
Tiga hari kemudian Nesa diperbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah membaik,tapi tidak dengan bayi kembarnya. Mereka harus tetap berada di inkubator sampai berat badannya mencapai berat badan normal yaitu paling tidak seberat 2,5 kg.
Adam maupun Nesa agak tidak rela jika meninggalkan bayinya di rumah sakit. Apalagi mereka merasa akan sangat kerepotan jika harus bolak balik setiap hari ke rumah sakit untuk menjenguknya. Akhirnya,Adam memutuskan untuk membawa pulang bayinya dengan membeli alat inkubator sendiri,sekaligus menyewa perawat yang akan mengurus bayinya di rumah.
Nesa terlihat sangat antusias menyambut bayi kembarnya yang akan dibawa pulang. Nesa juga sudah mempersiapkan kamar yang dia desain khusus untuk ketiga bayi kembarnya. Bahkan Nesa juga ikut membantu merawat bayinya sendiri. Setiap hari Nesa memompa asinya yang dia taruh ke dalam botol-botol kaca dan disimpannya di dalam lemari pendingin. Dengan begitu perawat yang mengurus bayinya hanya tinggal mengambilnya saja ketika si kembar sudah lapar.
Nesa selalu rutin memompa asinya hingga tanpa terasa dia melakukan hal itu sudah hampir dua bulan.
Beberapa hari kemudian Widia datang berkunjung untuk melihat perkembangan si kembar. Kabar yang sungguh membahagiakan karena Widia menyatakan jika si kembar sudah dalam kondisi normal dan tidak harus tidur di alat inkubator lagi.
"Tidak usah terlalu sibuk mengurus si kembar. Sudah ada perawat yang menjaganya" Ucap Adam dengan kalimat yang sedikit menegur
Nesa terus saja menatap bayi kembarnya yang sedang tertidur pulas tanpa menghiraukan suara Adam.
"Sayang...." Panggil Adam lagi
"Aku sangat bahagia karena hari ini mereka bisa tidur di kasurnya" Ucap Nesa sambil menoleh pada Adam
"Semenjak kedatangannya ke rumah ini,kamu jadi tidak ada waktu untukku" Protes Adam sambil mendekap Nesa dari belakang
"Apa maksudmu? Mereka lebih membutuhkanku" Balas Nesa tidak terima
"Tapi suamimu ini juga membutuhkanmu sayang" Adam membalikkan tubuh Nesa dan mencium keningnya berulang kali
"Kamu memang harus menjalankan tanggung jawabmu sebagai seorang ibu tapi kamu juga tidak boleh lupa dengan kewajibanmu sebagai seorang istri" Tegur Adam lagi. Kali ini raut wajahnya terlihat sangat serius
"Aku minta maaf. Aku sangat menyayangi mereka" Ucap Nesa dengan wajah sendu
"Aku ini ayahnya. Aku juga sangat menyayangi mereka. Dan aku sudah membayar tiga orang perawat untuk mengurus mereka. Jadi tidak usah terlalu cemas" Ujar Adam
"Iya sayang aku minta maaf" Ucap Nesa sekali lagi
"Mereka masih bayi. Kamu hanya perlu memberikan asimu pada mereka. Biar perawat nya yang mengurus segala keperluan yang lainnya. Dengan begitu kamu bisa fokus untuk memperhatikanku juga" Adam terus saja menegur hingga Nesa merasa agak menyesal
"Iya. Jangan marah lagi"
"Aku sama sekali tidak marah. Aku hanya tidak ingin kamu menjadi istri yang menelantarkan suaminya sendiri" Adam mencubit pipi Nesa lembut sambil tertawa kecil
Nesa pun tersenyum dan memeluk tubuh Adam.
"Tidak akan" Ucap Nesa menanggapi
"Bisa kita ke kamar sekarang?" Pinta Adam kemudian
"Mau apa?" Tanya Nesa lirih
"Haruskah masih bertanya lagi? Aku sudah menahannya selama beberapa bulan dan malam ini boleh kan aku meminta hakku?" Bisik Adam dengan nada yang menggoda
Nesa menghela nafasnya,lalu kepalanya mengangguk.
"Tidak mungkin kan kita melakukannya disini?" Seloroh Adam sambil melangkah pergi
__ADS_1
"Tentu tidak" Nesa menutup pintu kamar dengan pelan
"Sayang,aku panggil para perawatnya dulu ya" Pinta Nesa kemudian
"Tidak usah. Sebentar lagi mereka juga kembali. Tadi aku melihat mereka sedang makan malam di dapur" Larang Adam
"Bagaimana jika mereka bangun tapi perawatnya tidak ada bersama mereka!" Seru Nesa
"Apa mereka sudah tidur?" Suara Sintia tiba-tiba menyela. Kamarnya yang berada tak jauh dari sana membuat Sintia bisa dengan mudah memantau si kembar kapanpun dia mau
"Mama" Gumam Nesa
"Iya ma. Mereka sudah tertidur pulas" Jawab Adam
"Mama akan melihatnya sebentar" Ucap Sintia
"Ya sebaiknya mama jangan pergi sebelum pengasuhnya kembali" Pinta Adam
"Baiklah. Kamu ke kamar saja dan bawa istrimu pergi dari sini. Dia sudah terlalu repot mengurus bayinya seharian ini" Omel Sintia
"Iya ma malam ini aku tidak akan membiarkan dia mengabaikan aku lagi" Balas Adam sambil tersenyum pada Nesa
Nesa mencubit pinggang Adam sambil berusaha tersenyum juga pada Sintia.
Sesampainya di kamar,Adam langsung membuka piyamanya dan naik ke tempat tidur mendekati Nesa yang masih termenung disana.
"Kenapa lagi?" Tanya Adam
"Bukan itu"
"Lalu?"
"Apa kamu benar-benar ingin melakukannya sekarang?" Tanya Nesa bingung
"Memangnya kenapa?" Adam bertanya balik
"Aku tidak percaya diri untuk menanggalkan bajuku di depan kamu" Jawab Nesa dengan wajah yang tertunduk
Adam mendongakkan wajah Nesa untuk menatapnya.
"Apa masalahnya?" Tanyanya kemudian
"Tubuhku sudah tidak seperti dulu. Aku bahkan belum sempat mengecilkan perutku" Jawab Nesa mengeluh
Adam menghela nafasnya sambil tersenyum.
"Jadi hanya itu masalahnya?"
Nesa mengangguk.
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Aku hanya menginginkan istriku apapun keadaannya" Ujar Adam dengan kalimat yang membuat Nesa agak terenyuh
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Nesa seolah tak percaya
"Hanya laki-laki bodoh yang mengabaikan istrinya hanya karena tubuhnya tidak sebagus waktu sebelum hamil dulu. Apalagi tubuhnya menjadi jelek karena dia memberikannya seorang anak. Itu sungguh pengorbanan yang luar biasa. Jika harus ada yang memprotesnya,itu lebih pantas dilakukan oleh seorang istri"
"Kenapa begitu?" Tanya Nesa kemudian dengan wajah yang serius
"Iya. Karena suaminya yang membuatnya hamil" Jawab Adam sambil tertawa kecil
"Sayang...." Nesa memukul dada Adam gemas
"Jika seorang suami menginginkan seorang anak dari istrinya,harusnya dia juga siap menerima segala konsekuensinya. Benar kan?" Lagi-lagi perkataan Adam membuat Nesa terharu hingga tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca
Nesa memeluk Adam dengan perasaan bahagia yang tidak bisa dia lukiskan.
"Terimakasih banyak. Aku sangat mencintaimu. Aku sungguh beruntung memiliki suami sepertimu" Ucapnya sambil tersedu-sedu
"Jika kamu menangis,kapan kita melakukannya" Goda Adam akhirnya
Nesa segera mengurai pelukannya. Tanpa sadar dia juga sudah membuat Adam menunggu terlalu lama untuk menuntaskan apa yang selama ini sudah Adam tahan cukup lama.
Tanpa ragu,Nesa membuka semua pakaiannya sambil tersenyum. Mereka akhirnya menunaikan kewajibannya yang sudah lama tidak mereka lakukan.
"Sayang,sepertinya kita melupakan sesuatu" Ucap Nesa tiba-tiba saat Adam masih terkulai lemas di atas tempat tidur
"Apa?" Tanya Adam penasaran
"Aku belum memakai alat kontrasepsi apapun" Jawab Nesa dengan wajah cemas
Adam tersadar. Dia belum mengatakan soal KB steril yang dilakukan Widia tanpa sepengetahuan Nesa.
"Tenanglah sayang. Kamu tidak akan hamil dan tidak akan pernah hamil lagi" Ucap Adam dengan setengah bergumam
"Maksud kamu apa?" Tanya Nesa bingung
"Waktu mama melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi kita,mama juga melakukan operasi untuk memotong saluran indung telur kamu. Itu semua atas permintaanku. Aku yang memaksa mama. Aku tidak ingin kamu hamil lagi" Jawab Adam jujur
Nesa tercengang. Nesa dibuat sangat terkejut mendengar pengakuan Adam.
"Kenapa kamu melakukannya? Jika kamu tidak ingin aku hamil lagi, aku bisa memakai alat kontrasepsi seumur hidupku" Ucap Nesa dengan wajah yang tertunduk sedih
"Aku minta maaf. Setelah aku membaca informasinya,ternyata KB apapun tidak bagus untuk kesehatan. Mama Widia juga membenarkan hal itu" Adam merengkuh tubuh Nesa dan memeluknya erat
"Apa kamu marah?" Tanyanya kemudian
Nesa menggeleng walaupun sebenarnya hatinya belum sepenuhnya menerima.
"Lakukan apa saja yang kamu mau. Saat aku menerima pinanganmu,saat itu juga aku memasrahkan hidupku kepadamu" Jawab Nesa sambil berusaha mengikhlaskan apa yang sudah terjadi
"Terimakasih. Apapun yang aku lalukan,itu pasti demi kebaikan kamu" Balas Adam
Bersambung...
__ADS_1