
Gunawan dan Widia masih diam di tempat duduknya masing-masing. Gunawan tampak ketakutan membayangkan reaksi Surya nanti. Sedangkan Widia tampak cemas memikirkan keadaan Nesa.
"Mari kita bersiap ma,kita harus segera memberitahu mas Surya" Suara Gunawan memecah keheningan diantara mereka
Widia menanggapinya hanya dengan tatapan tidak suka.
"Mama tenang saja. Nesa akan baik-baik saja" Ucap Gunawan berusaha menenangkan Widia
"Yang sekarang papa pikirkan bagaimana respon mas Surya nanti. Mudah-mudahan saja mas Surya masih mau memaafkan kita" Ucapnya lagi cemas
Widia mendengus kesal. Dalam situasi seperti ini suaminya itu masih memikirkan orang lain daripada anaknya sendiri.
Setelah bersiap,Gunawan dan Widia pergi menemui Surya di rumahnya. Dengan perasaan gugup,Gunawan masuk kedalam rumah Surya diikuti Widia dibelakangnya.
Pelayan mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu untuk menunggu Surya dan Sintia yang sedang dipanggil. Tak lama kemudian mereka turun dari lantai dua rumahnya menghampiri Gunawan dan Widia.
Melihat Surya dan Sintia yang terlihat bahagia menyambut kedatangannya Gunawan semakin gugup. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya. Kedua tangannya saling mengepal pertanda dia sedang gelisah.
"Hai Gunawan apa yang membawamu datang menemuiku kesini? Bukankah besok kita sudah jadi besan. Apa kau sudah tidak sabar menunggu?" Seloroh Surya sambil tertawa lepas
Gunawan tampak menenangkan dirinya sendiri dan berusaha tersenyum.
"Apa kabar Widia? Sudah lama kita tidak bertemu" Sintia menyapa sambil mejabat tangan Widia
"Baik mbak. Kabar mbak Sintia sendiri bagaimana?" Tanya Widia juga
"Seperti yang kamu lihat,aku baik-baik saja" Jawab Sintia santai
"Syukurlah" Balas Widia
Setelah menyapa Widia singkat,Sintia duduk disamping Surya dengan gaya anggunnya. Surya memicingkan matanya melihat gelagat Gunawan yang tak biasa. Surya curiga dengan kedatangan Gunawan yang tiba-tiba,apalagi dia mengajak serta istrinya,Widia.
"Ada apa Gunawan?" Tanya Surya akhirnya
Surya tak lagi bisa tersenyum. Wajahnya tampak serius memandang ke arah Gunawan.
"Sepertinya sedang terjadi sesuatu yang serius?" Surya bertanya lagi sambil menatap Gunawan tajam
Belum ada yang berani berbicara. Gunawan maupun Widia sama-sama diam. Sedangkan Surya dan Sintia saling memandang satu sama lain. Akhirnya Widia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Surya.
"Biar mama saja pa yang menjelasakan"
__ADS_1
"Ada apa ini?" Surya langsung menyergahnya. Dia tampak bingung sambil menatap Gunawan dan Widia secara bergantian
"Sepertinya pernikahan putera dan puteri kita terancam batal" Ucap Widia tanpa basa basi
"Maafkan kami mas Surya" Gunawan menimpali
"Apa maksud kalian?" Sergah Surya lagi
Sintia menepuk bahu Surya,mencoba menenangkan suaminya itu yang mulai emosi.
"Nesa pergi dari rumah tanpa sepengetahuan kami. Sepertinya Nesa menolak perjodohan ini" Ucap Widia lagi
Sontak saja Sintia kaget. Sedangkan Gunawan menunduk dengan perasaan bersalahnya.
"Bagimana bisa terjadi? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan waktu itu jika Nesa juga menerima perjodohan ini" Surya benar-benar terbakar emosi
"Maafkan aku mas Surya. Waktu itu aku berbohong" Jawab Gunawan dengan perasaan menyesal
"Apa...?" Surya terkesiap
Tiba-tiba Surya meremas dada kirinya dan nafasnya tersengal. Berita yang dibawa Gunawan membuat jantungnya kembali kolaps.
"Papa" Sintia panik dan ikut memegangi dada Surya
Suasana diruangan itu tampak mencekam dan semua terlihat bingung.
"Panggilkan ambulance" Pinta Sintia dengan suara yang meninggi
Widia langsung mengambil ponselnya dan memanggil ambulance. Dengan dibantu oleh Gunawan dan juga Sintia,Widia membaringkan tubuh Surya dilantai. Widia melonggarkan semua pakaian yang dikenakan Surya,lalu menekan-nekan dada kiri surya dengan kedua tangannya yang saling bertumpu.
Widia memberikan pertolongan pertama pada Surya. Walaupun dia bukan dokter spesialis jantung tapi dia sedikit tahu tentang cara penanganan pertama pada orang yang terkena serangan jantung.
Sintia masih terisak sambil memanggil-manggil nama Surya.Tak selang berapa lama,mobil ambulance yang mereka tunggu datang. Mereka semua masuk ke dalam mobil tersebut,ikut mengantar Surya kerumah sakit.
Sesampainya dirumah sakit,Surya langsung mendapatkan tindakan. Mereka menunggu Surya selesai diperiksa dengan perasaan cemas. Gunawan merasa bertanggung jawab atas kejadian ini.
Tiba-tiba saja Sintia mengambil ponselnya. Dia baru saja teringat dengan Adam. Sintia segera memberitahu Adam tentang kondisi papanya melalui telfon.
Adam melangkahkan kakinya dengan setengah berlari menghampiri Sintia yang sedang duduk di kursi koridor rumah sakit sambil menangis. Sekretaris Bian yang juga di ajak ke rumah sakit oleh Adam, mengikutinya dari belakang.
"Mama" Adam berlutut didepan Sintia
__ADS_1
"Adam,papamu Adam?" Sintia sangat ketakutan
"Bagaimana ini bisa terjadi ma?" Adam terlihat panik sambil memeluk Sintia
Sepertinya Adam belum menyadari keberadaan Gunawan dan Widia yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Tangis Sintia semakin pecah dipelukan Adam.
Adam mengurai pelukannya dan menyeka airmata Sintia.
"Mama tenang dulu dan ceritakan padaku kenapa jantung papa bisa kolaps lagi. Apa papa mempunyai masalah yang serius?" Tanya Adam
Sintia memandang kearah Gunawan dan Widia seolah meminta mereka untuk menjelaskan sendiri pada Adam. Adam juga melihat ke arah yang sama dimana Sintia memandang.
Gunawan mendekat,sedangkan Widia bergeming.
"Maafkan saya nak Adam" Ucap Gunawan dengan bibir yang bergetar
"Anda siapa?" Tanya Adam tidak mengenali wajah Gunawan. Mereka intens bertemu waktu Adam masih kecil, tentu ingatan Adam sudah memudar
Sebenarnya Gunawan juga sering berkunjung kerumah Surya tapi tidak pernah bertemu dengan Adam karena kesibukannya.
"Adam,dia orangtua dari gadis yang akan dinikahkan dengan kamu" Sintia menjawab
Adam menatap Gunawan dengan tatapan nyalang. Adam mulai curiga,papanya bisa kolaps pasti ada hubungannya dengan Gunawan.
"Ini semua salah saya nak Adam. Mas Surya kolaps setelah saya memberitahu jika puteri saya kabur dari rumah dan menolak perjodohan ini. Pernikahan yang akan dilaksanakan besok terancam batal" Gunawan mencoba menjelaskan
Seketika wajah Adam menjadi memerah karena tersulut emosi. Nafasnya memburu seakan ingin menerkam Gunawan saat itu juga.
"Tenangkan dirimu Adam" Ucap Sintia beranjak dari tempat duduknya
Gunawan hanya tertunduk menyesal tidak berani menatap Adam yang sedang diselimuti amarah.
"Suruh dia pergi dari sini ma,dan jangan kembali lagi. Karena mulai hari ini keluarga kita tidak ada urusan apa-apa lagi denga keluarganya" Adam meradang sambil mengalihkan pandangannya dari Gunawan
Widia menghampiri Gunawan dan mengajaknya pulang. Widia agak tidak terima dengan kemarahan Adam.
"Mbak Sintia sekali lagi kami mohon maaf. Semoga mas Surya lekas sadar dan baik-baik saja. Kami sungguh ingin tetap berada disini,tapi sepertinya keberadaan kami semakin memperburuk keadaan" Ucap Widia sambil melihat kearah Adam dengan raut wajah tidak suka
Sintia tersenyum paksa.
Dengan berat hati Gunawan meninggalkan rumah sakit bersama dengan Widia.
__ADS_1
Bersambung....