
Nesa melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Dea. Sepertinya Dea masih hanyut dalam ceritanya. Karena Dea belum juga tersadar,akhirnya Nesa menepuk bahu Dea dengan agak keras.
"Eh iya. Kenapa?" Dea terkesiap sambil berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya
"Aku yang bercerita kenapa kamu yang melamun?" Nesa memalingkan wajahnya acuh
"Aku terharu..." Ucap Dea gemas
"Kenapa sih kamu harus menolak cinta mas Firman?" Tanya Dea protes
"Karena aku tidak mencintainya Dea!" Seru Nesa
"Apa dia tampan?" Tanya Dea kemudian
"Tampan" Jawab Nesa
"Dia kaya juga kan?" Tanyanya lagi
"Hm..." Singkatnya
"Astaga Nesa. Kamu itu bodoh atau apa sih? ada laki-laki baik,mapan dan tampan kamu sia-siakan begitu saja. Paket lengkap Nesa" Dea terlihat sangat menyayangkan sikap Nesa
"Entahlah" Ucap Nesa sambil mengangkat kedua bahunya
"Aku hanya mau menikah dengan laki-laki yang bisa membuat jantungku berdetak dengan kencang" Nesa berkelakar sambil tertawa kecil
Dea memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Nesa.
"Kalau begitu mas Firman buat aku saja" Dea ikut berseloroh sambil tertawa
"Boleh saja sih tapi kalau mas Firmannya mau" Nesa tergelak seolah itu hal yang mustahil terjadi
Dea mencibikkan bibirnya dengan raut wajah yang dibuat kesal.
"Baiklah. Nanti kalau mas Firman datang kesini,aku perkenalkan sama kamu" Ujar Nesa seolah ingin meralat ucapannya yang tadi
Mata Dea membuat dan tersenyum senang.
"Benarkah?" Tanya Dea memastikan
"Tentu saja" Jawab Nesa
"Sekarang sudah tidak kesal lagi kan?" Goda Nesa
"Hm.."
"Apa itu kalung pemberian mas Firman?" Tanya Dea tiba-tiba setelah melihat kalung baru yang tidak pernah Nesa pakai sebelumnya
__ADS_1
Nesa menyentuh benda itu. Kalung emas berliontin inisial namanya yang melingkar indah di lehernya yang putih.
"Tebakanmu benar Dea" Nesa menundukkan wajahnya sambil tersipu malu
"So sweet sekali mas Firman. Kamu sudah menolak cintanya tapi dia masih bersikap romantis" Dea benar-benar gemas dengan sikap Firman yang belum dikenalnya itu
"Mungkin mas Firman hanya ingin memberiku kenang-kenangan" Komentar Nesa
"Kenang-kenangan sekaligus tanda cinta" Goda Dea
Saking asyiknya bercerita mereka sampai lupa kalau hari sudah mulai sore.
"Sudah sore nih. Ayo kita pulang" Ajak Nesa sambil melihat jam di tangannya
"Baiklah" Ucap Dea setuju
Nesa mengambil tasnya dan beranjak dari tempat duduknya. Lalu mereka keluar dari Cafe secara beriringan.
...----------------...
Rumah megah berlantai dua bercat putih dengan aksen warna kuning keemasan dibagian sudut-sudut gedung,membuat rumah itu terlihat semakin mewah dan elegant. Pilar-pilar kokoh nan tinggi sebagai penyangganya dengan taman yang luas dibagian depan rumah. Taman itu memiliki pohon-pohon rindang yang membuatnya terlihat sejuk bagi siapa saja yang melihatnya. Disamping rumah juga terdapat sebuah garasi yang tak kalah luas dengan mobil-mobil mewah yang berjejer rapi seakan mempertegas status sosial sang pemilik rumah.
Mobil mewah berwarna hitam memasuki gerbang utama rumah itu. Mobil berhenti tepat di halaman depan rumah. Sopir keluar membukakan pintu. Kemudian Adam keluar dari balik pintu mobil yang dibuka oleh sopir tadi dan disusul oleh laki-laki muda yang posturnya tak kalah gagah dari bosnya. Laki-laki muda itu adalah Sekretaris pribadinya Adam yang biasa dipanggil Sekretaris Bian.
Adam masuk kedalam rumah disambut oleh Pak Ngah. Pak Ngah membungkukkan badannya memberi hormat pada Adam dan Sekretaris Bian. Lalu Adam membuka sepatunya dan diganti sandal rumah oleh Pak Ngah.
"Saya akan siapkan teh hijau anda Tuan" Kata Pak Ngah sambil membawa sepatu Adam dan meletakkan di tempatnya
"Bawa saja keruang kerjaku" Perintah Adam
"Baik Tuan" Pak Ngah berlalu menuju dapur untuk membuat teh hijau yang biasa diminum Adam pada waktu pagi dan malam hari. Adam tidak suka kopi ataupun minuman yang bersoda karena dia sangat memperhatikan kesehatannya.
Adam membolak balikkan dokumen yang tadi dibawa oleh Sekretaris Bian. Dia memeriksanya dengan teliti, lalu menandatanganinya.
Tak lama kemudian,terdengar ketokan di pintu ruang kerjanya.
"Masuk" Adam mempersilahkan dengan suara beratnya
Ternyata Pak Ngah dengan membawa nampan berisi segelas teh hijau kesukaan Adam.
"Ini teh hijuanya Tuan" Pak Ngah meletakkannya di meja kerja Adam
"Hm..." Jawab Adam yang masih sibuk dengan pekerjaannya tanpa menoleh pada Pak Ngah
Tanpa banyak bicara Pak Ngah berlalu meninggalkan ruang kerja Adam sambil tersenyum pada Sekretaris Bian.
Adam meneguk minumannya. Tapi tiba-tiba saja Surya ( papanya ) masuk ke dalam ruang kerja Adam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Apa kau sedang sibuk?" Tanya Surya sambil mendekati Adam
"Tidak" Jawab Adam
"Ada apa papa kemari?" Adam bertanya balik
"Ada yang ingin papa bicarakan denganmu" Jawab Surya dengan raut wajah yang sulit dibaca
Karena sepertinya topik yang ingin Surya bicarakan dengannya adalah suatu hal yang serius,akhirnya Adam menyuruh Sekretaris Bian pulang.
"Kau boleh pulang Bian. Besok kita lanjutkan saja di kantor" Ujar Adam sambil menyodorkan dokumen yang sudah dia tanda tangani tadi pada Sekretaris Bian
Sekretaris Bian yang sedari tadi berdiri mematung akhirnya undur diri sambil membungkukkan badanya pada Adam.
"Baik Tuan muda. Selamat malam" Ucap Sekretaris Bian akhirnya
"Selamat malam Tuan Surya" Sekretaris Bian kembali membungkukkan badannya pada Surya
"Selamat malam Sekretaris Bian" Balas Surya
Sekretaris Bian pun berlalu meninggalkan ruang kerja Adam.
"Katakan apa yang ingin papa bicarakan padaku" Adam masih duduk di kursinya
Surya mendudukkan tubuhnya di sofa sambil menyilangkan kakinya.
"Kapan kamu akan menikah?" Tanya Surya tanpa basa basi
Seketika wajah Adam berubah mendengar pertanyaan Surya. Dia agak sedikit terkejut.
"Memangnya kenapa?" Adam malah bertanya balik
"Bukankah umurmu sudah cukup matang untuk membina sebuah keluarga?" Surya menanggapinya denga bertanya juga
Adam mendekat kearah Surya dan juga duduk disampingnya.
"Sejak kapan papa mengurusi masalah pribadiku?" Tanya Adam lagi dengan raut wajah tidak suka
"Apa ada yang salah dengan pertanyaanku? Bukankah wajar orangtua menanyakan hal itu ketika melihat puteranya sudah cukup umur untuk menikah?" Tegas Surya sambil menoleh pada Adam
"Aku belum ingin menikah" Jawab Adam asal
"Tapi papa ingin kamu menikah dalam waktu dekat ini" Ucap Surya lagi seakan tidak ingin dibantah
Adam tercengang tidak percaya dengan kemauan papanya yang tiba-tiba. Dari dulu papanya tidak pernah menyinggung soal pribadi Adam tapi sekarang dia datang dan tiba-tiba saja menyuruhnya untuk menikah dalan waktu dekat. Sungguh aneh menurut Adam.
Bersambung....
__ADS_1