Takdir Cinta Nesa

Takdir Cinta Nesa
Kehilangan Semangat Hidup


__ADS_3

Nesa membuka matanya dengan berat,seperti ada sesuatu yang menggantung disana. Kemudian Nesa memantulkan dirinya di cermin meja riasnya. Dan ternyata matanya sembab karena semalaman Nesa menangis sampai dia lelah dan tertidur.


Hari ini dia seperti kehilangan semangat hidupnya. Dia tidak tertarik turun kebawah untuk melakukan sarapan bersama papa dan mamanya. Kemarahan dan kekecewaan Nesa semalam membuatnya malas untuk bertemu dengan Gunawan. Nesa mengambil keputusan untuk mengurung diri dikamar. Dia ingin menunjukkan pada Gunawan jika dia menolak perjodohan itu.


Nesa tidak bisa membayangkan akan menikah dengan laki-laki asing yang belum pernah dilihatnya. Laki-laki seperti Firman saja yang dikenalnya cukup lama tidak bisa membuatnya jatuh cinta, apalagi laki-laki yang sama sekali tidak dia ketahui wujud rupanya seperti apa.


Nesa berharap dengan tindakannya mengurung diri dikamar,Gunawan akan berubah pikiran dan membatalkan pernikahan itu. Tapi sepertinya mustahil karena tanggal pernikahan sudah ditentukan,itu berarti hari ini sudah tinggal 6 hari lagi dia akan menikah. Nesa menggeleng cepat. Dia sungguh tidak bisa memenuhi permintaan papanya. Nesa masih membayangkan impiannya sendiri menikah dengan laki-laki yang ia cintai dan juga mencintainya.


Tiba-tiba pintu kamar Nesa diketuk. Nesa diam tidak memperdulikannya. Lalu suara dari luar terdengar memanggilnya.


"Non Nesa,buka pintunya non" Suara Bi Minah ternyata


"Ada apa bi?" Tanya Nesa masih tak beranjak dari tempat tidurnya


"Non Nesa tidak mau sarapan? Tuan dan Nyonya sudah menunggu" Tanya Bi Minah


"Tidak Bi,aku tidak ingin sarapan. Aku tidak lapar" Jawabnya lirih


Suara Nesa terdengar samar-samar ditelinga Bi Minah yang mendengarnya dibalik pintu,tapi Bi Minah masih bisa mendengarnya. Bi Minah pun enyah dari sana dengan wajah bingung. Entah apa yang terjadi dengan Nesa yang sudah dianggapnya anak itu sampai dia sengaja mengurung diri di dalam kamar.


"Non Nesa tidak mau turun Nyonya" Ucap bi Minah mendekat kearah meja makan


Widia menatap Gunawan dengan marah. semalam Gunawan sudah menceritakan pada Widia tentang obrolannya dengan Nesa. Widia juga ikut terkejut karena Gunawan asal saja menyanggupi tanggal pernikahan yang sudah Surya tentukan.


"Tuh kan pa Nesa jadi ngambek. Ini semua gara-gara papa" Omel Widia kesal

__ADS_1


"Sebenarnya papa juga tidak tega ma melihat Nesa menangis semalam. Tapi papa berusaha untuk tetap tenang karena papa yakin suatu saat nanti Nesa akan hidup bahagia bersama Adam. Tidak apa-apa dia sedih di awal tapi akan bahagia di akhir" Ujar Gunawan tanpa perasaan bersalah


"Tapi bagaimana jika Nesa tetap mengurung diri? Dia pasti sangat syok. Mama khawatir Nesa tetap menolak untuk menikah atau bahkan setelah ini dia akan kabur dari rumah" Pikiran buruk mulai menyerangnya


"Sudahlah ma jangan memikirkan sesutu yang belum terjadi. Lebih baik sekarang mama bujuk Nesa,dia pasti lebih menurut pada mama" Pinta Gunawan akhirnya


Widia memutar bola matanya jengah. Sepertinya mulai saat ini dia akan mempunyai kesibukan baru yaitu menghibur anak semata wayangnya agar tidak sedih. Tapi yang menjadi masalah, dia juga harus membujuk Nesa agar mau menikah dengan Adam.


Setelah menyelesaikan sarapannya,Widia langsung menemui Nesa dikamarnya. Setelah widia membujuk,akhirnya Nesa membukakan pintu.


Nesa terlihat kacau. Matanya sembab dan wajahnya juga masih berantakan. sepertinya dia belum menyegarkan diri di kamar mandi. Nesa naik lagi ke tempat tidur dengan langkah lunglai. Wajahnya terlihat sendu. Dia menunduk seolah enggan menatap Widia.


Widia menghela nafas. Untuk pertama kalinya dia melihat puterinya bersedih seperti ini.


"Biarkan saja aku seperti ini. Agar tidak ada laki-laki yang mau denganku" Jawab Nesa dengan sarkas. Wajahnya masih tertunduk


Widia membenarkan rambut Nesa yang masih berantakan dan mengangkat wajahnya yang tertunduk.


"Bicaralah apa yang sedang kamu rasakan saat ini,mama akan mendengarkannya" Pinta Widia


"Percuma saja. Mama datang kesini karena papa yang menyuruh kan? Mama ingin membujukku untuk menerima laki-laki pilihan papa. Mama tidak bisa membantuku keluar dari masalah ini" Ujar Nesa lirih


"Mama tidak bisa melakukan apapun untuk membatalkan pernikahan itu tapi mama akan selalu ada untuk kamu bahkan disaat kamu sudah menikah sekalipun nanti" Balas Widia sambil menatap wajah Nesa


Nesa kembali menangis sambil menutupi wajahnya. Lalu Widia memeluknya seakan ingin meyalurkan kekuatan pada Nesa melalui pelukannya tersebut. setelah beberapa saat mereka saling mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu menolak? Apa kamu tidak percaya dengan papa? Papa tidak mungkin menikahkah kamu dengan laki-laki sembarangan" Tanya Widia baik-baik


"Bukankah kamu juga sudah mengenal om Surya? Apa selama ini om Surya pernah berbuat jahat pada keluarga kita? Om Surya bahkan selalu membantu papa memajukan bisnisnya. Om Surya baik kan? Anaknya juga pasti baik" Widia berusaha memberi pengertian pada Nesa


Nesa bergeming. Dari semua kalimat yang Widia lontarkan tidak ada satupun yang bisa membuat hatinya luluh. Tetap saja dia akan menikah dengan laki-laki yang tidak dia cintai. Kali ini hati Nesa benar-benar sudah mengeras sehingga rayuan apapun yang didengarnya mental begitu saja.


Kehadiran Widia saat ini sama sekali tidak membawa angin segar baginya. Dia hanya disuruh papanya untuk membujuknya agar menerima perjodohan itu. Tapi setidaknya Widia lebih berbelas kasih sudah mau menghiburnya.


Nesa hanya diam. Sebanyak apapun dia berkilah,tidak akan bisa merubah apapun termasuk pendirian papanya. Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah menangis dan menangis meratapi nasibnya sendiri.


"Bagaimana kalau kita pergi ke salon untuk memanjakan tubuh kita agar lebih rileks. Sudah lama juga kamu tidak pergi ke salon bersama mama kan? Mama akan meluangkan waktu mama hari ini untuk kamu" Ucap Widia


"Tidak ma. Aku malas" Tolak Nesa. Usaha Widia untuk menghiburnya hanya sia-sia. Nesa sama sekali tidak terhibur dan tetap saja tidak mau beranjak dari tempat tidur


"Kalau kamu malas ke salon,kita pergi ke mall saja bagaimana? Pasti seru" Ajak Widia lagi berharap usahanya kali ini akan berhasil


"Jangankan ke salon atau ke mall. Keluar dari kamar ini saja rasanya aku sangat malas" Tolak Nesa lagi dengan nada yang lebih keras


Widia menghela nafasnya dengan wajah yang putus asa.


"Baiklah. Kalau begitu sebaiknya kamu mandi saja. Mama akan suruh bi Minah untuk membawa sarapanmu kesini" Ujar Widia pasrah


Nesa hanya mengangguk. Tidak ada gunanya juga dia menyiksa dirinya sendiri seperti ini,toh papanya juga tidak mungkin merubah keputusannya. Gunawan akan tetap memaksanya menikah dengan laki-laki pilihannya. Kini Nesa benar-benar merasa kehilangan semangat hidupnya. Dia bahkan sangat malas walaupun hanya sekedar keluar dari dalam kamarnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2