
Hari-hari berikutnya Nesa jalani kehamilannya dengan tidak mudah. Dia terus saja merasakan morning sickness yang menyebabkan pola makannya tidak benar. Dan hal itu juga berimbas pada Adam. Adam harus selalu mencari cara untuk membujuk Nesa agar mau makan tanpa memuntahkannya.
Kadangkala Adam harus telat pergi ke kantor karena harus mengawasi Nesa agar menghabiskan makanannya. Tak jarang juga dia dibuat pusing dengan permintaan Nesa yang tiba-tiba. Adam yang sudah lelah bekerja dan baru tiba di rumah,harus pergi lagi karena Nesa menginginkan makanan tertentu.
Memasuki terimester dua kehamilannya,Nesa sudah jarang sekali merasakan mual dan muntah. Justru selera makannya meningkat tajam. Perut yang tadinya rata,sudah mulai membuncit. Malah lebih besar dari orang hamil pada umumnya. Itu karena didalam perutnya tidak hanya ada satu bayi tapi tiga sekaligus.
Tidak lagi mengalami mual dan muntah tapi masalah lain muncul. Nesa mengalami varises di kakinya. Adam pun merasa sangat prihatin dengan kondisi kaki Nesa. Kaki yang tadinya mulus,sekarang jadi tidak enak dipandang lagi.
"Kenapa? Aku jelek ya sekarang?" Tanya Nesa yang melihat Adam sedang memperhatikan kakinya
"Tidak. Istriku tetap cantik. Aku hanya tidak tega saja melihatmu seperti ini" Jawab Adam sambil memijat lembut kaki Nesa
"Kata mama ini wajar terjadi pada hamil kembar. Karena beban yang lebih berat hingga meningkatkan tekanan pembuluh darah yang ada di kaki dan menyebabkan varises" Nesa menjelaskan apa yang dikatakan oleh Widia saat memeriksakan keluhan di kakinya kemarin
"Iya aku tidak lupa kok apa yang dikatakan mama kemarin. Dan sesuai dengan saran mama,aku akan menyempatkan waktuku sebelum pergi ke kantor untuk menemani kamu jalan kaki keliling kompleks" Ujar Adam
"Kenapa harus keliling kompleks. Berkeliling di halaman rumah ini saja sudah membuatku cukup lelah" Sanggah Nesa
"Baiklah terserah kamu saja. Yang penting kamu harus rutin berjalan kaki setiap hari" Ujar Adam sambil mengingatkan
"Iya" Nesa mengangguk mengiyakan
"Sekarang vitaminnya diminum dulu,setelah itu tidur" Adam mengambil beberapa vitamin dan memasukkannya ke dalam mulut Nesa sambil meyodorkan segelas air
Nesa kemudian berbaring saat Adam menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Adam pun ikut berbaring dengan posisi miring menghadap Nesa. Setelah beberapa saat saling berpandangan,tangan Nesa terulur menyentuh hidung Adam.
"Belum mengantuk ya?" Tanya Adam membiarkan jemari Nesa bermain-main di hidungnya
"Apa kamu sungguh menyukai hidungku?" Adam sampai bertanya lagi karena Nesa tidak menghiraukannya
"Iya. Aku iri sama kamu sayang" Ucap Nesa yang menyebabkan Adam merasa bingung
"Iri padaku?" Adam mengulangi seolah meminta penjelasan pada Nesa
"Kenapa kamu bisa mempunyai hidung semancung ini?" Tanyanya kesal sambil menarik-narik hidung Adam
Adam menghela nafas disertai dengan senyuman tipis.
"Kenapa harus iri? Bukankah semua yang ada pada diriku,itu sudah menjadi milikmu sayang" Gombal Adam
"Iya memang milikku tapi tidak bisa aku pindah ke tubuhku" Nanar Nesa sambil tertawa kecil
__ADS_1
"Wajahmu sudah cantik sayang,tidak usah meminta yang aneh-aneh lagi" Balas Adam
Nesa tersenyum sambil mencium bibir Adam,tapi kemudian dia menyentuh perutnya tiba-tiba dengan raut wajah yang agak meringis.
"Sayang,kenapa?" Tanya Adam cemas
Nesa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
"Sepertinya mereka sangat aktif" Ucapnya kemudian
"Mereka menendang perutmu lagi?" Tanya Adam
Nesa mengangguk sambil mencari-cari posisi yang nyaman. Usia kehamilannya memang masih menginjak bulan ke 6 tapi Nesa sudah sering merasakan nyeri di punggungnya dan juga sesak. Akhirnya Nesa miring ke kiri membelakangi Adam.
"Cepatlah tidur,sebelum mereka menganggumu lagi" Pinta Adam sambil memijat punggung Nesa
"Iya"
"Jangan-jangan mereka bertiga berjenis kelamin laki-laki" Adam agak bergumam seolah berbicara pada dirinya sendiri tapi masih bisa terdengar oleh Nesa
"Kamu menginginkan anak laki-laki?" Tanya Nesa penasaran
"Tidak juga. Apa saja yang penting mereka semua sehat. Itu sudah cukup" Jawab Adam pasrah
"Iya. Sekarang tidurlah" Pinta Adam sekali lagi
"Tapi rasanya aku sedang ingin makan sesuatu" Kemauannya yang datang tiba-tiba kembali muncul
"Ini sudah malam. Apa perutmu belum kenyang? Seharian ini kamu sudah makan banyak" Gerutu Adam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Tapi aku masih ingin makan" Rengek Nesa
Adam yang masih terlihat enggan,membuat Nesa mencari cara lain untuk membujuknya.
"Kamu sudah tidak peduli lagi ya sama anak kamu" Nesa akhirnya memanfaatkan kehamilannya agar Adam mau menuruti keinginannya
"Baiklah. Katakan apa yang ingin kamu makan?" Usaha Nesa berhasil. Adam akhirnya menurut
"Kentang goreng" Jawab Nesa dengan wajah yang berbinar
Adam menghela nafas lega karena makanan yang diminta Nesa masih bisa dibuat di rumah hingga Adam tidak perlu pusing untuk mencarinya di luar.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan suruh pelayan membuatkan kentang goreng untuk kamu"
"Tapi..." Nesa menggantung. Nesa ragu untuk mengatakannya
"Tapi apa?" Adam yang tadinya sudah ingin beranjak pergi akhirnya menahan langkahnya
"Aku ingin kamu yang membuatnya" Ucap Nesa sambil menggigit selimut
"Jangan gunakan kehamilanmu untuk mengerjaiku ya karena aku bisa menghukummu" Adam menaikkan satu alisnya dengan seringai nakal di bibirnya
"Mana berani aku mengerjaimu. Anakmu memang mau makan kentang goreng yang dibuat langsung oleh papanya" Nesa beralibi
"Buatanku atau buatan pelayan itu sama saja,mereka tidak akan mengetahuinya" Protes Adam
"Ya sudah kalau kamu tidak mau membuatnya" Nesa menggunakan jurus terakhirnya. Ngambek
"Oke baiklah" Adam menyungging sebuah senyuman walaupun wajahnya masih tampak mengeras
Adam pergi ke rumah belakang dan memanggil pak Ngah untuk membantunya. Dengan agak kerepotan Adam membuat langsung kentang goreng yang Nesa minta. Setelah cukup lama berada di dapur,akhirnya Adam berhasil membuatnya. Adam membawanya ke kamar saat Nesa sudah mulai mengantuk.
"Maaf lama" Adam membawa hasil kentang gorengnya ke hadapan Nesa
"Mana saosnya?" Tanya Nesa tiba-tiba
Lagi-lagi Adam dibuat agak kesal tapi sebisa mungkin Adam tetap tersenyum dihadapan istrinya itu. Karena malas untuk kembali lagi ke dapur,akhirnya Adam berbohong saja.
"Kebetulan stok saos di dapur sudah habis"
"Heran. Setiap hari pabrikmu membuat saos tapi di rumahmu sendiri sampai kehabisan saos" Omel Nesa
"Sayang,kentang gorengnya mau dimakan apa tidak? Aku sudah setengah mati membuatnya" Ucap Adam masih dengan sisa-sisa kesabarannya
"Tentu saja aku akan memakannya. Aku hampir saja tertidur menunggu kentang goreng ini" Nesa melahap potongan demi potongan kentang tersebut sampai habis tak tersisa
"Sekarang sudah bisa tidur kan?" Adam menatap wajah Nesa dengan memasang wajah lelah seolah berharap Nesa akan segera tidur dan tidak meminta yang macam-macam lagi
"Iya. Kali ini aku pasti bisa tidur dengan nyenyak" Jawab Nesa dengan memasang wajah tanpa dosa. Nesa merebahkan tubuhnya sambil mengelus perutnya
Adam menghela nafas dan membuangnya pelan. Adam selalu dibuat pusing dengan permintaan Nesa yang tiba-tiba. Tapi sejauh ini Adam berusaha menikmati suka dukanya menunggu kelahiran anak mereka dengan segala keluhan yang Nesa alami.
Bersambung....
__ADS_1
Sebenarnya novel ini otw tamat makanya upnya jadi slow 😀
Tinggal nunggu kebahagiaan Adam dan Nesa lengkap saja dengan hadirnya anak ditengah-tengah mereka dan penyelesaian dari semua tokoh lainnya.