
Adam mencoba menelfon Nesa berkali-kali tapi nomornya tetap saja tidak aktif. Adam termenung dengan pikiran yang melayang-layang entah kemana.
"*Kamu ada dimana? A*pa saat ini kamu sedang menghukum ku? Kamu sengaja ingin bersembunyi dariku" Adam menekan pangkal hidungnya karena kepalanya mulai pusing
Beberapa kali Adam melihat ponselnya. Sekretaris Bian yang ditugaskan untuk mencari keberadaan Nesa pun tidak juga memberi kabar.
Adam terus saja menyesali sikapnya pada Nesa belakangan ini. Adam juga ingat waktu Nesa mengajaknya untuk berlibur ke Bali beberapa hari yang lalu tapi dengan tegas dia menolaknya.
"Ssstttt...kenapa aku tidak terpikir sejak tadi ya" Adam mengumpat kesal
Tiba-tiba Adam menemukan titik terang. Adam sangat yakin jika Nesa saat ini sedang ada di Bali. Dengan cepat Adam menelfon Sekretaris Bian.
"Maaf Tuan saya belum menemukan keberadaan nona Nesa" Sekretaris Bian langsung bersuara
"Siapkan tiket penerbanganku ke Bali" Perintah Adam tiba-tiba
"Malam ini juga Tuan?" Sekretaris Bian terdengar kaget
"Iya. Memangnya kenapa? Apa bandaranya tutup?" Tanya Adam dengan nanar
"Apa saya juga ikut?" Tanya Sekretaris Bian sebelumnya
"Tidak. Kamu urus saja perusahaan karena kemungkinan besok aku masih di Bali" Jawab Adam
"Baik tuan"
"Jangan lupa jemput aku setelah urusan tiket selesai" Pinta Adam lagi
"Siap tuan"
Beberapa saat kemudian,barulah Sekretaris Bian tiba di rumah Adam dan mengantarkannya ke Bandara.
...----------------...
Sudah dua jam Nesa berdiam diri duduk di pinggir pantai. Kursi yang sedang dia duduki saat ini sama persis dengan kursi waktu dia duduk dengan Adam untuk pertama kalinya. Tak terasa satu tahun lebih sudah awal perjumpaannya dengan Adam yang saat ini sudah menjadi suaminya.
Tempat itu masih sama,tapi tidak dengan perasaannya. Jika satu tahun yang lalu hatinya berdebar-debar saat berkenalan dengan Adam tapi kali ini dia datang membawa luka.
Kenangan indah bersama Adam terputar begitu saja di otaknya tatkala dia menatap ke sekeliling pantai. Senyum tipis pun terbit di bibirnya yang mungil. Tapi sejurus kemudian,wajahnya tertunduk sedih saat otaknya mengingat perkataan Adam tadi pagi. Entah sudah berapa banyak kata-kata Adam yang menyakiti perasaannya,tapi kenapa yang tadi pagi jauh lebih menyakitkan daripada yang sudah-sudah.
Nesa menutupi wajahnya yang tertunduk dengan kedua tangannya. Airmatanya mengalir hingga membasahi seluruh wajahnya. Tapi tiba-tiba saja ada sesosok tangan yang sedang menyentuh kedua pergelangan tangannya sambil berkata
"Aku minta maaf. Mungkin aku laki-laki paling bodoh di dunia ini"
Nesa terkesiap. Spontan saja Nesa menepis tangan Adam dan bangkit dari duduknya. Adam yang juga ikut bangkit dari posisi jongkoknya,menatap wajah Nesa dengan penuh penyesalan.
Tanpa sepatah kata pun,Nesa hendak pergi menjauh dari Adam tapi Adam justru menarik tangannya dan membawa Nesa dalam pelukannya.
__ADS_1
Nesa sempat terbuai membiarkan Adam memeluknya. Tapi sesaat kemudian Nesa mendorong tubuh Adam hingga pelukan mereka terlepas.
"Darimana kamu tahu aku ada disini?" Tanya Nesa sambil melipat tangannya di dada dan membuang muka
"Firasat aku yang mengatakan" Jawab Adam
"Lalu untuk apa kamu menyusulku kesini?" Tanya Nesa lagi dengan ketus
"Tentu saja karena ingin membawamu pulang" Jawab Adam dengan suara yang merendah
"Buat apa aku pulang. Aku merasa aku lebih nyaman berada disini" Ucap Nesa berpura-pura tegar
"Aku sangat menyesali perbuatanku. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu. Aku sangat terpukul dengan kematian calon anak kita hingga tanpa sadar kekecewaanku sudah melukai perasaan kamu" Ujar Adam bersungguh-sungguh
"Kenapa? Kenapa kamu harus menikahi aku jika aku tidak pantas untuk kamu?" Nesa menatap Adam dengan wajah pilu
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Tanya Adam sedih
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika aku ini ceroboh" Jawab Nesa dengan sindiran
Adam merasa tertampar mendengar ucapan Nesa. Adam merasa malu dengan perbuatannya sendiri.
"Aku benar-benar minta maaf" Hanya itu yang mampu terucap dari bibir Adam
"Aku merasa,kamu hanya menginginkan anak dariku tapi kamu tidak pernah memikirkan perasaanku" Ucap Nesa sambil menatap Adam dengan tajam
"Jika kamu hanya memprioritaskan anak dalam pernikahan,kamu bisa menikahi perempuan lain. Mereka juga bisa memberikan mu seorang anak" Ujar Nesa lagi dengan kalimat yang menusuk
Adam yang sudah tidak mampu mendengar tuduhan Nesa lagi akhirnya memeluk tubuh Nesa dari belakang.
"Aku mohon jangan berkata apapun lagi. Semua tuduhan kamu itu tidak benar. Aku mencintaimu,aku mohon maafkan aku" Adam semakin mengeratkan pelukannya sambil menyandarkan dagunya di bahu Nesa
"Harus berapa kali lagi aku memberi maaf atas kesalahan-kesalahan kamu" Ucap Nesa dengan sarkas
Adam menggeleng dengan cepat sambil menciumi leher Nesa.
"Lepaskan aku" Nesa menggeliat dalam pelukan Adam
"Aku sangat merindukanmu" Adam malah mencengkram tubuh Nesa lebih kuat lagi
"Kamu ingin membunuhku ya. Aku tidak bisa bernafas" Bentak Nesa
Adam melepaskan pelukannya tapi kemudian Adam merangkum wajah Nesa dengan kedua tangannya. Mereka saling tatap hingga membuat Adam merasa gemas. Adam menghujani wajah Nesa dengan ciuman mesra. Saat Adam akan mencium bibirnya,Nesa malah menjauh pergi.
"Tidak semudah itu Tuan" Ucap Nesa tiba-tiba sambil berlalu pergi
"Apa itu artinya kamu sudah memaafkanku?" Tanya Adam sambil menyeringai
__ADS_1
"Siapa bilang!" Ucap Nesa menanggapi
"Kamu memang tidak mengatakannya tapi saat kamu tidak menolak ciumanku tadi,itu sudah merupakan bukti jika kamu tidak bisa berlama-lama jauh dariku" Seloroh Adam sambil terus mengikuti Nesa dari belakang
"Kau ya..." Nesa berbalik badan sambil berkacak pinggang
"Kenapa? Mau aku tambah lagi ciumannya?" Adam semakin menjadi menggoda Nesa
"Ah sudahlah. Kita ini sedang bertengkar,jadi tidak usah berlelucon" Nesa kembali melanjutkan langkahnya menyusuri pantai
Adam tersenyum manis sambil menatap tubuh istrinya dari kejauhan. Adam kemudian menghampiri Nesa yang sedang duduk dibibir pantai dan membiarkan tubuhnya basah tersapu ombak.
"Kita kembali saja ke hotel. Nanti kamu bisa sakit" Ucap Adam khawatir
"Memangnya kamu peduli apa?" Nesa mencibikkan bibirnya,lalu bermain-main lagi dengan ombak sambil tertawa kecil
"Tentu saja aku peduli. Ini sudah malam,lanjutkan besok saja bermain ombaknya" Ucap Adam seolah sedang menasehati anak kecil
"Aku tidak mau" Tolak Nesa dengan kesal
"Aku lupa jika istriku ini masih kecil" Adam menghela nafas sambil membelai rambut Nesa
"Aku bukan anak kecil. Umurku sudah 22 tahun dan aku juga seorang dokter" Bantah Nesa dengan membanggakan diri
Adam semakin tertawa renyah mendengarnya.
"Jika kamu seperti ini,aku jadi ingin membawamu ke atas kasur"
"Dasar otak mesum" Maki Nesa
"Kenapa mengataiku mesum? Aku ingin mengajakmu ke kasur karena ingin tidur. Kamu saja yang berpikiran mesum" Dalih Adam
"Itu hanya modus" Omel Nesa
Adam tertawa dengan kerasnya. Setelah puas,Adam menatap wajah Nesa dengan serius.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Nesa akhirnya
"Terimakasih sudah mau memaafkanku" Lirih Adam
"Kamu yang mengatakannya,bukan aku" Balas Nesa dengan entengnya
"Sayang...aku serius" Nesa pun menoleh dan menatap Adam,lalu beberapa saat kemudian Nesa mengangguk pelan sambil tersenyum tipis
Adam sangat lega karena jalan untuk meminta maaf pada Nesa tidak menemukan kendala. Adam sangat bahagia akhirnya bisa kembali bersama.
Bersambung...
__ADS_1