
Hari berikutnya tetap sama. Nesa masih betah mengurung diri di dalam kamar. Widia mulai khawatir. Widia berinisiatif untuk menghubungi Dea agar Dea datang kerumah menemui Nesa. Dengan begitu mungkin saja Nesa tidak akan terlalu larut dengan kesedihannya. Setelah Widia menceritakan semuanya,Dea berjanji akan datang sore hari setelah pekerjaan magangnya di kantor selesai.
Hari sudah sore. Dea langsung melajukan mobilnya menuju rumah Nesa. Sesampainya disana,Dea langsung masuk dan mengetuk pintu kamar Nesa.
"Nesa buka pintunya,ini aku Dea" Dea memanggil Nesa sambil mengetuk pintu berulang kali
Tak lama kemudian,Nesa membukakan pintu. Dia sedikit surprise dengan kedatangan Dea karena sebelumnya Dea tidak memberi kabar apapun. Dan sekarang dia tiba-tiba saja muncul disaat yang tepat,disaat dirinya butuh seseorang untuk menghiburnya.
Dea menatap Nesa lekat-lekat. Benar saja,Nesa terlihat sedang dalam suasana yang tidak baik. Tidak tampak wajah ceria yang biasa dia tunjukkan saat bersamanya. Dea masih tak percaya jika sahabatnya itu akan mengalami perjodohan seperti dalam novel-novel yang sering dia baca. Dea juga tidak bisa membayangkan jika nasib Nesa juga akan sama dengan tokoh yang ada dalam novel,menderita dengan pernikahan yang tidak diinginkannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Dea prihatin
"Menurutmu?" Nesa malah bertanya balik
"Menurutku kamu sedang tidak baik" Jawab Dea
"Baiklah aku akan setia mendengar keluh kesahmu saat ini. Jika perlu malam ini aku akan menginap disini" Ucapnya lagi. Dea terlihat sangat peduli dengan sahabatnya itu
"Kamu sudah tahu semuanya?" Tanya Nesa
Dea mengangguk pelan.
"Apa mama yang menyuruhmu kesini?" Tanya Nesa lagi sambil menatap Dea dengan tatapan yang seolah memohon agar pertanyaannya dijawab dengan jujur
"Iya" Jawab Dea singkat sambil menatap Nesa balik dengan tatapan yang sulit dijelaskan
Melihat wajah sedih Nesa,Dea memilih untuk menghiburnya tanpa maksud ingin menambah kesedihannya.
"Eh seperti apa wajah calon suami kamu? Pasti tampan kan? Aku ingin melihat fotonya,itu pun kalau boleh" Ujar Dea sambil tertawa kecil seolah tidak terjadi apa-apa
Nesa menatap Dea dengan tatapan tidak suka. Nesa tidak menyangka Dea akan meresponnya sesantai itu.
"Maaf-maaf. Apa aku salah ngomong?" Tanya Dea
__ADS_1
"Aku bahkan tidak tahu siapa namanya" Balas Nesa kemudian
"Benarkah? Mana ada seperti itu? Tidak tahu dengan nama calon suami sendiri" Dea pura-pura kaget sambil melanjutkan tawanya
"Diamlah,aku tidak ingin bercanda. Aku sungguh tidak tertarik untuk mencari tahu. Aku sedang meratapi nasibku sendiri saat ini" Ucap Nesa dengan nada yang tidak suka
"Tapi kata tante Widia,dia laki-laki yang tampan dan sangat kaya raya. Kalau aku jadi kamu,aku tidak akan menolak" Dea kembali berseloroh dengan bibir yang tak berhenti tertawa. Tapi batinnya sedang menggerutuki ucapannya sendiri karena kenyatannya,Widia tidak pernah berkata seperti itu
Nesa kembali menatap Dea dan ikut tertawa tapi sejurus kemudian wajahnya tertunduk dan menjadi sedih lagi.
"Ah sudahlah,kadang takdir itu tidak bisa kita tebak. Kita juga tidak bisa menentukan jalan hidup kita sendiri. Mungkin apa yang menurut kita baik belum tentu benar-benar baik,begitu pun sebaliknya" Entah darimana datangnya,ucapan Dea tiba-tiba terdengar bijak
"Ayolah Nesa jangan bersedih lagi. Kamu tidak sedang menunggu dieksekusi. kamu sedang menunggu hari bahagia kamu,hari dimana semua wanita mengimpikannya" Bujuk Dea sambil memberi semangat pada Nesa
"Hari dimana semua wanita mengimpikannya itu memang benar jika yang akan bersanding dengannya adalah laki-laki yang dia cintai" Komentar Nesa akhirnya
"Nanti aku bantu kamu untuk memilih gaun paling cantik agar kamu terlihat semakin cantik dihari bahagia kamu" Ucap Dea bersemangat
Nesa yang mendengarnya sungguh tidak tertarik untuk menanggapi. Dia hanya tersenyum miris. Dia masih berharap hari itu tidak akan pernah terjadi.
"Tentu saja" Jawab Dea cepat
"Terimakasih" Balas Nesa pelan
"Hey sejak kapan kamu berbicara formal seperti ini? Aku jadi merasa seperti orang asing" Protes Dea dengan nada yang sedikit keras
"Apa tidak boleh aku berterimakasih?" Tanya Nesa lirih
"Entahlah saat ini kamu hanya terlihat aneh saja. Biasanya juga kita selalu bercanda jika bertemu. Ah sudahlah ayo kita turun kebawah,aku sudah lapar nih" Dea mengajak Nesa keluar dari kamar. Dea bisa menduga jika seharian ini Nesa hanya mengurung diri dikamar.
"Kau saja,aku tidak lapar" Tolak Nesa
"Baiklah jika begitu aku akan membawa makanannya kesini. Kita makan bersama-sama dan kamu tidak boleh menolak. Kalau kamu tidak mau makan aku pulang saja" Pinta Dea dengan nada mengancam
__ADS_1
"Oke" Lirih Nesa
Akhirnya Dea turun kebawah untuk mengambil menu makan malam yang akan dia makan bersama Nesa di kamar.
"Dea,bagaimana Nesa?" Tanya Widia
Dea bingung. Dea tidak tahu harus menjawab apa.
"Dea kesini mau mengambil makan malam tante" Dea menanggapinya lain
"Pasti Nesa belum mau keluar kamar ya?" Tanya Widia lagi
"Iya begitulah tante" Dea tersenyum tipis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Ya sudah ajak Nesa makan malam di kamarnya" Pinta Widia akhirnya
Dea mengambil beberapa menu makan malam dan ditaruhnya didua piring yang berbeda lengkap dengan nasinya. Sedangkan Gunawan hanya diam tak merespon.
Dea membawa makanan itu ke kamar Nesa. Dan setelah Dea bersusah payah membujuk Nesa,akhirnya dia mau makan tanpa terpaksa. Setelah keduanya selesai menyantap makan malamnya,mereka mengobrol santai sebelum akhirnya mereka berdua terlelap.
...----------------...
Hari demi hari terlewati begitu saja. Nesa tetap mengurung dirinya di kamar. Hanya sesekali saja dia keluar dari kamar karena bosan,itu pun jika Gunawan sedang tidak ada dirumah.
Nesa belum bisa menerima pernikahannya yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Dia masih mencari cara untuk membatalkan pernikahannya walaupun hal itu dirasa mustahil.
Sedangkan ditempat lain,Adam masih menyibukkan diri diperusahaan. Adam juga masih tinggal di apartemennya dan enggan untuk pulang ke rumah. Sepertinya Adam memang sengaja melakukannya karena tidak ingin bersinggungan langsung dengan papanya yang ujung-ujungnya hanya membahas soal pernikahan.
Sebisa mungkin Adam tidak ingin ambil pusing dengan pernikahannya. Dia hanya meminta pada Sekretaris Bian untuk menyerahkan segala keperluan pernikahan jika Surya memintanya.
Yang terlihat sibuk justru Surya dan Gunawan. Mereka berdua yang mengurus segala keperluan pernikahan seperti mengurus dokumen sebagai syarat nikah.
Adam dan Nesa sama-sama tidak tertarik untuk mencari informasi seperti apa calon pasangan mereka. Bahkan H-2 pernikahan, keduanya belum mengetahui nama calon pasangan mereka masing-masing. Sungguh lucu.
__ADS_1
Bersambung....