Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Perginya Sabrina


__ADS_3

Seperti janjinya,Adam pulang lebih cepat dari biasanya. Hingga Nesa bisa makan malam di rumah bersama suaminya itu. Adam tidak memberitahu Nesa tentang kepulangannya. Adam masuk ke dalam kamar tanpa mengetuknya. Adam melihat Nesa duduk di atas kasur sambil fokus menatap ponsel yang dipegangnya. Adam membuka jasnya dan menaruhnya di sofa tapi Nesa belum juga menyadari keberadaannya membuat Adam gemas dan mendekat ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan,sampai-sampai kamu tidak menyadari suami mu pulang?" Tanya Adam sambil melihat ke arah ponsel Nesa


"Sayang..." Nesa agak terkejut dan langsung menjatuhkan ponsel yang dipegangnya


"Maaf aku terlalu fokus tadi" Ucapnya lagi


Adam mengambil ponsel Nesa dan melihat sebuah film yang masih terputar disana.


"Selain bermain piano,Apa ini salah satu hoby mu juga?" Tanya Adam ingin tahu


"Iya. Aku suka sekali menonton drama korea karena aktor laki-lakinya sangat tampan dan ceritanya seru" Jawab Nesa terus terang,wajahnya tampak antusias saat mengatakannya


"Benarkah?" Adam menjatuhkan kepalanya di paha Nesa


Nesa mengangguk tapi dengan raut wajah yang agak takut.


"Kalau begitu mulai besok dan seterusnya kamu tidak boleh menonton nya lagi" Larang Adam


Ya benar saja,rupanya Nesa sudah salah bicara. Dia agaknya lupa dengan sifat cemburu suaminya yang tidak pandang bulu itu.


"Tapi suami ku tentu lebih tampan" Ucapnya merayu Adam sambil berusaha tersenyum


"Ya sudah kamu pandangi saja wajah suami mu ini. Untuk apa masih menonton film itu jika kamu sudah memiliki suami yang lebih tampan" Pintanya dengan sedikit merajuk


"Ah iya. Mulai besok aku tidak akan menontonnya lagi" Jawabnya pura-pura setuju


"Jika kamu menurut begini aku jadi gemas" Adam mencium perut Nesa dan mengusal wajahnya disana hingga membuat Nesa terkikik geli


"Sayang hentikan. Geli"


"Kalau begitu tundukkan kepala mu" Adam menghentikan aksinya dan beralih pada keinginan yang lain


Nesa yang mengerti hanya menurut saja dengan permintaan Adam. Adam mencium bibir Nesa dengan cepat saat wajah Nesa sudah sangat dekat dengan wajahnya. Saat Nesa hendak mengangkat wajahnya kembali,Adam justru menahan tengkuk Nesa dan memperdalam ciumannya. Saat Nesa mulai kehabisan nafas,Adam melepasnya.


"Aku mandi dulu" Adam beranjak dan membuka seluruh pakaiannya di depan Nesa tanpa malu. Lalu berjalan ke arah kamar mandi


Nesa memunguti pakaian Adam dan memasukkannya ke keranjang cucian.


Adam keluar dengan rambut yang masih basah. Nesa mengambil handuk kecil dan mengeringkannya.

__ADS_1


"Sayang,aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa melakukannya sendiri" Adam agak terpesona dengan sikap Nesa


"Dulu kamu sering mengeringkan rambut ku. Sekarang biar aku yang melakukannya. Itu sudah menjadi kewajibanku kan" Omelnya sambil terus mengusap handuknya pada rambut Adam


Lagi-lagi Adam dibuat gemas dengan perlakuan Nesa. Semenjak menjadi istrinya,Nesa bersikap lebih manis dan sangat memperhatikannya. Adam melingkarkan tangannya di pinggang Nesa,lalu mengusal wajahnya lagi di dada Nesa. Nesa kembali dibuat beli hingga Nesa terjatuh di pangkuan Adam.


"Sayang hentikan,rambut mu belum kering" Protesnya


"Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu sayang" Adam mencium pipi Nesa berulang kali


"Tapi kamu pernah membenci ku" Bantah Nesa dengan raut wajah yang dibuat cemberut


"Itu kesalahan terbesar ku"


"Kalau begitu banyak sekali ya kesalahan mu terhadap ku" Gerutu Nesa tanpa menoleh pada Adam, seolah sibuk berbicara dengan dirinya sendiri


"Kalau begitu aku siap dihukum apa saja sayang" Balas Adam sambil terus memeluk pinggang Nesa


"Aku tidak pernah bisa menghukum mu. Justru aku yang mendapatkan hukuman" Balasnya kesal


"Benarkah?" Tanya Adam penasaran


"Maafkan aku" Adam mendaratkan ciumannya di bibir Nesa


"Aku sangat takut. Aku pikir aku akan kehilangan kamu untuk selamanya" Mata Nesa mulai memanas


"Kamu tidak akan pernah kehilangan aku"


"Berjanjilah tidak akan pernah menduakanku juga. Jika itu terjadi,aku akan meninggalkanmu saat itu juga" Pinta Nesa dengan sedikit ancaman


"Memangnya kamu bisa hidup sendiri tanpa aku?" Bukannya menjawab serius,Adam malah melempar candaan bernada sombong


"Kenapa tidak? Aku tidak akan jadi gembel tanpa kamu" Sanggah Nesa


"Iya aku yakin kamu bisa hidup tanpa hartaku tapi kamu tidak mungkin bisa hidup tanpa diriku" Adam tidak mau kalah


"Kamu mengancamku? Apa itu artinya kamu tidak bisa menjaminkan kesetiaan padaku?" Nesa mulai merajuk


Adam tergelak. Wajah Nesa terlihat semakin menggemaskan.


"Aku kan sudah pernah mengatakan jika aku hanya menginginkan kamu. Aku tidak bisa tertarik pada perempuan manapun. Tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali kematian" Bujuk Adam dengan kalimat yang menusuk

__ADS_1


"Jangan bicara tentang perpisahan. Aku ingin terus bersama kamu,selamanya" Nesa mengecup kening Adam dan memeluknya dengan sangat erat. Seketika itu juga hati Adam merasa begitu damai


...----------------...


Di tempat lain. Sekretaris Bian datang ke Bandara menyusul Sabrina setelah Sabrina memberitahu jika dirinya akan berangkat ke singapura untuk melanjutkan studi S2 nya disana. Sepulang dari kantor tadi,Sekretaris Bian langsung pergi menyusul.


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?" Tanya Sekretaris Bian tiba-tiba. Berdiri di samping Sabrina yang sedang duduk menunggu keberangkatannya


Sabrina mendongakkan wajahnya pada Sekretaris Bian.


"Iya" Jawabnya singkat


"Kamu pergi karena ingin melupakan Tuan Adam kan?" Tanyanya lagi dengan curiga


"Kamu bicara apa? Keputusan ku untuk melanjutkan studi ku sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia" Jawab Sabrina sambil tertawa kecil


"Sebenarnya itu impian ku sejak lama. Tapi waktu itu aku bertemu dengan mas Adam dan aku menunda melanjutkan studi ku. Aku menjadi fokus untuk mendekatinya dan lupa dengan impianku. Tapi sekarang tidak ada alasan lagi untuk menunda studiku" Tambah Sabrina menjelaskan alasannya


"Kalau begitu semoga kamu sukses dengan pendidikanmu" Ujar Sekretaris Bian akhirnya


"Ya kamu juga" Balas Sabrina


Tiba-tiba suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Sesekali Sekretaris Bian melirik Sabrina dengan ekor matanya. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak berani karena dia sendiri masih bingung. Perasaan yang selama ini mengusik pikirannya,dia pikir hanya rasa suka saja bukan cinta. Akhirnya Sekretaris Bian mengurungkan niatnya,sampai dia yakin dengan perasaannya itu. Lagi pula Sabrina juga tidak pernah menunjukkan perasaan suka padanya.


"Sepertinya aku sudah harus pergi. Pesawat ku akan take off" Sabrina beranjak dari duduknya dan berpamitan pada Sekretaris Bian


"Hati-hati. Selamat sampai ke tempat tujuan"


"Terimakasih dan sampai berjumpa kembali Tuan Fabian Wijaya" Balas Sabrina sambil tersenyum cerah


Sekretaris Bian tercenung mendengar Sabrina menyebut nama lengkapnya.


"Darimana kamu mengetahui nama lengkapku?" Tanya Sekretaris Bian akhirnya


"Itu bukan hal yang sulit bagiku" Jawab Sabrina penuh misteri. Lalu Sabrina melangkahkan kakinya meninggalkan Sekretaris Bian disana


Perginya Sabrina,berakhir pula usahanya untuk mendekati Adam. Sekarang tinggallah perasaan Sekretaris Bian yang dibuat terombang ambing tanpa arah.


Bersambung...


Loh kenapa sabrina malah pergi ya dan gak ngotot ngejar Adam lagi? sebenarnya author hadirkan sabrina bukan sebagai pelakor tapi untuk menjadi jodohnya sekretaris Bian.

__ADS_1


__ADS_2