Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Pertemuan Yang Tak Disangka-sangka


__ADS_3

Adam menyusuri pantai menjauh dari gemerlap pesta. Dia membuka sepatu dan jasnya sambil berjalan dibibir pantai seolah ingin merasakan halusnya pasir putih disana. Adam juga menggulung celananya sampai kelutut agar tidak basah terkena ombak yang menyapu kakinya.


"Apa yang akan anda lakukan disini Tuan? Bukankah seharusnya anda kembali ke kamar untuk beristirahat?" Tanya Sekretaris Bian sambil mengikuti Adam dari belakang


"Apa kau benar-benar percaya aku sakit?" Adam bertanya balik


"Jadi yang tadi anda katakan pada Tuan Anton itu hanyalah sebuah alasan agar anda bisa keluar dari pesta?" Tebak Sekretaris Bian


"Tentu saja" Jawab Adam cepat


"Apa anda tidak menikmati pestanya?" Tanyanya lagi sambil berdiri di hadapan Adam. Adam pun menghentikan langkahnya


"Entahlah,aku hanya bosan saja" Jawab Adam ringan


"Tapi sepertinya puteri Tuan Anton sangat menyukai anda Tuan" Goda Sekretaris Bian sambil tersenyum tipis


"Benarkah?" Adam terlihat tidak peduli,dia melanjutkan langkahnya menjauhi Sekretaris Bian


"Bukankah dia gadis yang sangat cantik?" Goda Sekretaris Bian lagi


"Aku bahkan tidak menyadari jika dia cantik" Jawab Adam sambil tersenyum miring


"Mungkin saat anda melihatnya tadi,anda sambil melamun Tuan. Saya saja terkesima melihat kecantikan Nona Sabrina" Seloroh Sekretaris Bian


Lagi-lagi Adam tidak peduli. Dia sungguh tidak tertarik untuk membicarakan Sabrina. Adam duduk disalah satu kursi dipinggir pantai sambil memandangi lautan dalam kegelapan.


"Banyak gadis cantik didunia ini Bian tapi apakah ada gadis yang bisa mencintaiku dengan tulus dan bisa menerima segala kekuranganku?" Ucap Adam dengan nada yang merendah. Kali ini kata-kata Adam seolah menunjukkan sisi lembutnya,jauh dari kesan dingin yang selama ini dia tunjukkan pada semua bawahannya


Sekretaris Bian tertegun. Dia hampir tak percaya bos yang selama ini dia kenal tegas dan cuek bisa menjelma menjadi sosok yang melankokis. Dibalik segala kesempurnaan seorang Adam Nugraha,ada ruang hampa di hatinya yang belum terisi,yaitu cinta.


"Bagaimana anda bisa tahu ada gadis yang bisa mencintai anda dengan tulus jika anda tidak pernah memberi kesempatan pada mereka yang ingin dekat dengan anda?" Tanya Sekretaris Bian akhirnya


"Entahlah aku juga tidak tahu. Belum ada perempuan yang bisa menarikku untuk masuk ke dalam hidupnya" Jawab Adam bimbang


"Kau kembali saja ke hotel. Aku masih ingin disini" Pinta Adam kemudian


"Anda yakin Tuan?" Tanya Sekretaris Bian memastikan


"Pergilah. Aku bukan anak kecil yang harus selalu kau ikuti" Perintah Adam lagi


"Baik Tuan. Jika anda butuh sesuatu segera hubungi saya" Ucap sekretaris Bian kemudian


Sekretaris Bian pun pergi meninggalkan Adam sendiri menuju kamar hotel.


Setelah cukup lama duduk,Adam melangkahkan kakinya lagi berjalan ke bibir pantai. Adam berdiri disana menikmati suara deburan ombak dan dinginnya angin malam.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba saja dia memegangi kepalanya dan meringis kesakitan.


"Aauuww...." Adam meringis agak keras


Dari jarak beberapa meter dari Adam,Nesa tampak terkejut sambil menutup mulutnya yang terbuka dengan spontan. Ternyata kaleng minuman yang dilemparnya mengenai kepala seseorang.


Buru-buru Nesa berlari ke arah sumber suara. Sedangkan Adam masih tertunduk menahan sakit dikepalanya.


"Ma-maaf Tuan saya tidak sengaja. Saya tidak tahu jika disini ada orang" Nesa panik dengan suara yang terbata


Sontak saja Adam mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dalam keremangan, perlahan Adam menatap wajah gadis yang sedang meminta maaf kepadanya.


Tiba-tiba mata Adam melebar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Adam bergeming sambil terus menatap wajah Nesa


"Apa Tuan baik-baik saja?" Tanya Nesa khawatir


"*Benarkah dia...? D*ia ada di depan mataku sekarang" Adam benar-benar tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Gadis yang selama ini dia kagumi dari kejauhan,sekarang berdiri dihadapannya


"Tuan,apa anda baik-baik saja?" Nesa mengulanginya lagi


"I-iya" Untuk pertama kalinya,Adam bicara sangat gugup di depan perempuan


"Mari kita kesana Tuan. Sepertinya anda harus duduk dulu" Ucap Nesa sopan. Nesa membimbing Adam menuju kursi yang terletak dipinggir pantai


"Apa masih sakit?" Tanya Nesa


"Maaf Tuan biar saya lihat dulu. Saya ingin memastikan ada luka robek atau tidak" Tanpa sadar Nesa menyentuh kepala Adam


Adam semakin gugup. Dia merasakan panas dingin disekujur tubuhnya. Jarak mereka semakin dekat dan untuk pertama kalinya juga Adam membiarkan seorang gadis menyentuhnya.


Nesa terus menjelajahi kepala Adam.


"Sepertinya hanya bengkak kecil. Apa perlu saya ambilkan kompres?" Tanya Nesa


"Tidak perlu,nanti saja" Jawab Adam


"Sekali lagi saya minta maaf" Ucap Nesa memohon


"Apa anda sedang patah hati nona,sampai-sampai anda melempar benda itu dan mengenai kepalaku?" Tanya Adam tiba-tiba


Seketika Nesa tertawa terbahak tanpa bisa menahannya.


"Kenapa malah tertawa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" Tanya Adam lagi sambil menatap Nesa dengan heran


"Tidak Tuan. Pertanyaan anda sangat lucu" Jawab Nesa disela tawanya

__ADS_1


Adam terus memandangi wajah Nesa. Gadis yang selama ini selalu dilihatnya dari kejauhan kini ada di depan matanya. Wajah Nesa terlihat lebih cantik jika dilihat dari dekat.


"Apa wajahku ada yang aneh sampai kamu memandangiku seperti itu?" Tanya Nesa yang menyadari Adam sedang memandanginya


"Tidak. Kita hanya belum berkenalan saja" Jawab Adam berdalih


"Jangan panggil aku Tuan lagi. Namaku Adam" Tangan Adam terulur pada Nesa.


Sungguh merupakan keajaiban. Selama ini Adam tidak pernah tertarik untuk berkenalan dengan perempuan lebih dulu. Tapi kali ini dia sendiri yang memperkenalkan dirinya pada perempuan yang sudah tidak sengaja membuatnya terluka.


"Nesa" Sambil tersenyum Nesa membalas uluran tangan Adam


Mereka saling tatap sambil tersenyum. Setelah beberapa saat mereka saling melepas satu sama lain dan memalingkan wajah.


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Suara Adam memecah keheningan diantara mereka


Seketika Nesa menatap Adam sambil mencoba mencerna pertanyaannya.


"Maksudku,apa kau asli orang sini?" Adam mengganti pertanyaannya


"Bukan. Aku dari Jakarta" Jawab Nesa jujur


"Lalu apa yang membuatmu jauh-jauh datang kesnini?" Tanya Adam penasaran


"Aku kabur dari pernikahanku" Jawab Nesa dengan raut wajah serius


Sontak saja Adam terkejut. Lalu ditatapnya wajah Nesa dalam-dalam.


"Hey,kenapa dengan wajahmu itu? Aku hanya bercanda" Nesa terkekeh melihat ekspresi Adam


Sejurus kemudian wajah Adam berubah lagi sambil menatap wajah Nesa yang sedang tertawa dengan renyahnya.


"Anda sendiri? Sepertinya anda sedang dari pesta?" Nesa memperhatikan penampilan Adam dari atas sampai bawah


"Apa anda yang sedang mengadakan pesta disana?" Nesa bertanya lagi sambil menunjuk kearah tempat pesta


"Yang mempunyai pesta itu adalah temanku. Aku hanya sebagai tamu undangan saja" Jawab Adam


"Tapi sepertinya anda kabur dari pesta itu?" Nesa menutup mulutnya yang sedang menahan tawa


Dipandanginya lagi wajah Nesa yang terlihat menggemaskan saat sedang menahan tawa. Entah kenapa ada perasaan asing yang tiba-tiba menelusup ke dalam hatinya.


"Aku hanya bosan saja,tidak ada perempuan yang mendampingiku" Ucap Adam gamblang


Nesa menghentikan tawanya,menatap Adam dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2