Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Menyesali Kesalahan


__ADS_3

Adam segera menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Dia ingin segera pulang untuk meminta maaf pada Nesa atas sikapnya yang dia anggap sudah keterlaluan.


Sebelum pulang Adam ingin menelfon Nesa terlebih dulu untuk memberitahunya jika dia akan pulang cepat. Nesa pasti akan sangat senang,pikirnya. Tapi wajah Adam seketika berubah cemas saat diketahui jika nomor Nesa tidak bisa dihubungi. Yang Adam tahu,Nesa tidak pernah mematikan ponselnya dalam keadaan apapun.


Tanpa menunggu lagi,Adam segera pulang ke rumah untuk memastikan keadaan Nesa. Sampai rumah,Surya sudah menyambutnya dengan tatapan tajam.


"Ada apa pa?" Tanya Adam penasaran


"Kamu bertengkar dengan Nesa?" Surya langsung mencecar Adam


"Iya pa tapi aku menyesal" Jawab Adam dengan suara lirih


"Apa yang salah jika Nesa keguguran? Kenapa kamu malah menyalahkan dia? Dia yang paling sedih Adam. Dia yang mengandung dan dia juga yang harus mengalami sakitnya keguguran" Surya menegur sikap Adam


"Iya pa aku salah" Ucap Adam dengan penuh penyesalan


"Mau sampai kapan kamu akan terus melukai perasaannya? Sudah berapa banyak kesalahan yang kamu lakukan pada Nesa? Dia selalu memaafkan kesalahan-kesalahan kamu sampai akhirnya dia bersedia menjadi istri kamu. Apa kamu lupa itu?" Surya kembali memarahi Adam dengan tegas


"Aku benar-benar menyesal pa" Ucap Adam lagi bersungguh-sungguh


"Kenapa sampai ada kata-kata menyesal Adam? Kamu selalu saja menyadari kesalahan kamu ketika Nesa sudah pergi" Gerutu Surya


Adam hanya diam saja tanpa membantah perkataan Surya.


"Dia memang sangat mencintai kamu Adam tapi dia juga manusia biasa. jika kamu terus saja melukai perasaannya,bukan tidak mungkin suatu saat nanti dia akan meninggalkan kamu" Surya melanjutkan ocehannya hingga membuat Adam tampak ketakutan


"Papa jangan membuat aku takut. Itu tidak akan pernah terjadi. Aku harus sampai koma untuk membuat dia bersedia menjadi istriku" Suara Adam yang tadinya merendah,kini justru meninggi


"Papa tidak menakut-nakuti mu. Itu mungkin saja terjadi. Kamu sadar dengan usaha kamu untuk mendapatkan hatinya kembali tapi kenapa sekarang kamu malah menyakitinya lagi" Balas Surya dengan sedikit bentakan


"Aku harus menemui Nesa sekarang" Ucap Adam tiba-tiba sambil melangkahkan kakinya menuju ke kamar


"Kamu terlambat. Nesa tidak ada di rumah ini" Perkataan Surya membuat Adam tampak sangat terkejut hingga langkahnya terhenti


"Apa maksud papa?" Tanya Adam bingung


"Nesa sudah pergi" Jawab Surya


"Pergi kemana pa?" Tanya Adam lagi dengan cemas


"Dia bilang akan menginap di rumah papanya untuk sementara waktu"


"Kenapa papa membiarkannya pergi?" Tegur Adam sambil mengumpat kesal


"Kamu pikir papa ini apa! Kalian sudah menikah. Kalian bisa menyelesaikan masalah kalian sendiri" Bantah Surya

__ADS_1


"Aku akan menjemputnya sekarang juga" Perasaan Adam campur aduk hingga membuat raut wajahnya tampak sulit untuk dibaca


"Papa tidak ijinkan" Surya melarang


"Kenapa?"


"Biarkan dia tenang dulu. Jika kamu menjemputnya sekarang,papa yakin dia akan menolak pulang bersama mu" Jawab Surya menjelaskan


"Aku tidak peduli pa. Jika dia tidak mau ikut pulang bersamaku. Biar sekalian saja aku menginap disana" Adam bersikeras sambil melangkah pergi dengan tergesa-gesa


Sesampainya di rumah Nesa,Adam tidak menemukan siapa-siapa disana. Hanya bi Minah saja yang Adam lihat.


"Nesa dimana bi?" Tanya Adam akhirnya


"Loh bukannya nona Nesa ada di rumah mas Adam" Jawab bi Minah dengan bingung


"Apa maksud bibi? Tadi Nesa kesini kan?" Tanya Adam lagi. Wajahnya sudah mulai cemas


"Selama menikah,non Nesa belum pernah kesini" Jawab bi Minah lagi yang sekarang juga ikut cemas memikirkan Nesa


"Jadi Nesa tidak ada disini?" Adam memastikan sekali lagi


Bi Minah mengangguk.


"Saya berkata jujur. Non Nesa memang tidak ada disini. Jika mas Adam tidak percaya,silahkan lihat sendiri ke kamar atau ke seluruh rumah ini" Jawab bi Minah dengan wajah yang tertunduk karena takut


"Papa dan mama juga tidak ada di rumah?"


"Tuan dan Nyonya sedang ada acara di luar"


"Saya pergi dulu. Jangan katakan pada papa dan mama kalau aku kesini mencari Nesa" Pinta Adam dengan tegas


"Ba-baik mas" Jawab bi Minah dengan terbata


Adam langsung menjalankan mobilnya,lalu mengambil ponselnya untuk menelfon Sekretaris Bian.


"Nesa pergi dari rumah. Cepat kamu cari keberadaannya dan harus ketemu malam ini juga" Adam langsung memberi perintah sesaat setelah Sekretaris Bian mengangkat telfonnya


"Malam ini juga tuan?" Tanya Sekretaris Bian sambil tersentak


"Iya. Apa kamu tidak sanggup?" Bentak Adam


"Baik Tuan,akan saya usahakan" Jawab Sekretaris Bian


Adam memutus sambungan telfonnya tapi tak berapa lama kemudian Sekretaris Bian menelfon balik.

__ADS_1


"Ada apa lagi?" Tanya Adam dengan nada bicara yang masih tak bersahabat


"Kenapa Tuan Adam tidak mencoba melacak keberadaan nona Nesa melalui GPS nya" Ucap Sekretaris Bian menyarankan


"Ponselnya tidak aktif" Jawab Adam singkat


"Oh..." Sekretaris Bian terdengar kecewa karena tujuannya untuk membuat pekerjaannya menjadi ringan akhirnya gagal sudah. Lagi-lagi Sekretaris Bian harus begadang seperti sebelum-sebelumnya karena Nesa


"Kenapa anda selalu merepotkan saya tuan. Jika tidak ingin ditinggal jangan membuat masalah" Sekretaris Bian menggerutu kesal


Sekretaris Bian bingung harus mencari Nesa dimana,apalagi Adam tidak memberi petunjuk apapun terkait perginya Nesa.


"Gampang sekali anda memberi perintah tuan. Saya juga lelah ingin tidur" Sekretaris Bian menghembus nafas kasar


Adam kembali lagi ke rumah. Dia berjalan ke kamar sambil meraih apa saja yang ada dan menjatuhkannya. Bahkan Adam sempat menubruk tubuh salah satu pelayan yang sedang membereskan meja makan sambil berlalu begitu saja tanpa memperdulikannya.


Sontak saja semua pelayan sangat ketakutan dan tidak berani mendekat. Surya dan Sintia juga kaget mendengar suara gaduh di ruang bawah dan akhirnya mereka turun. Tapi Adam sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Hanya pelayan saja yang sedang berkumpul sambil tertunduk takut.


"Ada apa ini?" Tanya Surya pada pelayannya dengan suara yang memenuhi seisi ruangan


Sintia menjerit melihat guci-guci kesayangannya pecah berserakan di lantai.


"Tuan Adam mengamuk dan menjatuhkan semua benda-benda ini" Jawab salah satu pelayan


Surya menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.


"Tolong bersihkan ya. Jangan sampai ada pecahan beling yang tertinggal" Pinta Surya kemudian


"Baik Tuan" Semua pelayan berhamburan mengambil alat untuk bersih-bersih


"Jika bukan Adam yang memecahkannya,pasti mama akan murka pa" Sintia akhirnya bersuara


"Adam pasti kesal karena tidak berhasil membawa Nesa pulang" Ucap Surya yang tidak mengetahui alasan kemarahan Adam yang sebenarnya


"Mama susul Adam ke kamar ya"


"Tidak usah ma" Surya mencegah Sintia


"Kenapa Nesa harus pergi sih. Apa dia sudah lupa dengan statusnya sebagai istri. Tidak boleh itu pa main pergi begitu saja" Sintia berkomentar sinis


"Sudahlah ma. Kita kembali saja ke kamar" Surya merangkul Sintia untuk kembali ke kamar mereka


Surya tidak ingin mencampuri masalah Adam lebih jauh lagi. Surya hanya bisa mengingatkan dan untuk selanjutnya Surya akan membiarkan Adam menyelesaikan sendiri masalahnya dan menyesali kesalahannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2