adam.
"Jangan pernah sentuh aku lagi" Nesa meringkuk di bawah bantal
Adam bergeming. Hatinya sangat sakit menerima penolakan Nesa. Dulu Nesa tidak pernah menolak saat dia menyentuhnya. Bahkan Nesa selalu merindukan sentuhannya. Tapi yang terjadi saat ini tentulah berbeda. Adam marah pada dirinya sendiri.
Adam turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian terdengar suara gaduh dari dalam kamar mandi. Seperti suara kaca yang pecah. Nesa sama sekali tidak memperdulikannya. Nesa terus menangis hingga tanpa sadar dia tertidur karena lelah.
Setelah cukup lama berada di kamar mandi,Adam keluar dengan tangan yang berdarah. Sepertinya tadi Adam melampiaskan segala penyesalannya dengan memukul kaca yang ada di kamar mandi. Adam mendekat lagi ke arah Nesa. Di tatapnya dalam-dalam wajah Nesa yang sedang tertidur.
__ADS_1
"Maafkan Aku" Adam mencium kening Nesa sambil mengusap sisa-sisa cairan di sudut matanya. Tanpa sadar,Adam meneteskan airmata penyesalan. Seumur hidupnya,baru sekarang inilah Adam menangis. Hatinya benar-benar hancur melihat wanita yang paling di cintainya terluka karena perbuatannya.
...----------------...
Dea tiba di vila Nesa dengan menggunakan taksi online. Tadi setelah membaca pesan dari Nesa,ia buru-buru datang ke vila. Karena hari sudah malam,dia tidak berani membawa mobil sendiri dan akhirnya dia memesan taksi online untuk mengantarnya.
Keadaan vila tampak sepi. Tak ada satu orang pun disana. Dea masuk ke dalam dengan langkah hati-hati. Dea panik tatkala mendengar suara rintihan dari salah satu kamar disana. Dengan cepat Dea mencari sumber suara dan Dea masuk ke dalam kamar yang dia yakini suara itu berasal.
"Mas Firman" Dea terkejut melihat Firman duduk bersandar di tempat tidur dengan mata terpejam
Dea mendekat dan mendudukkan tubuhnya di depan Firman.
"Mas Firman" Dea memanggilnya sekali lagi sambil menggerakkan tubuh Firman
Dea kembali terkejut melihat Firman lemah tak berdaya dengan banyak luka memar di wajahnya. Kemudian Firman berusaha membuka matanya melihat ke arah Dea.
"Dea..." Suara Firman terdengar lemah
"Mas Firman tunggu disini. Aku akan ambilkan air hangat untuk mengompres luka mas Firman" Tanpa banyak bertanya dulu,Dea segera pergi ke dapur untuk menyiapkan apa yang dia butuhkan dan mencari obat disana. Karena Nesa sering mengajaknya ke vila tersebut,tentu Dea sudah paham tentang seluk beluk ruangan dan seisinya
Tak berapa lama,Dea datang dengan membawa air hangat dan handuk kecil serta kotak obat. Dengan sangat hati-hati Dea mengompres luka yang ada di wajah Firman.
"Auuww" Firman meringis kesakitan
"Mas Firman tahan dulu. Nanti aku obati lukanya" Ucap Dea perhatian
Setelah mengompres lukanya,Dea mengambil sebuah obat yang dia teteskan di kapas,lalu dia oleskan ke beberapa luka di wajah Firman. Setelah itu,Dea mengambil segelas air minum dan membimbing Firman untuk meminumnya.
"Sudah tidak begitu sakit lagi. Terimakasih" Ucap Firman pelan
Dea menatap wajah Firman dengan prihatin sambil menghela nafasnya sebelum akhirnya dia bertanya.
"Apa yang terjadi? Kenapa mas Firman bisa terluka seperti ini?"
__ADS_1
Firman menatap Dea balik dengan tatapan yang sulit di jelaskan sebelum akhirnya dia menjawab.
Bersambung....