Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Jatuh Cinta Untuk Yang Ke Dua Kalinya


__ADS_3

"Apa kamu akan memarahiku lagi?" Tanya Nesa sambil mendongakkan wajahnya dan menatap Adam


"Tidak. Tapi aku saja yang akan menyimpan kalungnya" Jawab Adam pura-pura sabar. Lagi-lagi dia harus mengalah karena saat ini dia sedang dalam tahap pembuktian kesungguhannya pada Nesa.


"Tapi...?"


"Tidak ada kata tapi. Aku tidak ingin kamu memakainya lagi" Adam menginterupsi


"Katakan saja kalau kamu marah. Padahal kamu tidak pantas marah karena kalung itu dia berikan waktu kita masih di Surabaya dulu. Jauh sebelum aku mengenal mu" Gerutu Nesa sambil memanyunkan bibirnya


"Nesa... Jangan memancing emosiku" Gertak Adam


"Ya baiklah Tuan Adam" Balas Nesa dengan wajah yang ditekuk


Bukannya marah,Adam malah menyungging sebuah senyuman. Hatinya tiba-tiba melunak melihat ekspresi wajah Nesa yang menggemaskan. Sudah lama dia tidak melihat wajah gemas Nesa. Lalu Adam mendekat,membuat Nesa bingung dengan sikapnya.


"Kamu kenapa? Tadi kesal tapi sekarang malah senyum-senyum sendiri tanpa sebab" Tanya Nesa dengan wajah acuh


"Aku merindukan wajah gemas mu" Bisik Adam ditelinga Nesa membuat hatinya mulai tersentuh tapi sejurus kemudian dia berusaha mengendalikan perasaannya lagi


"Bisa kita pulang sekarang?" Tanya Nesa menetralkan suasana


"Tunggu dulu" Ucap Adam sambil menyentuh rambutnya


"Sepertinya tadi kamu tidak mengeringkan rambut mu. Rambutmu belum kering sepenuhnya. Kamu tidak mungkin pulang dengan rambut basah kan?"


"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku keringkan dulu rambutku" Ucap Nesa dengan wajah cemberut


"Biar aku bantu" Goda Adam


"Tidak..."


"Tidak boleh membantah" Adam memotong sebelum Nesa menyelesaikan kalimatnya


Nesa melangkahkan kakinya dan duduk di kursi depan cermin dengan enggan. Adam mengambil hair dryer dan dengan sabarnya Adam menggunakan alat itu untuk mengeringkan rambut Nesa. Adam hanya tersenyum melihat wajah masam Nesa yang terlihat dalam pantulan cermin.


Bagaimanapun juga Nesa tetaplah gadis polos yang masih berusia 21 tahun. Sedewasa apapun pikirannya,dia tetaplah gadis muda yang masih suka merajuk dan menampakkan sifat kekanak-kanakannya dalam situasi tertentu.


"Sudah selesai" Ucap Adam sambil mematikan hair dryer yang di pegangnya.


"Sebaiknya kamu mandi dulu" Sambung Adam


"Aku tidak mau mandi. Daritadi aku tidak berkeringat" Tolak Nesa


"Kalau begitu ganti lah pakaianmu" Pinta Adam lagi


"Bajuku juga belum kotor. Aku hanya tiduran saja di kasur" Nesa kembali ber alasan


Adam menghela nafas sambil menatap wajah Nesa.


"Baiklah. Ayo kita pulang sekarang" Ajak Adam akhirnya


"Kamu jahat sekali. Kamu menahan ku disini seharian tapi kamu tidak memberiku makan" Ucap Nesa kesal

__ADS_1


"Aku hanya takut kamu menolaknya seperti tadi pagi. Lagi pula aku sudah mengatakan jika kamu butuh sesuatu,kamu bisa memanggil ku" Adam tergelak. Lagi-lagi wajah Nesa terlihat sangat lucu


"Kalau begitu kita mampir dulu ke restoran karena aku juga belum makan"


"Tidak usah. Aku makan di rumah saja" Nesa melengos dan menjauh dari Adam


"Oke aku tidak akan memaksa" Balas Adam


Akhirnya mereka pulang ketika hari sudah mulai petang.


"Tidak usah mengantar ku sampai ke dalam" Ucap Nesa yang sudah berada di depan pintu rumahnya


"Kenapa?"


"Hubungan kita belum baik. Aku tidak ingin papa dan mama melihatnya dan bertanya yang macam-macam"


"Kalau begitu kita harus bersikap mesra di hadapan mereka" Adam menggoda Nesa


"Tidak mau" Tolak Nesa


"Ya sudah Kita berterus terang saja pada mereka" Balas Adam dengan entengnya


"Maksud kamu,kita akan mengatakan kejadian yang semalam di apartemen? memalukan sekali" Ucap Nesa dengan mata yang membulat


Adam tergelak melihat ekspresi wajah Nesa.


"Kalau begitu,kamu tidak boleh membantah. Aku tetap akan mengantar mu sampai ke dalam. Ini bentuk pembuktian kesungguhan ku yang pertama" Adam menggandeng tangan Nesa dan melangkah masuk


"Modus" Nesa memutar bola matanya jengah.


"Iya ma" Jawab Nesa mendekat ke arah papa dan mamanya yang duduk di meja makan dan hendak melakukan makan malam


"Selamat malam om dan tante" Adam menyapa dengan sopan


"Selamat malam Adam" Balas Gunawan dan Widia secara bersamaan


"Kenapa pulangnya sampai malam?" Tanya Gunawan tanpa rasa curiga


"Maaf om. Tadi kami masih jalan-jalan di sekitar puncak" Jawab Adam bohong


"Iya kan Nesa?" Sambung Adam sambil menoleh ke arah Nesa sambil tersenyum


"Iya benar pa" Jawab Nesa dengan senyum yang di paksa


"Kalau begitu,ayo kita makan sama-sama. Kalian pasti belum makan kan?" Pinta Widia


"Ah sepertinya mas Adam buru-buru ma. Ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan" Nesa seolah tidak suka jika Adam ikut bergabung


Spontan saja Gunawan dan Widia menoleh pada Nesa dengan penuh tanda tanya.


"Tidak masalah menunda pekerjaan untuk sementara. Kebetulan Aku juga sangat lapar" Adam mengambil tempat duduk dan tidak memperdulikan ocehan Nesa


"Menyebalkan" Batin Nesa

__ADS_1


Akhirnya dengan sangat terpaksa Nesa juga ikut duduk di samping Adam.


"Nesa,ambilkan nasi dan lauknya untuk Adam" Pinta Gunawan


Adam tersenyum cerah pada Gunawan seolah dia ingin berterimakasih karena memang itu yang Adam harapkan. Mendapatkan perhatian lagi dari Nesa.


"Mas Adam mau lauknya yang mana?" Tanya Nesa dengan terpaksa


"Terserah kamu. Apapun yang kamu taruh di piringku pasti aku makan" Goda Adam dengan senyum yang merekah


Widia dan Gunawan hanya tersimpul simpul melihat tingkah Adam.


Nesa menyendok nasi dan menaruh lauk dengan asal di piring Adam. Kemudian Nesa juga mengambil nasi dan beberapa lauk di piringnya sendiri. Akhirnya mereka makan dalam suasana hening. Sesekali Nesa melirik ke arah Adam,begitu pun dengan Adam yang terlihat sedang mencuri-curi pandang pada Nesa.


"Aku ke kamar dulu ya. Aku sangat lelah dan ingin segera tidur" Ucap Nesa yang sudah menghabiskan makan malamnya


"Tunggu sampai Adam pulang dulu Nesa" Pinta Gunawan


"Tidak apa-apa om. Tidak usah menungguku" Ucap Adam


"Terimakasih mas Adam sudah mengantar" Nesa meninggalkan meja makan dan naik ke lantai atas dimana kamarnya berada


"Om,tante. Adam ingin menyusul Nesa. Ada yang ingin Adam sampaikan" Adam tergesa-gesa meninggalkan meja makan


"Iya silahkan" Ucap Gunawan


"Nesa aku ingin berbicara" Ucap Adam pada Nesa yang hendak menutup pintu kamarnya


"Ada apa lagi?" Tanya Nesa


"Jika terjadi sesuatu,segera beritahu aku" Pinta Adam dengan wajah yang serius


"Memangnya apa yang akan terjadi?" Tanya Nesa bingung


"Perbuatanku yang semalam bisa memungkinkan kamu untuk hamil kan?" Adam terlihat cemas


Seketika wajah Nesa berubah menjadi sedih.


"Pulanglah. Aku tidak mungkin hamil" Lirih Nesa


"Kenapa kamu sangat yakin?" Tanya Adam penasaran


"Karena saat ini aku tidak sedang berada dalam masa suburku" Jawab Nesa


Adam tercenung. Adam tidak mengerti apa itu masa subur.


Saat Nesa ingin menutup pintunya lagi,Adam mencegahnya. Adam menarik tangan Nesa,lalu mencium keningnya.


"Maaf sudah sering membuat mu kecewa. Jangan bersedih lagi. Aku mencintaimu" Ucap Adam dengan penuh perasaan


Nesa bergeming. Nesa menatap Adam dengan tatapan yang sulit dibaca. Perlahan Nesa menutup lagi pintu kamarnya tanpa berkata-kata.


Adam harus mengakui,jika saat ini rasa cintanya kembali membara. Adam seperti merasakan jatuh cinta untuk yang ke dua kalinya. Rasa benci yang sempat menguasai hatinya,kini sudah terkikis dan tak tersisa.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2