
Adam dan Nesa pun keluar dari ruangan Widia setelah bayinya dinyatakan baik-baik saja. Tapi tampaknya ada yang mengganjal di pikiran Adam hingga membuat dia terlihat agak sedih. Saat mereka sudah masuk ke mobil,Adam masih terdiam tanpa mengatakan apapun.
"Sayang,kamu kenapa? Bukankah mama mengatakan jika kondisi bayi kita baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan?" Nesa bertanya akhirnya
"Aku agak menyesal sudah mengganggu mereka semalam" Jawab Adam sambil menoleh pada Nesa
"Kamu tidak mengganggu mereka. Flek yang aku alami sama sekali tidak ada hubungannya dengan si bayi. Itu memang sering terjadi pada perempuan yang sedang hamil muda" Balas Nesa menjelaskan
"Aku akan lebih hati-hati lagi nanti" Ucap Adam dengan wajah yang menyesal
Nesa tersenyum tipis sambil menggenggam tangan Adam.
"Apa mereka sudah lapar?" Tanya Adam sambil melihat penunjuk jam di ponselnya
"Iya. Sepertinya mereka sudah lapar" Nesa mengelus-elus perutnya sambil menunduk
"Kita cari restoran dulu untuk kita sarapan" Ucap Adam sambil menyalakan mobilnya
"Apa tidak malu makan di restoran dalam keadaan seperti ini?" Nesa memperhatikan penampilannya sendiri lalu menoleh pada Adam
"Memangnya kenapa?" Tanya Adam heran
"Karena terburu-buru tadi,kita bahkan belum mandi" Jawab Nesa sambil menahan tawa
"Memangnya kenapa kalau kita belum mandi sayang? Apa wajahku berubah menjadi jelek?" Goda Adam
"Mau mandi atau tidak wajahmu memang tetap tampan sayang tapi tubuhmu sedikit kecut" Nesa melepaskan tawanya yang tertahan tadi
"Tapi kamu suka kan dengan aroma tubuhku? Waktu aku sadar dari koma saja,kamu sampai mencium ketiakku" Goda Adam lagi dan ikut tertawa
"Hentikan sayang" Wajah Nesa pun memerah karena malu
"Kita sarapan di rumah saja. Lagipula nanti papa dan mama mencari kita" Ucapnya kemudian
"Oke baiklah" Adam pun melajukan mobilnya menuju rumah sampai mobil itu tiba di halaman rumahnya
"Kalian darimana?" Sintia langsung melempar pertanyaan pada Adam dan Nesa
"Dari rumah sakit ma" Jawab Adam
"Siapa yang sakit?" Surya menyela
__ADS_1
"Tidak ada yang sakit pa. Kita hanya memeriksakan kandungan Nesa karena tadi dia mengalami flek" Adam menjawabnya lagi
"Hah kenapa bisa begitu? Bayinya baik-baik saja kan?" Sintia langsung cemas
"Bayinya baik-baik saja ma" Jawab Nesa akhirnya
"Lalu kenapa kamu bisa keluar flek?" Tanya Sintia lagi karena tidak puas
"Mm..." Nesa terlihat bingung untuk menjawabnya
"Tidak apa-apa ma. Kata mama Widia kita hanya perlu membatasi frekuensi berhubungannya saja" Jawab Adam sambil merangkul pundak Nesa
Karena merasa malu,Nesa pun tersenyum dengan agak dipaksa.
"Kamu ada-ada saja Adam. Untuk selanjutnya kamu harus menahan ego kamu demi istri dan calon anakmu" Tegur Sintia kemudian
Adam tersenyum tipis.
"Kita mau sarapan dulu ma. Kasihan bayinya sudah lapar" Adam tampak ingin mengakhiri perbincangannya dengan Sintia dan berlalu dari hadapannya
Setelah sarapan,Adam dan Nesa pun langsung bersiap untuk pergi bekerja. Mereka berdua menghabiskan waktu di tempat kerja mereka masing-masing sampai menjelang malam.
Saat keduanya sudah kembali lagi ke rumah dan akan melakukan makan malam,Sintia terlihat sibuk membantu para pelayan untuk menyiapkan menu makan malam.
"Mama sudah memasak makanan sehat untuk calon cucu mama" Ucap Sintia sambil menata beberapa menu yang di dominasi dengan sayuran dan ikan itu di meja
Adam dan Nesa pun mengambil tempat duduk mereka. Tak lama kemudian Surya yang baru keluar dari kamarnya juga ikut bergabung.
"Sepertinya menu makan malam kita hari ini sangat spesial ya" Ucap Surya sambil menyendok nasi ke dalam piringnya
"Papa pakai lauk ini saja. Ini bagus untuk kesehatan jantung papa" Nesa menambahkan ikan salmon dan tumis brokoli ke dalam piring Surya
"Tidak usah terlalu mencemaskan kesehatan papa. Sejak menjalani operasi,papa sudah tidak pernah bermasalah lagi dengan jantung papa" Balas Surya sambil tersenyum
"Kamu harus perhatikan menu makanmu juga Nesa agar bayi kamu tumbuh sehat" Timpal Sintia dengan nada yang agak menegur
"Iya ma" Lirih Nesa
"Makan yang banyak sayang. Bayi kita bukan cuma satu tapi tiga" Adam yang sedari tadi diam akhirnya bersuara juga dan menunjukkan perhatiannya pada Nesa
"Iya sayang" Mereka pun menikmati makan malam mereka tanpa bersuara hingga satu persatu dari mereka menghabiskan makanannya
__ADS_1
"Nesa,apa pekerjaanmu di rumah sakit sangat melelahkan?" Tanya Sintia tiba-tiba sambil mengusap ujung bibirnya dengan tisu
"Lumayan ma. Nesa kan masih dokter junior. Jadi ada jam-jam dimana Nesa harus berlarian mengambil rekam medis pasien,mengambil obat dan memeriksa pasien satu persatu" Jawab Nesa
"Hah benarkah seperti itu?" Sintia tampak terkejut
"Iya. Apalagi Nesa disana bekerja dengan profesional walaupun Nesa sendiri dikenal sebagai istri dari pemilik rumah sakit" Jawabnya lagi
"Kamu ini bagaimana Adam? Apa kamu tidak bisa meminta pada direktur rumah sakit agar pekerjaan Nesa tidak seberat itu? Apalagi Nesa bekerja disana kan hanya untuk mencari pengalaman saja sebagai syarat mendaftar ke program spesialis" Sintia beralih menegur Adam
"Aku tidak pernah bersikap pilih kasih ma. Aku selalu bersikap profesional pada semua bawahanku di kantor sekali pun itu orang terdekatku. Dan itu juga yang aku terapkan pada istriku" Bantah Adam
"Tapi saat ini istrimu sedang hamil" Sanggah Sintia
"Itu masih akan aku pikirkan ma" Balas Adam
"Maksud kamu apa sayang?" Tanya Nesa tidak mengerti
"Mungkin saja aku akan menyuruh kamu untuk cuti sementara sampai kamu melahirkan nanti" Jawab Adam
"Mama setuju Adam. Bagaimana pun juga Nesa pernah keguguran. Itu akan beresiko jika Nesa tetap memaksakan untuk bekerja" Sintia menimpali
"Tapi kandungan aku akan baik-baik saja. Mama bilang aku juga masih bisa bekerja asal jangan terlalu lelah" Ujar Nesa dengan nada yang sedikit melemah
"Sebaiknya kamu ikuti saja apa kata suami mu Nesa. Itu demi kamu dan anakmu juga. Kamu tidak ingin kan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi" Sintia terdengar protes
"Tentu saja aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan bayiku. Aku ingin membuat mas Adam bahagia dengan memberikannya anak yang selama ini dia nanti-nantikan" Nesa tertunduk sedih
"Sudahlah ma. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan. Dan pastinya Nesa akan sangat hati-hati menjaga kandungannya" Surya menengahi
"Tidak usah kamu masukkan ke hati ucapan mama tadi ya. Mama begitu karena dia sangat peduli dengan kamu dan bayi kamu" Sambung Surya
"Iya. Mama sangat bahagia saat mengetahui kamu hamil anak kembar. Mama pernah kehilangan bayi kembar mama tapi sekarang akan tergantikan oleh cucu yang kembar juga" Ucap Sintia setuju
"Iya ma Nesa mengerti"
"Ya sudah aku dan Nesa ke kamar dulu. Sepertinya Nesa sudah lelah" Ucap Adam akhirnya
Adam pun mengajak Nesa untuk pergi ke kamarnya karena Adam melihat Nesa sudah merasa tidak nyaman dengan ucapan Sintia tadi. Adam masih ingin membujuk Nesa untuk melarangnya bekerja tanpa harus membuatnya sedih.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan cuma dibaca ya tapi like juga. Terimakasih banyak 😊