Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Nasehat Papa


__ADS_3

H-3 menjelang pernikahan,cinta mereka harus di uji karena selama 3 hari itu mereka tidak diperbolehkan untuk bertemu. Adat dari keluarga keduanya yang mengharuskan mereka melakukan ritual tersebut. Mau tidak mau mereka mengikuti aturan itu. Hari-hari mereka terasa begitu membosankan karena hanya mengurung diri saja di kamar. Terutama Adam,dia mengutuk aturan yang menurutnya tidak masuk akal itu.


Jika Adam sangat kacau menghadapi pingitannya,Nesa justru lebih santai. Nesa juga sangat merindukan Adam tapi dia lebih bisa menjaga emosinya. Nesa lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan perawatan pada wajah dan tubuhnya di rumah agar di hari pernikahannya nanti,dia terlihat lebih cantik dan segar.


Seperti hari ini,Nesa berendam di bathup setelah tadi dia melakukan luluran pada tubuhnya di bantu oleh bi Minah yang sedang menggosok tubuh Nesa sekarang. Samar-samar Nesa mendengar ponselnya sedang berdering.


"Bi ambilkan ponsel ku. Sepertinya ada yang menelfon" Pinta Nesa


"Baik non" Bi Minah menghentikan tugasnya dan mengambil ponsel Nesa yang tergeletak di atas kasur


Setelah melihat siapa yang menelfon,Nesa menyuruh bi Minah untuk keluar dari kamar mandi.


"Bibi keluar saja. Aku bisa melanjutkan sendiri nanti"


"Iya non" Bi Minah pun keluar dari kamar Nesa


Nesa lalu mengangkat panggilan video dari Adam. Tampaklah Adam sedang berbaring di kasurnya


"Sayang,kamu sedang apa?" Tanya Adam


"Aku lagi berendam sayang. Selesai luluran tadi" Jawab Nesa


"Sayang,kamu menambah kekacauan ku saja" Omel Adam


"Maksud kamu apa sayang,aku tidak mengerti?"


"Aku semakin tidak bisa menahan diri melihat mu seperti itu. Kamu memancing hasrat ku saja" Jawab Adam dengan gamblang


"Sabar sayang,tinggal dua hari lagi" Balasnya santai


Adam justru terdengar sedang berdecak kesal.


"Sayang,aku bilas tubuh ku dulu ya.Nanti aku telfon balik" Ucap Nesa kemudian


"Jangan. Aku ingin kamu tetap berada di dalam bathup" Pinta Adam dengan tegas


"Tapi aku bisa kedinginan sayang" Bantah Nesa


"Sebentar lagi. Aku masih ingin melihatnya"

__ADS_1


"Melihat apa?"


"Melihat tubuh polos mu" Jawab Adam sambil tersenyum nakal


"Dasar mesum" Maki Nesa


"Sayang kamu tega ya melihat ku menderita seperti ini" Wajah Adam berubah kesal


"Kamu akan semakin menderita jika melihat tubuh ku tanpa bisa kamu sentuh" Komentar Nesa


"Cepatlah. Tidak usah banyak beralasan" Pinta Adam lagi seolah tidak ingin dibantah


"Tidak" Bentak Nesa


"Awas saja ya..."


"Ah sudahlah. Aku mandi dulu" Nesa langsung memutus sambungan telfonnya tanpa memperdulikan Adam


Setelah mandi,Nesa memakai baju rumahan dan duduk santai di sofa kamar. Lalu pintu kamar terdengar ada yang mengetuk.


"Masuk saja" Nesa mempersilahkan dan ternyata yang datang adalah papanya


"Tidak ada. Papa hanya merindukan puteri papa" Jawab Gunawan sambil duduk di sebelah Nesa


"Papa seperti tidak bertemu dengan ku sebulan saja" Balas Nesa sambil tertawa kecil


"Sebentar lagi kamu akan menikah. Itu artinya kamu akan menjadi seorang istri dan akan jarang bertemu dengan papa" Ujar Gunawan


"Kenapa begitu?" Tanya Nesa


"Kamu akan ikut bersama suami mu" Jawab Gunawan


"Aku akan tetap disini. Aku tidak akan kemana-mana" Protes Nesa


"Kamu tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Kamu harus ikuti apapun keputusan suami mu nanti" Tegur Gunawan


"Kalau pun mas Adam akan membawa ku untuk tinggal di rumahnya,aku yakin mas Adam tidak akan melarang ku untuk sering-sering menginap disini. Papa tidak usah cemas" Pikirnya


"Ya. Mudah-mudahan saja begitu. Papa kan juga masih bisa berkunjung kesana" Gunawan menimpali

__ADS_1


"Kadang aku ragu pa. Apa aku bisa menjadi istrinya mas Adam di umur aku yang masih muda. Aku tidak tahu bagaimana kehidupan orang setelah menikah" Ucap Nesa gamang


"Pernikahan memang tidak akan mudah untuk kalian jalani. Akan banyak ujian di dalamnya. Kamu memang masih muda tapi Adam kan sudah dewasa. Papa yakin dia bisa mengimbangi kamu"


"Mas Adam sangat memanjakan ku pa. Dia juga tidak banyak menuntut. Tapi sifat pencemburunya kadang membuat ku tidak bisa sabar menghadapinya" Ucap Nesa sambil tersenyum masam


"Itu lah kekurangannya. Sesempurna apa pun Adam,dia tetap lah manusia biasa. Kamu hanya perlu mengalah jika dia sedang cemburu" Gunawan menasehati


"Maaf jika selama ini aku banyak salah sama papa. Aku sempat membuat papa marah dan kecewa. Dulu aku sempat kabur dari pernikahan,tapi sebentar lagi aku benar-benar akan menikah dengan mas Adam. Bukan karena perjodohan lagi tapi karena kita saling mencintai" Wajah Nesa tampak berseri-seri saat mengatakannya


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Pada akhirnya kalian tetap berjodoh kan"


"Iya pa. Aku sangat bahagia" Ucap Nesa lagi sambil memeluk Gunawan dengan perasaan haru


"Jadilah istri yang baik. Hormati suami dan mertua mu,sebagaimana kamu menghormati papa dan mama. Kamu pasti betah tinggal disana karena mereka orang-orang baik. Mereka akan memperlakukan kamu seperti puterinya sendiri" Gunawan kembali menasehati sambil mengelus kepala Nesa


"Sebaik apa pun mereka,tetap saja aku masih merasa sungkan pa"


"Itu hanya masalah waktu. Nanti kamu juga akan terbiasa. Papa sudah tenang sekarang karena puteri papa satu-satunya akan menikah dengan laki-laki yang papa harapkan. Kamu tidak akan merasa kekurangan apa pun. Adam bisa memenuhi segala kebutuhan mu"


"Tapi menikah kan bukan hanya kebutuhan materi saja pa"


"Iya papa paham. Selebihnya kamu yang bisa menilai Adam seperti apa. Kalau menurut pengamatan papa selama ini,dia laki-laki yang pekerja keras dan bertanggung jawab. Sepertinya dia juga laki-laki yang setia" Komentar Gunawan


"Kenapa sepertinya pa. Setia itu harus. Aku bahkan tidak akan segan-segan untuk meninggalkannya jika dia tidak setia"


"Kata meninggalkan tidak semudah yang kamu bayangkan Nesa. Mungkin kata itu gampang saja kamu ucapkan jika kalian hanya berpacaran tapi jika kalian sudah menikah tentu tidak akan semudah itu,apalagi jika kalian sudah memiliki anak nanti"


"Kenapa tidak. Aku bisa hidup mandiri tanpa mas Adam" Ujar Nesa dengan bangganya


"Papa yakin dia laki-laki yang setia karena apa pun masalah kalian yang kemarin,dia tetap kembali pada kamu bukan?"


Nesa mengangguk dalam pelukan Gunawan.


"Satu lagi pesan papa Nesa. Setelah menikah nanti,kamu tidak bisa bersikap semau kamu. Apapun yang kamu lakukan harus seizin suami mu. Kamu juga harus selalu menjaga nama besar suami mu. Adam bukan laki-laki sembarangan. Teman-temannya orang penting semua. Jadi jaga sikap kamu. Apa kamu mengerti?"


"Ya pa aku mengerti. Aku akan selalu mengingat pesan papa. Terimakasih banyak atas nasehat-nasehatnya"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2