
Sore harinya,Adam pun membawa Nesa pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang,Adam tidak berbicara pada Nesa. Adam terus saja terbayang wujud janinnya yang dia kubur sendiri. Nesa yang melihatnya tidak berani untuk menegur dan mereka pun akhirnya hanya saling diam sampai mobil tiba di halaman rumah Adam.
Adam turun dari mobil dan merangkul tubuh Nesa sambil berjalan masuk ke dalam.
"Kenapa Nesa sudah dibawa pulang? Mama dan papa baru saja mau kembali lagi ke rumah sakit" Sintia menegur
"Dokter sudah memperbolehkannya pulang ma" Jawab Adam
"Kamu sudah baik-baik saja Nesa?" Tanya Sintia
"Iya ma. Nesa sudah merasa baikan" Jawab Nesa dengan raut wajah yang tampak lesu
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja di kamar,dan sepertinya untuk beberapa hari ke depan kamu jangan dulu kembali bekerja sampai kondisi mu benar-benar pulih" Ujar Sintia lagi menasehati
Nesa mengangguk. Kemudian Adam membimbingnya lagi berjalan menuju kamar mereka. Adam mendudukkan Nesa di atas tempat tidur.
"Aku siapkan dulu obat kamu" Ucap Adam sambil membalikkan badannya untuk mengambil obat Nesa
"Dimana janin kita?" Tanya Nesa dengan lirih
"Aku sudah menguburnya di taman belakang" Jawab Adam tanpa menoleh pada Nesa,tangannya bergerak mengambil obat dalam bungkus plastik klip
Adam duduk di samping Nesa dengan tangan kanan memegang obat,sedangkan tangan kirinya memegang segelas air putih. Adam memasukkan obat itu ke dalam mulut Nesa,lalu Adam meminumkan air putih pada Nesa.
"Sekarang kamu istirahat" Adam membaringkan tubuh Nesa dan mengusap pucuk kepalanya
"Kamu mau kemana?" Tanya Nesa pada Adam yang hendak melangkah pergi
"Aku akan ke ruang kerjaku sebentar. Aku harus mengecek beberapa laporan" Jawab Adam
"Baiklah" Nesa membiarkan Adam pergi. Sebenarnya Nesa ingin Adam menemaninya di kamar tapi akan terkesan egois rasanya jika dia meminta lebih. Adam sudah menemaninya mulai dari masuk rumah sakit sampai dia kembali pulang ke rumah
Sampai pak Ngah mengantarkan makan malam untuk Nesa ke kamar,Adam belum juga kembali dari ruang kerjanya.
"Mas Adam kemana pak?" Tanya Nesa akhirnya
"Tuan muda masih ada di ruang kerjanya non" Jawab pak Ngah
"Apa dia sudah makan malam?" Tanya Nesa lagi
"Belum non. Tuan muda menyuruh saya untuk mengantarkan makan malam ke kamar karena beliau ingin makan malam bersama anda disini" Jawab pak Ngah yang masih berdiri tegak di hadapan Nesa
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya. Kita akan makan malam di kamar saja agar kamu tidak perlu turun ke bawah. Kondisi mu belum pulih" Suara Adam tiba-tiba terdengar di balik tubuh pak Ngah
Pak Ngah pun akhirnya keluar dari kamar mereka.
"Aku mandi dulu. Setelah itu kita makan" Adam melepas jam yang masih menempel di pergelangan tangannya,lalu dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi tanpa membuka pakaiannya
Dan seperti biasa,Adam keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Adam fokus mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil tanpa melihat Nesa yang sedang memperhatikannya.
Entah kenapa rasanya ingin sekali Nesa turun dari kasur dan memeluk tubuh Adam. Perasaan rindu tiba-tiba menderanya seolah dia baru terpisah dengan Adam dalam waktu yang cukup lama. Nesa benci hanya bisa berbaring saja di kasur. Sampai makan pun mereka lakukan di atas tempat tidur.
"Apa mau aku suapi lagi seperti di rumah sakit tadi?" Tanya Adam yang melihat Nesa hanya mengaduk makanannya saja tanpa memakannya
"Tiba-tiba saja aku takut" Nesa menjatuhkan sendoknya dan beralih menatap wajah Adam
"Takut kenapa?" Adam pun akhirnya juga ikut menghentikan kegiatan makannya
"Aku takut kamu meninggalkanku" Seketika wajah Nesa berubah sendu
"Untuk alasan apa aku meninggalkanmu?" Tanya Adam sambil melipat tangan di dadanya
Nesa mengangkat bahunya seolah dia sendiri bingung dengan alasan ketakutannya.
"Bukankah aku sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Apa perlu aku buatkan surat perjanjian lagi seperti waktu itu?" Tanya Adam meyakinkan Nesa
"Tapi kenapa kamu masih meragukanku?" Tanya Adam lagi
"Entahlah. Kejadian tadi pagi membuat aku selalu cemas" Jawab Nesa gamang
"Kita masih bisa mempunyai anak lagi. Tidak usah mencemaskan sesuatu yang belum terjadi" Komentar Adam
"Cepat makan. Nanti makanan mu keburu tidak enak" Pinta Adam kemudian
Nesa pun berusaha menghabiskan makanannya walaupun dia terlihat susah untuk menelannya.
Setelah makan malam,Adam merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Adam sangat lelah setelah seharian ini dia sama sekali belum beristirahat.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Adam pada Nesa yang berbaring di sampingnya
"Aku ingin tidur di pelukan kamu" Jawab Nesa sambil bergelayutan manja di lengan Adam
Adam memiringkan badannya dan memeluk Nesa.
"Kamu yakin bisa tidur dengan posisi seperti ini?" Tanya Adam
__ADS_1
Kepala Nesa yang berada di bawah dagu Adam terasa sedang mengangguk sambil terus membenamkan wajahnya di dada Adam.
"Aku mencintaimu" Ucapnya kemudian
Adam mengusap punggung Nesa tanpa menanggapi ucapan cinta dari Nesa.
"Kenapa tidak dibalas?" Tanya Nesa dengan agak sebal
"Iya aku juga mencintaimu" Balas Adam sambil menghembuskan nafas pelan
Adam mencoba memejamkan matanya tapi rasa kantuk yang sedari tadi dirasakannya tidak juga mengantarkan dia ke dalam tidur. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya hingga keinginan dan reaksi tubuhnya tidak sinkron. Setelah yakin Nesa sudah terlelap tidur,Adam melepaskan pelukannya.
Adam bangkit dari tidurnya. Membuka pintu jendela dan berdiri termenung di balkon kamar. Cukup lama Adam terdiam disana hingga membuat Nesa terbangun karena menyadari tubuh kekarnya sudah tak lagi dirasakannya. Nesa mengusap matanya pelan dan melihat ke sekeliling mencari sosok Adam yang sudah hilang dari tempat tidurnya.
Dengan hati-hati Nesa turun dari kasur menghampiri jendela kamar yang terbuka. Nesa memicingkan matanya melihat Adam sedang menatap layar ponselnya. Dari balik punggung Adam, Nesa tampak emosional saat melihat gambar di ponsel itu.
Tanpa Adam sadari,Nesa mengambil ponselnya dari belakang.
"Kamu menyimpan fotonya?" Tanya Nesa tiba-tiba membuat Adam sangat terkejut
Nesa menatap gambar janin yang Adam foto sebelum dia kubur tadi.
"Aku tidak bisa tidur karena terus memikirkannya" Jawab Adam berterus terang
"Aku benar-benar merasa bersalah jika melihatmu seperti ini" Ucap Nesa sambil berkaca-kaca
"Sampai sekarang aku masih tak percaya dengan apa yang aku lihat. Ini pertama kalinya aku melihat wujud janin dan itu janin anakku sendiri. Dia harus keluar dengan ukuran yang masih sekecil itu" Adam berucap dengan raut wajah yang teramat sedih
"Katakan,apa aku berlebihan?" Tanya Adam kemudian
Nesa tak kuasa melihat kesedihan mendalam di mata Adam.
"Aku minta maaf. Aku yang salah. Sekarang katakan aku harus bagaimana?" Nesa menyesal sekali lagi sambil memeluk tubuh Adam
Adam memejamkan mata seolah berusaha menahan segala rasa yang bergejolak di dalam dadanya.
"Kita tidur lagi. Maaf sudah membuatmu menangis" Ucap Adam kemudian
Rentetan peristiwa yang dia alami tadi pagi masih membekas dalam ingatannya.
Bersambung....
Terimakasih yg sudah setia menunggu kelanjutan novelku. Apapun komen kalian sangat berharga untukku karena membuatku lebih semangat untuk menulis 😊
__ADS_1
Tetap like komen ya 😥