Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Posesif


__ADS_3

"Sayang aku minta maaf. Aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu meragukannya?" Tanya Nesa dengan perasaan yang menyesal


"Jika kamu memang mencintaiku,harusnya kamu bisa mengerti dengan kesibukanku" Protes Adam


"Tadi aku sangat mengkhawatirkanmu,aku jadi tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku akan lebih senang jika kamu menghukumku tapi jangan pernah meragukan cintaku. Hati aku sakit" Ucap Nesa dengan nanar


"Aku tidak pernah menghukum seorang perempuan,terlebih lagi pada perempuan yang sangat aku cintai" Mendengar ucapan Adam,Nesa merasa tertampar. Adam sudah berusaha menjadi yang terbaik untuknya tapi kenapa dia tidak bisa melakukan hal yang sama


"Aku benar-benar minta maaf" Sekali lagi hanya itu yang mampu terucap dari bibir Nesa


"Tolong maafkan aku" Nesa memohon sekali lagi


"Iya" Singkat Adam


"Terimakasih" Lirih Nesa


"Kamu pasti sangat lelah apalagi kamu baru saja sembuh dari sakit. Sebaiknya kamu segera beristirahat" Ucap Nesa perhatian


Sebenarnya Nesa masih ingin berlama-lama berbicara dengan Adam tapi untuk saat ini dia harus mengalah,dia tidak ingin jika Adam berpikiran buruk lagi padanya.


"Baiklah,aku memang sangat lelah hari ini" Balas Adam


"Tapi...?"


"Tapi apa? Katakanlah apa yang kamu inginkan" Pinta Adam


"Aku ingin mendengar panggilan sayang seperti biasanya" Pinta Nesa akhirnya


Adam terdengar sedang menghela nafasnya.


"Iya sayang. Aku mencintaimu" Ucap Adam pelan


Nesa tertegun sesaat. Dia terhipnotis dengan kalimat Adam. Entah kenapa kalimat itu terdengar sangat istimewa jika diucapkannya saat Adam sedang kesal.

__ADS_1


"Aku juga sangat mencintaimu. Jangan pernah meragukannya lagi. Selamat tidur sayangku" Balas Nesa kemudian


Sambungan telpon terputus. Nesa sedikit lega walaupun dia tidak bisa memeluk Adam malam ini.


...----------------...


Seminggu kemudian Nesa memberitahu Adam jika dirinya mendapat undangan pesta pernikahan dari temannya di Bandung. Nesa ingin pergi sendiri saja diantar Alex tapi Adam melarangnya. Adam berjanji akan mengantarnya walaupun dihari yang sama jadwal Adam sangat padat.


Karena pestanya malam hari dan jarak tempuh jakarta-bandung sekitar 2 jam,Nesa berangkat sore harinya. Saat Nesa sudah siap,Adam tak kunjung menelfonnya. Akhirnya Nesa yang menelfon tapi nomor Adam sedang tidak aktif. Nesa berpikir mungkin Adam memang sangat sibuk dan tidak ingin diganggu. Nesa bingung antara berangkat sendiri atau menunggunya?


Setelah berpikir cukup lama,akhirnya Nesa memilih pergi tanpa menunggu Adam karena Nesa tidak ingin merepotkannya,terlebih saat ini Adam sangat sibuk. Jika masih mengantarnya ke Bandung pasti akan sangat melelahkan,pikirnya.


Dalam perjalanan,Nesa terus mencoba menghubungi Adam untuk memberitahu jika dirinya sudah berangkat tapi nomor Adam tetap saja tidak bisa dihubungi. Saat Nesa akan sampai,barulah Adam menelfon.


"Sayang,kamu ada dimana? Apa kamu sudah siap? Aku akan segera menjemput dan mengantarmu" Suara Adam tampaknya tergesa-gesa,sedangkan jantung Nesa berdebar-debar tak karuan. Dia tidak bisa membayangkan reaksi Adam jika dia mengatakan kalau dirinya sudah hampir sampai dan diantar oleh Alex,sopir yang pernah dia cemburui


"Sayang...a-aku!" Nesa takut untuk mengatakan yang sebenarnya


"Aku sudah sampai di tempat acara diantar oleh Alex" Jawab Nesa dengan tangan yang gemetar


Nesa mendengar Adam sedang mengumpat kesal. Jantung Nesa semakin berdebar-debar seolah akan berhenti berdetak saat itu juga.


"Tunggu aku. Aku akan segera menyusul dan suruh sopirmu itu pulang" Pinta Adam dengan nada yang menekan


"Ba-baik" Nesa menjawabnya dengan terbata. Entah apa yang akan terjadi nanti,yang jelas Nesa begitu sangat ketakutan saat ini


Karena sudah sampai ditempat acara, akhirnya Nesa masuk. Tapi sebelumnya Nesa sudah menyuruh Alex untuk pulang lebih dulu. Nesa mengikuti acaranya dengan perasaan gelisah,dia tidak lagi fokus dengan pestanya. Setelah memberi ucapan selamat pada temannya yang sedang menikah,Nesa tidak ikut bergabung lagi dan hanya berdiri di pojokan gedung sambil menunggu Adam datang.


Saat pestanya akan selesai,barulah Nesa melihat mobil Adam berhenti di depan halamam gedung. Nesa melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke mobil Adam. Saat jarak Nesa sudah dekat,tiba-tiba saja kaca mobil terbuka dan Adam menyuruhnya masuk tanpa menoleh pada Nesa.


Di dalam mobil suasana tampak hening untuk beberapa saat. Sesekali Nesa melirik Adam yang sedang fokus menyetir dengan raut wajahnya yang tidak bersahabat. Akhirnya Nesa mengikuti saja sikap diam Adam,karena jika dia memaksa untuk berbicara dia takut salah ucap dan hanya akan memancing emosinya.


"Tidak bisakah kamu menungguku? Apa kamu memang lebih suka diantar oleh sopirmu itu?" Tanya Adam memecah keheningan diantara mereka

__ADS_1


"Aku tadi sudah menunggu tapi aku telfon nomormu tidak aktif. Jadi aku berpikir kamu sedang sibuk dan tidak ingin diganggu" Jawab Nesa dengan tetap berusaha tenang


"Aku memang sibuk tapi apa kamu tidak percaya dengan ucapanku? Bukankah aku sudah berjanji akan mengantarmu setelah pekerjaanku selesai" Ujar Adam menanggapi


"Aku minta maaf. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu" Lirih Nesa


"Aku lebih baik direpotkan daripada harus melihatmu pergi bersama laki-laki lain" Ucap Adam dengan nada yang sedikit membentak. Kali ini ucapannya disertai dengan amarah


"Aku diantar Alex,bukan laki-laki lain!" Bantah Nesa


"Oh jadi kamu menganggap Alex bukan orang lain lagi? Apa kamu sungguh menyukainya Nesa ? Sergah Adam dengan nada curiga


Hati Nesa seperti diremas-remas mendengar Adam menyebut namanya tanpa panggilan sayang lagi,terlebih saat ini dia sedang menuduhnya dengan tuduhan yang tidak masuk akal.


"Tapi Alex memang bukan orang lain,dia sudah bekerja lama pada keluargaku. Papa sudah menganggapnya seperti keluarga" Nesa mencoba menjelaskan dan berusaha meredam amarahnya agar tidak ikut terpancing emosi


"Kamu bahkan sudah berani membelanya di depan aku" Ujar Adam dan lagi-lagi disertai dengan bentakan


"Aku tidak sedang membelanya. Aku hanya tidak ingin kamu salah paham" Bantah Nesa kesal


Nesa mulai terpancing emosi karena tuduhan-tuduhan Adam kepadanya sungguh tidak masuk akal.


"Katakan saja jika kamu memang menyukainya?" Adam berkeras kepala


"Aku tidak menyukainya! Tuduhan-tuduhan kamu itu sungguh tidak masuk akal dan tidak mempunyai bukti" Bantah Nesa lagi sambil menangis


"Kurang bukti apalagi,semuanya sudah jelas. Kamu lebih memilih pergi bersama Alex daripada bersamaku" Tuduh Adam lagi


"Sudah ku katakan aku hanya tidak ingin merepotkanmu" Nesa terisak tapi dengan wajah yang mengeras karena kesal


Nesa benar-benar sudah tidak kuat dengan segala tuduhan Adam. Adam terlihat tidak peduli dengan perasaannya. Padahal dibeberapa kesempatan,Adam sangat tidak tega jika melihat Nesa menangis. Nesa teringat lagi dengan ucapan Sintia,ternyata memang tidak mudah bertahan disisi Adam dengan sikap posesifnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2