
Hari kian petang,udara di puncak pun semakin dingin. Dua mangkok mie instan berkuah sudah terhidang disana menemani malam mereka yang dingin.
"Sepertinya hanya makanan ini saja yang tersedia disini,tapi besok Pak Rahmad berjanji akan membawa makanan lebih banyak untuk kita" Ujar Nesa
"Kenapa tidak dimakan?" Tanya Firrman yang sudah menghabiskan separuh mie miliknya
"Apa makanan ini sehat? aku bahkan belum pernah memakannya. Ini makanan yang paling aku hindari" Nesa melihat mie tersebut dengan malas
"Sebenarnya tidak sehat tapi tidak semua orang akan berpikir sama sepertimu. Dulu waktu aku masih hidup susah,makanan ini sering ada dirumah kami" Komentar Firman
"Makanlah,nanti kamu tidak bisa tidur karena kelaparan" Pinta Firman perhatian
"Aku tidak yakin dengan rasanya" Nesa masih enggan untuk menyantapnya
Firman menghela nafas dan mengambil mangkok mie milik Nesa,lalu menyendoknya dan menyodorkannya ke mulut Nesa.
"Kamu harus mencobanya,aku rasa jika hanya makan sekali saja tidak akan berpengaruh apa-apa pada kesehatanmu" Firman berusaha membujuk Nesa
Dengan agak ragu Nesa membuka mulutnya,mengunyah makanan tersebut dengan perlahan dan menelannya dengan susah payah.
"Bagaimana,enak bukan?"
"Rasa gurihnya sangat pekat" Jawab Nesa dengan raut wajah tidak suka
"Justru itu yang akan membuat lidahmu ketagihan nanti" Firman tersenyum melihat ekspresi Nesa
"Mau mencobanya lagi?" Tanyanya kemudian
"Tidak ada pilihan lain" Nesa mengambil mangkok mie miliknya dari tangan Firman,lalu memakannya sampai habis
Firman tertawa renyah melihatnya.
"Apa sudah kenyang?" Tanya Firman disela tawanya
"Aku tidak akan memakannya lagi. Walaupun rasanya enak tapi makanan ini tetap saja tidak sehat. Sebaiknya mas Firman juga menghindari makanan ini" Nesa mengingatkan
"Baik ibu dokter,terimakasih sarannya"
"Oh iya,kemana Pak Rahmad?" Tanya Firman tiba-tiba
"Dia sudah pulang setelah memasak mie ini tadi" Jawab Nesa
"Dimana rumahnya?"
"Tidak jauh dari sini"
"Jika tidak sedang ditempati,apa beliau tinggal disini setiap hari?"
"Tentu saja tidak. Pak Rahmad hanya bertugas membersihkan vila ini,mungkin seminggu tiga kali"
"Apa kamu sering datang kesini?"
"Tidak juga. Hanya jika bosan saja"
"Apa aku laki-laki pertama yang kamu ajak kesini? karena sepertinya tadi Pak Rahmad agak terkejut melihatmu membawa teman laki-laki" Tanya Firman ingin tahu
"Iya benar. Karena jika tidak sedang bersama mama dan papaku,aku akan mengajak Dea kesini" Jawab Nesa tanpa menoleh pada Firman
__ADS_1
"Jadi kamu belum pernah mengajaknya kesini?"
"Siapa?" Nesa mengernyitkan dahi
"Tuan Adam" Jawab Firman dengan jelas
Nesa memutar bola matanya jengah.
"Berhentilah menyebut namanya" Ucap Nesa kesal
"Bukankah kamu suka jika mendengar namanya?" Seloroh Firman sambil mencolek pinggang Nesa
"Tidak" Nesa tertawa geli
"Bohong" Firman tidak percaya
"Aku tidak bohong. Sebaiknya kita pergi tidur agar besok kita punya tenaga untuk pergi jalan-jalan" Ajak Nesa mengalihkan pembicaraan
"Memangnya ada wisata apa saja disini?"
"Tidak banyak sih,hanya ada air terjun dan danau"
"Jadi kita datang jauh-jauh kesini hanya untuk melihat air terjun?"
"Tapi pemandangannya sangat indah,kita tidak akan menemukan itu di Jakarta" Nesa sudah melangkah masuk
"Baiklah,sepertinya menarik juga" Firman kemudian menyusul
...----------------...
Gunawan dan Widia sangat terkejut melihat Adam datang kerumahnya. Dengan rasa penasaran mereka menghampiri tamu yang tak diundangnya itu di ruang tamu. Adam yang melihat Gunawan dan Widia sontak saja berdiri dan menatap mereka dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Kamu bermimpi apa semalam Adam,sampai kamu datang kesini menemui kami?" Widia malah bersikap sebaliknya
"Ma..." Gunawan menegur dengan pelan
"Maaf jika om dan tante tidak berkenan dengan kedatanganku" Ucap Adam dengan sopan
"Tentu saja kami senang mendapatkan tamu kehormatan sepertimu" Widia memujinya dengan ketus seolah kalimatnya itu adalah sebuah sindiran
"Kita dengarkan dulu ma apa yang akan disampaikan Adam" Pinta Gunawan
"Aku datang kesini untuk meminta maaf pada om dan tante" Ucap Adam dengan wajah yang sedikit tertunduk
"Memangnya kamu punya salah apa pada kami?" Widia bertanya dengan sinis
"Aku pernah mengusir om dan tante dirumah sakit. Aku juga berkata-kata kurang pantas waktu itu. Aku minta maaf,aku benar-benar menyesal" Adam memohon dengan penuh penyesalan
Gunawan tampak tertegun sebentar sambil menghela nafasnya.
"Kami sudah memaafkan. Kami mengerti dengan kepanikan kamu waktu itu" Ujar Gunawan kemudian dengan lembut
"Apa tante juga mau memaafkan ku?" Adam melihat Widia yang masih memandangnya dengan sinis
Widia bergeming menatap Adam dengan lekat. Melihat sorot mata Adam yang sedang memandangnya dengan wajah yang memelas,tidak ada kepalsuan disana. Adam menunjukkan rasa penyesalannya tanpa dibuat-buat. Widia pun berusaha melunak.
Widia menghela nafasnya dalam-dalam sebelum menjawab permintaan maaf Adam.
__ADS_1
"Sepertinya kamu memang benar-benar menyesal. Tidak ada alasan untuk tidak memaafkanmu" Jawab Widia akhirnya menerima permintaan maaf Adam
"Terimakasih banyak om dan tante atas kebesaran hatinya untuk memaafkan kesalahanku" Adam tersenyum cerah
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Tapi kemudian wajah Adam tertunduk dengan wajah sedih.
"Aku juga sangat berhutang budi pada tante" Lirih Adam
Sontak saja Gunawan dan Widia saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Maksud kamu apa?" Tanya Widia penasaran
"Papa sudah menceritakan semuanya. Tante pernah menyelamatkan nyawaku waktu aku kecil" Jawab Adam
Tiba-tiba wajah Widia berubah menjadi sedih dengan tatapan yang menerawang. Widia teringat kembali dengan peristiwa itu. Dimana dirinya harus kehilangan anak pertamanya yang masih ada didalam kandungan.
"Sudahlah Adam,tidak perlu merasa berhutang budi. Sudah takdir" Ucap Widia kemudian
"Tapi aku tetap saja ingin membalas kebaikan kalian. Om dan tante tidak memiliki anak lagi itu karena kesalahan papaku. Aku ingin menebusnya dengan cara menjaga Nesa sampai akhir hidupku" Adam terdengar tulus mengatakannya
"Itu berarti kamu akan mengajak Nesa untuk kembali?" Tanya Gunawan menengahi
Adam menganggukkan kepalanya.
"Tapi om tidak setuju jika alasan mu kembali pada Nesa hanya karena kamu ingin membalas budi kami" Tolak Gunawan tidak terima
"Tidak,bukan hanya itu saja. Aku harap om tidak tersinggung dan salah paham" Adam mengklarifikasi
"Lantas?"
"Karena aku masih mencintainya" Jawab Adam akhirnya
"Baguslah kalau begitu" Gunawan bernafas dengan lega karena keyakinannya selama ini ternyata benar
"Apa boleh aku bertemu dengan Nesa?" Adam meminta izin dengan sopan
"Sayangnya Nesa sedang tidak berada di rumah" Widia menjawab
"Nesa pergi kemana? bukankah ini hari libur?"
"Nesa pergi menginap di vila kami,sudah berangkat dari kemarin"
"Ke puncak? bersama siapa?" Adam mulai diserang pikiran buruk
"Nesa tidak mengatakan dia akan pergi bersama siapa. Mungkin bersama Dea sahabatnya" Gunawan menjawabnya dengan bimbang
"Bisa minta alamatnya?"
"Iya tentu saja. Apa kamu akan menyusulnya kesana?" Tanya Gunawan
"Iya,aku akan menyusulnya sekarang juga" Jawab Adam
Gunawan mengambil selembar kertas yang sudah tertulis alamat vilanya disana dan memberikannya pada Adam. Setelah mendapatkan alamatnya,Adam berpamitan.
"Terimakasih banyak om dan tante, aku harus pergi. Aku harus segera menyusul Nesa kesana" Wajah Adam terlihat cemas
"Hati-hati" Gunawan menepuk bahu Adam dengan lembut
__ADS_1
Lalu Adam pergi meninggalkan rumah Gunawan dengan tergesa-gesa.
Bersambung....