
Malam harinya Sintia dan Surya datang lagi ke rumah sakit. Sintia menghampiri Nesa yang sedang duduk di samping brankar Adam.
"Belum ada tanda-tanda akan siuman?" Tanya Sintia tiba-tiba
"Belum" Nesa menjawab lemas
"Makan dulu. Tante membawakan mu makan malam" Pinta Sintia akhirnya
Nesa mengangguk pelan.
Lalu Nesa dan Sintia pindah ke ruang sebelahnya yang sudah ada Surya disana.
"Om dan tante sudah makan?" Tanya Nesa sambil membuka bungkusan makanan yang Sintia bawa
"Sudah. Kami makan malam di rumah tadi" Jawab Surya
Nesa melahap makanannya tanpa merasa sungkan pada Surya dan Sintia yang ada di sebelahnya. Setelah Nesa menghabiskan makanannya,Sintia berpindah tempat duduk tepat di samping Nesa.
"Tadi pagi selepas kamu pulang,Sekretaris Bian datang kesini untuk menjenguk Adam. Sekretaris Bian juga menceritakan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah kami ketahui jika Adam tidak mengalami kecelakaan" Ujar Sintia sambil menatap Nesa dengan wajah yang serius
Nesa menatap Sintia dengan raut wajah yang sama seriusnya tapi kemudian wajahnya tertunduk sedih. Sepertinya Nesa sudah bisa menebak apa yang Sekretaris Bian ceritakan.
"Sekretaris Bian menceritakan apa?" Tanya Nesa memastikan
"Beberapa hari yang lalu Adam membuat surat perjanjian pra nikah yang dia tujukan untuk kamu. Apa benar?" Tanya Sintia
Nesa hanya menjawabnya dengan anggukan kepala
"Dan di malam yang sama sebelum Adam mengalami kecelakaan,kalian bertemu di cafe. Kamu mengatakan jika kalian hanya makan malam biasa. Apa memang benar seperti itu kejadiannya?" Tanya Sintia lagi
Nesa kembali menatap Sintia,lalu kemudian kepalanya menggeleng.
"Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Pihak kepolisian menemukan fakta terkait dengan penyebab kecelakaan yang Adam alami. Waktu Adam kecelakaan mobilnya sedang berada dalam kecepatan tinggi. Adam kehilangan kendali dan menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan. Apa yang sebenarnya terjadi Nesa?" Sintia mencecarnya seolah Nesa sedang dihakimi
Nesa mendengarkan tiap kalimat yang Sintia lontarkan dengan serius. Nesa agak terkejut saat Sintia mengatakan penyebab kecelakaan Adam. Ternyata dugaannya benar,Adam kecewa dan marah tentang syarat yang dia ajukan.
__ADS_1
Tak terasa air matanya jatuh hingga membuat Sintia yang melihatnya semakin menaruh rasa curiga.
"Benar kan jika hubungan kalian sedang dalam masalah?" Sintia kembali membuka suaranya
"Hubungan kami memang sudah tidak baik sejak kami putus" Ujar Nesa mengawali ceritanya
"Om baru ingat,waktu kamu datang ke rumah dan meminta maaf pada om. Kamu mengatakan jika kamu sedang kecewa pada Adam karena ada kata-katanya yang sangat menyakiti kamu" Surya ikut membuka suaranya
"Iya om, itu lah alasannya kenapa aku tidak langsung menerima ajakannya untuk kembali. Tapi ada satu kejadian lagi yang membuat ku benar-benar marah dan kecewa hingga akhirnya aku meminta bukti kesungguhannya. Dan terakhir mas Adam memberikan aku bukti berupa surat perjanjian itu" Nesa bercerita dengan wajah yang tertunduk
"Lalu kejadian apa yang membuat kamu benar-benar marah pada Adam?" Tanya Sintia penasaran
"Apa aku pantas menceritakannya pada om dan tante?" Nesa menoleh pada Surya dan Sintia secara bergantian
"Katakan saja agar semuanya jelas" Pinta Surya akhirnya
"Aku sudah tidak perawan. Mas Adam sudah mengambilnya dengan paksa" Ucap Nesa dengan bibir yang bergetar karena tangis
Sontak saja Surya dan Sintia sangat terkejut mendengarnya.
"Waktu kami berpacaran hubungan kami memang sangat intim. Tapi kami tidak sampai melakukan hubungan suami istri" Lanjut Nesa
"Iya. Memang ada alasannya. Dan alasannya itu tidak lain adalah karena dia sedang cemburu buta. Mas Adam akan merasa murka dan akan melakukan apapun sesukanya jika dia sedang cemburu" Sanggah Nesa
"Cemburu? Apa yang kamu lakukan hingga membuatnya cemburu?" Tanya Sintia lagi
"Mas Adam memergoki ku sedang berlibur di vila bersama dengan mas Firman. Laki-laki yang tadi kesini bersama dengan sahabatku. Mas Adam terbakar emosi dan dia menyuruh anak buahnya untuk memukuli mas Firman. Lalu dia membawa ku ke apartemennya dan melampiaskan kecemburuannya itu" Air mata Nesa semakin deras membanjiri pipinya
"Benarkah Adam sampai melakukan tindak kekerasan pada teman mu?" Tanya Sintia tidak percaya
Nesa mengangguk. Sedangkan Surya hanya menghelas nafas dan membuangnya kasar.
"Tapi sebesar apapun kemarahan ku,tidak bisa membuat ku untuk membencinya. Aku hanya memintanya satu syarat atas ajakannya untuk menikah. Dan mungkin saja syarat yang aku minta terlalu berat baginya hingga dia meninggalkan aku di cafe dan terjadilah kecelakaan itu"
"Memangnya syarat apa yang kamu minta?" Tanya Surya
__ADS_1
"Aku meminta mas Adam untuk minta maaf pada mas Firman atas pemukulan yang dia lakukan" Jawab Nesa jujur
"Lalu apa hubungan kamu dengan laki-laki yang bernama Firman itu hingga kamu pergi berlibur dengannya?" Tanya Sintia curiga
"Kami hanya berteman. Kami juga hanya sebatas berlibur,tidak terjadi apa-apa di antara kami" Nesa menjelaskan
"Dia menyukai mu?" Tanyanya lagi
Nesa mengangguk.
"Pantas saja jika Adam sangat cemburu" Ucap Sintia berkomentar
"Jika Adam sudah sadar nanti,kalian harus segera menikah. Bagaimana pun juga Adam harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Apa kamu masih menolak untuk menikah dengan Adam?" Ujar Surya akhirnya
"Tidak. Nesa mau menikah dengan mas Adam dan tanpa syarat apa pun" Balas Nesa dengan yakin
Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu. Gunawan dan Widia ternyata.
"Rupanya sedang berkumpul semua disini" Ucap Gunawan menyapa
"Kebetulan sekali kamu datang. Kita sedang membicarakan pernikahan anak-anak kita" Balas Surya
"Pernikahan?" Widia mengulangi sambil duduk di samping Nesa
"Iya Widia. Setelah Adam sadar nanti,Nesa bersedia menikah" Jawab Sintia
"Benar begitu Nesa? Tapi kenapa kamu terlihat sedih?" Tanya Widia yang melihat Nesa hanya tertunduk seolah tidak tertarik untuk ikut ke dalam obrolan mereka
"Bagaimana Nesa tidak sedih ma. Nesa tidak tahu sampai kapan mas Adam akan koma" Jawab Nesa sambil menutupi wajahnya dengan tangan
Mereka semua terdiam,hanyut pada pikiran mereka masing-masing. Yang Nesa katakan memang benar,Adam masih koma. Percuma saja membicarakan rencana pernikahan jika yang mau menikah saja masih tidak sadarkan diri.
"Besok dokter Handoko akan memeriksanya lagi. Semoga saja kondisi Adam ada kemajuan" Ucap Sintia
"Adam koma baru dua hari. Tidak usah terlalu cemas" Ujar Gunawan menimpali
__ADS_1
Dua hari serasa dua tahun bagi Nesa. Waktu pun berjalan begitu lambat dirasakan. Nesa melambungkan harapan setinggi-tingginya. Dari sekian banyak impian dalam hidupnya,sepertinya saat ini sudah tidak berlaku lagi. Semua impiannya itu bagaikan terbang ke udara. Kini di lubuk hatinya yang terdalam,hanya satu yang dia inginkan. Yaitu kesembuhan Adam.
Bersambung....