
"Memangnya apa yang sudah kita lakukan? Aku belum menyentuh kesucianmu!" Adam malah bertanya balik seolah tidak terjadi apa-apa
"Kamu memang belum menyentuhnya tapi apa yang kita lakukan itu...." Nesa seolah tak sanggup meneruskan kalimatnya
"Lalu apa masalahnya? Bukankah itu wajar dilakukan sepasang kekasih saat berpacaran? Apalagi kita melakukannya karena kita sama-sama menginginkannya" Adam menanggapi dengan komentar yang monohok
Nesa diam untuk beberapa saat. Nesa tidak bisa membantah ucapan Adam karena yang dia katakan itu memanglah benar tapi entah kenapa ucapan Adam terdengar jahat di telinga Nesa.
"Menurut kamu memang wajar karena mungkin kamu sudah melakukannya dengan banyak wanita tapi aku tidak" Karena emosi Nesa jadi berkata asal
Adam tidak terpengaruh dengan ucapan Nesa karena dia tidak pernah melakukan apa yang Nesa tuduhkan. Satu-satunya perempuan yang dia sentuh hanyalah Nesa.
"Lalu apa maumu? Apa kamu merasa rugi? Jika benar,katakan berapa nominal yang harus aku bayar untuk mengganti semua kerugianmu?" Adam bertanya dengan lantang
Seketika mata Nesa melebar. Nesa menatap Adam dengan tatapan tak percaya. Ucapan Adam membuat emosi Nesa naik ke ubun-ubun. Nesa seperti tidak mengenali Adam lagi. Perasaan menyesal yang tadi dirasakannya,kini berubah menjadi kekecewaan.
Nesa masih bisa menerima apapun yang adam lontarkan tadi tapi ucapan Adam yang terakhir sama sekali tidak bisa Nesa terima.
"Jadi maksudmu,kamu ingin membayar tubuhku dengan sejumlah uang?" Tanya Nesa dengan intonasi tinggi
"Lalu kenapa kamu mempermasalahkannya?" Adam balik bertanya
"Kamu memang benar,kita melakukannya karena kita sama-sama menginginkannya tapi kata-kata itu tidak sepantasnya terucap dari mulut kamu. Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi dan kamu tidak perlu membayarku" Balas Nesa dengan nada menekan
"Kamu perempuan pertama yang membuatku merasakan cinta tapi kamu juga perempuan pertama yang membuat aku terluka" Ujar Adam tiba-tiba
Nesa diam. Lidahnya seolah kaku tak sanggup lagi berdebat dengan Adam. Nesa ingin segera keluar dari apartemen Adam. Dia butuh banyak oksigen untuk dia hirup karena dadanya terasa sesak sedari tadi. Jika terus berlama-lama bersama Adam,mungkin saja tubuhnya akan ambruk saat itu juga.
"Kamu ingin mengakhiri hubungan kita bukan? Baik,aku terima. Aku minta maaf sudah melukai perasaanmu" Ucap Nesa dan berlalu meninggalkan Adam
Tapi sebelum kakinya benar-benar keluar dari kamar tersebut, Adam menghentikan langkah Nesa.
"Tunggu" Panggil Adam dengan suara keras tanpa menoleh pada Nesa
__ADS_1
"Jangan hanya meminta maaf padaku,tapi datanglah ke rumah dan bersujud dikaki papaku. Waktu itu kamu kembali tanpa perasaan bersalah dan belum sempat meminta maaf pada papaku bukan?" Ujar Adam dengan nada kebencian
"Baik,akan segera aku lakukan" Balas Nesa tanpa menyanggah lagi perkataan Adam. Nesa pun berlalu keluar dari apartemen Adam
Airmata Nesa kembali tumpah setelah berada diluar apartemen Adam. Nesa tidak menyangka Adam bisa berkata-kata kasar seperti tadi. Nesa merasa hatinya hancur berkeping-keping.
Nesa melangkahkah kakinya dengan cepat sambil menyeka airmatanya sehingga tanpa sengaja dia menubruk seseorang. Sontak saja orang yang ditubruknya itu menangkap tubuh Nesa. Dengan cepat Nesa mendongakkan wajahnya dan pandangan mereka bertemu.
"Mas Firman...." Nesa terperangah melihat Firman tiba-tiba ada dihadapannya
"Nesa" Firman juga tak kalah terkejutnya bisa bertemu dengan Nesa secara kebetulan,terlebih dia melihat wajah Nesa seperti sedang menangis
Karena refleks Nesa menarik diri dari tubuh Firman sambil mengusap wajahnya yang berantakan.
"Kamu menangis?" Tanya Firman
"Ah ti-dak tidak" Jawab Nesa gugup sambil berusaha tersenyum agar Firman tidak melihat kesedihannya tapi agaknya usaha Nesa sudah terlambat karena Firman sudah mengetahuinya
"Kita mau kemana?" Tanya Nesa
"Kita akan mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara" Jawab Firman
Setelah beberapa saat Firman menghentikan mobilnya disebuah taman kota. Mereka pun duduk dikursi taman yang jauh dari keramaian
"Apa yang terjadi? Bicaralah" Pinta Firman
"Aku tidak tahu harus memulainya darimana" Jawab Nesa
"Kalau begitu,biar aku yang bertanya"
"Kamu menangis karena kamu patah hati?" Tanyanya kemudian
Nesa menatap Firman dan mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ceritakan padaku,apa yang membuatmu patah hati?" Firman bertanya lagi
"Beberapa bulan yang lalu papa menjodohkan aku dengan anak sahabatnya tapi aku menolak dan memilih pergi dari rumah. Ditengah persembunyianku,aku malah bertemu dengan seorang laki-laki dan kami saling jatuh cinta. Setelah itu kami memutuskan untuk berpacaran. Tapi ternyata kekasihku itu adalah laki-laki yang sama dengan laki-laki yang papa jodohkan denganku. Dia marah tidak bisa menerima kenyataan ini karena setelah tahu aku pergi,papanya terkena serangan jantung dan harus menjalani operasi untuk menyelamatkan nyawanya pada waktu itu" Nesa akhirnya bercerita jujur pada Firman
"Lalu dia mengakhiri hubungan kalian tadi?" Tanya Firman
Nesa kembali menjawab dengan anggukan kepala.
"Apa kamu sangat mencintainya?" Tanya Firman kemudian sambil menatap mata Nesa
Nesa kembali menggangguk dengan wajah sendu.
Entah kenapa dada Firman terasa sesak mendengar hal itu. Tak bisa dipungkiri jika sampai detik ini Firman belum bisa melupakan perasannya pada Nesa,dan itu juga yang menjadi alasan Firman untuk pindah ke kota ini.
"Tenanglah,jangan bersedih. Aku akan selalu ada untuk kamu" Ucap Firman sambil menepuk bahu Nesa pelan
"Terimakasih" Balas Nesa
Suasana kembali hening untuk beberapa saat.
"Oh iya aku sampai lupa bertanya,ada urusan apa mas Firman jauh-jauh datang kesini?" Tanya Nesa
"Karena aku sudah pindah kekota ini" Jawab Firman
"Apa! Benarkah?" Nesa kaget tak percaya
"Setelah kamu menelfonku waktu itu,aku terus saja mencemaskan keadaanmu. Aku berpikir kamu sedang dalam masalah saat itu. Aku mencoba menelfonmu balik tapi nomormu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Dan kebetulan beberapa bulan yang lalu ada seorang teman yang menawariku kerja sama untuk membuka cabang cafeku disini dan aku menerima tawaran itu. Kemudian aku memutuskan untuk menjual semua asetku yang ada di surabaya dan memulai semuanya disini" Firman menjawab dengan bercerita panjang lebar
Nesa kembali terperangah dengan pernyataan Firman. Nesa masih tak percaya,Firman menjual aset-asetnya dan pindah kekota ini. Sebuah keputusan yang tidak main-main. Lalu satu pertanyaan muncul dibenak Nesa,apakah Firman masih mencintainya dan apakah Firman melakukan ini semua demi dirinya?
Nesa bingung,jika benar begitu Nesa tidak tahu harus bersikap seperti apa pada Firman. Karena sampai kapanpun Nesa tidak bisa membalas perasaan Firman,apalagi saat ini hatinya sudah terpatri pada Adam seorang walaupun akhirnya hubungannya kandas ditengah jalan tapi akan susah bagi Nesa untuk menghapus perasaannya begitu saja.
Bersambung....
__ADS_1